Penjarahan Ruang dalam Kapitalisme

Judul: Uneven Development: Nature, Capital and the Production of Space

Penulis: Neil Smith

Penerbit  : Ideas – Basil Blackwell (1991), University of Georgia Press (2008)

Kota Terbit: Oxford, Athens

Tebal: 344 hlm (edisi ketiga)

uneven-development-nature-capital-and-the-production-of-space

 

PERTAMAkali diterbitkan pada tahun 1984, Uneven Development: Nature, Capital & The Production of Space (selanjutnya UD) yang merupakan pengembangan dari disertasi Neil Smith langsung menjadi magna opus dalam studi geografi Marxisme. Istilah ketimpangan pembangunan/ketidakmerataan pembangunan sebenarnya bukan istilah baru dalam kritik terhadap kapitalisme.Samir Amin menggunakan istilah ‘unequal’/tidak seimbang dalam Imperialism & Unequal Development. Namun, istilah pembangunan tidak merata/ketimpangan pembangunan (uneven development) yang digunakan Smith menjadi termin yang terus digunakan sampai hari ini untuk menjelaskan karakteristik yang inheren dalam kapitalisme.[1]

Dalam pengantar edisi ketiga, David Harvey selaku pembimbing Smith dalam menulis karya tersebut menyebutkan bahwa pemikiran Smith tetap relevan setelah tiga dekade buku ini diterbitkan. Relevansi tersebut, berbeda dengan pendekatan Samir Amin yang mengawinkan ketimpangan pembangunan dengan eurosentrisme dan imperialisme,[2] terletak pada landasan filosofis yang rigid. Percakapan mengenai ruang, alam dan kapital dalam UD menyasar hingga ke rahim pemikiran modern yang dianggap bertanggungjawab melahirkan paradigma penaklukkan atas alam, yakni tradisi Baconian.

UD memberikan alur logika yang runut dalam menjelaskan perkembangan dan pola bertahannya kapitalisme (di masa penulisan buku tersebut dan sebenarnya hingga hari ini juga).Jika kita menelaah kerusakan lingkungan dan semakin besarnya jurang antara yang berpunya dan tidak, maka menurut Smith kita harus melihatnya sebagai sebuah proyek besar kapitalisme secara geografis. Ini tidak sesederhana, seperti postulat Marx dalam Manifesto Komunis, bahwa kapital harus merevolusionerkan alat-alat dan kekuatan produksinya, lebih daripada itu dia harus menjarah ruang geografis. Ia (kapital) harus menjadi ekspansif ke semua ruang yang dianggap memiliki nilai untuk melakukan akumulasi; baik alam maupun manusia.Penjarahan ruang tersebut hanya dapat dilakukan jika sedari awal kita bisa memahami bagaimana relasi manusia terhadap alam–sebagai sebuah ruang yang memiliki nilai-nilai produksi–dibentuk.

Dalam mengulas buku ini, saya menggunakan dua cetakan buku UD dalam kurung waktu yang berbeda. Yang pertama adalah cetakan kedua di tahun 1991 dan cetakan tahun 2008. Tidak ada perubahan substansial di dalam edisi terbaru. Hanya, dalam setiap edisi Smith memberikan catatan penutup yang memiliki perbedaan cukup signifikan dan akan dibahas di akhir ulasan ini. Sebagai catatan, halaman yang dikutip dalam ulasan ini menggunakan cetakan kedua (1991).

 

Mendudukkan Pemahaman Manusia akan Alam

Dalam berbagai bagian di buku ini, Smith selalu menekankan bahwa pertanyaan dan usaha-usaha kita untuk mengurai ketimpangan pembangunan selalu berkaitan dengan pertanyaan yang bersifat geografis. Juga, yang paling penting bukan apa yang kapitalisme lakukan terhadap geografi, tapi justru sebaliknya; apa yang geografi telah lakukan terhadap (perkembangan dan bertahannya) kapitalisme (hal. xiii). Untuk itu, Smith juga merasa perlu mengawinkan tradisi geografi dan politik untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebab, ruang geografis yang terbentuk di saat yang sama membawa agenda ekonomi dan politik (hal. xiii).

Melalui UD, kita diajak memahami bahwa ketimpangan pembangunan bukan hanya semata ekses kapitalisme, melainkan ini adalah hal yang inheren dan dipelihara untuk melanggengkan sistem ekonomi yang demikian. Kapitalisme secara terus menerus akan hinggap di satu daerah hingga tempat itu tereksploitasi, lalu pindah ke tempat berikutnya; kemajuan di satu sisi dan ketidakmajuan di tempat lain (hl. xvv). Proses hinggapnya kapitalisme ini jelas merupakan proyek geografis; ia membutuhkan pertimbangan ruang dan bagaimana ruang tersebut berinteraksi vice versa bersama ruang sosialnya. Dengan proses penjarahan dan pembentukan ruang untuk melakukan akumulasi, Smith menawarkan pandangan paling dasar untuk mengurai semua itu dengan memikirkan ulang pemahaman kita tentang alam dan bagaimana alam diproduksi.

Smith sangat menghindari dikotomi alam dan manusia, meskipun ia menjelaskan dengan detail apa yang berbahaya dengan menggunakan dikotomi ini secara terus menerus. Menurutnya, dikotomi ini inheren dalam pola pikir kaum borjuis (hal. 5). Ia juga tidak terlalu tertarik membahas studi tentang alam yang dicurigai antroposentrisme, karena bagaimanapun narasi tentang alam akan tetap antroposentris, sekeras apapun usaha kita dalam melakukan–misalnya–bracketing[3]/mengambil jarak terhadap persepsi manusia dalam mendefinisikan alam.

Alam akan selalu menjadi sesuatu yang lain, sebuah entitas eksternal di luar manusia. Dalam bab Ideologi Alam (Ideloogy of Nature), Smith secara historis mengurai bagaimana proses definisi alam dan bagaimana studi tentang alam di dalam Marxisme berkembang. Ada empat cara kita memandang alam sepanjang sejarah; (1) Conquest, menaklukkan alam sebagai bentuk rasa takut kita terhadap yang tidak diketahui dan lain, juga kebutuhan untuk bertahan hidup (2) Idolatry, penyembahan terhadap alam–sisi religiusitas terhadap alam, menganggapnya sebagai Tuhan (3) Worship, pemujaan terhadap alam karena dianggap telah memberi makanan/sumber daya untuk bertahan hidup (4) Penetration, menginvasi alam dan/atau bergabung dengan alam itu sendiri, untuk menjadi bersama alam. (hal. 7–12, hal. 18–23).

Poin menarik pada kajian Smith terhadap ideologi tentang alam yang selama ini berkembang adalah kritiknya terhadap romantisasi terhadap alam–yang masih dapat ditemui hari ini dalam pemikiran ekosentris dan sekolah Frankfurt generasi satu dan dua. Smith menganggap romantisasi adalah legitimasi dan justifikasi manusia terhadap perlakuannya kepada alam pada masa-masa sebelumnya (seperti invasi, melawan, menaklukkan). Analogi yang diberikan Smith “seseorang tidak akan memelihara ular derik (dan menyayanginya) kalau ia tidak mencopot taring si ular tersebut” (hal. 13).

Nama Alfred Schmidt muncul dalam penelurusan Smith tentang Marxisme dan alam. Smith beranggapan bahwa Schmidt, penulis The Conception of Nature in Marx–sebuah teks klasik tentang alam dalam perspektif Marxisme, jatuh pada utopia dirinya sendiri, alih-alih pemahaman Marx terhadap alam. Harmonisasi alam dan manusia sebagai tujuan akhir di masyarakat komunis bagi Smith adalah bentuk logika biner yang selama ini justru lahir dari tradisi pemikiran borjuis tentang alam (hal. 23-24). Utopia harmonisasi alam dan manusia menunjukkan pola pikir bahwa alam selama ini ada di luar manusia, dan kita butuh untuk menarik ia ke dalam sebuah relasi subjek-objek yang bisa hidup langgeng dan sejahtera. Padahal pada kenyataannya, manusia selalu berada di dalam alam itu sendiri.

Dalam kajiannya terhadap ideologi alam dan produksi alam (Bab 1 dan Bab 2 dalam UD), Smith lebih tertarik untuk membahas bagaimana kita memandang alam yang baginya jauh lebih rumit daripada sekedar sebuah dominasi dan penaklukkan–yang sudah cukup jelas terlihat. Berangkat dari premis bahwa manusia memang selalu (atau terjebak?) menjadi bagian dari alam, maka masalahnya bukan pada dualisme alam dan manusia, namun bagaimana alam memiliki dua level (1) Alam Pertama (First Nature) dan (2) Alam Kedua (Second Nature). Dua level alam ini adalah bentuk produksi alam dari perkembangan sosial (dan ekonomi) manusia (hal. 54). Adalah konsep nilai (dalam Marxisme) yang digunakan untuk melakukan pembedaan ini.

Dalam realm pertama, alam berinteraksi dengan manusia karena nilai guna.Di sini nilai guna tidak dipandang sebagai sesuatu yang eksploitatif, melainkan sebuah realitas objektif di masa itu, ketika manusia mulai mengkonsolidasikan hasrat untuk makan dan mengolah lingkungan. Namun di realm kedua, nilai yang berlaku bertambah menjadi nilai tukar. Peristiwa hadirnya nilai tukar ini dimungkinkan dengan adanya kelebihan dari suatu barang yang telah diolahdan bergerak menjadi komoditas. Dua level alam ini tidak berjalan beriringan, melainkan hadir sesuai dengan linimasa sejarah dan perubahan moda produksi masyarakat. Hanya saja, ketika alam kedua lahir, ia juga turut memproduksi alam pertama karena keterikatannya dengan nilai guna. (hal. 54-55).

Smith mengingatkan agar kita tidak menyalahartikan ‘memproduksi alam’ dengan ‘penguasaan atas alam’. (hal. 62). Walau kontrol terhadap alam sering terjadi dalam proses produksi alam, tapi ia tidak berada di dalam definisi yang sama. Produksi alam adalah tali temali relasi manusia dan alam di bawah nilai (guna dan tukar), dan penguasaan terhadap alam adalah salah satu implikasi dari hubungan yang terjadi.Penjelasan tentang alam pertama dan alam kedua ini menggiring kita ke pertanyaan akanbagaimana alam diproduksi dan siapa yang mengontrol produksi tersebut. Jawaban untuk pertanyaan pertama adalah dengan melakukan klaim dan memproduksi ruang untuk mengakomodir alam yang telah sedemikian rupa telah berbentuk. Sementara jawaban kedua agak basi; kekuatan produksi kapitalisme.

lbrxlii-ruang-kapitalisme

 

Membentuk dan Merambah Ruang

Memproduksi pemahaman tentang alam dalam pusaran nilai adalah jembatan yang dibutuhkan kapital untuk melakukan tahapan berikutnya dalam akumulasi: memproduksi ruang. Ruang-ruang yang terbentuk ini merupakan wadah dari alam yang sudah didefinisikan sebelumnya.

Smith yang bersetia dengan tradisi seorang geograf, merasa perlu menjelaskan sejarah tentang definisi ruang yang dimulai dari tradisi fisika Newton hingga Einstein. Bagaimana ruang di masa awal tidak dipahami sebagai sesuatu yang berkelindan dengan hal-hal lain; seperti alam dan kehidupan sosial di dalamnya. Ruang dianggap independen dan merupakan sesuatu yang vakum. Ia memberikan contoh ‘penemuan’ gravitasi oleh Newton untuk hal tersebut. Kita tidak akan bertanya mengapa ada pohon apel (atau mengapa yang ada adalah pohon apel, bukan buah-buahan lain?) (hal. 70), tempat Newton berbaring di detik-detik sebelum ia mendapatkan epifani tentang alam semesta. Smith mendaur logika Newtonian mengenai ruang (absolut dan relatif); (1) ruang absolut adalah karakter fisiknya, biologis dan fenomena geografisnya, sedangkan yang (2) relatif adalah ruang sosial, dinamika para manusia di sebuah ruang dan fisikalitasnya (hal. 74).

Landasan pemikiran tentang ruang yang berangkat dari ruang absolut dan ruang relatif pada logika Newtonian, menurut Smith kemudian menjadi problematik. Pada perkembangannya, dualisme ruang tersebut semakin memperuncing dikotomiantara yang sosial dan alam. Dikotomi ini menghasilkan debat menjemukan tentang ruang yang artifisial dan ruang yang ‘alami’. Ada dua pemikiran yang berusaha mengenyahkan pola positivis yang menghasilkan logika biner tersebut; geografi humanis[4] dan tradisi politik radikal yang naik daun pada 1960 dan ‘70an.[5] Tradisi yang kedua ini berusaha memberikan pemahaman bahwa yang sosial dan alam saling membentuk satu sama lain, dan dimoderasi oleh sebuah totalitas lain yang bernama ruang geografis (hal. 75-76, 83). Pendapat ini mungkin bisa dipahami dalam ‘firman’ David Harvey yang terkenal: “tidak ada yang tidak natural dari kota New York (dan Los Angeles, atau New Jersey).”[6] Artinya, perdebatan mengenai ruang buatan ataupun alamiah dalam mengurai (atau sekedar mencaci) logika kapitalisme menjadi kurang (atau malah tidak) relevan, karena setiap adanya produksi ruang, ia membutuhkan relasi yang sosial dan alamiah (fisik) hingga membentuk suatu ekosistem tersendiri. Tempat (dan ruang) bersama entitas sosialnya (masyarakat) akhirnya menjadi kesatuan utuh (hal. 78).

Pada pembahasannya mengenai produksi ruang, Smith juga melakukan analisa terhadap bagaimana ruang diperlakukan sebagai komoditas di bawah kapitalisme.Sama halnya dengan produksi alam, ruang juga diikat oleh perangkat nilai untuk logika pasar (nilai guna dan nilai tukar). Selain nilai, sebuah ruang menjadi komoditas ketika ada proses kerja (labour process) di dalamnya. Misalnya di sebuah kota, kita saling terjaring dengan sistem transportasi dan komunikasi–terintegrasinya seluruh komponen di dalam ruang untuk menjalankan moda produksi. Ruang dan tempat semakin berjejaring dan berkembang–bukan sebagai efek atau hukum kausalitas jika x maka y, tapi sebagai sebuah kebutuhan akan ruang-ruang berikutnya yang akan dirambah oleh kapitalisme; x adalah y. Perkembangan besar-besaran pada ruang (spatial development)dan produksinya merupakan kebutuhan kapitalisme untuk terus menggerakkan arus modalnya (hl. 94, hl. 96).

 

Penyeragaman, Diferensiasi, Juga Jungkat-Jungkit Kapitalisme

Bagaimana persisnya penjarahan ruang dalam sistem kapitalisme terjadi? Menurut Smith, ia berada pada kontradiksi internal kapitalisme (hal. 99). Dalam kasus produksi ruang untuk melakukan pemadatan modal, kapitalisme menggunakan diferensiasi dan di saat yang bersamaan penyamaan/penyeragaman ruang. Secara sederhana, diferensiasi ruang dapat diartikan proses-proses pembagian kerja (di dalam pabrik misalnya; yang menempel lem di sepatu dan ada yang memasukkan sepatu tersebut ke dalam kotak) dan karakter-karakter ruang dan geografis tertentu dalam menghasilkan suatu komoditas–misalnya di Riau, Pelalawan adalah (didaulat menjadi) ‘penghasil’ kelapa sawit dan Duri adalah ‘penghasil’ minyak bumi. Lama kelamaan, ‘penghasil’ komoditas ini berkembang dan terkunci dalam istilah yang terpecah-pecah seperti ‘kawasan wisata’, ‘kawasan industrial’, ‘kawasan perkebunan’, dan lain sebagainya.

Diferensiasi tidak hanya terjadi dalam ruang geografis yang ‘natural’, melainkan juga pada apa yang disebut Marx sebagai ‘diferensiasi sosial’. Smith mengembangkan teori tripartite diferensiasi sosial Marx (umum, khusus, dan detail) dalam konteks perkembangan kapitalisme di masa teks UD dikembangkan. Tiga pembagian itu menjadi departemen, sektor, dan individual (hal. 108). (1) Departemen adalah pembagian yang berdasarkan nilai guna dan reproduksi modal. Departemen adalah lapis pertama di mana tiga hal berikut bekerja; (a) moda produksi (baik modal tetap maupun modal bergerak), (b) konsumsi individual sebagian bagian reproduksi kapital, dan (c) produksi komoditas secara massal tapi bukan untuk konsumsi, seperti industri alutsista.[7]

Lapis kedua, yakni (2) sektor didasarkan pada nilai guna yang muncul dalam suatu komoditas (bukan sebagai alat reproduksi modal). Seperti industri otomotif (mobil pribadi, bus lintas kota), dll.

Sedangkan yang terakhir, diferensiasi yang terjadi pada (3) individual, berangkat dari modal sosial yang terintegrasi untuk melakukan tindakan pemadatan modal di kemudian hari. Sehingga konsep individual di sini bukan masalah apa profesi seseorang/suatu kelompok seperti lazimnya diterjemahkan oleh ilmuwan Marxis lain, tapi bagaimana ia/mereka mengembangkan modal sosial tersebut untuk terus berekspansi (hal. 110). Contohnya mungkin seperti ini, grup Blue Bird tidak lagi hanya merambah pengadaan transportasi, tapi ia juga merambah bisnis akomodasi seperti perhotelan dan juga logistik. Blue Bird secara konkret tidak lagi dapat disempitkan menjadi ‘perusahaan taksi’. Dengan modal yang ia peroleh dari bertahun-tahun memutar uang di jagad pertaksian, hal tersebut kemudian ia kembangkan menjadi skema bisnis lainnya.

Keseluruhan proses rumit dan melelahkan dalam diferensiasi ini akan menciptakan sebuah proses sentralisasi kapital di daerah-daerah tertentu, dan menyebabkan pemisahan administratif daerah tersebut berdasarkan komoditas dan proses kerjanya (seperti yang dicontohkan di atas mengenai istilah ‘kawasan’). Proses ini sangat bergantung pada adanya ruang yang dibuat oleh kapitalisme untuk terus melanggengkan sistemnya.

Dalam perjalanan diferensiasi dan sentralisasi modal, kapitalisme secara kontradiktif akan mengakibatkan ‘penyamaan/penyeragaman’ (equalization) dalam proses produksi meskipun ruang-ruang produksinya (sosial maupun geografis) amatlah relatif dan khusus. Proses penyeragaman ini disebabkan justru oleh perkembangan moda produksi yang telah terdiferensiasi sedemikian rupa. Ada dua buah variabel dan turunannya yang mendorong proses ini; kompetisi, sains dan teknologi (termanifestasi dalam istilah machinery) (hal. 120). Perkebunan kelapa sawit di Riau misalnya, RAPP dan Sinarmas akan terus bersaing untuk menjaga modal dan profit masing-masing.Oleh sebab itu, mereka akan terus menyamakan atau malah menaikkan standar proses produksi hingga menghasilkan komoditas, dengan kualitas tertentu.

Proses penyeragaman dibutuhkan oleh kapital untuk mempermudah proses penghilangan ruang yang sangat berguna untuk mendapatkan profit dalam skala maksimum, dimana kecepatan dan waktu melesap hadir dalam efisiensi par excellence, seiring ruang yang menghilang. Jika suatu teknologi dirasa mempercepat proses produksi, maka teknologi tersebut akan diterapkan di tempat lain dimana moda produksi pasca Fordis ini tersebar, terlepas relativitas ruang sosial dan geografisnya. Monsanto si raksasa industri agrikultur tersebut menerapkan proses penanaman GMO dengan teknologi pestisida yang sama tanpa memperhitungkan bentukan lahan dan ruang sosial (atau sebenarnya lebih tepat menggunakan istilah metabolisme sosial dalam istilah Marxis) di Texas berbeda dengan Punjab. Implikasinya seperti banyak laporan yang telah kita dengar; gangguan mental endemik danangka bunuh diri yang tinggi di Punjaab, sementara kanker mengintai para petani kapas di Texas. Diferensiasi menghasilkan penyeragaman, hanya untuk menghasilkan masalah yang partikular. Bagi Neil Smith, penyeragamaan ini secara umum dapat dilihat bagaimana semua hal diseragamkan menjadi komoditas dan relasi kerja upahan, untuk terus membuat kapitalisme terus bernafas (hal. 143).

Lalu jika memang kapitalisme beroperasi dalam pola yang saling kontradiktif, mengapa banyak daerah tetap berkembang, alih-alih menghasilkan disparitas pembangunan yang statis? Jawabannya ada pada konsep mobilitas kapital. Kapitalisme melakukan proses diferensiasi-penyeragaman yang inheren dalam ketimpangan pembangunan untuk mencari ruang yang tetap (spatial fix) dan keseimbangan ruang (spatial equilibrium)–atau sederhananya ia butuh ruang yang tetap untuk menjadi status quo. Permasalahannya, pasar tidak akan pernah mendapatkan keseimbangan dan ruang yang tetap walaupun ia telah melakukan penyeragaman (hal. 140). Hal ini, secara ironis juga disebabkan oleh karakter kompetitif dalam kapitalisme yang selalu menuntut kebebasan dari intervensidalam bentuk apapun (protes masyarakat, negara, dll) yang mengakibatkan dinamika tenologi untuk memaksimalkan profit (hal. 142). Implikasi lebih lanjutnya adalah market unrest, atau tidak ada keadaan ‘stabil’ pada mahzab pasar. Krisis akan terus hadir dan sialnya juga berguna oleh kapitalisme untuk kabur dari disparitas pembangunan yang telah ia ciptakan.

Agar kapitalisme dapat terus menciptakan ruang-ruang keruk yang baru di tengah kontradiksinya, ia mengembangkan sistem yang disebut Smith sebagai ‘teori papan jungkat-jungkit’ (seesaw theory of uneven development) (hal. 161). Alih-alih menemukan ruang yang tetap dan seimbang untuk melakukan reproduksi modal, kapitalisme justru mendapatkan stabilitas sistemnya dari asetnya yang terus bergerak. Mengapa ketimpangan pembangunan akan terus menerus ada dalam proyek geografis dan ruang kapitalisme, karena ia dirancang untuk demikian. Perkembangan di sebuah daerah akan tetap terjadi karena kapital terus bergerak dari satu daerah yang belum berkembang, lalu bergerak lagi di daerah yang berkembang, dan seterusnya demikian. “Kapitalisme seperti plak yang terus menerus hinggap di satu daerah ke daerah lainnya,” tulis Smith (hal. 166). Inilah yang disebut sebagai, “perkembangan di satu titik, ketinggalan di titik lainnya”.

Proses jungkat-jungkit itu dapat dengan mudah diidentifikasi dengan konsep ‘urban’–dan urbanisasi (hal. 146). Urban di sini tidak dapat diartikan sebagai masalah administratif bernama kota belaka, melainkan sebuah proses bergeraknya arus modal antar daerah-daerah, yang sayangnya kemudian dikerdilkan menjadi dikotomi ‘desa-kota’. Kita bisa melihat bagaimana ‘kota’ menjadi suatu wilayah yang mengalami perkembangan pesat sementara ‘desa’ tidak, lalu program-program ‘pemerataan’ dimunculkan walaupun program-program tersebut sebenarnya tidak melepaskan tendensi untuk mengamankan pemadatan modal di daerah yang telah berkembang (seperti ‘kota’).

 

Penutup

Dari paparan yang sangat dalam oleh Smith, maka bijak rasanya untuk mengatakan bahwa kita saat ini berdiri di atas sistem yang begitu rapuh dan tidak stabil, dimana kerapuhan dan ketidakstabilan itu adalah kebutuhannya. Tentu saja kita juga tidak mungkin menjauhi hidup yang dangdut dan drama sehingga terciptalah kestabilan, hanya saja ketidakstabilan dan kerapuhan dalam sistem tersebut adalah kondisi yang dipaksakan oleh segelintir orang (aka pemilik modal untuk melindungi kepentingan pribadinya), dan berakar dari penjarahan manusia terhadap alam–bukan disebabkan alasan mulia karena hidup adalah perjuangan.

Di satu sisi, kita dapat melihat bahwa sejatinya kapitalisme memang membawa perubahan dan perkembangan. Smith mengoreksi paradigma historis bahwa kapitalisme hanya mengulang siklus; sebaliknya, sejarah kapitalisme amatlah progresif (hal. 197). Fakta kapitalisme membawa perkembangan memang tidak dapat dielakkan, bahkan Marx pun mengakuinya. Namun perkembangan ini dibangun di atas penindasan kelas masyarakat oleh kelas lainnya. Sehingga apa yang didistribusikan oleh perkembangan ini bukanlah kekayaan, melainkan kemiskinan dan/atau probabilitas untuk menjadi miskin. Artinya, kapitalisme, bertolak belakang dengan semangat untuk memberikan pilihan individual, justru mereduksi pilihan hidup masyarakat. Seperti kata rapper kenamaan 50 Cent, get rich or die trying!

Untuk menghadapi masalah yang nampak menemui jalan buntu ini, solusi yang ditawarkan Smith sebenarnya tidak terlalu baru: revolusi. Tetapi bukan hanya ‘revolusi’ melainkan ‘revolusi spasial’, dan lebih spesifik lagi ‘revolusi urban’ (hal. 86)–dalam pemahaman urban yang kritis. Dalam termin revolusi yang demikian spesifik, Smith mengindikasikan bahwa perebutan moda produksi berarti mengikuti arus modal yang terus bergerak dalam konsep urban. Dan sepertinya bukanlah sebuah revolusi yang mudah untuk dikerjakan, mengingat semenjak buku Neil Smith ditulis sekitar 25 tahun lalu, arus modal menjadi semakin tidak terkendali. Ditambah dengan moda-moda kapitalisme digital yang terintegrasi untuk melanggengkan ekspansi pasar dengan komoditas lainnya. Pula jika kita berbicara mengenai konsep ‘revolusi urban’ atau revolusi yang terjadi pada konsep ‘urban’, maka perebutan moda produksi jelas menjadi lebih rumit. Terminologi urban dalam perspektif geografi kritis merujuk pada proses arus kapital yang bergerak dari satu ruang ke ruang yang lain. Proses produksi yang terus berpindah akan menyulitkan perebutan moda produksi baik secara fisik maupun substansial. Smith tidak menjelaskan lebih jauh bagaimana atau apa bentuk konkret (bahkan abstrak) dari ‘revolusi urban’ ini.

Kegusaran yang sama juga dijelaskan oleh Jasper Bernes dalam jurnal komunis Inggris Endnotes. Di tulisan yang berjudul “Logistics, Counterlogistics and Communist Prospect”[8] (2013), Bernes mempersoalkan bagaimana proses perebutan moda produksi di tengah-tengah penguasaan logistik dan jalur distribusi yang menjadi jantung kapitalisme kontemporer hari ini. Di Myanmar misalnya, Tatmadaw (militer Myanmar) praktis mengunci seluruh jalur distribusi hasil tambang–dan menguncinya juga dengan persenjataan lengkap, dan atau jika kita lihat bagaimana ‘bermain’ Facebook hari ini sejatinya menyumbang data dan mentransformasikan pengguna menjadi coding semata untuk agen pemasaran. Kecepatan dan waktu berada di titik nadir pada kapitalisme hari ini.

Terlepas dari kegusaran tersebut, yang penting juga disorot adalah kesahihan solusi Smith. Kita sudah bersepakat bahwa penjarahan ruang adalah kebutuhan kapitalisme, tapi jika mengikuti alur argumen Smith, yang bermasalah justru adalah konsep komoditas yang terproyeksi dalam produksi ruang. Dengan demikian, pertanyaan lanjutan selain bagaimana revolusi dapat dibangun, adalah bagaimana mensinergikan antara revolusi spasial/urban, dengan kebutuhan untuk membajak konsep komoditas—sebuah lokus dimana kapitalisme sangat bertumpu–di masyarakat sosialis maupun komunis kelak. Ini menjadi pertanyaan penting yang secara implisit diajukan oleh Smith dalam penjelasannya di Bab 2 (Produksi Alam), apakah setelah revolusi, sosialisme bisa menjamin bahwa kita tidak akan lagi mencemari Sungai Gangga karena pabrik-pabrik garmen? Dan jika kita mencapai masyarakat komunis kelak, maka siapakah yang membuat pancingan ikan dan buku agar kita bisa bersantai? Kalau jaminan tersebut ada, maka apakah patahan metabolis dalam konsep ekologi Marx dapat diperbaiki?

Kelindan pertanyaan yang implisit tersebut akhirnya diungkapkan dengan narasi yang tidak terlalu optimis oleh Smith di catatan akhir UD cetakan 2008. Hal ini berbanding terbalik dengan optimismenya di cetakan kedua tahun 1991. Mengutip Donna Haraway, Smith dengan muram mengatakan, “sulit membayangkan dunia pasca kapital.” Hanya saja, itu bukan ajakan untuk membagikan memememe nihilis di media sosial, melainkan justru untuk kembali meletakkan duduk persoalan dan melengkapi kerja-kerjanya sebagai seorang geografer marxis yang berhasil memberikan masukan penting untuk memahami operasional kapitalisme yang terus berkembang, seiring perubahan ruang dan waktu.

Secara umum, UD bukanlah buku yang dapat dikategorikan mudah untuk dibaca, terlebih bagi mereka yang tidak familiar dengan teks-teks Marxisme, khususnya Kapital (I dan 2), Manifesto Komunis, dan Grundrisse. Sebab, Smith dengan sangat rigid membawa empat buku tersebut ke studi geografinya.Teks-teks geografi di sini juga menjadi preambul yang penting untuk memahami UD; seperti Levebfre dan pengasuh disertasi Smith sendiri, David Harvey.***

 

Daftar Pustaka

Amin, S. (1977). Imperialism & Unequal Development: Essays by Samir Amin. USA: Monthly Review Press.

Bernes, J. (2013). “Logistics, Counterlogistics, and Communist Prospect”. Endnotes, Vol. 3.https://endnotes.org.uk/issues/3/en/endnotes-logistics-counterlogistics-and-the-communist-prospect (diakses 9 September 2016).

Dewi, S (2015). Ekofenemologi: Mengurai Disekuibrilium Alam dan Manusia. Tangerang Selatan: Marjin Kiri.

Harvey, D. (1998). What’s Green and Makes the Environment Go Round? DalamThe Cultures of Globalization, hal. 327-355. USA: Duke University Press.

Lefebvre, H. (1991). The Production of Space. UK: Blackwell Publishing.

Tuan, Y (2005). Space & Place. USA: University of Minnesota Press.

 

————

[1] Lihat Harris, D.J. (2006). Uneven Development. http://www-siepr.stanford.edu/workp/swp06007.pdf (tanggal akses 25 Juli 2016).

[2]Perbedaan mendasar pada istilah yang dipakai oleh Samir Amin juga terletak pada bagaimana imperialisme-eurosentrisme dijadikan cara oleh kapitalisme dalam menaklukan dan mengakumulasi modal, sehingga menciptakan ketimpangan di daerah periferi (pinggiran).Tetapi Smith memberikan penjelasan yang lebih fundamental bahwa imperialisme (juga dengan impor-ekspor) hanya salah satu bentuk abstraksi dari perambahan/perampasan ruang yang inheren dalam kapitalisme.

[3]Dalam terminologi fenomenologi Husserl, lihat penjabaran dan penggunaannya dalam konteks lingkungan pada buku Saras Dewi, Ekofenemologi: Mengurai Disekuibrilium Alam dan Manusia (Marjin Kiri, 2015).

[4]Saya tidak bisa menemukan contoh yang lebih baik daripada Yi Fu-Tuan, dan magna opusnya Space & Place (pertama kali diterbitkan tahun 1977). Buku ini menelurkan premis terkenal “space is freedom, place is security/ruang adalah kebebasan, dan tempat adalah rasa aman” (Tuan, 2005, 2).

[5]Dalam pembacaannya terhadap Marxisme di tahun 1960-1970an, Smith (dan sebenarnya juga geograf Marxismanapun setelah tahun 70an) berhutang besar pada Henri Lefebvre.Unsur “ruang sebagai produk sosial yang kemudian membentuk identitas ruang dan entitas sosialnya” merupakan teori sosiolog Perancis, Henri Levebfre dalam The Production of Space (yang Smith pinjam sebagai judul bab bukunya). Dalam buku babon tersebut, Lefebvre mengkritik perencana kota di Soviet karena pembentukan ruang dan masyarakat di dalamnya dianggap Lefebvre gagal membentuk ‘ruang sosialis’ (Lefebvre, 1991: 61-62)–yang artinya entitas masyarakat Soviet (baru) saat itu tidak memiliki dinamika dan relasi yang berarti terhadap Leningrad misalnya.

[6]Harvey, D. 1998. What’s Green and Makes the Environment Go Round?.The Cultures of Globalization, hal. 327-355.

[7]Industri alutsista adalah contoh yang menarik; justru karena ia tidak memiliki apa yang disebut Smith sebagai immediate use-value (nilai guna praktis (dalam artian dalam kehidupan sehari-hari), penafsiran bebas saya), ia berhasil menjadi faktor produksi untuk terus melakukan pemadatan modal. Operasionalisasinya kurang lebih dapat tercermin dalam perputaran uang dari perdagangan senjata negara-negara maju untuk melakukan invasi/menciptakan konflik di negara lain. Perputaran uang tersebut yang melibatkan korporasi juga berakibat pada cipratan danacorporate social responsibility pada bantuan uang ‘pembangunan’ di negara-negara dunia ketiga. Pendeknya, meskipun alutsista tidak memberikan kebermanfaatan langsung atau nilai guna yang dapat dirasakan secara konkret bagi masyarakat, ia membantu menguatkan pemadatan modal negara untuk terus melakukan perambahan ruang, merengguk profit dan mengulang kembali siklus tersebut.

[8] Bernes, J. (2013). “Logistics, Counterlogistics, and Communist Prospect”. Endnotes, Vol. 3.https://endnotes.org.uk/issues/3/en/endnotes-logistics-counterlogistics-and-the-communist-prospect (diakses 9 September 2016).

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus