John Bamba: CU Gerakan Adalah Alternatif terbaik Saat Ini Buat Gerakan Civil Society di Indonesia

Print Friendly, PDF & Email

CREDIT UNION (CU) merupakan salah satu aliran gerakan koperasi di Indonesia. CU tumbuh subur di tanah Borneo sejak empat dekade lalu.[1] Umur yang tak lagi begitu muda cukup membuat gerakan CU berbenah diri. John Bamba (JB) sebagai salah satu aktivis gerakan CU sekaligus juga seorang dayakolog membuat refleksi panjang sekaligus tawaran baru bagi gerakan CU di Indonesia. Dalam bukunya, Credit Union Gerakan Konsepsi Filosofi Petani (2015) JB mengajak seluruh elemen gerakan CU untuk menemukan kembali peran strategisnya di tengah sistem yang semakin kapitalistik. Pertanyaannya sederhana: benarkah CU ampuh sebagai alternatif dari sistem keuangan ala kapitalis? Jika tidak, mengapa? Jika ya, apa ukurannya? Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana, segar dan provokatif. Pendekatannya historis juga reflektif. “Tolong dibaca dan diberi kritik,” begitu pesan beliau ketika menghadiahkan bukunya pada kami.

Menurut JB, CU Gerakan (CUG) sungguh menjadi gerakan manakala CU dengan sadar dan sengaja (by design) juga melibatkan dirinya dalam perjuangan rakyat, melakukan transformasi sosial tanpa mengabaikan ‘profesionalitas’ CU sebagai lembaga keuangan. Sederhananya, CU selain melek finansial, juga harus melek urusan sosial, budaya, politik. Pilihan ini muncul atas dasar kesadaran bahwa sistem kapitalisme tidak cukup jika dilawan hanya dengan kekuatan uang. Di Kalbar, tempat di mana JB bergiat, musuh utama rakyat adalah perusahaan perkebunan (sawit) dan pertambangan skala besar. Perampasan lahan adat terjadi bersamaan dengan pemiskinan dan subordinasi adat dayak. JB menjelaskan lebih dari 50% lahan perkebunan di Kalimantan sudah dikuasai korporasi. Adalah GPPK (Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih) yang dipandang dan diharapkan berpotensi mencari sistem alternatif di luar kapitalisme. GPPK adalah sebuah kumpulan organisasi baik non-profit maupun profit—yang digunakan untuk menopang aktivitas gerakan masyarakat adat Dayak melawan kerakusan korporasi. Gerakan Credit Union (GCU)[2] hanyalah salah satu anak dari keluarga besar GPPK. Ada Lembaga Bela Banua Talino (LBBT), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Kalimantan Barat (AMAN-Kalbar), SD-SMP Santo Fransiskus Asisi, Radio Komunitas Suara Masyarakat Adat (RAMA), RUAI TV, dll yang juga berada di dalam ekosistem ini. Menurut JB, efektivitas gerakan CU berbasis gerakan mesti disokong oleh elemen kekuatan lain sebagaimana terdapat dalam GPPK.

Lalu apa beda CUG ala GPPK dengan CU-CU lain yang ada di Kalimantan maupun Indonesia? Pada 2011 lalu, sejumlah aktivis GPPK menerbitkan kebijakan baru terkait arah gerak CU ke depan. Mereka merumuskan sebuah landasan konseptual mengenai bentuk ideal CUG: berbasis konsepsi filosofi petani. Secara ideal, mereka memandang moral hidup petani –tanam-tuai/ setia proses; disiplin; punya perencanaan; subsisten; solidaritas/guyub—sebagai landasan pola pikir dan laku organisasi. Idealisasi ini mewujud dalam bentuk kebijakan terkait syarat keanggotaan, ragam produk simpanan-pinjaman, besaran balas jasa, alokasi dana solidaritas dan gerakan, dsb. Menurut JB, meski nilai dan prinsip CUG diambil dari kearifan masyarakat petani bukan berarti CUG hanya terbatas pada petani. Masyarakat tertindas lainnya, baik itu kelompok buruh, nelayan, miskin kota juga bisa memanfaatkan sistem ini sebagai alat menuju transformasi sosial yang berkeadilan.

Untuk mengetahui lebih jauh seluk-beluk dan tujuan CUG, kami dari tim Koperasi Riset Purusha dan Credit Union Gerakan – Lingkar Massa, mewawancarai John Bamba. Berikut petikannya:

 

Apa yang membawa Pak John Bamba pada kondisi hari ini, terutama pada usia yang cukup tua, untuk tetap komit pada gerakan sebagaimana yang saat ini dilakukan?

Pendorong utama bagi saya adalah pengalaman masa kecil, latar belakang saya pribadi. Saya lahir dan besar memang di kampung, sekurang-kurangnya hingga sekolah menengah. Kampung di sini dalam pengertian yang masih benar-benar “asli”. Jadi, kalau sekarang kita bicara tentang kehidupan masyarakat adat yang ideal, itulah yang saya alami ketika saya masih kecil. Dan, selama 30-an tahun lebih, saya melihat dan mengikuti setiap perubahan yang terjadi. Sebagian besar, perubahan itu tidak mengarah ke keadaan yang lebih baik, tapi sebaliknya, khususnya dalam konteks kualitas hidup. Itu yang mendorong komitmen saya untuk tetap membangun gerakan ini. Kebetulan juga, saat menjadi aktivis di Pancur Kasih ini, saya mengikuti seluruh proses pengembangan gerakan ini. Saat saya bergabung tahun 1985, Pancur Kasih baru punya SMP dan SMA Assisi. Jadi, saya terlibat dalam pengembangan gerakan ini sejak saat itu.

Saya melihat, Pancur Kasih, terlepas dari kekurangan dan kelemahannya, berkontribusi sangat signifikan. Saya bisa sebutkan, diantaranya, bagaimana Pancur Kasih membangun kesadaran orang Dayak tentang indentitas mereka, tentang pentingnya budaya, nilai-nilai luhur, pengetahuan lokal dan lain-lain. Alasannya, tahun-tahun 1980-an itu, orang Dayak bahkan malu mengaku diri orang Dayak. Macam-macam bentuknya. Misalnya, mengubah kata Dayak menjadi Daya dan mengubah nama. Nah, menurut saya, dalam konteks membangun kesadaran, kontribusi Pancur Kasih, terutama melalui Institut Dayakologi (ID) tidak dapat disangkal. Penilaian atau penafsiran negatif tentu saja ada. Misalnya, ada tuduhan bahwa yang dilakukan oleh Pancur Kasih dan ID adalah membangun etnosentrisme. Tapi, saya tidak melihat seperti itu.

Kedua, dalam konteks pengembangan gerakan Credit Union (CU), peran penting dan kontribusi Pancur Kasih tentu tidak bisa disangkal. Saya punya keyakinan dan optimisme bahwa yang dilakukan oleh gerakan ini adalah sesuatu yang baik. Saya merasa tidak perlu lagi mencari bentuk kontribusi lain untuk perubahan dan untuk membangun kemanusiaan yang lebih baik dan lebih adil. Bagi saya, di sinilah saya bisa melakukan itu. Itu juga sebabnya saya tidak tertarik masuk politik [praktis-ed.] atau yang lain-lain.

 

Pak John umumnya dikaitkan dengan dua hal: sebagai Dayakolog dan sebagai aktivis koperasi, dalam hal ini Credit Union Gerakan. Apa itu Dayakologi? Dan, bagaimana itu sejalan dengan pengorganisasian ekonomi dalam Credit Union Gerakan?

 Jadi dulu karena memang fokus saya, ketika bergabung di gerakan ini dan mulai dengan membangun Institut Dayakologi yang dimulai dengan kelompok diskusi tahun 1987, dan memang semenjak itulah fokus saya di Institut Dayakologi. Nah, Institut Dayakologi itu memang isu utamanya, yaitu mandat yang ia terima dari gerakan, adalah melakukan upaya-upaya revitalisasi Budaya Dayak. Jadi isu dan fokusnya adalah budaya. Tetapi, sebagaimana yang kita ketahui, ketika kita berbicara soal Budaya Dayak, terutama dalam konteks Institut Dayakologi, itu tidak dalam konteks performing arts, jadi bukan dalam konteks seni pertunjukan. Tetapi, budaya itu betul-betul keseluruhan eksistensi dan jati diri Orang Dayak. Sehingga kalau Institut Dayakologi bicara tentang Budaya Dayak, ia juga bicara tentang pengelolaan sumber daya alam, hak-hak masyarakat adat, dan semua hal itu. Itu yang kemudian menarik. Institut Dayakologi kemudian berkembang dan dikenal tidak sebagai sebuah lembaga yang “melestarikan” Budaya Dayak – ‘melestarikan’ dalam konteks an sich seni pertunjukan. Tetapi justru menyentuh persoalan-persoalan yang sangat prinsipil yang menyangkut eksistensi Orang Dayak, yaitu soal lingkungan, hak-hak masyarakat adat, hak atas tanah, dan segala macam.

Dalam konteks itulah, kemudian, tidak mengherankan kalau Institut Dayakologi juga bekerja di Credit Union Gerakan. Dan sesungguhnya, CU Gemalaq Kemisiq (CU GK)[3] itu kan adalah CU yang difasilitasi oleh Institut Dayakologi sejak dari awal. Bahkan sebelum ia berdiri. Jadi, CU Gemalaq Kemisiq itu kan berdiri tahun 1999 bulan Februari, tapi Institut Dayakologi sudah bekerja memfasilitasi masyarakat di wilayah itu, jauh sebelum itu sebenarnya, melalui beberapa kegiatan: ada upaya dokumentasi dan revitalisasi budaya dilakukan di situ – waktu itu kita bekerja dengan beberapa shaman, tabib-tabib, tentang pengobatan; kemudian kita juga bekerja dengan beberapa petani, peladang, dengan melakukan riset tentang biodiversity di ladang; kemudian melakukan pemetaan wilayah adat di beberapa tempat di situ; melakukan advokasi [petani] sawit – waktu itu ada ancaman dari perusahaan dari Malaysia.

Jadi sebelum CU itu [CU GK] berdiri, itu sudah dilakukan. Sehingga kita sudah memiliki beberapa aktivis lokal sebenarnya. Dan ketika diputuskan tahun 1999 kita mulai melakukan pemberdayaan di bidang ekonomi melalui Credit Union, CU GK identitasnya sudah CU Gerakan, sesungguhnya. Itu bisa kelihatan dari misalnya kebijakan-kebijakan yang dibuat CU GK, pengembangan CU-nya sendiri di sana yang sangat holistik – jadi ia tidak bekerja di satu bidang ekonomi saja, tetapi ia memiliki banyak sekali aktivitas dan inisiatif yang dilakukan di sana di lini semua aspek – dan bagaimana prinsip-prinsip yang dipegang oleh CU ini – yang tidak terjebak dalam pengumpulan aset dan uang (idiologi uang) – itu berlaku sampai sekarang. Dari bangunan kantornya saja, itu sudah beda sekali karena ia menggunakan arsitektur lokal. Orang banyak bertanya-tanya awalnya, karena persepsi orang tentang CU kan sesuatu yang moderen, wah, megah, kota, tetapi kok CU GK seperti itu.

Nah, jadi pemberdayaan ekonomi, mengapa Institut Dayakologi masuk ke situ, itu karena pemberdayaan ekonomi dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya merevitalisasi kehidupan Orang Dayak itu sendiri, dan karena pendekatan kita holistik, pendekatan kita integratif, itu yang terjadi.

 

Bagaimana dengan CU-CU lainnya? Apakah cara pandang bahwa “CU bukan pemadam kebakaran” – melainkan juga ada komponen pengorganisasian; riset aksi; juga pendokumentasian yang serius—juga berlaku di CU-CU yang lain? Sejauh mana gagasan tersebut berhasil direalisasikan di CU- Gemalaq Kemisiq dan direplikasi di CU yang lain?

Begini, di beberapa tempat, walaupun tidak banyak, proses yang sama atau mirip, itu juga terjadi. Bedanya adalah di CU lain tidak sejak awal mendesain CU-nya sebagai CU Gerakan. Maksudnya, ketika CU-nya berdiri, tidak ada paradigma bahwa CU itu adalah CU Gerakan – jadi paradigmanya tetap sebagailembaga keuangan. Itu yang menyebabkan mengapa di tempat lain sulit sekali membangun CU Gerakan. Itu juga yang sekarang sebenarnya menjadi tantangan para pegiat CU har ini

Tetapi, kami, Gerakan CU Filosofi Petani Kalimantan (GCU FPK) yang sudah beranggotakan lima Credit Union, melalui “Deklarasi 5-3 Rumah Gemalaq,”[4] kesadaran sebagai gerakan kita bangun kembali, dan itu memang inisiatifnya dari CU GK. Kesadaran itu kami bangun kembali melalui beberapa diskusi intensif, beberapa kali perdebatan, akhirnya setidak-tidaknya kelima CU ini sepakat “Oh iya, benar, kita melakukan kesalahan di masa lalu. Ada kelemahan-kelemahan di masa lalu yang sekarang harus kita perbaiki,” dan mereka berkomitmen untuk melakukan itu. Jadi begitu prosesnya. Tapi juga sebagian besar memang CU-CU tidak mempunyai background gerakan sama sekali. Ada yang punya proses seperti itu, tetapi ketika berurusan dengan CU, perspektifnya bukan CU Gerakan. Karena itu memang tidak pernah muncul. Perspektif CU Gerakan tidak pernah dikenal, dan bisa jadi itu dianggap sebagai sesuatu yang mengada-ada – bahwa CU itu harus menjadi CU Gerakan. Karena yang dipahami, CU ya seperti yang mereka terima dari para fasilitator, konsultan, dari siapapun yang men-train tentang CU [melatih, ed.], itu semua dalam konteks lembaga keuangan.

 

Dalam dinamika CU yang seperti itu, apakah Pak John pernah coba intervensi untuk mengenalkan model CU Gerakan yang ada di CU Gemalaq Kemisiq?

Saya memutuskan justru untuk mengambil sikap untuk tidak intervensi.

(JB diam sejenak lalu menghela napas ☺)

Bagaimana saya harus katakan, yahh…… CU GK sendiri kan menjadi anggota BKCUK [Badan Koordinasi Credit Union Kalimantan, ed.]. Dulu jaringan kita di sini juga BKCUK, dan BKCUK tentu saja mereka punya style dan identitas sendiri dalam pengembangan gerakan CU seperti yang kita lihat selama ini. Dalam konteks sebagai anggota BKCUK, CU GK memenuhi segala kewajiban-kewajibannya. Dalam konteks berjaringan, aktivitas, dan segala macamnya, umumnya ada perwakilan CU GK biasanya yang terlibat dalam kegiatan BKCUK. Tetapi saya memang memutuskan selama itu untuk tidak terlibat secara langsung, termasuk dalam konteks fasilitasi. Mengapa? Karena saya menyadari betul bahwa gerakan CU yang terbangun pada waktu itu begitu kuat hegemoninya. Dan saya tidak perlu memaksakan konsepsi saya kepada sebuah gerakan yang sudah begitu besar. Kemudian, saya menyadari juga, bahwa orang perlu belajar dari kesalahan. Jadi yang saya lakukan justru menjaga CU GK sebagai sebuah CU Gerakan – jangan sampai ia ikut-ikutan terkontaminasi. Itu yang saya lakukan.

Nah, momentum muncul pada tahun 2010-2011 ketika terjadi dinamika di BKCUK,[5] munculnya Konsepsi Filosofi Petani, munculnya refleksi yang sangat kritis di internal GPPK [Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih, ed.] tentang keberadaan gerakan CU. Di situ saya kemudian masuk dengan konsep CU Gerakan. Sehingga terbentuklah CU Gerakan seperti yang saat ini – gerakan CU Gerakan. Saya berbicara di beberapa tempat, termasuk di CU Cindelaras [Yogyakarta, ed.], di Kalimantan Tengah juga. Tidak semua merespon positif, tetapi untuk teman-teman di sini ada beberapa yang juga setuju.

 

Bisa dijelaskan secara singkat tentang CUG Filosofi Petani, dan mengapa Pak John yakin bahwa itu adalah desain CU yang bisa berorientasi gerakan, dan mampu mengemban visi dan misi gerakan.

Sebenarnya ketika saya berbicara mengenai CU Gerakan, saya selalu mengatakan bahwa ketika kita mendirikan CU, mengelola CU, kita sesungguhnya ingin berkontribusi untuk mewujudkan kehidupan manusia yang lebih baik lah. Dalam konteks yang holistik – jadi tidak hanya dalam masalah keuangan saja. Dan kalau kita menengok ke belakang, sejarah dari ketika CU didirikan, Raiffeisen[6] sendiri sebagai pendiri CU tegas mengatakan bahwa tujuan CU itu bukan uang. Sangat tegas dia katakan itu. Dia bilang tujuan CU itu bukan uang; tujuan CU itu adalah membangun kekuatan moral dan fisik manusia supaya ia bisa memenuhi kebutuhannya dalam segala hal. Jadi tidak hanya dalam hal ekonomi saja. Itu kalau kita lihat ke belakang.

Kemudian kalau kita lihat dalam konteks CU sendiri, yang harus kita dekati dengan kritis: CU ini berurusan dengan uang, dan kita tahu uang sangat-sangat powerful; dia dengan gampang bisa membuat orang terjebak dalam ekonomi uang, karena uang sangat-sangat powerful. Oleh sebab itu menurut saya, CU itu harus menetapkan tujuan-tujuan yang jauh lebih daripada hanya sekedar uang dalam konteks bagaimana pencapaian kehidupan manusia yang manusiawi, yang punya harkat, punya martabat. Uang itu hanya alat yang kita gunakan untuk mencapai itu semua. Nah, itu sebabnya saya kenapa saya berpikir ketika CU hanya mengelola uang saja, maka dia tidak lebih daripada alat-alat Kapitalisme sesungguhnya yang justru menjadi penyebab dari begitu banyak persoalan yang ada di manusia sekarang ini. Justru itu yang mau kita selesaikan, tapi kenyataannya kita malah terjebak menjadi bagian daripadanya.

Nah, konsepsi Filosofi Petani itu sendiri sebenarnya lebih ke semacam cara atau alat kita mewujudkan bagaimana kita bisa mencapai tujuan dari CU Gerakan yang mau memenuhi kebutuhan-kebutuhan secara holistik tadi itu. Konsepsi Filosofi Petani menawarkan caranya. Karena dengan memenuhi empat kebutuhan dasar itu, yang diterjemahkan dalam bentuk produk-produk di CU, sebenarnya bisa menjamin bahwa kebutuhan-kebutuhan manusia sebagaimana yang ideal itu bisa terpenuhi. Jadi sebenarnya ia lebih menawarkan cara, lebih ke teknisnya. Kalau kita lihat, Filosofi Petani kemudian ditransfer menjadi produk. Walaupun, di filosofi petani itu ada konsepsi karena ia digali dari nilai-nilai petani lokal. Nah nilai-nilai itulah yang kemudian coba diformulasikan dan diterjemahkan ke dalam produk-produk di CU. Tetapi, ketika ia hanya berhenti pada filosofi petani, CU juga masih bisa terjebak dalam CU yang hanya mementingkan uang. Makanya, ia harus menjadi CU Gerakan.

Jadi, dua kata itu tidak bisa dipisah. CU Gerakan sendiri kalau ia tidak dibantu oleh Konsepsi Filosofi Petani, mungkin agak kesulitan ia untuk menemukan bagaimana cara mewujudkan itu, memenuhi kebutuhan. Sebaliknya, Konsepsi Filosofi Petani sendiri kalau tidak ada gerakan ia tetap akan rentan terjebak dalam urusan memenuhi kebutuhan-kebutuhan empat hal itu saja yang semuanya ukurannya adalah uang. Makanya, di GCU kami perkenalkan terminologi CU Gerakan Berbasis Konsepsi Filosofi Petani.

 

Credit Union itu sendiri sering diasosiasikan sebagai ‘Dayak’ dan ‘Katolik’. Bagaimana klarifikasi Pak John terkait ini?

Itu sebenarnya tidak bisa kita salahkan persepsi itu, walaupun persepsi itu salah. Tetapi tidak bisa dipersalahkan. Karena memang CU itu masuk ke Indonesia ini melalui gereja. Itu masalahnya. Dulu, masuknya kan melalui – dulu MAWI (Majelis Agung Waligereja Indonesia, ed.) tahun 1970-an sekarang KWI (Konferensi Waligereja Indonesia, ed.). Nah, pastor Albrecht Karim, kan memang pastor, SJ (Serikat Jesuit, ed.). [7] Dan ketika CU itu dikembangkan, diperkenalkan ke seluruh pelosok Indonesia, yang gencar adalah Gereja Katolik. Jadi, mau tidak mau, persepsi itu muncul. Nah, kebetulan, di Kalimantan ini, terutama di Kalimantan Barat, yang Katolik itu Orang Dayak. Tidak ada Orang Melayu yang Katolik. Kalau Orang Tionghoa tidak begitu tertarik lah dengan urusan CU, awalnya. Nah, tetapi persepsi itu sebenarnya keliru. Bahwa CU itu adalah Katolik, adalah Dayak: itu keliru. Bukan demikian yang dimaksud dengan CU. Tetapi bahwasanya muncul persepsi itu karena proses sejarah masuknya itu memang sesuatu yang kita tidak bisa sangkal. Sekarang kita bersyukur bahwa persepsi itu tidak lagi seperti itu.[8]

 

Sekarang kalau diskusi ini kita tarik ke konteks gerakan dan aktivisme secara nasional, kira-kira pengorganisasian ekonomi berbasis CU ini apakah punya potensi untuk dikembangkan oleh aktivis-aktivis gerakan di Nusantara?

Kalau saya, jujur saya katakan, CU Gerakan ini adalah alternatif terbaik saat ini buat gerakan civil society di Indonesia. Saya punya keyakinan itu karena saya terlibat di sini 30-an tahun. Dan 30-an tahun saya terlibat, itu tidak hanya terlibat mengurusi CU saja, tetapi saya juga terlibat dalam gerakan civil society di Indonesia. Jadi saya sedikit banyak paham juga, apa yang digeluti teman-teman selama ini. Cuma, seperti yang saya katakan tadi, pertama saya menyadari teman-teman di gerakan civil society ini alergi kalau mendengar CU, mendengar koperasi, mendengar pemberdayaan di bidang ekonomi. Kenyataannya begitu. Kemudian yang kedua, saya sendiri, seperti yang saya ungkapkan, saya itu cenderung yang tidak mau secara gencar, proaktif, yang kesannya memaksa-maksakan atau mempromosikan sesuatu yang orang lain kurang begitu suka. Jadi saya tidak suka membangun gerakan yang seperti itu. Saya lebih suka, saya kerja saja, saya tunjukan saja bahwa ini tidak seperti itu, sehingga kemudian orang akan sadar dan akan melihat.

Tapi sampai saat ini, kalau anda tanya saya secara pribadi, belum ada opsi yang lebih baik dari CU Gerakan. Dari pengalaman saya 30-an tahun. Bahkan Grameen Bank sekalipun! Jadi, sesungguhnya, gerakan masyarakat sipil sangat-sangat rugi kalau tidak memanfaatkan CU Gerakan.

 

Termasuk gerakan buruh…

Semua! Semua! Bahkan, saya bercita-cita suatu saat CU ini, CU Gerakan, bisa masuk ke buruh, ke nelayan, ke petani, ke pedagang kaki-lima. Saya membayangkan betapa besar potensinya yang bisa disumbangkan oleh CU untuk membuat perubahan.

 

Apa kritik Pak John terkait Grameen Bank? – karena hari ini tidak bisa dipungkiri bahwa Grameen Bank menjadi semacam primadona, model untuk pemberdayaan ekonomi.[9]

Kritik saya sederhana saja: Grameen Bank ya Bank. Kita sudah tahu kalau yang namanya bank. Artinya kan ada investor, dan segala macamnya. Tidak swadaya.

 

Kembali ke penerapan konsep CU Gerakan ke aktivisme di Nusantara. Lantas apakah bisa disimpulkan bahwa praktik keuangan yang selama ini dilakukan oleh aktivis (akun bank, ATM, dst.) itu kontraproduktif terhadap perjuangan aktivisme itu sendiri?

Ya saya kira kontraproduktif! Karena bank kan bagian dari sistem kapitalis yang menyebabkan ketidak-adilan dan persoalan itu. Jadi kalau kita menggunakan itu, kita menjadi pendukung secara tidak langsung. Beda sekali dengan CU yang betul-betul swadaya dan sangat-sangat independen. Tpi dengan catatan: CU profesional. Jadi sekali lagi, ketika saya bicara tentang CU Gerakan, saya selalu bilang ‘CU plus’, tidak bisa ‘CU minus’. Yang saya maksud ‘CU plus’ itu artinya ia betul-betul profesional manajemennya, dan ia punya standar manajemen yang memang harus kita ikuti dengan konsisten. Tidak bisa kita bikin excuse, mentang-mentang kita ini adalah gerakan, adalah NGO, lalu ini kita langgar, kita labrak. Tidak bisa. Karena kalau begitu, gagal. Ia tidak bisa kontribusi secara maksimal. Tapi kalau kita konsisten, tidak ada keraguan saya.

 

Kalau kita bicara soal transformasi sosial kan tidak terlepas dari dinamika politik. Menurut Pak John, bagaimana CU sebagai alat pengorganisasian ekonomi bisa juga sampai pada pengorganisasian politik?

Kan begini ya, saya selalu – walaupun ini katakanlah jargon yang sering didengung-dengungkan, digunakan oleh banyak orang, juga termasuk oleh Jokowi – mengatakan secara sederhana, kita membayangkan kehidupan manusia yang ideal itu adalah kalau ia mandiri secara ekonomi, bermartabat secara sosial-budaya, kemudian berdaulat secara politik ; saya tambahkan lagi, berkesinambungan – jadi ada jaminan kelestarian, ada jaminan kesinambungan. Jadi, jelas sekali kedaulatan di bidang politik itu penting – dan buat CU, ia tidak bisa menegasikan itu. Contoh simpel saja, ketika UU Koperasi kemarin disahkan, itu kan bisa hancur CU itu.[10] Jadi kalau ia tidak peduli dengan hal-hal seperti itu, apa jadinya? Oleh sebab itu, maka tidak berarti bahwa CU itu harus terlibat secara langsung dalam politik praktis, partai, dan segala macamnya; tidak. Tetapi tidak boleh juga ia apriori dan anti-politik. Seolah-olah bahwa itu tidak ada urusannya, tidak ada pengaruhnya dengan mereka. Jadi, politik dalam konteks partisipasi politik rakyat – menentukan nasib mereka ke depan – CU harus peduli, dan harus ada satu kebijakan dan mekanisme di CU yang memungkinkan bahwa mereka bisa terlibat dalam pengambilan keputusan. Termasuk, misalnya, mengirimkan wakil-wakil mereka yang bisa memperjuangkan kepentingan CU, kepentingan anggota CU ke depan. Nah, bagaimana formulasinya, bagaimana formulasinya? – itu yang menjadi tantangan kita bersama, saya kira. Tetapi itu tidak boleh kita anggap sebagai sesuatu yang bukan ranahnya CU, bukan tanggung jawabnya CU…Gerakan, terutama. Kalau CU kapitalis, mungkin di akan begitu. Tapi kalau CU Gerakan, nggak bisa lepas dari itu. Itu pandangan saya. Dan saya selalu bicara begitu di manapun.

Jadi, menurut saya, tidak salah kalau anggota CU dijadikan basis politik – dalam konteks politik partisipasi rakyat. Kenapa tidak? Yah, yang tidak boleh itu kalau ia dijadikan alat partai.

 

Dari penjelasan tadi dan dari pengalaman Pak John sendiri dalam mengorganisir masyarakat, terutama masyarakat adat Dayak melalui CU Gerakan dan melalui Institut Dayakologi, kira-kira refleksi yang bisa diberikan, atau bahkan oto-kritik terhadap gerakan yang digagas Pak John sendiri, sejauh ini seperti apa?

Saya kira tantangan terberat yang saya rasakan saat ini – karena saya melakukan ini secara langsung – adalah mengubah paradigma masyarakat, teman-teman, para insan CU, pelaku CU, mengubah paradigma mereka bahwa CU itu bukan uang tujuannya! Ini yang paling sulit – mengapa? Karena ada peluang, ini persoalannya ada peluang, jadi masyarakat kita ini sebagian besar – sudah sekian generasi – berada dalam situasi yang sangat menyedihkan secara ekonomi. Sekarang muncul CU, dan CU menawarkan peluang untuk berubah – kondisi secara ekonomi bisa berubah. Dan ini sulit sekali ditolak orang. Karena kalau kita bicara soal CU Gerakan, maka kita harus berani mengatakan ‘tidak!’ – setidak-tidaknya ini harus balance. Nah ini yang sulit, yang saya rasakan sulit bahkan di kalangan aktivis sendiri. Mungkin bicaranya “ya,” tapi sampai pada praktiknya…[John Bamba menghela nafas.]

Nah, makanya, saya justru berpikir, kalau semisal ia tumbuh dari gerakan, sudah ada bibit gerakan –justru peluangnya lebih besar, tantangannya akan lebih sederhana. Karena tinggal memasukkan unsur-unsur kompetensi teknis manajemen saja, dan itu simpel sekali! – karena idiologinya sudah terbentuk. Yang susah itu: sudah piawai teknis, uangnya sudah banyak, lalu memasukkan ideologi.***

 

———-

[1] Tepatnya pada tahun 1975 di Kabupaten Nyarumkop dan Sanggau, Kalimantan Barat, pertama kali pendidikan Credit Union diselenggarakan oleh Delegatus Sosial (Delsos) Keuskupan Agung Pontianak agar masyarakat dapat mendirikan CU di sana. Lebih jauh, baca Richardus Giring (2012) ‘History of Credit Union Movement in West Kalimantan’ dalam Francis X. Wahono, dkk., Pancur Kasih Credit Union Movement, Baguio City dan Pontianak: Tebtebba Foundation dan Institut Dayakologi. Dapat diakses di: http://www.tebtebba.org/index.php/content/241-pancur-kasih-publications.

[2] Ada lima CUG yang tergabung di GCU FPK saat ini dan tiga calon anggota yang berada di luar Kalimantan Barat (Aceh, Jakarta [Tebet], Balikpapan). Lima anggota yang berada di Kalimantan yakni CU Filosofi Petani Pancur Kasih (CU FPPK), CU Sumber Kasih, CU Canaga Antutn, CU Gemalaq Kemisiq, dan CU Petemai Urip.

[3] Jika sebelumnya YKSPK hanya melayani anggota di sekitaran Pontianak, semenjak tahun 1993 aktivis YKSPK memfasilitasi pendirian CU-CU di daerah asal mereka. CU GK adalah CU yang berdiri tahun 1999 di Tanjung-Kabupaten Ketapang dan secara khusus difasilitasi oleh JB.

[4] Deklarasi 5-3 Rumah Gemalaq merupakan deklarasi yang menyatakan tanggung jawab anggota-anggota CU untuk mengembangkan dan menjaga CU Gerakan tetap pada “jalur”-nya.

[5] Tahun 2010 CU Pancur Kasih keluar dari GPPK. Perbedaan konsepsi atas apa itu ‘gerakan’ di antara para pengurus, staf, dan anggota mendasari pemisahan ini. Lebih jauh, perbedaan motivasi dan kepentingan telah memperlihatkan adanya celah dalam internalisasi nilai-nilai GPPK selama 20 tahun CU PK bernaung di bawah payung gerakan ekonomi-sosial-budaya tersebut. Dengan hanya berfokus kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ekonomi anggota yang mendesak, CU PK kemudian dilihat telah berdiri berseberangan dari GPPK . Lebih jauh dapat dilihat di Benyamin Efraim (2012), ‘GPPK Credit Union Movement: Inspiring the Nation’, dalam Francis X. Wahono, dkk., Pancur Kasih Credit Union Movement, Baguio City dan Pontianak: Tebtebba Foundation dan Institut Dayakologi. 30 April 2011, CU Filosofi Petani Pancur Kasih sepakat didirikan oleh GPPK untuk mengisi celah tadi.

[6] Frederick Wilhelm Raiffeisen mendirikan Heddesdorf Credit Union, CU pertama di dunia, pada tahun 1864 di Jerman untuk menjawab kebutuhan ekonomi pada kelompok masyarakat miskin di sana.

[7] Berasal dari Jerman, beliau adalah perintis CU di Indonesia sekaligus kepala Credit Union Counselling Office , atau CUCO (kemudian dikenal dengan nama Badan Koordinasi Koperasi Kredit Indonesia, atau BK3I, sebelum diganti lagi menjadi Induk Koperasi Kredit, atau INKOPDIT, hingga hari ini) ketika berdiri di Jakarta tahun 1970.

[8] Menilik aktivitas GPPK selama ini, dapat dicatat bahwa ia juga telah memfasilitasi pendirian CU yang beranggotakan masyarakat non-Dayak dan non-Katolik—cukup untuk menepis imej tentang CU yang ‘selalu sepaket dengan Gereja Katolik’—di dalam dan di luar Kalimantan Barat.

[9] Lihat Geger Riyanto, “Kesadaran Sosial atau Kesadaran Asosial? Grameen Bank di antara Agensi Pelaksana dan Agensi Sensual,” IndoProgress, 14 November 2014. URL: https://indoprogress.com/2014/11/kesadaran-sosial-atau-kesadaran-asosial-grameen-bank-di-antara-agensi-pelaksana-dan-agensi-sensual/

[10] Melalui UU No. 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian, peluang campur tangan pemerintah dan pemilik modal besar atas koperasi menjadi sangat besar. Tidak adanya jaminan atas kemandirian atau prinsip swadaya sangat bertolak belakang dengan karakteristik CU selama ini.


comments powered by Disqus