Prabowo Subianto Di Mata Seorang Gubernur Daerah Pendudukan

Print Friendly, PDF & Email

Tahun 1990, Gubernur Timor Timur Mário Viegas Carrascalão, meminta Panglima ABRI Jendral Try Sutrisno untuk menarik Mayor Prabowo Subianto dan pasukannya dari Timor Timur. Namun Try Sutrisno menolak. Ada apa?

 

SALAH satu alasan yang sering disebut sebagai kelebihan Prabowo Subianto untuk menjadi Presiden RI adalah prestasinya di bidang militer. Jika catatan buruknya dalam kasus penculikan aktivis 1997-98 dan dugaan keterlibatannya dalam kerusuhan Mei 1998 dikesampingkan, orang akan menganggap catatan prestasi militernya mengesankan.

Prabowo Subianto, lulusan Akademi Militer tahun 1974, terlibat dalam banyak operasi militer. Foto-fotonya yang tampak gagah, tampan, dan macho banyak diperlihatkan kepada publik. Agaknya, reputasi sebagai tentara inilah yang dipakai untuk menarik simpati. Prabowo sendiri dalam berbagai iklan kampanyenya berusaha menghubungkan masa lalunya sebagai tentara dengan karakternya sebagai pemimpin yang tegas, yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.

Tidak banyak orang yang mempersoalkan rekam jejak Prabowo sebagai tentara. Memang ada usaha mempertanyakan keterlibatan Prabowo dalam insiden pembantaian di daerah Kraras, Timor Timur (sekarang Timor Leste).1 Ada juga yang mempertanyakan operasi militer pembebasan sandera di Mapenduma.2 Operasi itu dianggap sebagai salah satu ‘prestasi operasi militer’ paling menonjol yang dilakukan Prabowo ketika menjabat Komandan Jendral Kopassus.

Semua tuduhan itu dengan mudah ditepis oleh Prabowo dan tim kampanyenya. Untuk peristiwa Kraras, misalnya, Prabowo menjawab langsung tuduhan itu dan mengatakannya sebagai serangan terhadap karir militer dan terhadap dirinya, “yang berupa tuduhan tidak berdasar, sindiran, dan laporan pihak ketiga – yang tidak pernah dibuktikan baik oleh PBB maupun oleh pemerintah Timor Leste.”3 Sejauh ini, belum ada tanggapan Prabowo terhadap tulisan Edmund McWilliams tentang operasi Mapenduma itu. Publik pun tidak memberikan tanggapan terhadap kedua artikel ini. Mungkin karena ia ditulis dalam bahasa Inggris dimana tidak terlalu banyak orang Indonesia memiliki akses untuk membacanya. Juga kemungkinan karena Timor Timur sudah merdeka menjadi negara berdaulat. Sementara, Papua terlalu jauh dari pusat-pusat ekonomi dan politik Indonesia.

Ketika melakukan riset tentang Tim Mawar, sebuah tim yang dibentuk Kopassus dan terlibat dalam penculikan aktivis pro-demokrasi 1997-98, seorang informan untuk tulisan tersebut menunjukkan kepada saya biografi Mário Viegas Carrascalão. Dia adalah bekas gubernur Timor Timur di masa Orde Baru. Dalam buku biografi yang ditulis dalam bahasa Portugis itu, Carrascalão menceritakan pertemuannya dengan Jendral Try Sutrisno, yang ketika itu menjabat sebagai Panglima ABRI. Pada intinya, gubernur Carrascalão mengeluhkan tingkah laku Mayor Inf. Prabowo Subianto di lapangan. Prabowo ketika itu memimpin pasukan Batalyon Infantri Lintas Udara 328, Brigade Infantri 17, Kostrad. Kepada Jendral Try, Carrascalão meminta agar Prabowo dan pasukannya ditarik dari Timor Timur.

Dugaan pelanggaran HAM oleh Prabowo di Timor Leste telah banyak ditulis. Garry van Klinken, seorang ahli politik Indonesia, misalnya, menulis bahwa dibandingkan dengan di Indonesia, pelanggaran Prabowo di Timor Timur mungkin jauh lebih mengerikan. 4 Mário Carrascalão adalah salah satu saksi sepak terjang Prabowo di Timor Timur ketika itu. Melihat kedudukan Mário Carrascalão dalam pergolakan di Timor Leste, tampak bahwa dia banyak mengalami situasi sulit yang memaksanya untuk mengambil keputusan yang juga sulit. Sebagaimana pelaku sejarah, Mário Carrascalão memiliki banyak sisi. Namun dia juga seorang yang realis, seperti yang ditunjukkan ketika dia, sebagai gubernur dan sebagai orang Timor, berunding dengan Xanana Gusmao, yang saat itu adalah pemimpin perlawanan dan juga orang Timor.5

 

Mário Viegas Carrascalão dan Pendudukan Indonesia di Timor Leste

Mário Carrascalão lahir di Venilale, Baucau, Timor Leste pada tahun 1937. Dia adalah anak seorang aktivis anarkis yang dibuang oleh pemerintah Portugal ke daerah koloni, Timor Portugis (nama waktu itu). Ayahnya menikah dengan putrid liurai dari Venilale. Sebagai seorang Mestizo, Mário berhak menikmati pendidikan di Portugal. Dia bersekolah dasar di Dili, namun pada usia dua belas tahun dia dikirim belajar ke Portugal. Ia lulus sebagai insinyur kehutanan pada tahun 1969. Dua tahun kemudian, bersama saudara laki-lakinya João, dia kembali ke Timor dan bekerja di dinas kehutanan.

Pada saat pergolakan politik di Timor tahun 1974, Mário bersama saudaranya bergabung ke dalam partai konservatif UDT (União Democrática Timorense) yang ikut mereka dirikan. Partai ini melancarkan kudeta anti-komunis yang gagal pada Agustus 1975, yang membuat lawannya dari partai revolusioner Fretilin (Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente) mengambilalih kekuasaan. Pergolakan ini menjadi alasan invasi Indonesia ke negeri jajahan kecil ini.

Sejak awal invasi, Mário memilih untuk melibatkan diri dengan pemerintah Jakarta. Dia ‘dipilih’ menjadi anggota delegasi yang ‘meminta’ agar Timor Timur berintegrasi ke Indonesia.6 Oleh Jakarta, Mário kemudian ditugaskan untuk bekerja di Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di PBB, New York. Di sana Ia bertugas selama dua tahun (1980-1982). Dari New York, Mario kemudian dipanggil pulang untuk menjadi gubernur di Timor Timur. Dia menggantikan gubernur Guilherme Goncalves yang dipaksa turun karena dianggap tidak cakap menjabat.

Di bawah Mário, Timor Timur menjadi wilayah terbuka karena sebelumnya daerah ini diisolasi oleh tentara Indonesia. Mário juga memulai proses perdamaian dengan para gerilyawan. Namun usaha ini gagal karena beberapa gerilyawan yang sudah menyerah kemudian membunuh tentara Indonesia dan kembali ke hutan.7 Tentara Indonesia membalas dengan melakukan pengejaran ke hutan. Saat inilah terjadi ‘peristiwa Kraras’ yang terkenal itu dimana tentara Indonesia membantai penduduk sipil.

Sebagai gubernur, Mario berada pada posisi yang sulit. Dalam sebuah wawancara denngan Jurnal Indonesia terbitan Cornell Univesity, Mário mengatakan bahwa jabatan gubernur itu hanyalah boneka (puppet). Penguasa sebenarnya adalah komandan Komando Operasi Keamanan (Koopskam), Komandan Korem (Danrem) dan Tim Pelaksana Pembangunan.8 Ini kadang-kadang meletakkan dia pada situasi yang dilematis. Kepada rakyatnya dia harus menjalankan perintah Jakarta, tetapi dia juga harus berada di sisi rakyatnya ketika Jakarta bertindak keras dan brutal untuk meredam perlawanan.

Ketika melakukan riset di Timor Timur tahun 1997, saya sering mendengar aparat-aparat militer menyebut Mário Carrascalão sebagai ‘kepala dua.’ Artinya, orang yang bekerja untuk pemerintah Indonesia, tetapi juga membantu gerakan perlawanan. Namun setelah kemerdekaan Timor Timur, dan setelah sebagaian besar informasi dibuka, tampaklah bahwa Mário Carrascalão sesungguhnya tidak saja terjepit antara kepentingan gerakan perlawanan dan militer Indonesia, tetapi dia juga harus berhadapan dengan faksionalisme yang saling bersaing dan berkonflik satu sama lain di dalam tubuh militer Indonesia. 9 Faksionalisme ini pada gilirannya memakan korban rakyat sipil.

 

 ilustrasi oleh Alit Ambara
Ilustrasi oleh Alit Ambara

 

Otobiografi dan Prabowo Subianto

Sesudah Timor Timur berdaulat dan merdeka, Mário Carrascalão kembali ke negaranya dan aktif berpolitik. Tahun 2006, Mário menulis buku biografinya yang menceritakan banyak pengalamannya dalam pergolakan di Timor Leste. 10 Buku biografi setebal 407 halaman tersebut terbit di Dili dalam bahasa Portugis. Di dalam buku biografi itu banyak disinggung tentang persinggungan Mário dengan militer Indonesia. Namun, bagian yang paling menarik adalah ketika pada tahun 1990, Mário bertemu dengan Jendral Try Sutrisno yang pada saat itu menjabat sebagai Panglima ABRI. Sebagaimana pertemuannya dengan petinggi dari Jakarta, dia melaporkan situasi di Timor-Timur secara mendalam dan rinci kepada Try Sutrisno. Mário Carrascalão kemudian melaporkan sesuatu yang sangat mengganggu, yakni tentang sepak terjang Mayor Inf. Prabowo Subianto di lapangan, yang dilihatnya telah membantai rakyat tak berdosa dan lebih parah lagi membantai prajurit ABRI yang berasal dari kesatuan lain.11 Mário mengusulkan kepada Try Sutrisno agar Prabowo ditarik dari Timor Timur.

Berikut ini adalah terjemahan bebas buku biografi Mário Carrascalão yang berjudul Timor Antes do Futuro: Autobiografia, halaman 321-322.

Jenderal Try Sutrisno berkata kepada saya: “Mengenai Mayor Prabowo, Anda tahu siapa dia, bukan? Batalyon yang dipimpinya merampas paling banyak senjata dari Perlawanan selama setahun ini; sekitar 100 pucuk senjata dan itu adalah pukulan berat bagi GPK, oleh karena itu, Batalyon 328 yang dipimpinnya, hanya akan keluar dari Timor Timur setelah menyelesaikan masa tugasnya.”

Dengan berkata demikian, Jenderal ini mengharapkan saya menyetujui, tetapi saya ceritakan satu kejadian yang lebih dikenal dengan sebagai “prestasi” Mayor Prabowo: “Saya bukan saksi langsung, Bapak Jenderal, tapi beberapa orang tentara dari batalyon-batalyon lain menceritakan kepada saya bahwa Batalyon 328, pimpinan Mayor Prabowo, punya senjata khusus, yang dibeli dengan uang dari keluarga Soeharto, dan selain itu (Batalyon ini) membunuh tentara dari batalyon lain dan mengambil senjata-senjata mereka. Inilah cara yang mereka lakukan: membayar sejumlah orang Timor untuk menyergap dan membunuh tentara Indonesia dari batalyon lain yang sedang berpatroli; senjata yang dirampas disembunyikan di hutan dan kemudian tentara yang berpatroli tersebut dilaporkan hilang kepada komandan batalyon mereka; orang-orang Timor Timur yang melaksanakan tugas tersebut kembali melapor ke Batalyon 328 dan kemudian orang-orang Timor Timur ini disertai sejumlah prajurit dari Batalyon 328 menuju ke tempat senjata-senjata tersebut disembunyikan; setelah berada di tempat tersebut, orang-orang Timor Timur tersebut ditembak mati oleh prajurit-prajurit Indonesia yang bersama mereka, senjata-senjata dikumpulkan dan dilaporkan kepada Komandan Militer (Korem) bahwa senjata-senjata tersebut dirampas dari GPK oleh Batalyon 328. Ada kasus-kasus, yang saya punya banyak informasi, yang terjadi di wilayah Desa Fahi Nihan, di Kecamatan Fatuberliu, Kabupaten Manufahi, tanyakan kepada Mayor Zein, Komandan Kodim Same, mengenai kebenarannya. Dia memberikan jaminan kepada saya bahwa penduduk Desa Fahi Nihan yang melaporkan kejadian tersebut tidak akan mengalami kesulitan, karena dia memberikan perlindungan yang diperlukan.” Saya kira Jenderal ini tahu kejadian tersebut, karena yang dia katakan dalam reaksinya adalah: “Pak Gubernur, dalam perang terjadi hal-hal seperti itu, oleh karena itu kita harus mengakhirinya secepat mungkin. Jangan kira saya tidak prihatin seperti mereka. Orang Timor Timur saya anggap saudara sendiri.”

Penciptaan Hansip, yang diambil dari penduduk sipil setempat, memang menjadi pola tentara Indonesia dalam menangani berbagai pergolakan. Pelibatan penduduk sipil lokal biasanya dimulai dengan menjadikan mereka TBO (Tenaga Bantu Operasi). Mereka biasanya membantu pasukan kebanyakan dalam soal logistik, tinggal bersama unit-unit kecil, dan ikut dalam operasi.12 Tidak sedikit para TBO ini kemudian diangkat menjadi Hansip (Pertahanan Sipil). Di Timor Timur, mereka ini dikenal dengan nama mauhu di kalangan penduduk lokal atau ‘panah Koramil’ di kalangan tentara. Disebut sebagai panah, karena merekalah yang berada di garis depan dalam operasi.13 Disamping menjadi ‘panah’ dalam operasi, mereka pulalah orang yang kerap dimintai tolong untuk melakukan interogasi kalau ada gerilyawan yang tertangkap. Selain karena mereka bisa berbahasa lokal, mereka biasanya dipakai untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan ‘kotor’ terhadap para tahanan yang enggan dilakukan oleh anggota TNI.

Prabowo sendiri mengakui keberadaan milisi-milisi dalam bentuk Hansip. Dia pernah berkata pada jurnalis asing, ‘Filsafat saya adalah: tentara rakyat (people’s army). Rakyat harus berada di pihak kita.’14 Pengakuan Prabowo yang lebih jelas tampak dalam satu konferensi tentang gerakan separatis yang diadakan di Jakarta pada 21 April 2001.15 Pada konferensi yang juga menghadirkan bekas pimpinan perlawanan Timor Leste Xanana Gusmao itu, Prabowo mengakui kebenaran dari banyak kritik terhadap tentara Indonesia, sekalipun tidak seluruhnya obyektif.

‘Tentu ada ekses, pelanggaran-pelanggaran, ada kerusakan-kerusakan dalam disiplin, ada kerusakan dalam tata cara yang benar menghadapi musuh, namun .. saya tahu bahwa ini bukan bagian dari doktrin kami.’ Dia melanjutkan bahwa semua itu bukan kebijakan resmi. ‘Di dalam doktrin kami sudah dinyatakan dengan jelas bahwa kami adalah tentara rakyat dan dengan demikian seluruh dasar keberhasilan militer Indonesia harus bersandarkan pada dukungan rakyat,’ demikian ujarnya.16

‘Dukungan rakyat’ inilah yang sering dipakai untuk menjustifikasi penciptaan dan pemakaian milisi-milisi sipil. Namun dalam banyak kasus, pembentukan dan pemakaian milisi itu berkembang di luar kepatutan. Lagipula, milisi ini tidak saja dibangun di daerah-daerah yang dilanda konflik separatis, tetapi juga di berbagai daerah aman, dan tujuannya seringkali hanya untuk mengamankan posisi politik perwira yang menciptakannya.

 

Tidak aneh

Lewat email, saya menghubungi seorang kenalan lama untuk mengkonfirmasi informasi dalam buku biografi Mário Carrascalão ini. Dia saya kenal cukup baik. Namun dia menolak namanya disebutkan untuk tulisan ini. Ketika jaman pendudukan Indonesia dia menjadi aktivis klandestin. Kini dia bekerja untuk pemerintah Timor Leste. Dia meminta saya menulis ulang tanggapannya. Saya kutip beberapa dibawah ini.

‘Tentang pemakaian Hansip dan kemudian Hansip-hansip itu hilang dan dibunuh, saya kira itu bukan suatu cerita yang istimewa. Untuk orang yang pernah mengalami jaman pendudukan, itu hal yang lumrah. Semua orang tahu itu. Kalau kita pergi ke pedesaan di wilayah timur dan selatan Timor Leste, pasti akan gampang menjumpai orang yang punya cerita yang sama. Di sana pusat-pusat gerilya perlawanan ketika itu. Jadi sebagian besar operasi militer Indonesia juga berlangsung di daerah itu. Tidak ada yang spesial dari cerita Carrascalão itu,’ tulisnya.

‘Mungkin itu memang diperintahkan oleh Prabowo sendiri. Tapi ada juga kemungkinan bahwa Prabowo memberi perintah dan target dan anak buahnya melakukan apa saja untuk memenuhi target itu. Kan memang style Prabowo begitu. Dia janjikan ini dan itu sama anak buahnya. Saya dengar prajurit-prajurit senang dengan Prabowo karena janji-jani itu. Itu fakta. Karena kalau “berprestasi” mereka akan dapat hadiah besar. Untuk uang, Prabowo tidak kesulitan. Seperti cerita Carrascalão itu, bahkan Prabowo bisa beli senjata sendiri kan?’

Tanggapan ini mengingatkan saya pada sebuah laporan jurnalis Alfian Hamzah tentang perang Aceh. Dalam laporan, yang menurut saya merupakan karya jurnalistik terbaik yang pernah ditulis tentang perang di Indonesia, Alfian Hamzah menulis tentang kehidupannya selama 3 bulan bersama Batalyon Infantri 521/Dadaha Yodha. Di sana dia berkenalan dengan Rokhim, prajurit yang pada tahun 1997 diterjunkan ke Aceh sebagai bagian dari Pasukan Rajawali. Rokhim masih ingat, sebelum berangkat dia mendapat pengarahan dari komandan Kopassus, Mayjen Prabowo Subianto. Alfian Hamzah menuliskan apa yang diucapkan Rokhim:17

Gini pesannya,” kata Rokhim menirukan Prabowo, “Prajurit saya harus seperti Hanoman. Tidak boleh sombong. Berani … Kalau dapat satu pucuk M-16, saya bayar Rp 5 juta … Kalau SP (senjata kayu) Rp 1 juta. Kalau dapat gembongnya GPK … Rp 100 juta. … Saya akan datang ke tempat TKP. Saya tidak bisa datang, kirim kepalanya!”

“Bilang gitu. Aaaaapa nggak gila! Saya senang bener itu … Saya masih ingat …Wah, mantap bener,” kata Rokhim.

Dalam email lain, saya katakan pada kawan saya bahwa kemungkinan sangat besar Prabowo akan menjadi presiden. Banyak polling menyatakan bahwa pertarungan ke kursi presiden berlangsung sangat ketat. ‘Nggak elok sama sekali. Saya bayangkan Presiden Prabowo berziarah ke Taman Makam Pahlawan Seroja di Dili. Bagaimana perasaannya waktu menaruh karangan bunga karena mungkin di antara prajurit yang dimakamkan di situ ada juga prajurit yang dibunuhnya sendiri?’***

 

Penulis adalah peneliti masalah-masalah politik militer dan jurnalis lepas (freelance). Tulisannya pernah muncul di Prisma, Jurnal Indonesia, dan Inside Indonesia.

 

1 Lihat tulisan dari jurnalis kawakan Radio Netherland, Aboeprijadi Santoso, “What ever happened in Kraras,

Timor Leste, ‘Pak Prabowo? “,The Jakarta Post, 20 Desember 2013. http://www.thejakartapost.com/news/2013/12/20/what-ever-happened-kraras-timor-leste-pak-prabowo.html

2 Edmund McWilliams, “Prabowo and Papua,” West Papua Report January 2013, http://etan.org/issues/wpapua/2013/1301wpap.htm

3 Balasan oleh Prabowo ditulis dengan bahasa Inggris yang sangat bagus dan tertata amat rapi, seakan dikerjakan oleh seorang pengacara Amerika atau Inggris untuk mementahkan sebuah dakwaan. Lihat, Prabowo Subianto, “Letter to the editor: Prabowo clarifies” The Jakarta Post, 27 Desember 2013. http://www.thejakartapost.com/news/2013/12/27/letter-editor-prabowo-clarifies.html

4 Salah satu yang terbaru adalah dari Gerry van Klinken, “Prabowo and human rights,” Inside Indonesia No. 116: Apr-Jun 2014.

5 Mário Carrascalão pernah melakukan perundingan damai antara pemimpin gerilya perlawanan Xanana Gusmao dengan tentara Indonesia. Perundingan itu menghasilkan periode pendek gencatan senjata. Namun gencatan senjata itu pecah karena pasukan perlawanan yang sudah menyerah itu kemudian menyerang prajurit Zeni TNI-AD. Untuk perundingan antara Mário Carrascalão dan Xanana Gusmao, lihat Douglas Kammen, “A Tape Recorder and a Wink? Transcript of the May 29, 1983, Meeting between Governor Carrascalão and Xanana Gusmão,” Indonesia, No. 87 (April), 2009.

6 Peristiwa ini dikenal sebagai “Deklarasi Balibo” karena dideklarasikan di kota kecil Balibo, dekat perbatasan dengan Indonesia. Namun sesungguhnya deklarasi ini dirancang dan dirumuskan di Hotel Bali Beach, Denpasar, Bali. Deklarasi ini juga sering diplesetkan menjadi ‘Deklarasi Bali-Bohong.’ Lihat, “The Balibo Declaration

Revisited, “ The Jakarta Post, 3 Desember 1999. http://www.thejakartapost.com/news/1999/12/03/the-balibo-declaration-revisited.html

7 Lihat Douglas Kammen, “A Tape Recorder and a Wink?”

8 Ben Anderson, Arief Djati, dan Douglas Kammen , “Interview with Mário Carrascalão,” Indonesia, No, 76 (Oktober) 2003.

9 Menurut Mário Carrascalão ada dua faksi di Timor Timur kala itu, yakni faksi Benny Moerdani dengan orang-orangnya antara lain seperti Sintong Panjaitan dan Rudolf Warrouw; dan faksi Prabowo dengan perwira-perwira yang lebih muda seperti Sjafrie Sjamsuddin, Zaki Anwar Makarin.

10 Mário Carrascalão, Timor Antes do Futuro: Autobiografia, Dili: Livraria Mau Huran, 2006.

11 Dalam interview yang dimuat di jurnal Indonesia, Mário Carrascalão juga bercerita tentang pertemuannya dengan Kol. Purwanto yang saat itu menjadi Kolaops (Komando Pelaksana Operasi). Purwanto mengeluhkan kepadanya tentang kembalinya Prabowo ke Timor tanpa ada perintah resmi. Carrascalão menceritakan, “Apa yang saya takutkan sudah terjadi. Dia kembali ke Timtim – Prabowo. Dalam situasi sekarang ini, tidak ada seorangpun – baik sipil maupun militer – yang bisa masuk atau keluar dari Timor Timur tanpa sepengetahuan saya. Nyatanya dia datang, dan masuk ke pedalaman. Ke Viqueque dan sekitar Bibileo. Saya tidak tahu apa dia kerjakan disana. Saya tidak tahu lagi.” Cerita ini sesungguhnya terkait kuat dengan penggambaran karakter Prabowo yang tertuang dalam surat rekomandasi Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang merekomendasikan pemecatannya dari dinas militer karena terlibat kasus penculikan. Prabowo, dalam surat rekomendasi itu disebutkan sering menggelar operasi tanpa komando atasannya.

12 TBO biasanya sudah ikut dengan tentara sejak usia sangat muda, bahkan anak-anak. Tidak jarang, seusai operasi anak-anak ini ikut pulang bersama tentara yang diikutinya. Tidak jarang yang menjadi ‘anak angkat.’ Kenang-kenangan saya tentang soal ini adalah terhadap petinju Thomas Americo. Dia diangkat anak oleh Dading Kalbuadi dan dilatih menjadi petinju. Saya kira, Hercules Rosario Marçal, yang kemudian terkenal sebagai preman Tanah Abang dan sangat dekat dengan Prabowo Subianto pada awalnya adalah juga TBO.

13 Soal Hansip dan milisi-milisi sipil di Aceh maupun di Timor Timur dibahas oleh Matt Davies, Indonesia’s War over Aceh: Last Stand on Mecca’s Porch, London: Taylor & Francis, 2006, hal. 169-170.

14 Lihat Gerry van Klinken, op.cit.

16 AFP: Prabowo Salutes, Hugs Xanana Gusmao. http://www.etan.org/et2001b/april/15-21/20prabo.htm

17 Lihat Alfian Hamzah, “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan,” Pantau Edisi Februari 2003.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus