César Vallejo, Penyair yang Lapar

Print Friendly, PDF & Email

JAUH sebelum Roberto Bolaño, ada César Vallejo. Begitu kesan saya ketika membaca kumpulan puisi Vallejo yang diterjemahkan Gerard Malanga. Kedua penyair Amerika Latin itu dipertemukan oleh rentetan pengalaman dengan intensitas yang serupa: terbuang dari kampung halaman, menggelandang di Eropa, menulis puisi dengan rasa lapar menekan di ulu hati. Keduanya pun bekerja dalam lingkungan kebudayaan Kiri. Betul bahwa nasib Bolaño sedikit lebih mujur; menjelang masa tuanya ia dikanonisasi dan karya-karyanya dipuji banyak kritikus. Sedang Vallejo baru diakui—bahkan diagung-agungkan sebagai “penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa manapun” oleh kritikus Martin Seymour-Smith—jauh setelah mampus. Selain itu, puisi-puisi keduanya punya temperamen yang berbeda. Sajak-sajak Bolaño mengandung humor, suasana acuh-tak acuh dan omong besar tipikal pemuda sotoy, berkat pengaruh kuat dari Nicanor Parra, penyair sableng asal Chile. Sebaliknya, sajak-sajak Vallejo hampir seluruhnya muram dan pekat dengan penderitaan. Namun dalam keduanya kita temukan satu semangat yang saling mengiris, satu motif yang terus berulang: keberanian untuk merisikokan diri di jalan puisi. Di balik cengengesan Bolaño, kita bisa temukan kekerasan hatinya dalam mengambil sikap dan memperjuangkannya sampai mampus. Di balik Bolaño, kita temukan juga Vallejo.

Tapi itu rasanya bukan awalan yang baik untuk tulisan ini. Pembaca mungkin belum menangkap konteksnya. Jadi abaikan saja paragraf pembuka tadi dan mari kita mulai dari awal.

Sebagai penyair Peru yang dilahirkan pada tahun 1892, César Vallejo tak pelak memupuk semangat artistiknya dalam atmosfer Modernismo yang melanda benua itu pada peralihan abad ke-20. Sajak-sajak awalnya berada dalam lingkup pengaruh penyair modernis Uruguay Julio Herrera y Reissig dan penyair modernis Argentina Leopoldo Lugones. Pengaruh ini terbaca dalam kumpulan puisi pertamanya, Los Heraldos Negros (“Bentara-Bentara Hitam”; 1919). Tapi modernisme liris itu kemudian perlahan ia tinggalkan dengan serangkaian eksperimen yang mengarah pada ekspresi puitik avant-garde.

Vallejo sempat kuliah di Universitas Trujillo, tapi kemudian drop out karena kekurangan uang. Ia bekerja sebagai guru di perkebunan tebu untuk beberapa lama, melihat langsung peragaan eksploitasi manusia oleh manusia, kemudian setelah dana terkumpul ia kembali meneruskan kuliahnya hingga tuntas. Pada masa kuliah inilah ia mempelajari Marxisme secara intens sambil, pada malam hari, kelayapan di sarang opium dan warung remang-remang—memikirkan teori-teori Marxis dalam keadaan teler. Waktu itu, ia belum terlalu miskin.

Entah akibat belajar Marxisme entah pula akibat waham apa, Vallejo kembali ke kampungnya Santiago de Chuce, di lereng pegunungan Andes, dan terlibat dalam kerusuhan sosial yang mengakibatkan terbakarnya sebuah toko kelontong desa dan tertembaknya seorang pegawai negeri kelas teri. Polisi kemudian mencokoknya sebagai propagandis di balik aksi massa dan menjebloskannya ke tahanan selama tiga bulan. Setelah bebas ia menerbitkan buku puisi keduanya, Trilce (1922), yang banyak bereksperimen dengan sintaksis bahasa Spanyol dan dianggap sebagai contoh awal dari gerakan kesusastraan Vanguardia (avant-garde versi Amerika Latin). Sadar bahwa sidang perkaranya masih berlanjut dan nampaknya mengarah pada gelagat yang kurang baik, Vallejo kabur dari Peru menuju Eropa pada tahun 1923. Maka dimulailah penggelandangan César Vallejo di Eropa.

Kelaparan dan kemiskinan menyertai Vallejo kemanapun ia melangkah di Eropa. Ia akan mati pada tahun 1938. Tak dikenal orang, tanpa kerabat, ia mengawali tahun-tahun Eropanya di Paris—menulis artikel koran, bekerja serabutan asal bisa hidup—sebelum akhirnya diusir dari Paris karena kedekatannya dengan kelompok Marxis. Selama sisa hidupnya di Eropa ia sempat main ke Uni Soviet tiga kali, sempat mengikuti Kongres Internasional Penulis Dalam Solidaritas Dengan Uni Soviet dan menulis beberapa buku berisi ulasan positif tentang negeri itu. Setelah terusir dari Paris, ia menetap di Spanyol, merasakan kemiskinan bersama Pablo Picasso sewaktu si pelukis belum sukses berdagang lukisan abstrak. Pada tahun 1934 ia kembali ke Paris, menikah dengan Georgette Vallejo yang telah agak lama dekat dengannya. Empat tahun terakhir hidupnya, ia bertahan dalam keadaan rudin.

Ia menulis beberapa puisi patriotik yang mendukung perjuangan Partai Komunis Spanyol dan perlawanan kaum Republik melawan Franco. Seperti misalnya sajak berikut yang dicuplik dari kumpulan puisi anumerta berjudul España, Aparta De Mí Este Cáliz (“Spanyol, Renggutlah Cawan Ini Dariku”; 1937):

 

Dengan Telunjuknya Ia Menulis di Udara

 
Dengan telunjuknya ia menulis di udara:
“Panjang umur kawan-kawan! Pedro Rojas,”
dari kota Miranda di tepian Ebro, ayah dan manusia,
suami dan manusia. Pedro dan dua kematiannya.
 

 
Mereka membunuhnya, memaksanya mati,
seorang Pedro, seorang Rojas, si pekerja, si manusia, si orang
yang pernah sekali sesosok bocah memandang lurus ke angkasa,
lalu ia tumbuh, beralih merah,
dan bertempur bersama sel-selnya, tidaknya, belumnya, laparnya, serpih-serpihnya.
Mereka membunuhnya dengan manis
di sela-sela rambut istrinya, Juana Vasquez,
pada jam api, pada tahun peluru,
ketika ia baru saja hendak tiba pada semua.
 

Saya sendiri lebih menyukai kumpulan puisi lain yang juga diterbitkan secara anumerta oleh Georgette Vallejo, sebuah kumpulan puisi berjudul Poemas Humanos (“Puisi-Puisi Manusia”; 1939). Dalam kitab yang menghimpun sajak-sajak Vallejo antara 1923 sampai 1937 ini kita jumpai ekspresi jujur dari keruwetan hidupnya. Ia mengalami langsung kepercumaan sastra avant-garde di depan zaman yang begitu pusing untuk sekadar menyambung hidup. Sajak berikut ini tentunya akan mengingatkan kita pada Brecht, ditulis dua tahun setelah Pertanyaan-Pertanyaan Seorang Buruh yang Membaca:
 

Seseorang Berlalu dengan Sepotong Roti di Pundaknya
 
Seseorang berlalu dengan sepotong roti di pundaknya
Akankah aku lalu menulis tentang kembaran jiwaku?
 
Seorang lain duduk, menggaruk, mencuplik kutu dari ketiaknya, menumpasnya
Lantas kita bicara psikoanalisa?
 
Seorang lain merambah dadaku dengan pentung di tangannya
Mestikah aku bicara tentang Sokrates dan sang tabib?
 
Seorang cacat berjalan menggandeng tangan seorang bocah
Lalu aku mesti baca André Breton?
 
Seorang lain gemetar oleh demam, terbatuk, meludahkan darah
Akan mungkinkah kita bicara soal Diri sejati?
 
Seorang lain mencari-cari serpih tulang dan kerang di lumpur
Bagaimana bisa lalu aku menulis soal tak hingga?
 
Seorang kuli jatuh dari atap, mati sebelum sarapan
Lantas bagaimana aku mungkin memperbarui kiasan, metafora?
 
Seorang pedagang mengutip segram dari pembeli
Bagaimana aku bisa bicara soal dimensi keempat?
 
Seorang bankir memalsukan neracanya
Dengan wajah apa aku menangis di gedung pertunjukan?
 
Seorang terbuang lelap dengan kaki di belakang punggung
Akankah aku, kemudian, bicara soal Picasso?
 
Seseorang tersedu di sisi kubur
Bagaimana aku jadi anggota Akademi?
 
Seseorang melap senapannya di dapur
Dengan keberanian macam apa kita bicara soal dunia yang akan datang?
 
Seseorang berlalu sembari menghitung jumlah jemarinya
Bagaimana lalu bicara tentang si bukan-aku tanpa menangis meraung-raung?
 

Kesan paling kuat yang bisa kita tangkap dari sajak-sajak Vallejo barangkali adalah kebuntuan, perasaan tak tahu lagi mesti bagaimana. Kebuntuan itu begitu intens, seperti misalnya dalam sajak bertanggal 26 Oktober 1937 ini:

 
Amarah yang Memecah Orang jadi Bocah
 
Amarah yang memecah orang jadi bocah,
memecah bocah jadi burung-burung setangkup,
dan dari situ, jadi telur-telur kecil;
amarah si miskin
punya segenggam minyak melawan dua cuka.
 
Amarah yang memecah pohon jadi daun-daun,
daun jadi putik-putik tak setangkup,
putik jadi lurah yang jauh;
amarah si miskin
punya dua kali melawan laut-laut.
 
Amarah yang memecah kebaikan jadi kesangsian
dan kesangsian jadi tiga lengkung serupa
dan lengkung seketika jadi kubur-kubur tak terduga;
amarah si miskin
punya sebilah besi melawan dua belati.
 
Amarah yang memecah jiwa jadi tubuh-tubuh,
tubuh jadi organ-organ tak serupa
dan organ jadi nyanyi;
amarah si miskin
punya setitik api melawan dua kepundan.
 

Di situ ada campuran yang pelik antara getun, geregetan, tak tahu mesti berbuat apa dan—barangkali yang terpenting—kesiap-sediaan untuk berbuat apa saja. Kalau kita suatu hari bertemu dengan orang dengan suasana batin semacam itu di jalan, maka kita mesti waspada. Sebab orang yang tak bisa lagi kehilangan apa-apa, bisa melakukan apa saja. Deskripsi psikologis ini menarik buat saya sebab itu menggambarkan model subjektivitas revolusioner yang pasca-pengharapan, yang menatap sinis segala utopia, yang telah ditinggalkan oleh semua cita-cita, yang tak mungkin bisa diselamatkan lagi. Amarah, amarah. Kilatan cahaya terakhir sebelum sunyi abadi.

*

Vallejo mati akibat suatu penyakit yang susah dikenali. Sebagian orang bilang ia mati karena sejenis malaria. Sebagian lain bilang ia mengalami infeksi kandung kemih. Dalam novela Monsieur Pain, Roberto Bolaño menyentuh secuplik episode kematiannya. Tapi novela itu lebih banyak bicara soal imajinasi Pierre Pain, protagonisnya, yang seorang ahli akupuntur, penggemar okultisme dan sibuk dengan pikirannya sendiri perihal apakah ia harus merawat Vallejo. Tak ada kejelasan soal sebab kematian Vallejo. Bolaño menggambarkannya terserang penyakit cegukan tanpa henti, barangkali akibat naiknya asam lambung karena penyakit maag kronis. Menurut saya, satu-satunya penyakit yang diidap Vallejo adalah kemiskinan. Dan rupa-rupanya Vallejo sendiri sudah bisa menebak akhir hayatnya. Dalam puisi tak bertanggal dalam kumpulan sajak Poemas Humanos (kumpulan puisi 1923-1937 yang terbit posthumous) ia nyatakan nujuman atas nasibnya sendiri:

 
Batu Hitam di atas Batu Putih
 
Aku akan mati di Paris, ketika badai,
di suatu hari yang telah kukenang.
Aku akan mati di Paris—dan aku tak melarikan diri—
mungkin di suatu Kamis, seperti hari ini, pada musim gugur.
 
Tentulah hari Kamis, sebab hari ini—Kamis—aku menulis
sajak ini dan membikin sakit tulang belikatku
dan tak pernah seperti hari ini aku berbalik
ke arah mana aku sendiri.
 
César Vallejo sudah mati, mereka menggebukinya,
mereka semua, dan demi sia-sia.
mereka menggebuknya keras-keras dengan pentung dan melecutnya
dengan seutas temali; saksi-saksinya adalah
hari-hari Kamis dan tulang-tulang belikat
kesepian, hujan, jalanan…

 
Dasar apes, nujumannya meleset. César Vallejo mati di Paris pada tanggal 15 April 1938, hari Jumat, di awal musim semi; suatu hari yang cerah.***

 

8 November 2016


comments powered by Disqus