Meme Varoufakis: Yang Juga Badass dari Kemenangan Syriza

DUA minggu belakangan ini, Syriza melesat menyita perhatian banyak kawan, terutama beberapa teman dalam lingkaran pergaulan kami, baik dalam lingkup online maupun offline. Raihan 36% suara dalam pemilu Yunani kemarin memang riaknya sampai kemari. Yang menarik kemudian adalah tanggapan yang muncul dari kawan-kawan kami. Catatan yang dibuat salah seorang dari kami—yang beberapa di antaranya dihasilkan dari amatan linimasa media sosial—menunjukkan berbagai macam reaksi yang muncul dari kemenangan Syriza. Ini yang kemudian jadi kerja usil kami akhir-akhir ini.

Lazimnya kemenangan yang sudah lama ditunggu-tunggu, kemenangan Syriza memancing kemunculan amatan atas keberhasilan partai asal Yunani itu. Meminjam kalimat iklan produk kosmetik kontemporer, amatan-amatan ini berusaha mengatakan “kemenangan kaum kiri kini ada ekstraknya”. Di sisi lain, kemenangan ini ditingkahi dengan perayaan kecil yang mengharukan. Seorang teman yang biasanya tak tebal-tebal amat imannya mendadak “soleh” gara-gara kemenangan Syriza. Buktinya gampang: kawan saya ini menempel berita tentang keperkasaan Syriza akhir Januari lalu sembari membubuhi tautan itu caption surgawi “*ikut sujud syukur*. Ah, untung kami bukan fan berat Jonru, jika tidak kami berdua sudah mati berdiri melihat sebuah lonjakan iman gara-gara kemenangan partai radikal yang dipimpin seorang ateis.

Lalu, bagaimana kami merayakan kemenangan Syriza? Kami memilih kalem saja. Kami punya cara tersendiri untuk menikmatinya. Prinsipnya “Kalau kami engga bisa menikmati politiknya, dan engga berasa seneng sama ‘politisinya’; maka itu bukan revolusi kami.

Nah, dalam “revolusi” Yunani, kami punya Tsipras dan Varoufakis yang jadi alasan nomor wahid mata kami betah berlama-lama menikmati politik Yunani. Sejak 2012, Alexis Tsipras sudah menarik hati. Bagi salah satu dari kami, ia jauh lebih menarik ketimbang Camila Vallejo, aktivis partai Komunis muda Chile yang katanya pandai memimpin demonstrasi dan pemberani itu. Alasannya sederhana: euforia Camilla agak keterlaluan di kalangan kiri muda-tua Indonesia. Atau dengan alasan lebih hipster, Camilla sudah terlalu mainstream.

Camilla memang terlalu mengarus utama, alasannya. Mungkin karena Camilla perempuan, muda, cantik, ‘fashionable’, dan ‘komunis’. Sementara Tsipras sudah paruh baya, walau ganteng tapi tak ’fashionable’, dan tidak pula ‘komunis’. Untung ada Yanis, yang tidak akan masuk kategori ganteng ala Tsipras, tapi kalau dibuat patung dan jadi hiasan meja kerja, kami akan segera memborongnya. Varoufakis ini tidak kalah fashionable dengan Camilla. Coba anda semua ingat, Menteri Keuangan mana yang kerja naik motor, memakai baju agak-agak retro serta punya gerak-gerik yang jauh dari lazim tapi kok ya bisa menarik. Malah, salah satu dari kami sumringah tak terhingga ketika dia bilang mau menghancurkan basis oligarki di Yunani tanpa ampun. Duh Yanis. Malam 24 Januari itu dia turut berhasil bikin kami sulit tidur.

Hebatnya Varoufakis punya raut muka sangar dan perawakan bak prajurit Sparta. Ini jelas, sebuah karunia yang terselubung. Buktinya, walau Tsipras yang kini jadi orang nomor satu di Yunani, di dunia maya Varoufakis-lah yang berjaya. Dalam waktu dua minggu, raut mukanya sudah dipermak menjadi berbagai badass character masa kini, dari Terminator T-800, Walter White dari serial Breaking Bad, Topeng Guy Fawkes Hingga Lord Voldemort.

Jelas, prestasi macam ini adalah mimpi basah Prabowo setengah tahun yang lalu. Prabowo ingin gagah dan galak tapi gagal, sementara Varoufakis bisa effortlessly badass! Belum lagi, Varoufakis tak perlu naik Jeep tentara apa lagi kuda milyaran juta rupiah untuk menjadi gagah lagi garang!

Sejujurnya, sampai tulisan ini dibuat, tak satu pun dari kami yakin apakah meme Varoufakis dibuat dengan intensi untuk meledek atau malah merayakan datangnya harapan baru di Yunani. Namun kami percaya, meme-meme ini adalah cara baru memoles muka gerakan kiri menjadi lebih populer namun tetap keren dan—sekali lagi—badass!

Dalam satu thread percakapan Facebook yang kami lupa milik siapa, ada komentar terbaik menanggapi pentas para pendekar Syriza ini: “Kapan sih sekali-sekali mereka tidak tampil sekeren ini?” Segera setelah pemerintahan terbentuk, gerak-gerik mereka jadi perhatian, gaya salaman dan melamun Varoufakis ketika bernegosiasi dengan ECB terkait utang Yunani pun menarik pemberitaan. Dan dalam banyak pemberitaan, tak banyak kami temukan gosip personal tak penting seputar mereka. Mereka orang-orang bermutu.

Kemenangan Syriza sejatinya tidak mengejutkan. Pada pemilu legislatif 2012, Syriza sudah menempati posisi kedua setelah New Democracy: 30% banding 27%. Sekarang Syriza mengantongi 36% suara dan New Democracy 28%. Di sisi lain, kita masih bisa temukan 1001 kekurangan program Syriza atau kecerobohan taktiknya di sana-sini, termasuk pro dan kontra koalisinya dengan ANEL. Namun, dalam situasi tanpa harapan dan semi chaos, ekonomi merosot 25%, pengangguran muda meroket 65%, partai fasis yang didukung tak sedikit rakyat, figur-figur dan alat politik yang sanggup menghidupkan asa, sekaligus membuat hati senang, adalah faktor penting dalam membangun dan mengkonsolidasikan perubahan yang lebih besar.

Bagi kami, Syiriza adalah testimoni atas tiga hal: krisis parah di zona Eropa, oligarki dan tingkat kekorupan elit Yunani, dan cara pikir baru di kalangan anak muda. Untuk alasan ketiga ini, saya pikir tidak main-main. Partai-partai dari tengah ke kiri Eropa sebagian sedang kehilangan relevansinya karena semakin dijauhi anak muda, sebagian yang lain mencoba berubah dan menjadi relevan.

Nah, dalam perkara relevansi inilah meme-meme Varoufakis bekerja. Ia berfungsi sebagai pemupuk relevansi Syriza bagi generasi muda di Yunani. Setidaknya, dengan alasan yang sederhana: Meme adalah mainan anak muda yang melek gadget dan internet. Pun, kontennya dipenuhi ikon-ikon budaya populer yang juga dikonsumsi anak muda.

Lalu, apa pentingnya meme-meme ini bagi kita di Indonesia? Saya tidak berharap banyak. Namun, karya visual usil ini menumbuhkan harapan, setidaknya seperti pada kawan kami seperti Indah dan Raka, bahwa perubahan yang serupa tentunya tak akan hancur hanya karena keleletan Jokowi. Pun, jika harapan tak lekas tumbuh, kami berdoa setidaknya meme-meme bisa memenuhi fungsi elementernya: menjadi hiburan, khususnya di antara ruwetnya kasus KPK vs Polri eh PDIP.

Atau, ini sekedar usul sih, meme-meme ini sebaiknya dipandangi selepas membaca amatan kemenangan Syriza yang uber-serius, guna menangkal keriput yang muncul terlalu dini. Lagi pula, menurut salah satu dari kami, perjuangan mewujudkan revolusi laiknya bagai film laga india. Tak selamanya serius dan kelahi, bolehlah sekali-kali tertawa atau malah menari.

7b2rbAN

B8czfAvCQAAdeus

B8hef-7IYAAmJ9e

B8iw0gFCQAAeVpF

B8m3MHMIEAE4ofl.small

upl54ce6a84aba22

upl54ce68b318c86

upl54ce691b6b482

upl54ce6947ba486

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus