Perempuan yang Selalu Hujan

Print Friendly, PDF & Email

Di luar pernah hujan. Sekarang tidak lagi. Hujan hanya turun pada Astri dan, karena ia semakin jarang pergi keluar, hujan hanya turun di dalam rumahnya.

Ia pernah jadi buruh pabrik tekstil, tapi tak lama. Ia mengambil jatah lembur ketika hujan pertama kali turun padanya. Sunarto, satpam pabrik, menawarkan untuk mengantar pulang meski rumahnya cuma seratus meter dari pabrik. Astri tak menolak, alih-alih menunggu dengan berdebar sementara laki-laki kekar itu mengunci pintu-pintu pabrik. Ia tak tahu alasan debar itu, tapi saat itulah petir mulai menyambar. Mulanya ia tak curiga. Beberapa hari belakangan cuaca memang sedang buruk.

Selepas menggerendel pintu depan dan menyerahkan kunci-kunci pada petugas jaga malam, Sunarto menenteng tangannya menjauhi pabrik—sekaligus rumahnya. Mereka keluar dari tepi jalan beraspal dan memasuki jalan setapak, untuk kemudian keluar dari jalan setapak untuk memasuki semak-semak. Di pinggir kali langkah mereka terhenti. Lelaki itu mengajaknya duduk di bawah sebatang pohon trembesi, “sambil memandangi rembulan. Lihat, dia sedang cantik-cantiknya,” katanya. Astri menyandarkan kepalanya pada dada bidang lelaki itu.

Angin berderu. Astri menghalau rambutnya supaya tidak berkibar mencucuk mata. Bulan berkaca pada riak sungai yang menghanyutkan plastik dan sisa-sisa peradaban. Ketika tangan Sunarto mendarat di pinggul, sebuah petir lolos dan menyambar ubun-ubunnya.

Cuaca membuat perempuan itu telentang telanjang di atas rerumputan. Angin membuatnya beku, sementara halilintar menelusup lewat celah-celah tubuh yang paling samar. Penglihatannya memudar.

Ia tak bisa menerjemahkan gerak tubuh Sunarto di atas tubuhnya.

Ketika hujan akhirnya turun, ia turun tidak dengan rintik. Ia turun dengan air bah yang menghanyutkan Sodom dan Gomorah. Hujan turun pada tiap lekuk-lekuk tubuhnya, membanjiri celah-celah paling tersembunyi.

Sebuah bahtera bergulat di tengah badai. Cuaca yang maha gaduh membuat Astri tak menyadari keberadaannya. Belakangan, setelah ia kembali dalam kesunyian kamarnya, ia mengenali bahtera itu. Badai mereda. Sebuah lagu terdengar.“Kunang-kunang,” panggil Rita Sugiarto. “Aku mau pulang. Kunang-kunang, tunjukkan aku jalan. Aku tersesat di gelap malam.

Sembilan bulan kemudian bahtera itu menemukan daratan. Ia diberi nama Nuh Iskandar.

*

Astri berhenti bekerja dan membuka warung makan bersama Ibu. Bapak selalu jadi pelanggan pertama sebelum ia berangkat ke pelabuhan pagi-pagi buta untuk menjadi kuli angkut barang.Mereka dibantu Surti, gadis 16 tahun yang putus sekolah, yang mencuci piring kotor. Ketika jam sarapan selesai, Astri memandikan Kandar dan mengajaknya bermain. Sunarto berangkat kerja. Ibu menunggu warung. Surti mencuci piring. Ketika jam istirahat pabrik dimulai, jam kerja mereka dimulai kembali.

Suatu malam, selepas hujan lebat mengguyur Astri, Sunarto bilang, “kita mesti pindah. Aku malu menumpang di rumah mertua.” Astri hanya diam. Kasurnya kuyup. Ia tahu upah Sunarto di pabrik terlalu kecil untuk bisa mengontrak, apalagi membeli rumah. Sunarto terus bicara, tapi perempuan itu tak mendengar. Kantuk menyergap tubuhnya yang gigil. Ia tertidur tanpa sempat bersalin.

Sunarto bangun sebelum ayam berkokok. Ketika buruh-buruh mencari sarapan, Sunarto keluar memanggul ransel. Ia mengenakan kemeja kotak-kotak merah tua yang lusuh, bukan seragam kerja petugas keamanan pabrik.

“Mau ke mana, Mas?” panggil Astri.

“Lho. Semalam kan aku cerita. Bapak bilang ada lowongan jadi anak buah kapal tanker. Dia mau bawa aku masuk. Kau kan sudah kasih izin semalam.”

“Berapa lama?”

“Paling lama dua minggu,” jawab Sunarto sambil melambai pergi. Punggungnya perlahan mengecil lalu ditelan tikungan jalan.

*

Sunarto baru pulang sebulan kemudian. Dua minggu istirahat, ia berlayar lagi. Kali ini tiga bulan. Pelayaran ketiga, Astri tak peduli lagi berapa bulan janji kepulangan Sunarto.

Buruh-buruh yang dulu cuma bernyali mencuri lirik, kini berani menggodanya. Astri masih muda. Baru 20 tahun. Ia tahu ia manis. Tubuhnya tidak melebar setelah melahirkan Kandar. Ia memang berubah setelah melahirkan; jadi makin ranum. Payudaranya membesar dan pinggulnya mekar. Ia sering memergoki buruh-buruh meminjam kamar mandi ketika Kandar menangis supaya bisa mengintipnya meneteki bocah itu.

Setahun berlayar, Sunarto menyewa rumah petak di seberang rumah mertuanya. Ibu membagi setengah keuntungan warung untuk Astri. “Biar lebih mandiri,” katanya. Astri menyuruh Surti mengurus Kandar ketika ia menjaga warung. Tiap bulan Sunarto mengirim uang yang cukup untuk membayar kontrakan dan berbagai macam tagihan. Uang yang ia peroleh dari warung ia pakai untuk membeli susu dan baju Kandar. Ia juga mulai pandai bersolek. Ia membeli bedak dan gincu, pulas alis dan pelentik bulu mata, serta pakaian-pakaian baru. Dengan pengeluaran yang terukur, perempuan itu masih bisa menyisihkan uang untuk ditabung tiap bulan.

Astri mulai akrab dengan buruh-buruh pelanggan warung. Kebanyakan dari mereka laki-laki dan sekilas semua laki-laki sama; keras dan selalu mau pegang kendali. Lama-lama ia tahu, laki-laki bukan sekadar kerumunan kambing. Bedul sering menutupi masalah-masalahnya dengan membuat lelucon, Bimo pendiam dan melankolik, Gani selalu peduli dan menaruh perhatian pada tiap orang. Astri tahu masalah-masalah mereka; dari keuntungan perusahaan yang merosot sampai bini Bedul yang menuduhnya main dengan perempuan lain.

Suatu malam pintu rumah Astri diketuk. Gani. Ia hanya memakai kaus kutang dan celana jins butut yang digunting selutut—tampaknya keluar dengan tergesa-gesa. Ia bilang ia dikejar-kejar preman. Perusahaan bangkrut. Kabar PHK massal mulai berhembus. Sekitar 1000 buruh tetap akan diberhentikan tanpa pesangon. Gani tahu dari temannya di bagian HRD, yang mewanti-wanti agar tidak membuat onar. “Kamu tidak dipecat, tenang saja,” katanya. Serikat memutuskan akan mendesak perusahaan untuk berunding. Tapi sebelum perundingan terjadi, rumah Bedul dan Bimo dilabrak 7 orang preman. Keduanya dipukuli habis-habisan dan diancam, “kalau masih macam-macam, anak-bini kalian gue hajar juga!”

Bimo segera menghubungi Gani dan anggota serikat lain supaya bersembunyi.

Gani berasal dari luar kota. Ia kebingungan karena tidak punya keluarga atau teman selain sesama buruh. Astri adalah satu-satunya yang sempat terpikir. Astri bilang, itu keputusan tepat. “Mereka tidak akan menduga kau sembunyi di sini,” katanya. Perempuan itu menyiapkan kamar kosong dan menyuruh Gani beristirahat.

Seminggu kemudian Sunarto pulang.

Hal pertama yang ia lakukan adalah menampar Astri. Bicaranya kacau. Mulutnya bau pesing bir dan anggur oplosan. Astri hanya bisa menangkap beberapa bagian dari omongan lelaki itu, dan yang sebagian itu mencucuk nyeri di hatinya; “sundal”, “lonthe”, atau “gundik buruh udik”. Kandar menangis. Astri mau menenangkannya, tapi Sunarto belum selesai. Sebuah jotos menghantam rahang kirinya. Dengan mengendap-endap Surti membawa Kandar keluar, takut terseret dalam peperangan. Untung ada Surti, pikir Astri.

Tapi syukur itu meranggas. Hanya Surti yang tahu Gani sembunyi di rumahnya.

*

Genap dua tahun Sunarto tidak pulang. Ia pergi setelah menghardik, memukul, dan meniduri Astri malam itu. Mulanya Bapak menitip pesan pada kelasi-kelasi yang mau berlayar supaya laki-laki itu pulang. Paling tidak, ceraikan Astri supaya ia bisa cari suami lain. Astri tidak ambil pusing. Kandar sudah berumur empat tahun dan mulai pintar bicara. Bocah itu dunianya.

Gani masih bekerja di pabrik yang sama, sementara Bedul dan Bimo pindah ke tempat lain. Mereka mendapatkan pesangon meski hanya setengah dari yang semestinya.

Gani bertandang tiap akhir pekan. Lelaki itu membawa Astri dan Kandar jalan-jalan di pasar malam, menonton bioskop, atau sekadar berbincang di rumah. Gani bercerita tentang teman-temannya yang terus was-was karena kontrak outsource tak punya jaminan, atau mata-mata perusahaan yang menyusupi serikat. Astri menceritakan Bapak yang mulai sakit-sakitan, harga bahan makanan yang naik, rencananya untuk membuka warung kelontong, atau Kandar yang mulai belajar berjalan. Keduanya sama punya luka dan keduanya menjilati luka satu sama lain.

Suatu malam Sunarto datang. Hujan tidak turun tapi lelaki itu kuyup. Ia memohon pada Astri untuk menerimanya kembali; bahwa ia menyesal telah memukul dan meninggalkan Astri dua tahun lalu. Astri hanya diam. Matanya beku. Sunarto memohon dan memohon dan ketika doanya tak terjawab juga, ia meradang. Amarahnya meledak. Sambil berteriak ia mencaci Astri. Bahwa ia tak tahu diri. Bahwa ia perempuan dan bahwa ia istri. Bahwa Sunarto telah setia dan menafkahinya tapi ia berkhianat.

Sebuah tamparan melayang dan ditampik udara. Astri mengelak. Ia tak lagi diam.

“Aku jadi istrimu karena kau menaruh orok di perutku,” ujarnya lirih. “Aku tak pernah cinta kau tapi aku tak pernah berkhianat. Dua tahun belakangan kau tidak pulang, tak berkabar, dan tak sepeser pun uang kau kirim, tapi aku bisa hidup. Aku tak butuh kau!”

Sunarto gelap mata. Tak pernah sekalipun Astri membantahnya. Lelaki itu mendorong Astri ke atas dipan, mencekal kedua tangan perempuan itu dalam satu genggaman, sementara genggaman yang lain merobek dasternya. Astri tak berteriak.

Ia tidak berhadapan dengan cuaca; ia berhadapan dengan laki-laki dan ia meronta.

“Kau milikku. Kau perempuanku!” pekik Sunarto.

Tangan kiri Astri lolos dan meraba tepi dipan. Sunarto merobek celana dalamnya. Tangan perempuan itu menemu payung. Lelaki itu membuka celana. Astri menarik payung, menyodok selangkangan Sunarto yang telanjang seperti bola bilyar. Lelaki itu menjerit.

Pintu dibuka dan perempuan itu menendang Sunarto keluar. “Jangan pernah kembali!” hardik Astri.

Tetangga mengintip dari jendela rumah mereka.

Astri tertegun. Di luar hujan. Sejak malam itu hujan selalu turun di luar dan Astri tak harus berbasah-basahan kalau ia tidak mau.

Ia punya payung.

 

*Muhammad Soeradji adalah seorang mahasiswa filsafat yang juga gemar menulis cerita fiksi di kala senggang pun pula galau. Ia juga punya hobi menjadi penggiat LSM. Pekerjaan aslinya adalah jomblowan.

***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus