Puisi-Puisi Beni Satryo

Print Friendly, PDF & Email

SUATU KALI DI RESTORAN

Kau bertanya banyak hal saat
kita mampir di restoran itu.

Ini apa? Lada. Ini? Garam dan
saus. Itu apa? Pisau dan garpu.
Itu?

Kau menunjuk sesuatu yang mengalir
dari kedua mataku yang hambar. Aku
menunjuk struk-struk yang terselip
di bawah mangkuk acar.

Itu apa? Harga yang harus kita bayar.

  

AKU PULANG MALAM INI

Bus-bus yang kosong. Angin menembus
bangku-bangku. Ku ingat lagi tubuh-
tubuh yang pernah duduk di sini.

Tersusun paralel menjadi sinyal
wifi.

 

BAKWAN

Sepasang terigu mulai berdoa.
Mereka menyiapkan bunga seledri
dan membereskan butiran garam.

Di atas dengkulku.

Senja akan menyalakan api. Swara
kita tak terdengar lagi. Hanya ada
maghrib dan remah bakwan yang karib.

  

BECAK

Di dalam mulutku ada becak menganggur.
Ia tak kuat di jalan menanjak,
dan mudah terjungkal di jalan menurun.

Di jalan datar,
ia sering hilang kendali.

  

TELUR ASIN

Di pantura.
Air mata dan samudera
mesra berkawin.

Berbulan madu di cakrawala.
Menjadi sebutir telur asin.

 

SAPU LIDI

Sapu lidi yang kesepian.
Jauh dari cinta yang berdebu.

Kolam kering tanpa ikan.
O, aku tumpah kepadamu.

 

NYAMUK

Seekor nyamuk masuk ke dalam kuping.
Lalu, keluar lewat mulut.

Menjadi seekor anjing.

 

MALAM PERJUANGAN

Kejahatan sudah sedekat sinar rembulan.
Tercatat di selembar kertas gorengan.

“Seekor bakwan angslup ke dalam wajan!” kau berseru.

Tubuhnya kering penuh kecemasan.
Kelak, katamu, dari sana akan terdengar swara
yang lebih nyaring daripada letup senapan.

 

KEPALA YANG TERBUAT DARI SEBUAH KULKAS

Kepalaku terbuat dari sebuah kulkas.
Setiap malam berbunyi.
Sekali dibuka, cuma ada sebutir telur.

Itupun tak pernah menetas.

 

SENAYAN

Ku dengar lagi, suaramu yang empuk
dan merdu. Persis dengkul Brimob dan
ricik water canon di malam itu;

Di depan pagar Senayan
kala kita berbulan madu.

 

DI DALAM KEPALAKU

Sungai-sungai menggenang.
Menggigil. Memeluk luka-
luka yang hidup.

Berdenyut dan menggetarkan.
Pinggiran wajan.


Beni Satryo adalah alumnus Filsafat, UGM. Ia pernah menginisiasi pameran Patah Hati di Yogyakarta. Kini, ia tetap berkesenian di sela-sela kesibukannya sebagai wartawan pada salah satu media terkemuka Ibu Kota.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus