Obituari: Benedict Anderson (1936-2015)

Print Friendly, PDF & Email

Kredit foto pada VersoBooks.com

 

BENEDICT Anderson, yang meninggal dunia pada 13 Desember tahun lalu, terkenal sebagai pengarang buku Imagined Communities (1983), yang sampai sekarang masih merupakan buku wajib-baca tentang nasionalisme bagi mahasiswa universitas di seluruh dunia. Buku itu memicu gelombang kajian baru tentang nasionalisme dan menjadi sama fenomenalnya seperti buku Edward Said, Orientalism (1978). Diterjemahkan ke dalam dua puluh sembilan bahasa, buku itu menjadi salah satu buku paling laris dari Verso, penerbit sayap-kiri di London yang sebagian dikelola oleh adiknya, Perry Anderson.

Penerimaan Imagined Communities oleh khalayak mengejutkan pengarangnya. Anderson menjadi seperti seseorang yang mengunggah sebuah video buatan sendiri dan menemukan di pagi hari berikutnya bahwa ia adalah seorang selebriti internasional. Sebagai seorang profesor di departemen pemerintahan Universitas Cornell, ia menonjol di bidang kajian Asia Tenggara, tetapi belum menarik banyak perhatian di luar bidang yang relatif kecil itu. Kesuksesan buku itu mendorongnya ke panggung internasional dan setelah di sana, ia merasa tidak nyaman memainkan peran yang diharapkan darinya, semacam guru agung teori sosial kiri yang setara dengan pemikir sezamannya seperti Said, Chomsky dan Habermas. Alih-alih menindaklanjuti buku itu dengan sebuah teorisasi nasionalisme yang lebih terelaborasi atau sebuah kajian sejarah dunia yang sama ambisiusnya, ia kembali ke apa yang ia telah kerjakan sebelumnya – menulis tentang Asia Tenggara. Di sinilah minatnya terletak. Semua bukunya yang kemudian adalah tentang Asia Tenggara.

 

Terpengaruh Kahin

Minat Anderson terhadap daerah itu dimulai ketika sebagai seorang mahasiswa pascasarjana di Universitas Cornell pada akhir 1950an, ia terinspirasi oleh George Kahin, seorang profesor di Departemen Pemerintahan yang telah membangun sebuah pusat kajian Indonesia di Cornell. Pada saat dimana banyak orang Amerika dan Eropa melihat kaum nasionalis Indonesia sebagai orang barbar yang pakai dasi, Kahin memperlakukan mereka sebagai teman yang setara. Kahin melakukan riset doktoralnya di Indonesia selama tahun-tahun perjuangan melawan Belanda pada akhir 1940an dengan resiko besar terhadap keselamatan dan kesehatan pribadinya. Buku setebal 500 halaman tentang gerakan nasionalis Indonesia yang ia terbitkan pada 1952 mencerminkan keterlibatannya yang intim dan empatis dengan kaum nasionalis serta kerajinannya yang heroik dalam mengumpulkan informasi.[1] Banyak ulasan tentang bukunya di jurnal-jurnal ilmiah mencerminkan rasisme yang ada pada saat itu, berkeberatan karena ia sangat kritis terhadap kekuasaan kolonial Belanda.

Anderson datang ke Cornell secara kebetulan, seperti yang ia jelaskan dalam memoarnya, yang diterbitkan oleh Verso hanya beberapa bulan setelah kematiannya.[2] Setelah lulus dari Universitas Cambridge dengan gelar sarjana kesusastraan kuno, ia tinggal di rumah dengan ibunya, tidak pasti dengan bidang kerja apa yang akan ia geluti. Seorang teman lamanya yang telah menjadi mahasiswa pascasarjana di Cornell menyarankan ia untuk datang bekerja sebagai asisten dosen di sana. Itu merupakan lompatan menuju ke yang tak diketahui, karena ia belum pernah ke AS dan belum memutuskan program studinya.

Anderson merancang disertasinya sebagai semacam pendahuluan dari buku Kahin. Disertasinya membahas tahun-tahun pendudukan Jepang dan tahun-tahun awal Republik Indonesia. Disertasinya, yang selesai pada 1967 dan kemudian diterbitkan dalam bentuk yang direvisi sebagai sebuah buku pada 1972, adalah sebuah karya sejarah yang empirisis dan konvensional, sekalipun ditulis oleh seseorang dari departemen ilmu politik.[3] Buku itu bergerak secara kronologis melalui peristiwa-peristiwa dari sebuah periode pendek yang ditetapkan dan menggunakan wawancara lisan dan sumber tertulis sebagai sumber fakta. Menganalisis secara hati-hati pergerakan para politisi dan pejabat militer yang terlibat dalam perjuangan untuk membentuk Republik yang baru, ia hampir seperti ditulis oleh Kahin atau salah seorang mahasiswa pascasarjananya yang lain, seperti Herbert Feith dan Daniel Lev yang menulis tentang politik Indonesia pada 1950an. Kita hanya melihat secara sekilas dan samar-samar perhatian terhadap penerjemahan, sastra dan budaya yang akan mendominasi karya Anderson yang kemudian.

Anderson berbeda dari Kahin mengenai peran Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam perjuangan nasionalis Indonesia. Dalam sejarah versi Kahin, PKI memainkan peran yang remeh. Mungkin ia mencoba membuat nasionalisme Indonesia lebih sesuai dengan selera orang Amerika pada awal 1950an. Banyak sumber Kahin di Indonesia adalah anti-komunis, terutama mereka yang berasal dari lingkaran Partai Sosialis. Komunisme tentu saja merupakan isu yang sensitif: Kahin sendiri diganggu oleh Senator McCarthy pada awal 1950an karena menolak memberitahu pembimbing disertasinya, Owen Lattimore. Anderson, dengan memasukkan lebih banyak informasi tentang PKI dalam bukunya, menceritakan kisah yang kurang riang. Ia menyimpulkan bukunya dengan mencatat bahwa kesuksesan “revolusi nasional” pada 1949 datang dengan mengorbankan gerakan radikal yang mendorong “revolusi sosial.”

Kahin dan mahasiswanya pada 1950an-60an melawan paradigma modernisasi yang saat itu mendominasi dan menganggap bahwa negara yang baru merdeka, seperti Indonesia, adalah masyarakat “tradisional” yang berada dalam proses “modernisasi.” Teks tipikal dari aliran modernisasi adalah buku yang diedit oleh Clifford Geertz, seorang antropolog yang mengkhususkan diri pada Indonesia, Old Societies and New States (1963). Geertz membayangkan negara Asia dan Afrika yang merdeka penuh dengan orang yang menggenggam identitas “primordial” seperti etnisitas, agama, dan ras, sementara dipimpin oleh segelintir elit terdidik yang secara heroik mengajak atau memaksa mereka mengadopsi identitas modern yang baru yaitu bangsa. Kelompok Kahin, yang menolak paradigma ini, melihat masyarakat Indonesia sama modernnya seperti tempat lain di dunia. Artikel Anderson, “Old State, New Society” (1983), mengelaborasi pendekatan dasar yang ia gunakan sejak ia memulai penelitiannya: adalah masyarakat Indonesia yang modern, yang sedang membangun politik demokratis dan identitas baru, sementara negara pascakolonial berisikan personil yang meneruskan kebijakan dan institusi negara kolonial lama yang sudah berurat akar.[4]

Ketika Anderson memperoleh keahliannya tentang Indonesia pada 1960an, Kahin menjadi sibuk dengan perang di Vietnam. Yakin bahwa adalah kewajibannya sebagai warga negara untuk berbicara menentang kebijakan AS, ia menyatakan di banyak diskusi publik, dengar pendapat Kongres, dan têteà-têtes dengan pejabat pemerintah AS bahwa AS telah membuat diri mereka melawan nasionalisme Vietnam, bukan komunisme, dan akan kalah. Kahin tidak kembali menulis tentang sejarah Indonesia sampai 1990an, setelah menyelesaikan kajian monumentalnya tentang pembuatan kebijakan AS mengenai Vietnam, Intervention (1986).[5]

 

Terpesona dengan Jawa

Dua setengah tahun penelitian lapangan Anderson di Indonesia (akhir 1961 sampai awal 1964) ikut membentuk dirinya. Ia tidak hanya membaca dokumen-dokumen tua di arsip dan mewawancara mantan pejabat tentang peristiwa-peristiwa politik tinggi untuk tujuan disertasinya. Ia membenamkan dirinya dalam masyarakat Jawa, berbicara dengan banyak ragam orang, menonton pertunjukan wayang sepanjang malam, berjalan mengelilingi pulau, dan mengunjungi candi-candi kuno. Ia dengan cepat fasih berbahasa Indonesia, sementara juga mempelajari bahasa Jawa.

Ketika kembali ke Cornell, ia tidak dengan segera mengerjakan disertasinya. Alih-alih, ia menulis sebuah buku pendek tentang “budaya Jawa” yang menyatakan bahwa tokoh dan alur teater wayang memberikan orang Jawa kemampuan untuk memahami sudut pandang yang berbeda dan mengapresiasi kompleksitas penalaran moral.[6] Ia memuji “dimensi yang luas dan mengagumkan dari rasa hormat orang Jawa terhadap keragaman manusia” dan pengelakan mereka dari dikotomi tajam baik vs. jahat. Kalimat pertama buku itu merujuk ke diri sendiri: “Kebanyakan orang Eropa dan Amerika yang telah lama tinggal di Jawa cepat atau lambat akan terpesona oleh peradaban kunonya.” Ia juga terpesona dan jatuh cinta dengan budaya Jawa ‒ atau versi budaya Jawa yang agak tereifikasi.

Peristiwa yang terjadi satu bulan setelah buku itu diterbitkan menunjukkan argumennya mengenai toleransi orang Jawa tidak akurat. Tentara Indonesia memulai sebuah genosida politik terhadap anggota PKI pada Oktober 1965, membantai ratusan ribu orang. Sebagian besar orang di ketentaraan dan PKI adalah orang Jawa, sehingga pembunuhan itu seringkali merupakan persoalan orang Jawa membunuh orang Jawa lainnya. Sekalipun Anderson mengetahui bahwa genosida itu bukanlah ekspresi langsung dari budaya Jawa, bahwa hal itu melibatkan institusi negara-bangsa modern, ia juga menyadari bahwa ia telah melewatkan sesuatu. Seperti yang ia tulis beberapa tahun kemudian, “itu terasa seperti menemukan orang yang kita cintai adalah seorang pembunuh.”[7]

 

Kediktatoran Suharto

Dengan sesama ilmuwan Cornell, Ruth McVey (yang baru saja menerbitkan sebuah buku yang tebal tentang PKI pada 1920an) dan Frederick Bunnell, Anderson menceburkan diri ke dalam tugas mengurai serangkaian peristiwa rumit yang dimulai pada Oktober 1965. Pada Januari 1966, mereka menyelesaikan sebuah analisis atas pemberontakan terhadap komandan tertinggi tentara dan serangan tentara kepada PKI. Mereka mengirim manuskrip mereka, A Preliminary Analysis of the October 1, 1965 Coup in Indonesia, ke ilmuwan lain dan dua pejabat Departemen Luar Negeri, meminta agar mereka tidak menyebarkannya untuk melindungi identitas pengarang. Sebagai redaktur di New Left Review, Peter Wollen, meringkas dan menyunting laporan mereka serta menerbitkannya dengan nama samarannya, Lucien Rey.[8]

Anonimitas mereka tidak berlangsung lama. Salah satu naskah Departemen Luar Negeri bocor ke para jenderal tentara Indonesia di Jakarta. Melihatnya sebagai sumber dari banyak komentar pers di AS dan Eropa yang mengkritik pengambilalihan kekuasaan negara secara berdarah oleh mereka, para jenderal bertekad mendiskreditkannya. Mereka terutama khawatir dengan opini publik AS karena rezim mereka yang baru terbentuk itu sangat bergantung pada bantuan militer, diplomatik dan ekonomi Amerika. Untuk menyenangkan pemerintah AS, tentara di bawah Jenderal Suharto menyingkirkan Presiden Sukarno dan menawarkan sumberdaya negara ke perusahaan-perusahaan multinasional. Para jenderal dan pejabat Amerika memperlakukan Anderson sebagai seorang simpatisan komunis.

Bantahan resmi terhadap apa yang kemudian dikenal sebagai “Cornell Paper” ditulis oleh sejarawan utama tentara, Nugroho Notosusanto, dan seorang jaksa di pengadilan khusus militer, Ismail Saleh. Keduanya bekerja dengan seorang ahli Indonesia dari RAND Corporation yang imigran Romania, Guy Pauker, pada 1967 untuk menyusun buku kecil yang buruk sekali, The Coup Attempt of the ‘September 30th Movement’ in Indonesia (1968). Bahwa buku itu hanya diterbitkan dalam bahasa Inggris menandakan sesuatu. Orang asing perlu diyakinkan akan legitimasi rezim baru itu. Orang Indonesia bisa diperintah untuk patuh.

Seperti yang Anderson gambarkan dalam artikelnya yang memikat mengenai bagaimana ia berurusan dengan para pejabat kediktatoran Suharto dan kedutaan AS, “Scholarship on Indonesia and Raison d’État,” ia diperbolehkan mengunjungi Indonesia pada 1967 dan 1968, tetapi kemudian dideportasi setelah tiba pada 1972.[9] Adalah menyakitkan baginya diusir dari negara yang dengannya ia telah memiliki kedekatan yang romantis. Ketika ia dilarang masuk di bandara Jakarta pada 1981, setelah ia sudah diberikan visa untuk menghadiri sebuah konferensi akademik, ia mengalami semacam gangguan syaraf selama penerbangan kembali. Seperti yang ia ceritakan ke jurnalis Scott Sherman, “Saya tiba-tiba merasa sakit yang menyiksa di seluruh tubuh saya. Sakitnya begitu parah sehingga selama sebagian besar waktu penerbangan, saya harus berbaring di lantai kabin yang membuat heran para penumpang dan pramugari.”[10]

Satu hiburan dari pengusiran itu adalah bahwa ia bebas untuk mengkritik rezim dan menulis tentang PKI, berbeda dengan semua ilmuwan asing lain yang mengkaji Indonesia, yang khawatir mereka akan bernasib sama dengan Anderson. Kesaksiannya dalam dengar pendapat Kongres pada akhir 1970an dan awal 1980an mengenai hak asasi manusia di Indonesia dan pendudukan Timor Timur adalah intervensi yang berpengaruh. Sebagai salah satu pendiri dan redaktur jurnal ilmiah enam bulanan Indonesia, ia terus memainkan peran utama dalam kajian Indonesia. Sejumlah besar artikelnya di jurnal itu saja merepresentasikan sebuah arsip yang tak ternilai: ia menerjemahkan dan mengomentari banyak dokumen sejarah dan karya sastra yang penting.

Karena tidak bisa kembali ke Indonesia, ia mengalihkan perhatiannya pada 1970an ke Thailand dan Filipina, serta mulai membenamkan diri dalam bahasa dan literatur mereka. Untuk terbitan sayap-kiri, ia menulis analisis tajam tentang perjuangan politik, seperti selingan demokratis di Thailand pada 1973-76 dan penghancurannya yang keras, serta kediktatoran Marcos di Filipina, selalu dengan mengapresiasi struktur kelas dan negara jangka panjang.[11]

Sebagai seorang mahasiswa pascasarjana dan aktivis dalam gerakan solidaritas untuk penentuan nasib sendiri bagi Timor Timur serta demokrasi di Indonesia pada 1990an, saya sangat menghormatinya. Ia adalah seorang pengkritik kediktatoran Suharto yang tanpa kompromi dan berprinsip, yang menggabungkan analisis ketat atas realpolitik dengan pemahaman sensitif atas sejarah budaya Asia Tenggara. Saya terkesan ketika mengunjungi penulis Indonesia yang terkenal, Pramoedya Ananta Toer, pada 1995 dan menemukan sebuah foto Anderson yang dibingkai di salah satu mejanya. Saya juga terkesan beberapa tahun kemudian saat membaca kumpulan dokumen pribadi Pramoedya dan menemukan surat-surat Anderson dari tahun 1980an kepadanya dan kepada editornya, Joesoef Isak, yang berisikan komentar-komentar rinci terhadap penerjemahan tulisan-tulisan Pramoedya.

Saya berkorespondensi dengannya beberapa kali sebelum dan sesudah buku saya tentang Gerakan 30 September diterbitkan. Ia murah hati dengan waktunya dan ramah. Dalam buku itu, saya mencoba mengungkapkan kritik saya terhadap argumen-argumennya mengenai peristiwa 1965 dengan cara penuh hormat. Saya pikir ia mengapresiasi, setidaknya sebagian dari apa yang saya kerjakan: ia meminta agar obituari yang telah saya tulis tentang Suharto diterbitkan ulang di jurnal Indonesia.[12]

 

bens

 

Imagined Communities

Bukunya Imagined Communities muncul di banyak kelas yang saya ambil pada 1990an. Buku itu dimaksudkan, seperti ditunjukkan oleh anak judulnya, sebagai serangkaian “refleksi” yang disebabkan oleh peristiwa-peristiwa di Asia Tenggara ‒ invasi Vietnam atas Kamboja pada akhir 1978, yang mengakhiri rezim genosida Khmer Merah, dan invasi Tiongkok atas Vietnam pada awal 1979, yang menghukum Vietnam untuk manuvernya terhadap negara klien Tiongkok. Bagi Anderson, perang di antara tiga negara sosialis ini merupakan konfirmasi lebih lanjut bahwa nasionalisme telah mengalahkan Marxisme. Ia bertanya-tanya, kenapa nasionalisme begitu kuat? Kenapa, misalnya, partai-partai komunis selalu dibentuk mengikuti garis nasional?

Jawaban Anderson terhadap pertanyaan-pertanyaan ini tidak biasa, begitu pula gaya prosa dengan mana ia mengekspresikannya. Idola Anderson adalah Walter Benjamin yang tidak dapat dikategorisasi, yang dikutip berulang-ulang, dari epigraf sampai halaman terakhir. Seperti karya Benjamin, buku itu memperlihatkan pengetahuan yang mengesankan sementara menentang protokol disiplin akademik. Buku itu seperti karya sejarah: bergerak secara kronologis melalui sekitar lima abad. Tetapi kita tidak dapat membayangkan seorang sejarawan profesional berani bergerak sangat cepat tanpa dapat diperkirakan di wilayah yang luas seperti itu. Argumen, alih-alih diperkuat oleh bukti, diilustrasikan dengan aperçus yang “menawan,” “mencolok” dan “memesona” (seperti komentar terhadap Makam Tentara yang Tidak Dikenal). Perbandingan yang belum pernah ada sebelumnya dibuat antara tokoh dan proses sejarah yang agak berbeda. Buku itu adalah karya sejarah dan juga karya kritik sastra, teori politik, dan antropologi.

Sebesar apapun buku itu mengejutkan pembaca, buku itu sesuai dengan kecenderungan intelektual yang berlaku pada 1980an. Bidang kajian budaya meluas karena akademisi kiri ingin melampaui bidang ekonomi politik. Banyak buku tentang Antonio Gramsci dan Walter Benjamin diterbitkan. Identitas menjadi sebuah kata kunci dan hal itu dipahami sebagai sesuatu yang tidak pasti, cair dan tidak stabil. Esensialisme adalah musuh besarnya. Banyak judul buku mengambil bentuk Invensi X atau Konstruksi Sosial dari X. Kumpulan esai yang berpengaruh, The Invention of Tradition, yang diedit oleh Hobsbawm dan Ranger, juga muncul pada 1983. Buku Anderson menempatkan diri dengan baik dalam zeitgeist ini: ia membahas bangsa, bukan kelas, mengusulkan bahwa nasionalisme memiliki “akar budaya” yang mendalam, dan mempresentasikan identitas nasional sebagai terkonstruksi secara historis di masa modern.

Berbeda dengan banyak buku tentang konstruksi sosial dari identitas, buku Anderson menekankan daya tahan identitas, bukan keberubahannya. Ia menyatakan bahwa nasionalisme adalah sejenis agama yang memberikan makna eksistensial yang sangat kuat bagi kehidupan masyarakat, mendasarkan identitas dalam ruang dan waktu. Ini adalah sebuah pengertian yang orisinal. Para ahli nasionalisme yang utama saat itu memperlakukan nasionalisme sebagai sebuah ideologi politik yang setara dengan liberalisme dan Marxisme (Anthony Smith), sebuah ajaran filosofis (Kedourie), sebuah khayalan patologis (Nairn), sebuah strategi politik yang diperlukan dalam dunia imperialisme (Nairn lagi), atau hanya sebagai efek samping dari industrialisasi (Gellner). Ketika menyatakan bahwa nasionalisme adalah sejenis agama, ia tidak bermaksud mengutuknya. Justru sebaliknya. Ia menganggap nasionalisme biasanya mendorong perilaku baik dan tanpa pamrih.[13]

Sekalipun Imagined Communities ditulis sebagai komentar terhadap Marxisme, dengan halaman pembuka dan penutupnya membahas Marxisme, analisisnya tidak banyak menggunakan Marxisme. Buku itu menceritakan sejarah “asal usul dan penyebaran nasionalisme,” seperti yang dinyatakan oleh anak judulnya, tanpa menghubungkannya dengan sejarah perubahan relasi produksi. Gagasan Anderson tentang kapitalisme khas. Ia menyatakan bahwa agen penyebab yang memunculkan agama baru nasionalisme adalah “kapitalisme cetak,” yang mana maksudnya adalah pemasaran massal buku-buku yang dibuat mesin pada 1500an-1600an. Ia meletakkan banyak bobot eksplanatoris pada gagasan “kapitalisme cetak” ini dan gagasan itu menjadi salah satu argumen yang terkenal dari buku itu. Kita harus memahami bahwa pengertiannya atas “kapitalisme” bukanlah pengertian Marx. Anderson merujuk ke apa yang disebut Marx sebagai kapital dagang, bukan kapitalisme itu sendiri. Dengan hanya merujuk ke komodifikasi buku, Anderson tidak membahas semua hal lain yang telah dikomodifikasi saat itu, seperti tanah dan tenaga kerja.

Seseorang mungkin berharap bahwa sebuah analisis yang menghubungkan nasionalisme dengan semacam “kapitalisme” dan perubahan “arti waktu” akan memiliki waktu untuk membahas analisis Marx atas waktu yang, seperti dapat kita lihat di tiga jilid Capital, sangat terelaborasi. Begitu pula, seseorang mungkin berharap bahwa sebuah cerita tentang nasionalisme sebagai relasi baru antara masyarakat dan teritori, sebagai teritorialisasi identitas kolektif, akan mempertimbangkan perubahan seiring dalam relasi kepemilikan (seperti pengusiran orang dari tanah dan munculnya kepemilikan privat) sebagai sesuatu yang sama pentingnya dengan penerbitan buku. Kita tidak dapat menyalahkan Anderson: seluruh literatur sejarah asal-usul nasionalisme, termasuk karya-karya yang ditulis kaum Marxis, belum mengeksplorasi hubungannya dengan kapitalisme.

Anderson cenderung menghindar membahas semua jenis teori sosial, bukan hanya Marxisme. Penghindaran itu tampak bisa dibenarkan ketika membahas nasionalisme yang, seperti dikatakan Anderson, “belum pernah menghasilkan pemikir besarnya sendiri: Hobbes-nya, Tocqueville-nya, Marx-nya atau Weber-nya.”[14] Imagined Communities, dengan kurangnya rujukan ke “pemikir besar” seperti itu, tampak orisinal. Berlimpahnya kutipan dari sumber-sumber primer, yang diambil dengan mudah dari seluruh dunia, digabung dengan komentar Anderson yang orisinal dan cerdas terhadap sumber-sumber itu, tentu menjadi bacaan yang menyegarkan, meski terkadang membingungkan. Namun, seorang pembaca akan dengan mudah melihat bahwa teksnya membawa pengaruh yang dalam dari penulis terakhir dalam daftarnya – Weber.

Buku itu mengisahkan nasionalisme sebagai pengembangan budaya dari negara birokratis. Terlepas dari semua penekanan pada imajinasi, ceritanya adalah tentang peran menentukan dari struktur negara. “Nasionalisme kreol” di benua Amerika pada akhir abad ke-18 dijelaskan dalam kaitannya dengan jalur karir di negara-negara imperial Inggris dan Spanyol. Begitu pula, nasionalisme anti-kolonial di Asia pada abad ke-20 dijelaskan oleh struktur sekolah dan jabatan dalam negara-negara imperial Eropa dan Amerika. Kritik Partha Chatterjee terhadap Imagined Communities dalam bukunya The Nation and Its Fragments (1993), salah sasaran, tetapi ia memiliki satu poin valid: Anderson tidak memberikan penjelasan yang kuat terhadap bentuk-bentuk budaya pra-kolonial.[15] Bab “Sensus, Peta, Museum” yang ia tambahkan kemudian, tentang mana saya pernah melihatnya memberikan kuliah di Jakarta, keras dalam penyangkalannya terhadap agensi lain selain negara kolonial.[16]

 

Oeuvre era-pensiun

Setelah Imagined Communities, Anderson menerbitkan banyak artikel, dan dua kumpulan artikelnya, tetapi ia tidak menulis monografi lagi sampai ia pensiun dari mengajar pada 2000. Ia pindah ke sebuah apartemen di Bangkok, dan di tengah jadwal ceramahnya yang padat di seluruh dunia, memfokuskan diri pada menulis. Buku utama yang kemudian ia tulis adalah Under Three Flags (2005), mengenai kehidupan dan tulisan tokoh besar nasionalis Filipina, José Rizal, yang novelnya pada akhir abad ke-19 sangat berdaya cipta dan cerdas.[17] Buku itu meletakkan Rizal di tengah jaringan global kaum anarkis dan seniman avant-garde pada zamannya.

Anderson juga menulis tentang seorang penulis Indonesia-Tionghoa, yang terjatuh ke dalam ketidakjelasan, meski pada 1947 menulis sebuah laporan yang menarik dan jujur tentang revolusi nasional Indonesia. Anderson menggali lebih banyak informasi tentang kehidupannya dan mengatur penerbitan ulang bukunya yang terbit pada 1947. Penulis Indonesia lain yang dipromosikan oleh Anderson adalah Eka Kurniawan, yang dua novelnya baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan di AS dengan bantuan Anderson. Ia adalah penggemar pembuat film Thailand, Apichatpong Weerasethakul, dan menulis komentar terhadap film-filmnya.

Oeuvre Anderson era-pensiun menunjukkan bahwa ia paling menikmati menerjemahkan dan mengomentari karya individu yang jenius kreatif. Ia sangat menghargai kekhasan dan menjadi tidak begitu berminat menganalisis kekuatan-kekuatan impersonal dari pasar dan negara (seperti yang kita temukan dalam Imagined Communities). Ia menulis estetika, memprioritaskan fitur gaya dari prosa yang ia kaji, seperti keanggunan sintaksis dan multi-glossia, bukan implikasi politiknya.

Saya mengakui bahwa saya terlalu sejarawan yang suka mengklarifikasi peristiwa-peristiwa lalu, seperti pembunuhan massal di Indonesia pada 1965-66, untuk bisa memiliki prioritas ini. Misalnya, saya menemukan sedikit yang secara politik progresif dalam fiksi Kurniawan dan menganggap pujian Anderson kepadanya sebagai “penerus” Pramoedya mengada-ada, seolah-olah ada tempat kosong setelah kematian Pramoedya pada 2006 yang disebut Penulis Indonesia Terbesar yang Masih Hidup dan novel Kurniawan dapat diperbandingkan dengan karya Pramoedya. (Begitu pula, saya pikir adalah mengada-ada untuk berbicara tentang seseorang sebagai “penerus” Anderson). Kurniawan bermain-main dengan peristiwa sejarah, seperti pembunuhan 1965-66, merujuk ke hal itu secara oportunistik, tanpa menambah kedalaman apapun kepadanya, tanpa memungkinkan pembaca untuk memperoleh pengertian baru atau hubungan emosional dengan peristiwa itu. Fiksi Pramoedya, yang dengan tidak tepat dinamakan “realisme sosialis” oleh Kurniawan, memiliki pendekatan yang sama sekali berbeda terhadap sejarah.[18]

Memoar Anderson, yang diterbitkan oleh Verso beberapa bulan setelah kematiannya, berbicara sedikit tentang karya politik dan komitmennya selama bertahun-tahun. Saya menyebutnya memoar karena tidak memiliki istilah yang lebih baik. Buku itu adalah sebuah otobiografi, bercerita sejak masa kecil sampai manula, tetapi buku itu bisa juga disebut manifesto atau surat untuk ilmuwan yang lebih muda. Ia menggunakan kehidupannya untuk menjelaskan secara rinci kredo humanisme liberal: pergi ke luar dan belajar tentang dunia, jadilah kosmopolit, belajar bahasa-bahasa lain, bacalah sastra dan literatur fiksi, kaji budaya lain secara mendalam, abaikan dinding yang ada di antara bidang-bidang akademis, kreatiflah, temukan sudut pandang baru, ikuti minatmu. Itu merupakan kredo yang berguna, meskipun ilmuwan muda yang dituju Anderson harus mencari di tempat lain untuk panduan menghubungkan keilmuan dengan agenda politik.

Anderson meninggal dunia hanya tiga hari setelah peluncuran buku terjemahan Indonesia dari Under Three Flags di Jakarta. Ia jelas berjuang secara fisik dan mental ketika menyampaikan ceramahnya.[19] Ia pergi ke Jawa Timur setelah peluncuran buku itu untuk mengunjungi tempat-tempat bernostalgia, tempat-tempat yang pertama kali ia lihat pada awal 1960an, seperti candi air Hindu yang berumur 1.000 tahun dan artefak Jawa kuno. Ia meninggal karena gagal jantung pada saat tidur setelah berjalan penuh selama sehari. Ia tampaknya tidak mengira akan meninggal saat itu dan di sana, tetapi jika ia diperbolehkan memilih, ia tampaknya akan memilih persis keadaan itu: dekat situs Jawa kuno, di tengah para intelektual muda, membahas terjemahan bahasa Indonesia dari bukunya tentang negara Asia Tenggara yang lain.***

 

Penulis adalah profesor di departemen sejarah di University of British Columbia, Vancouver, BC.

 

Artikel ini diterjemahkan oleh M. Zaki Hussein dari judul asli Benedict Anderson (1936-2015)

 

————

[1] George Kahin, Nationalism and Revolution in Indonesia (Ithaca: Cornell University Press, 1952). Program Asia Tenggara di Cornell mencetak ulang buku itu pada 2003 dengan pengantar dari Benedict Anderson. Saya mengulas buku itu dalam Itinerario 29: 1 (2005).

[2] Benedict Anderson, A Life Beyond Boundaries (London: Verso, 2016).

[3] Benedict Anderson, Java in a Time of Revolution (Ithaca: Cornell University, 1972).

[4] “Old State, New Society: Indonesia’s New Order in Comparative Perspective,” Journal of Asian Studies 42: 3 (May 1983), 477-496. Tesisnya tentang Orde Baru Suharto sebagai kembali ke negara kolonial Belanda memiliki masalahnya sendiri, seperti yang ditunjukkan oleh Robert Cribb: “The Historical Roots of Indonesia’s New Order: Beyond the Colonial Comparison,” dalam Soeharto’s New Order and its Legacy: Essays in Honour of Harold Crouch, diedit oleh Edward Aspinall dan Greg Fealy (Canberra: ANU E Press, 2010).

[5] Memoar Kahin yang diterbitkan setelah ia meninggal informatif: Southeast Asia: A Testament (London: RoutledgeCurzon, 2003).

[6] Benedict Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese (Ithaca: Modern Indonesia Project, Southeast Asia Program, Cornell University, 1965).

[7] Benedict Anderson, Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia (Ithaca: Cornell University Press, 1990), hlm. 7.

[8] Lucien Rey, “Dossier of the Indonesian Drama,” New Left Review 36, Maret-April 1966, 26-36.

[9]Scholarship on Indonesia and Raison d’État: Personal Experience,” Indonesia 62 (Oktober 1996), 1-18.

[10] Scott Sherman, “A Return to Java,” Lingua Franca (Oktober 2001), http://www.scottgsherman.com/profiles/benedictanderson.php

[11] “Withdrawal Symptoms: Social and Cultural Aspects of the October 6 Coup,” Bulletin of Concerned Asian Scholars 9:3 (Juli-September 1977), 13-30; “Cacique Democracy in the Philippines: Origins and Dreams,” New Left Review 169 (Mei-Juni 1988).

[12] John Roosa, Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’État in Indonesia (Madison: University of Wisconsin Press, 2006). Obituari Suharto, yang awalnya ditulis untuk majalah daring Inside Indonesia, diterbitkan ulang di Indonesia 85 (April 2008), 137-143.

[13] Benedict Anderson, “The Goodness of Nations,” dalam Nation and Religion: Perspectives on Europe and Asia, diedit oleh Peter van der Veer dan Hartmut Lehmann (Princeton: Princeton University Press, 1999).

[14] Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (London: Verso, ed. rev. 2006), 5.

[15] Andrew Parker memiliki kritik yang bagus terhadap satu bagian dari argument Chatterjee, “Bogeyman: Benedict Anderson’s ‘Derivative’ Discourse,” dalam Grounds of Comparison: Around the Work of Benedict Anderson, diedit oleh Jonathan Culler dan Pheng Cheah (New York: Routledge, 2003).

[16] Kritik David Henley terhadap analisis Anderson atas nasionalisme anti-kolonial di Asia Tenggara efektif: “Ethnogeographic Integration and Exclusion in Anticolonial Nationalism: Indonesia and Indochina,” Comparative Studies in Society and History 37:2 (April 1995), 286-324.

[17] Under Three Flags: Anarchism and the Anti-colonial Imagination (London: Verso, 2005). Bagian-bagian dari buku itu diterbitkan secara berseri di tiga edisi New Left Review pada 2004.

[18] Kritik terhadap Rushdie di artikel berikut bisa berlaku mutatis mutandis ke Kurniawan: John Roosa dan Ayu Ratih, “Solipsism or Solidarity: The Nation, Pramoedya Ananta Toer and Salman Rushdie,” Economic and Political Weekly, 36:28 (Juli 14-20, 2001), 2681-2688.

[19] Video ceramah 10 Desember 2015 telah diunggah daring, https://www.youtube.com/watch?v=I6l4NM14PCw


comments powered by Disqus