Edisi XXXIII/2015

Print Friendly, PDF & Email

Daftar Isi:

Indonesia dalam Indo: Menghargai Semua Untuk Hindia

Bedah Buku: Di Balik Marx, Sosok dan Pemikiran Friedrich Engels

Dinamika Kelas Dalam Perubahan Agraria

Mengembalikan Marwah Engels Dalam Bayang-bayang Marx

 

IBU-ibu Rembang dikalahkan sistem pengadilan. Kabar yang menyakitkan tapi sekaligus juga tidak terlalu mengherankan. Pengadilan di Indonesia memang dikenal jarang sekali memihak mereka yang berjuang mempertahankan hak dan kehidupannya sendiri. Hukum ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari kepentingan hidup masyarakat yang selalu dipinggirkan dan akibatnya, hukum hampir selalu berpihak pada mereka yang berkuasa, yang memiliki atau menguasai kapital. Tapi masalahnya memang bukan hanya masalah hukum. Pengkhianatan para akademisi—juga bukan fenomena baru—dengan melacurkan ilmu pengetahuan yang dimiliki demi kepentingan pembangunanisme pembasmi kelestarian lingkungan juga jadi masalah lain yang tidak kalah menjengkelkan dan menyakitkan.

Perjuangan ibu-ibu Rembang dalam melawan pembanguan pabrik semen di pegunungan Kendeng, Rembang, telah berlangsung selama hampir 1 (satu) tahun lamanya. Mereka bertahan di tenda yang dibuat dengan penuh keteguhan untuk mempertahankan tanah air dan kehidupan mereka yang terancam dihancurkan. Mereka ditendang, dipukuli, dan bahkan dicekik aparat nan keparat (TNI dan Polisi), yang seperti biasanya dengan setia membela kepentingan modal dengan militan di atas segalanya. Tapi ibu-ibu Rembang tidak menyerah, kalah berkali-kali, bangkit berkali kali pula.

Fenomena pemisahan antara produsen dengan sarana produksinya nyatanya bukan hanya terjadi di Rembang. Di belahan Indonesia lain, dari mulai Teluk Benoa, Maros, Mahakam, Kapuas, Papua, dan tempat-tempat lainnya, fenomena ini masih dan akan terus berlangsung. Meminjam istilah Hendro Sangkoyo, rezim saat ini adalah rezim neo ekstraktivisme. Ia merupakan buah dari kelindan antara korporasi industri ekstraktif dengan institusi, mekanisme, dan instrumen-instrumen yang memfasilitasi akumulasi, termasuk kerangka politiko legal dalam rangka memperlancar proses akumulasi primitif.

Dengan kenyataan tersebut, apa yang kita butuhkan saat ini adalah kesadaran bahwa bentuk-bentuk perlawanan tidak bisa hanya difokuskan pada pemanfaatan instrumen negara seperti pengadilan. Melalui kekalahan warga rembang di PTUN (dan tentu, banyak contoh lainnya, misal ditolaknya Judicial Reviwe terhadap Undang-undang Pendidikan Tinggi), kita sadari bahwa institusi-institusi tersebut justru tidak lain merupakan bagian dari rezim neo ekstraktif. Apa yang terjadi di Rembang bukanlah masalah hukum, ia merupakan problem politik. Ia adalah tentang bagaimana negara dan segala aparatusnya menjalankan kepentingkan kelas dominan, kelas borjuasi.

Lenin dalam buku Negara dan Revolusi telah secara gamblang menjelaskan bahwa negara bukanlah organ yang berdiri di atas semua kelas dalam masyarakat. Ia hanya seakan-akan berdiri di atas semua kelas (dan kita sudah melihat hal itu berkali-kali, hingga bosan). Karena itulah, selama kelas yang menguasai negara adalah kelas yang menuhankan akumulasi modal, maka selama itu pulalah pola-pola yang sama akan terus berulang. Rembang-Rembang lainnya akan muncul. Sementara itu, rakyat pekerja yang diceraikan dari sarana produksinya semakin banyak, alam semakin hancur, dan masa depan pun semakin tidak menentu.

Apa yang kita butuhkan saat ini adalah sebuah organisasi politik rakyat pekerja. Organisasi yang diproyeksikan untuk merebut kekuasaan negara dari segelintir orang dan merepresentasikan kepentingan segelintir orang pula, dan memindahtangankannya ke rakyat pekerja untuk mengartikulasikan kepentingan rakyat pekerja itu sendiri. Kami pikir, itulah cara yang paling tepat untuk membalik kerusakan alam, menyembuhkannya dari segala penyakit yang timbul akibat rezim neo ekstraktivisme ini.

Dengan semangat tersebut, LBR kembali hadir di bulan ini. Pada edisi kali ini, menghadirkan tiga ulasan buku dan satu risalah menarik. Ulasan pertama hadir dari Ariel Heriyanto yang membahas kumpulan cerpen Semua Untuk Hindia karya Iksaka Banu. Ulasan kedua hadir dari Devi DC yang membahas buku tentang perampasan tanah sebagai mekanisme akumulasi kapital yang memberikan dampak pada perubahan struktur kelas dalam masyarakat. Kemudian, ulasan ketiga datang dari Oky Alex S. yang membahas buku Di Balik Marx. Kami juga hadirkan risalah bedah buku Di Balik Marx yang beberapa waktu yang lalu diselenggarakan di Universitas Indonesia, Depok. Risalah ini ditulis oleh Hafidh Ma’ruf.

Selamat membaca! ***


comments powered by Disqus