Membaca Munir

Print Friendly, PDF & Email

Surabaya, Desember 1996

DENGAN toga pengacara yang tampak kedodoran, tubuh kecil dengan rambut merah itu melangkah ringan memasuki ruang persidangan Pengadilan Negeri Surabaya. Melewati kami yang berdiri di sudut ruang, ia melempar senyum. Ia datang bersama Trimoelja D Soerjadi dan tim pengacara yang membela Dita Sari, Coen Husain Pontoh dan Moh. Soleh, aktivis PRD yang ditangkap karena aksi buruh di Tandes, Surabaya, namun kemudian diadili dengan pasal subversif.

Saat itu gedung pengadilan dijaga sangat ketat. Ratusan polisi membuat pagar betis. Jalan-jalan menuju gedung pengadilan diblokir. Setiap pengunjung harus mendaftar dan memperlihatkan kartu identitas. Kursi di ruang sidang pun dijubeli tentara berbaju loreng, dan para intel yang duduk memenuhi kursi pengunjung, sehingga kami hanya kebagian berdiri di sudut depan.

Berada di dalamnya, di tengah situasi perburuan terhadap para aktivis yang masih melekat di batok kepala, butuh perjuangan ekstra menyisihkan rasa takut. Langkah ringan Munir, senyum merekah Munir, rambut merah Munir, benar-benar seperti oase. Melegakan sekali. Usai sidang, lagu Darah Juang lamat-lamat bergaung dari sudut ruang. Lama-lama suaranya semakin kencang dan semakin kencang. Ada juga kepalan tangan kiri teracung ke udara. Benar-benar hanya beberapa gelintir orang. Dada seperti meledak ketika ujung syair berhasil dituntaskan: Bunda relakan darah juang kami, padamu kami berbakti. Lagu ini, dulu menjadi api penyemangat kami di jalan-jalan. Kami selalu bernyanyi dengan lantang kendati popor senapan siap menghajar. Sekian lama tak sanggup menyanyikannya lagi. Kemudian di sini, di ruang persidangan kawan kami, di antara kepungan polisi dan tentara, beberapa gelintir orang menerobos batas ketakutan yang mengepung tempurung kepala!

Usai sidang, berpapasan dengan Munir. Ia sudah melepas baju toganya.

Arek-arek kon ati-ati….’ (Anak-anak (Surabaya) suruh hati-hati). Pesannya singkat. Saya mengangguk-angguk. Lalu segera menyelinap pergi. Dalam sebuah situasi biasa saja, hati-hati barangkali ucapan tak lebih dari basa-basi. Dalam suasana teror mencekam, ucapan itu sungguh bermakna dan menguatkan.

 

Jakarta, Maret 1998

Di ruang sempit kantor YLBHI, organisasi Kontras disusun. Munir, mondar-mandir dengan langkah terburu. Saya berpapasan ketika ia keluar ruangan.

Koen kapan molih Suroboyo?’ (Kamu kapan balik ke Surabaya?)

Mene, Cak.’ (Nanti, Cak)

Numpak opo?’ (Naik apa?)

‘(Kereta ekonomi) Gaya Baru Malam, Cak.’

Wis tuku tiket?’ (Sudah beli tiket?)

Saya senyum-senyum. Munir melirik saja. Dan ia pasti paham sekali kode ini.

‘Gaya Baru Malam iku pirang jam? Piro rego-e?’ (Gaya Baru Malam itu berapa jam? Berapa harga tiketnya?

13 ewu, Cak. 21 jam. Lek mandek-mandek, yo isok 24 jam.’ (Tiga belas ribu, Cak. 21 jam. Kalau berhenti-berhenti ya bisa 24 jam)

Hehh, kuesel temen awakmu. Wis numpak-o Joyoboyo ae!’ (Heh, capek kamu. Dah, naik kereta bisnis Jayabaya saja)

Tangan saya ditarik ke meja di ujung ruang sempitnya. Meja bendahara. Mbak bendahara keluarkan selembar 50 ribuan, sambil berpesan: ‘Jangan lupa nanti tiketnya dikirim ke sini ya. Untuk pertanggungjawaban…’

Saya mengangguk-angguk. Menyandang ransel, melangkah keluar.

Ati-ati, koen!’ (Hati-hati, kamu!) kata Munir.

Iyo, Cak. Suwon!’ (Iya, Cak. Terimakasih)

Di stasiun Jatinegara, saya tetap beli tiket kereta ekonomi Gaya Baru Malam. Sepotong tiket, kertas kecil seukuran 3 x 4 cm, agak tebal. Tertera angka 13 ribu. Bersiap dengan perjalanan 24 jam, duduk di bangku sekeras batu. Sisa 37 ribu itu bisa untuk berkali-kali naik bemo, angkutan wajib di Surabaya, sarapan lontong kupang di stasiun Pasar Turi, bisa buat fotocopy selebaran.

Lalu wajah Munir semakin sering muncul di televisi dan koran-koran. Tubuh kecil, dengan rambut merah. Suaranya semakin lantang.

 

7 September 2004

Suasana muram sepanjang hari itu masih melekat benar. SMS berseliweran: Munir meninggal! Lalu ada informasi lanjutan: di atas pesawat Garuda Indonesia yang menerbangkannya ke Amsterdam, Belanda. Lalu bersahutan kabar-kabar lainnya. Saya baca pesan singkat itu sore hari, saat sedang menunggu bis di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Dada sesak benar. Tulang-tulang lunglai tak sanggup berdiri.

Kematian aktivis, seberani Munir, tentu bukan sebuah kematian biasa. Terlalu banyak alasan bagi kekuasaan untuk merasa perlu menghilangkan nyawanya. Selain terus bersuara atas banyak kasus pelanggaran HAM, saat itu Munir juga tengah kencang mengkritik pasal-pasal RUU TNI yang dianggapnya hendak mengembalikan kekuasaan militer mirip Dwifungsi ABRI.

Saya tergugu sendirian di terminal. Enam tahun reformasi, Soeharto sudah terjungkal. Militer dilucuti. Megawati, simbol perlawanan pada 1996, sudah menjadi presiden. Dan Munir mati dibunuh!

Malam itu, di bandara Soekarno Hatta, tempat jenasah Munir disemayamkan sebelum dibawa ke Malang, saya hanya melihat dari jauh. Berdoa lama sekali. Mungkin paling lama setelah sekian bulan. Untuk orang baik, untuk orang berani, yang tak henti-hentinya kami repoti. Oh ya, masa-masa 1998, ia masih menyediakan rumah kontrakannya untuk tempat rapat organisasi kami. Bersentuhan dengan kami, adalah takdir sebuah kerepotan dan risiko!

Munir Said Thalib, lahir di Malang 8 Desember 1965. Sejak awal meniti karir di LBH Surabaya, ia menangani kasus-kasus gawat yang tak banyak dilirik orang. Tahun 1992, ia membela seorang Fernando Araujo, tokoh pejuang Timor Leste yang dituduh makar terhadap pemerintahan Indonesia; kasus Marsinah tahun 1994; kasus penembakan petani Nipah oleh tentara tahun 1993; kasus subversif aktivis PRD di Surabaya pada 1996; advokasi kasus penghilangan paksa, serta berbagai kasus pelanggaran berat HAM di Aceh dan Papua.

Setelah reformasi, Munir tak berhenti mendesakkan tanggung jawab para jendral atas kejahatan HAM berat di masa lalu. Munir juga bersetia pada kasus buruh, seperti sejak awal ia berkarir sebagai pengacara. Tahun 2002, ia menginisiasi gugatan publik pada kasus buruh migran di Nunukan, Kalimantan Utara.

Kasus penghilangan paksa aktivis 1997/1998, merupakan kasus yang melambungkan nama Munir. Bersama sejumlah organisasi dan para keluarga korban, ia menginisiasi berdirinya Kontras. Saya tidak ingat, apakah Munir dan Thukul pernah bertemu. Sejarah kemudian mencatat, dua orang ini adalah simbol perlawanan dan kebengisan Orde Baru. Keduanya juga menjadi simbol perjuangan tanpa akhir. Thukul hilang di saat menjelang Soeharto runtuh. Munir diracun, saat sedang memperjuangkan kebebasan negeri yang utuh. Keduanya, abadi dalam catatan sejarah. Perjuangan tak lelah-lelah, dengan segala cara atas kasus penghilangan paksa berhasil bikin Letjen Prabowo dicopot dari jabatannya sebagai Danjen Kopassus. Pertama dalam sejarah Orde Baru.

Munir, diambil dari bahasa Arab yang berarti cahaya. Dan ia adalah sebenar-benar cahaya. Ia suluh penerang bagi bangsa ini untuk menelusur luka seorang buruh Marsinah; perih ibu kehilangan anak, anak kehilangan bapak; sejumlah kesakitan dari Timor Leste, Aceh dan Papua; dan duka para buruh migran. Munir hadir pada segenap peristiwa-peristiwa itu. Munir berdiri tegak berpihak padanya. Berhadap-hadapan dengan rezim penguasa.

 

7 September 2014

Munir mati di usia muda, 38. Tapi perjuangan atas gagasan-gagasannya tak boleh dibiarkan mati muda. Kita sungguh berhutang banyak kepadanya. Jangan kecilkan kematian Munir semata hanya matinya satu orang manusia. Munir adalah simbol deretan kasus-kasus yang melengkapi sejarah bopeng negeri ini. Munir adalah simbol keberanian dan konsistensi menentang kekuasaan otoriter. Pembunuhan Munir adalah simbol bahwa kekuasaan (setelah reformasi pun) masih memakai cara biadab untuk membungkam suara-suara yang dianggap pengganggu: membunuh! Membiarkan 10 tahun kasusnya buram, tak menyentuh motif utama dan aktor-aktor intelektual, sama halnya dengan mengekalkan sebuah impunitas: seseorang yang kritis bisa dibunuh.

Anak muda, jika kau kerapkali dihajar ketakutan, bahkan oleh sebab-sebab tak jelas, ingatlah kata Munir ini: ‘Yang perlu ditakuti adalah rasa takut itu sendiri’. Munir tentu bukanlah pendekar yang punya ilmu kebal dari takut, tubuh kecilnya juga pasti runtuh oleh sekali tendang, tapi ia berupaya keras sekali untuk menaklukkan ketakutan, dengan cara terus tak lelah bekerja membela para korban.

Anak muda, jika kau butuh perlambang sebuah keberanian, cinta pada keadilan dan kemanusiaan, kau tak perlu berkelana mencari pada superhero-superhero penjuru dunia. Mereka hanya kisah rekaan, dan Munir adalah sebuah laku nyata. Maka, kau hanya butuh membaca Munir. Membacanya, meresapkan gagasannya hingga ke syarat-syaraf tubuhmu, menelusup ke jantung hatimu, kemudian, teruslah teguh memegang cita-cita sejati Munir: keadilan dan demokrasi.

Cukup sudah 10 tahun kasus Munir seperti potret buram. Era Jokowi-JK adalah harapan baru. Jokowi-JK harus membuktikan dengan mengungkap kasus Munir sebagai pintu pengungkapan kasus-kasus pelanggaran HAM berat lainnya. Pilihan yang tersedia untuk kita adalah: menuntut dan mengawalnya hingga titik akhir kejelasan. Hingga bolehlah kita berbangga, melangkah sebagai bangsa bersejarah baru, tanpa torehan bopeng-bopeng luka masa lalu. ***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus