Remeh-Temeh Rimbaud

Print Friendly, PDF & Email

Tanpa banyak bacot pengantar seperti tulisan berstruktur akademik yang sering kita baca, saya langsung ke poinnya saja. Saya memilih untuk menerjemahkan tiga puisi remeh-temeh Rimbaud. Remeh-temeh karena ia tidak menggelorakan mitos dan legenda Rimbaud sebagai penyair muda yang memiliki kedalaman analitis sosial seperti puisi-puisinya dalam kumpulan Season of Hell dan Illumination (dua buku puisi paling terkenalnya). Remeh-temeh karena tema yang dibicarakan dalam tiga puisi ini bukan kebobrokan sistem industri, hedonisme seniman Eropa, neraka dunia, tetapi perempuan, cinta, eksplorasi seksual, dan kencan di hutan. Remeh-temeh karena ketiga puisi ini jarang disebut-sebut sebagai puisi bagus karena ditulis ‘penyair hebat’, tapi lebih sering disebut sebagai puisi bagus karena ditulis ‘bocah’. Dan terakhir, remeh-temeh karena nafsu dan impian masa muda memang selalu bersifat remeh-temeh. Tapi itulah anak muda sebenar-benarnya, bukan para mahasiswa pendemo kontemporer yang pada akhirnya cuma jadi alat politik oposisi, atau Rimbaud yang jadi legenda karena puisi-puisinya digelorakan semangat zaman ideologi antikolonial, imperialisme, dan kapitalisme klasik.

Remeh-temeh adalah kejujuran dan intisari dari naifnya kemudaan—bebas ideologi. Namun, untuk mencegah kekecewaan Anda yang ingin revolusioner dan berharap mendapatkan figur pemberontak pemuda biseksual, petualang tubuh dan alam, pedagang kopi dan senjata api ini, saya akan berikan sedikit biografinya. Karena puisi-puisi remeh-temeh ini sedikit banyak menyumbang pada berkembangnya sang legenda.

Jean Nicolas Arthur Rimbaud dilahirkan di Chattervile, Prancis, sekitar 321 km arah timur laut dari Paris, pada 20 Oktober 1854. Ia menulis puisi sejak kecil, tapi catatan terkenal pertamanya dimulai ketika ia berumur 13 tahun, saat ia mengirimkan puisi kepada Napoleon Bonaparte yang berisi 16 baris dan berbahasa Latin. Ada catatan bahwa Napoleon menerima puisi tersebut namun puisi itu hilang—jadi, kita tidak tahu isinya. Rimbaud menjadi selebritas setelah memenangkan hampir semua kompetisi akademik sastra di Paris dan puisinya diterbitkan jurnal puisi nasional tepat ketika usianya 15 tahun. Rimbaud pun menjadi sastrawan termuda di zamannya.

Prestasi-prestasi ini menunjukkan kejeniusan Rimbaud karena puisi-puisinya mengandung tingkat kedalaman wacana dan penggunaan diksi layaknya penulis berpengalaman. Gaya penulisannya yang polyphonic membuat Rimbaud hadir menerobos konvensi sastra pada zamannya yang sangat memperhatikan rima, ritme, dan struktur. Ia melanggar konvensi semaunya padahal puisinya merupakan puisi lirik. Ia juga sering menggunakan kata-kata kotor di antara kata-kata ‘indah’ yang memberikan sentuhan estetik tersendiri pada puisinya. Tradisi aliran sastrawan Romantik masih mengalir padanya, yaitu aliran yang kritis terhadap industri serta percaya pada hal mistis, seperti mimpi dan kekuatan alam—namun, puisinya yang kaya simbol terlalu rumit untuk disebut romantik.

Tahun 1871—1873, ia berhubungan dekat dengan penyair aliran simbolis, Paul Verlaine. Hubungan yang awalnya seperti saudara dan lama kelamaan berubah menjadi percintaan sengit dalam kehidupan hedonis Paris—saat berselingkuh dengan lelaki muda ini, istri Verlaine sedang hamil. Mereka putus setelah dalam keadaan mabuk, Verlaine, yang tujuh belas tahun lebih tua daripada Rimbaud, menembak lengannya. Setelah itu, Rimbaud menyelesaikan Season in Hell. Ketika berpacaran dengan penyair German Nouveau di London, ia menyelesaikan Illuminations. Sekitar tahun 1875, ia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan kaya raya sebagai sastrawan muda paling terkenal untuk menjadi seorang pengelana gembel. Ia pergi ke Mesir, Afrika, dan Asia dengan menumpang berbagai kapal.

Sedikit fakta untuk sebagian dari Anda yang suka membangga-banggakan hubungan Indonesia dengan seniman bule, tahun 1876, Rimbaud bahkan pernah bergabung dengan pasukan VOC dan datang ke Jawa. Namun, melihat kekejaman kolonialisme, ia akhirnya kabur ke dalam hutan pedalaman Jawa, meninggalkan pasukan VOC tersebut. Ia kembali ke Paris menumpang kapal dagang sebagai penumpang gelap, karena jika ia tertangkap VOC, ia bisa dihukum mati (James, 2011). Pengelanaan Rimbaud keliling dunia memberikan dua hal: pertama, surat-suratnya yang mengkritik habis kolonialisme; dan kedua, dimulainya usaha untuk menjadi pedagang ekspor-impor kopi dan senjata api di Harrare, Afrika. Ia meninggal di Absynia dalam usia 37 tahun karena kanker tulang yang menggerogoti kaki kanannya.

Pengelanaan nekat ala backpacker galau film Into the Wild ini nampaknya sudah lama direncanakan Rimbaud. Ia bukan orang yang dapat menikmati hedonisme seniman sepenuh hati. Dalam puisi-puisi awalnya, ia sudah menyindir soal kemuakkannya pada sistem masyarakat industri di Eropa. Puisi “The Orphan’s New Years Gift”, puisi pertama Rimbaud, sudah menunjukkan sensitivitas sosialnya dalam melihat anak-anak yatim piatu dan pekerja anak di industri Eropa. Dalam artikel ini, puisi “Nina Menjawab” (“Nina’s Answer”) juga membandingkan kehidupan pedesaan dengan bebasnya hutan liar. Melalui modifikasi gaya romantik dan simbolis, Rimbaud memberikan dasar untuk aliran berikutnya seperti Surrealisme dan Dadaisme. Season in Hell dan Illuminations adalah kumpulan yang barangkali menegaskan keinginannya untuk pergi dari Eropa.

Namun, saya tidak ingin mengglorifikasi Rimbaud dengan pencapaian-pencapaian kegalauan mudanya yang revolusioner. Anda bisa mendapatkan itu di banyak tulisan lain. Dalam kesempatan ini, saya menerjemahkan untuk Anda tiga puisi awal Rimbaud yang lebih memberatkan diri pada eksplorasi imaji romantik, percintaan, dan sedikit kritik sosial tapi masih dalam kerangka bermain-main. Kemudaan Rimbaud adalah kematangan dalam permainan ini. Puisi remeh-temeh ini saya rasa bisa masuk ke hampir semua konteks sosial yang masyarakatnya punya anak muda galau bercinta—Indonesia tentunya paling banyak anak muda model begini.

Puisi pertama, “Ophelia”, tentunya Anda bisa hubungkan dengan kekasih Hamlet yang jadi gila karena bapaknya, Polonius, dibunuh oleh Hamlet. Ophelia mati bunuh diri di sungai dan membuang semua mimpinya untuk hidup bahagia dan penuh petualangan. Puisi ini istimewa untuk saya karena secara subjektif saya penggemar drama Hamlet. Selain itu, Rimbaud seperti bisa menangkap kesakitan-kesakitan mimpi-mimpi yang mati bersama Ophelia. Impian-impian anak muda galau memang harus mati di titik tertentu hidup dan menghantui hingga tua. Rimbaud sudah sadar itu di usia belianya.

Puisi kedua adalah “Malam Pertama” (“First Night”). Puisi ini saya pilih karena keerotisannya dan permainannya. Kekuatan bermain imaji dan personifikasi juga sangat menarik untuk dialami (ya, puisi adalah pengalaman, bukan pembacaan), membuat kejadian seksual anak muda yang banal menjadi satu potret yang sangat menarik.

Puisi ketiga adalah puisi lirik terpanjang yang saya terjemahkan untuk tulisan ini. Isinya adalah sebuah kontras antara lelaki romantis dan perempuan realistis: kebebasan berkencan di dalam hutan dan horornya dunia sosial manusia. Puisi ini ditutup dengan sebuah pernyataan dari seorang perempuan yang sengaja dibuat meruntuhkan bangunan romantik dan keseriusan yang dibangun si lelaki. Suatu karya yang menurut saya sangat indah.

Sebelum Anda membaca terjemahan saya, perlu saya tekankan tiga hal penting. Pertama, saya menerjemahkan puisi-puisi ini dari bahasa kedua, bahasa Inggris. Saya memilih terjemahan karya Mason (2003) karena ia berusaha mencari jalan tengah antara unsur kesetiaan terjemahan dengan kesetiaan estetika bahasa Inggris. Hal yang sama saya usahakan dalam bahasa Indonesia. Saya berusaha mempertahankan kekuatan citra yang dimiliki Rimbaud tetapi tidak mengubah ritmenya dalam bahasa Indonesia. Kedua, ada banyak hal yang tak mungkin diterjemahkan ke dalam bahasa lain, seperti contonya pohon Alder, yang tak ada di Indonesia. Saya bisa saja menggantinya dengan pohon Bakau, misalnya, tapi saya tetap setia pada pohon Alder, karena menghormati setting alam yang dilihat Rimbaud. Kata-kata lain yang padanannya tak ada di bahasa Indonesia, baiknya Anda cari sendiri di Google. Dan, terakhir yang ingin saya ingatkan adalah, seberat apapun usaha saya untuk mendekati sekaligus memindahkan Rimbaud dalam bahasa Indonesia, akurasi tidak mungkin didapatkan. Jadi, saya harap jika Anda penggemar berat Rimbaud yang fanatik, Anda tidak memfatwa saya atas kejauhan makna—konon fanatik suka main fatwa.

Demikian pengantar ini saya buat. Selamat menikmati esensi kemudaan abadi Arthur Rimbaud yang saya racik.

Tabik!

 

 

 

OPHELIA

I
Di atas air hitam tenang bintang-bintang terlelap
Ophelia putih mengambang seperti bunga leli
Mengambang perlahan, ditidurkan kudung panjang..
–Trompet  berburu terdengar dari hutan nan jauh

Seribu tahun tanpa Ophelia nan sedih
Hantu putih di sungai hitam panjang
Seribu tahun kegilaan manisnya
Bergumam dalam balada kabut pagi

Angin mengecup dadanya, merapikan kudungnya
Dalam buaian lembut air;
Dahan-dahan dedalu gemetar menangis di pundaknya.

Bunga-bunga leli yang kusut mendesah di sekitarnya;
Dan di atas semak-semak pohon alder kadang ia berputar-putar.
Ada sarang di mana getaran sayap-sayap kecil lepas,
-Sebuah lagu misterius jatuh dari bintang-bintang emas

II
Oh, Ophelia pucat! Cantik seperti salju!
Kau mati, anakku, dibawa pergi di antara air!
Angin dari gunung-gunung Norwegia
Membisikkan peringatan perihnya kebebasan.

Karena sebuah nafas dibawa suara-suara asing
Pada jiwamu yang resah, menggulung rambut panjangmu,
Hatimu mendengar nyanyian alam
Dalam kemarahan pohon-pohon dan desahan malam

Karena suara-suara memekakkan dari laut liar
Menghancurkan dada kecilmu, begitu manusia dan begitu lembut;
Karena pada sebuah pagi di bulan April, seorang ksatria pucat, tampan,
Seorang bodoh yang hina, bertekuk lutut di kakimu!

Langit! Cinta! Kebebasan! Mimpi-mimpi apa, Ophelia malang!
Kau mencair di sana seperti salju dalam api
Mimpi mencekik kata-katamu
-Ketakutan akan yang maha luas memancar dari matamu.

III

-Dan para penyair berkata kau datang setelah gelap
Dalam cahaya bintang, mencari bunga-bunga yang kaukumpulkan,
Dan di atas air, tidur dalam kudung panjang
Ia melihat Ophelia putih mengambang bagai leli

15 Mei, 1870

 

MALAM PERTAMA

Dia hampir telanjang
Dan pohon-pohon tinggi mengintip diam-diam
Dengan cerdik melempar daun-daunnya
di kaca jendela, begitu dekat, begitu dekat.

Dia duduk setengah telanjang
Di atas kursiku, tangannya saling menggenggam.
Kaki kecilnya gemetar menyentuh lantai,
Dengan nikmat, sangat lembut, sangat lembut.

–Aku pandang ia seperti cahaya mentari nakal
Warna lilin yang terbias
Dari senyumnya, dari dadanya.
Ada lalat di atas mawar.

Aku mengecup tumit lembutnya.
Ia melepaskan tawa yang kecil, dan tajam
Yang bergelombang dengan getaran,
Tawa cantik jelas jernih.

Kaki kecil pergi bersembunyi
di balik gaun malam. “Jangan, aah!”
–Sudah sejauh ini,
Tawa hanya membuat semakin dekat.

–Gemetarlah ia, kelopaknya.
Di bawah bibirku, kukecup lembut:
Ia melempar kepalanya ke belakang
“Kamu nakal… Monsieur!

“Aku punya dua kata untukmu…”
–Tapi kuakhiri percakapan
Dengan ciuman-ciuman di dadanya, membuat tawanya
merangkum sisanya…

Dia hampir telanjang
Dan pohon-pohon tinggi mengintip diam-diam
Dengan cerdik melempar daun-daunnya
Di kaca jendela, begitu dekat, begitu dekat.

Diterbitkan 13 Agustus 1870
NINA MENJAWAB

LELAKI:                    –Dadaku di dadamu
Ya? Kita bisa jalan-jalan
Melewati cahaya mentari hangat.
Hidung kita hirup

Udara pagi biru, memandikan kita
Dalam anggur hari ini.
Mabuk cinta dan bodoh,
Hutan bergetar berdarah

Tetesan hijau dari setiap dahan
Kuncup-kuncup putih mengembang
Semua terbuka, kaubisa merasakan
Mereka merinding:

Kaumelewati semak belukar, gaun putihmu
Tersipu di udara,
Biru melingkari
Mata hitam besarmu
Mencintai tanah,
Memanennya,
Dengan tawa, meruah
Seperti sampanye:

Menertawaiku, mabuk dan liar,
Kubawa kau,
Secepat itu—di antara rambut indahmu
Betapa dalam aku minum.
Nafasmu yang manis,
Tubuhmu yang wangi,
Tertawa, saat embusan angin menciummu
Seperti maling,

Mawar-mawar liar menggodamu
Tertawa, dengan manis
Terbahak-bahak, seringkali, pada pacarmu—
Aku!

Tujuh belas! Lihat bagaimana kau akan bahagia!
Padang rumput yang luas
Bukit-bukit cinta tanpa batas
Jadi jangan malu…

–Dadamu di dadaku,
Suara kita tercampur baur
Kita sampai ke ngarai
lalu ke hutan…

Dan seperti kematian kecil,
Hatimu menyerah,
Kau akan bilang: gendong aku.
Matamu setengah tertutup…

Dan kugendong engkau, susah payah
Ke dalam hutan:
Ada kicauan burung:
“Bawa ke dekat pohon hazelnut!”
Aku akan bicara pada bibirmu;
Melangkah tanpa lelah, membuai
Tubuhmu seperti bayi di ayunannya,
Mabuk darah.

Aliran di bawah kulit putihmu
Seperti mawar yang mekar:
Aku bicara pikiranku
Yang pikiranmu tahu…

Hutan kita beraroma getah,
Dan matahari
Menyebarkan debu emas di atas
Mimpi merah delima ini.

Dan ketika malam tiba?… kita kembali
Melewati jalan putih yang berkelana
Seperti ternak merumput,
Berkelana jauh.
Rumput-rumput biru dari anggrek-anggrek penurut
Dan pohon-pohon pemberontak
Harumnya mengisi udara
tanpa akhir
Kita kembali ke desa
Di bawah langit hitam;
Harum susu dan menyusu
Mengisi udara malam,

Kita menghirup kandang kuda
Penuh pupuk hangatnya
Penuh dengan suara nafas berat teratur
Dan pundak-pundak lebarnya

Memutih di antara sinar lampu
Dan, di sana,
Seekor sapi berak tahi
Sambil melangkah bangga…

Kacamata nenek
Dan hidung panjangnya
Dalam doanya: Sekendi bir
Tongkat dengan timah

Melayang di antara pipa
Asap tebal mengepul
Bibir-bibir seram
Melahap segarpu penuh

Daging sambil merokok
Dan minum, dan…:
Api menerangi kasur
Dan lemari

Pipi-pipi gemuk mengilat
Dari pantat gemuk bayi
Yang keempat-empatnya menjepit
moncong putihnya jadi cangkir
Disikat berewok, menggeram
Pelan dan
Menjilati muka
Anak yang manis…

Hitam, bergantung di pojok
Kursi perempuan itu, bayangannya.
Mimpi buruk, seorang perempuan tua
Menjahit di dekat perapian;

Apa yang mau kita lihat, sayang,
Dalam ruang seperti ini
Saat api hanya menyalakan
Kaca jendala kelabu…

–lalu, kecil dan terselip
Dibalik kenop ungu
Dingin dan hitam; sebuah jendela kecil
Tertawa di belakang…

Datang padaku, datang padaku.
Pada cintaku, dengan cantiknya.
Datang padaku, jadi kita bisa—

PEREMPUAN          : Bolos kerja, getoh?

15 Agustus 1570

 

 

 

Sumber dan Referensi

Rimbaud, Arthur. Rimbaud Complete (terj. Inggris oleh Wyatt Mason). Modern Library Paperback Edition, 2003. Halaman 17, 20, 22.

James, Jamie. Rimbaud in Java. Singapore: Didiet Miller Pte. Ltd., 2011.

 

*Nosa Normanda adalah dosen performance strategy di sebuah kampus internasional, pekerja di Teater Sastra UI, antropolog lepas, gitaris band Indie Wonderbra, dan penulis lepas. Hobinya main band, teater, dan menyendiri untuk menulis atau membuat lagu dalam kemiskinan dan kegalauan—kalau sedang sempat.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus