Kelas Dan Perjuangan Kelas Dalam Manifesto Komunis

Print Friendly, PDF & Email

“Sejarah seluruh umat manusia adalah sejarah perjuangan kelas.”

KALIMAT SINGKAT, padat, dan tegas yang tertera pada bagian I Manifesto ini merupakan kata kunci dalam memahami substansi pemikiran dan proyek politik Marx dan Engels. Dalam komentarnya terhadap kalimat ini, filsuf Phil Gasper mengatakan, “pandangan bahwa sebagian besar masyarakat manusia terbagi ke dalam kelas-kelas sosial dengan kepentingan yang saling bertentangan dan tak terdamaikan (antagonistik) merupakan inti dari pemikiran Marx dan Engels.[1]

Pada bagian selanjutnya, Manifesto memaparkan sejumlah fakta historis dari keberadaan kelas-kelas. Pada jaman Romawi kuno kita temukan kelas bangsawan (patricians), ksatria (knights), rakyat jelata (plebeians), dan budak (slaves); pada abad pertengahan, kelas-kelas yang muncul adalah tuan feodal (feudal lords), petani hamba (vassal), pedagang (guild-master), buruh pengrajin harian (journeyman), buruh magang (apprentices), dan pelayan (serfs). Sementara pada masyarakat borjuasi modern, antagonisme kelas-kelas itu tidak lenyap tapi makin mengerucut pada dua kelas besar yang berhadap-hadapan secara langsung: borjuasi dan proletariat.[2]

Tentang keberadaan kelas-kelas dan perjuangan kelas dalam masyarakat, Marx bukanlah orang pertama yang menemukan konsep ini. Dalam surat kepada kawannya Joseph Weydemeyer di New York, Marx mengatakan, “jauh sebelum aku, sejarawan borjuis telah mendeskripsikan sejarah perkembangan perjuangan di antara kelas-kelas ini…”[3]

Kata ‘kelas’ dalam pengertian sosial sebenarnya masih relatif baru. Menurut Philip P. Wiener, istilah ini baru muncul dalam bahasa Inggris dan Eropa Barat lainnya pada masa revolusi Industri.[4] Dalam era modern, istilah ini untuk pertama kalinya digunakan oleh Defoe (1728) untuk mendefinisikan ‘kelas dalam masyarakat’ berdasarkan atas pekerjaan dan pendapatannya.[5] Pada setengah abad pertama abad ke-19, misalnya, para sejarawan menggunakan gagasan tentang perjuangan kelas untuk mempelajari evolusi Eropa Modern. Perjuangan antara bangsawan dan borjuasi menjelaskan dengan baik sejarah Eropa. Thierry, Guizot, Mignet, dan Thiers, menggunakan konsep ini untuk memahami sejarah Perancis sejak abad Pertengahan. Sejak tahun 1850, John Wade dan sejarawan Inggris juga telah menggunakan konsep perjuangan kelas ini.[6] Sebelum dekade 1770an, istilah kelas digunakan untuk merujuk pada pembagian kelompok dalam sekolah atau universitas.[7]

Kelas dalam pengertian sosial itulah yang dimaksudkan oleh Marx dan Engels dalam Manifesto. Istilah kelas, berasal dari bahasa Latin classis, yang digunakan untuk membeda-bedakan masyarakat berdasarkan kekayaannya. Pada abad ke-16, kelas sebagai sebuah ide sosial merujuk pada kaum pekerja atau pekerja miskin, dan kaum miskin. Di sini kelas merujuk pada hubungan ekonomi, lebih tepatnya, berdasarkan atas pekerjaan dan pendapatan seseorang.[8]

Pada abad ke-18, istilah kelas dimaksudkan untuk membedakan antara mereka yang tidak bisa bekerja, mereka yang sangat miskin atau pengemis, dan mereka yang bisa bekerja (buruh miskin). Lagi-lagi, hubungan ekonomi menjadi acuannya. Pengertian ini luas digunakan, hingga terjadinya revolusi industri.

Kalangan psiokrat seperti Richard Cantillon dan Sir James Steuart dan terutama lagi Francois Quesnay, secara luas menggunakan istilah kelas ini dalam kaitannya dengan fungsi ekonomi. Khusus pada Quesnay, ia menyebut petani sebagai kelas produktif, tuan tanah sebagai kelas distributif, dan pedagang sebagai kelas yang bebas.[9]

Tetapi, baru pada awal abad ke-19, dalam karya Thomas Robert Malthus dan David Ricardo, istilah kelas ini pada umumnya digunakan bagi kelas pekerja. Di Inggris, istilah kelas pekerja muncul sekitar tahun 1815 dan di Perancis sekitar tahun 1830. Di sini, istilah kelas bukan lagi merujuk pada hubungan ekonomi dalam makna yang luas dan abstrak, tapi lebih merujuk ada posisi sosial dan hirarki kepemilikan.

Bicara posisi sosial atau hirarki kepemilikan, berarti bicara tentang konflik. Seperti ditulis Aristoteles dalam karyanya Politics, kelas-kelas ekonomi menentukan bentuk-bentuk negara. Konstitusi, bagi Aristoteles, adalah hasil dari perjuangan kelas; revolusi merupakan hasil dari perubahan dalam militer atau kekuasaan ekonomi dari kelas-kelas. Machiavelli dalam The Prince, juga mewanti-wanti para penguasa agar terus memperhatikan perjuangan kelas-kelas, karena kekuasaan politik muncul dari konflik kelas ini.[10] Philip H. Weiner (1973),[11] mengatakan dalam konteks konflik itu istilah kelas merujuk pada apa yang disebutnya dichotomous conceptualization dan tripartite divisions atau trichotomous conceptualization. Konseptualisasi dikotomis melihat struktur masyarakat terbagi atas lapisan atas dan lapisan bawah: kaya miskin, penguasa dan yang dikuasai; atau penindas dan yang ditindas. Filsuf Yunani kuno Plato, adalah orang pertama yang menggunakan konsep ini, dimana ia mengatakan, “setiap kota, walaupun kecil, pada faktanya terbagi atas dua: kotanya kaum miskin dan kotanya kaum kaya, dimana keduanya saling berperang satu sama lain.”[12] Sosiolog muslim terkemuka Ibnu Khaldun, dalam magnum opusnya, Muqaddimah, mengatakan ‘posisi kekuasaan adalah sumber kekayaan.’ Tulisan-tulisan awal Bapak Gereja, seperti John Chrysostom, Patriakh dari Constantinopel, dalam Homilia 34, mengatakan, problem besar dalam ketidakadilan tidak lagi didiskusikan dalam pengertian manusia bebas dan budak atau tuan dan pelayan sebagaimana dalam pengertian ekonomi. Baginya, stratifikasi sosial harus dilihat berdasarkan pada hubungan kepemilikan: kaya-miskin, pemilik-bukan pemilik adalah dua basis paling mendasar dari masyarakat.[13]

Ketika bara api revolusi tengah menjalar di Eropa pada ke-18, Francois Emile Babeuf, membagi masyarakat Perancis atas 24 juta produsen nyata dan satu juta penindas. Demikian juga dengan sosialis Henry Saint-Simon, yang membagi masyarakat antara kelas industrial (buruh) dan kelas pemalas (majikan). Konsepsi masyarakat yang dikotomis ini, juga muncul pada abad ke-19 di kalangan gerakan sosialis, mulai dari Chartism di Inggris hingga Louis Blanqui di Prancis dan Ferdinand Lassalle di Jerman.[14]

Adapun konsep tripartite divisions atau konsep trikotomis, memiliki akarnya pada Aristoteles. Masih dalam bukunya Politics, Aristoteles membagi masyarakat kota atas mereka yang sangat kaya, sangat miskin, dan mereka yang hidup di antara keduanya. Gereja di abad pertengahan, juga mengunakan konsep trikotomis ini, dengan membagi masyarakat atas mereka yang membela negara, mereka yang berdoa, dan mereka yang bekerja keras. Dan di Perancis pada abad ke-18, bayangan tentang Three Estates yang terdiri atas pendeta, aristokrat, dan masyarakat umum, sangat mendominasi persepsi sosial saat itu. Di tangan Adam Smith, konsep trikotomis ini memiliki fungsi ekonominya. Smith sering sekali merujuk pada Quesnay, tapi ia sendiri tidak mengadopsi kategorinya Quesnay. Menurut Smith, apa yang dulunya disebut pendeta, ksatria, dan masyarakat umum, berganti menjadi pemilik tanah, kapitalis dan buruh. Masyarakat lalu dibedakan atas mereka yang hidup dari menyewakan tanahnya, mereka yang hidup dari keuntungannya, dan mereka yang memperoleh pendapatan dari upah kerjanya.[15]

Konsep trikotomis juga muncul dalam karya Robert Owen, yang membagi masyarakat atas kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Namun demikian, kelas sebagai sebuah kolektif sosial baru tampak jelas pada karya David Ricardo tahun 1817. Di tangan Ricardo, terma kelas menempati peran sentral dalam studi ekonomi-politik, dimana, menurutnya, dalam setiap tahapan sejarah masyarakat apa yang dihasilkan oleh bumi keseluruhannya dialokasikan pada apa yang disebutnya sewa (tuan tanah), keuntungan (kapitalis), dan upah (buruh). Ricardo menambahkan, ketiga komunitas ini secara esensial sangatlah berbeda, dan bagaimana menentukan aturan untuk mendistribukan hasil alam itu merupakan masalah yang sangat prinsipil dalam ekonomi-poltik. 

Setelah Ricardo, para ahli ekonomi-politik seperti P. Ravestone dan T. Hodgskin kian memperkuat garis Ricardian ini, bahwa terdapat konflik yang inheren antara kelas buruh dan kapital. Hodgskin bahkan mengklaim bahwa konflik tersebut hanya bisa diselesaikan melalui aksi buruh kolektif.[16]

Kelas dalam Marxisme

Apa yang khas dari pengertian Marx tentang kelas? Sebelumnya perlu dikemukakan bahwa pusat perhatian dari studi Marx adalah menjelaskan bagaimana hubungan sosial produksi kapitalisme bekerja serta apa yang membedakannya dengan hubungan sosial produksi non-kapitalis. Dalam kaitan dengan persoalan kelas, maka perlu buat kita melihat bagaimana kalangan non-Marxis mendefinisikan kapitalisme. Di sini, ada dua hal krusial yang patut diperhatikan: pertama, para intelektual non-Marxis, menganggap kapitalisme memiliki akar yang menjulur jauh hingga ke masa-masa peradaban kuno atau bahkan telah eksis bersamaan dengan eksisnya dunia. Di sini, kapitalisme dipandang hanya sebagai bentuk termaju dan lebih kompleks dari sistem sosial yang sebenarnya telah eksis. Hanya saja, karena faktor-faktor tertentu (politik, ekonomi dan sosial-budaya), kapitalisme tidak berkembang secara sempurna seperti saat ini. Dengan demikian, dalam pandangan kalangan non-Marxis, kebangkitan kapitalisme secara sederhana  dilihat melalui pertumbuhan pasar, pembukaan kembali rute-rute perdagangan baru, peningkatan perdagangan, pembebasan borjuasi dari belenggu feodalisme, dan seterusnya.[17] Singkatnya bagi kalangan non-Marxist, kapitalisme merupakan sebuah sistem yang kekal, sehingga konsekuensinya pandangan mereka tentang keberadaan kelas-kelas dalam masyarakat merupakan sesuatu yang kekal pula.

Sementara, menurut Marx keberadaan corak produksi sosial bukanlah sesuatu yang telah ada dengan sendirinya, sesuatu yang tiba-tiba diturunkan dari langit. Dalam Grundrisse, ia dengan detil menjelaskan bagaimana kapitalisme (disebutnya juga sebagai masyarakat borjuis) adalah suatu corak produksi baru yang sama sekali berbeda dengan corak produksi sebelumnya. Benar bahwa beberapa aspek dari masyarakat borjuis telah ada pada masa sebelumnya, misalnya, pertukaran, yang jejaknya memang bisa ditemukan pada masyarakat komunal, tetapi adalah salah besar jika menyimpulkan bahwa pertukaran merupakan ciri dominan dari masyarakat tersebut. Contoh lain soal keberadaan uang.  Jika pada masyarakat borjuis peranan uang sangat dominan, sebagai darah dari hubungan sosial, maka pada masa sebelumnya peranannya tidaklah dominan, kecuali  terbatas pada bagian tertentu dari masyarakat tersebut, misalnya pada komunitas pedagang. Bahkan dalam masyarakat kuno yang lebih maju, misalnya, pada jaman kekaisaran Romawi, perkembangan uang dan peranannya baru muncul pada masa-masa akhir kejayaannya, terutama pada seksi militer.[18]

Dengan pemahaman seperti ini, maka bagi Marx keberadaan kelas-kelas dan perjuangan kelas itu bukanlah sesuatu yang ahistoris, sesuatu yang telah ada dengan sendirinya dan karena itu abadi keberadaannya. Kelas muncul dalam corak produksi tertentu, hasil dari perjuangan politik, ekonomi, dan sosial budaya. Konsekuensinya, dalam corak produksi tertentu keberadaan kelas-kelas ini bisa dihapuskan.

Perbedaan kedua, kalangan non-Marxis menganggap ciri utama kapitalisme adalah pada hubungan pertukaran (exchange relation) dimana pasar secara sederhana didefinisikan sebagai medium pertukaran dan distribusi. Karena hubungan pertukaran ini sudah ada sejak jaman manusia hadir di dunia ini, maka kapitalisme dengan sendirinya telah hadir bersamanya. Lebih spesifik lagi, sosiolog Max Weber yang mengatakan sejak pertukaran di pasar (market exchange) ditujukan untuk memperoleh keuntungan maka saat itulah kapitalisme telah ada.[19] Dan karena pertukaran akan terus ada sejauh manusia berinteraksi dengan sesamanya, maka kapitalisme pun demikian. Kita lihat, inilah argumen yang menopang tesis bahwa kapitalisme itu bersifat abadi. Konsekuensinya, selain keberadaan kelas-kelas itu alamiah, maka perjuangan kelas pun menjadi musykil dan utopis. Yang realistis itu adalah mencari metode bagaimana supaya terjadi kerjasama kelas seperti yang muncul pada pemikiran Ricardo dan kaum sosialis utopis agar terjadi harmoni kelas. Menurut Honore de Balzac, novelis Prancis yang merupakan idola Marx, harmoni kelas itu hanya mungkin terjadi jika dipimpin oleh kalangan “modern aristocracy” yang mengerti tentang seni, ilmu pengetahuan dan kekayaan dibanding kelas-kelas lain dalam masyarakat kapitalis.[20]

Sementara Marx menganggap ciri utama kapitalisme terletak pada hubungan produksi (production relation), yang melibatkan tidak hanya hubungan kepemilikan dan distribusi yang menentukan corak produksi, siapa yang memiliki apa dan mengapa, tapi juga bagaimana kepemilikan itu diorganisasikan dan kemudian muncul dalam bentuk kontrol atas kerja dan hasil kerja (produk), serta aspek-aspek organisasi sosial lainnya. Dalam pengertian ini, menurut Marx, ciri utama kapitalisme ditandai oleh hubungan antara mereka yang memiliki alat-alat produksi (kelas kapitalis) dan mereka yang hanya bisa hidup dengan menjual tenaga kerjanya kepada pemilik alat-alat produksi tersebut, yakni kelas pekerja di pasar. Di sini, pasar tidak hanya berperan sebagai medium pertukaran dan distribusi (seperti dalam corak produksi pra-kapitalis), tapi  sebgai medium utama yang mengatur dan menentukan reproduksi sosial.[21] Dalam hubungan produksi ini, maka hubungan kelas-kelas itu bagi Marx niscaya berlangsung secara eksploitatif, konfliktual dan tak terdamaikan, karena kedua kelas ini memiliki kepentingan yang bertolak-belakang satu dengan lainnya. Hubungan eksploitatif ini secara khusus dijelaskan Marx melalui konsep perampokan “Nilai Lebih.”

Dalam karya polemisnya The Poverty of Philosophy yang ditujukan kepada Pierre Joseph Proudhon, Marx menulis:

“Pada prinsipnya, tidak ada pertukaran produk, melainkan pertukaran buruh yang bekerjasama dalam produksi. Corak pertukaran produk tergantung pada corak pertukaran kekuatan produktif. Secara umum, bentuk pertukaran produk berkaitan dengan bentuk produksi. Ubah yang terakhir maka konsekuensinya, bentuk pertukaran pun akan berubah. Jadi, dalam sejarah masyarakat, kita lihat, corak pertukaran produksi diatur oleh corak yang memproduksinya. Pertukaran individual berkaitan juga dengan corak produksi tertentu yang pada dirinya sendiri, berhubungan dengan antagonisme kelas. Bisa dikatakan, tak ada pertukaran individual tanpa antagonisme kelas.”[22]

Dengan menempatkan ciri utama kapitalisme pada hubungan produksi, maka Marx kembali menegaskan bahwa kapitalisme adalah sebuah produk sejarah masyarakat tertentu, yang berbeda dengan masyarakat non-kapitalis. Dalam masyarakat komunal purba, misalnya, ia menyatakan bahwa keberadaan kelas-kelas itu tidak ada karena tidak terjadi kelebihan produksi dan belum adanya lembaga kepemilikan pribadi. Karena kelas-kelas belum muncul, maka hubungan produksi yang terjadi berlangsung secara egaliter dan kooperatif. Kelebihan produksi dan lembaga kepemilikan pribadi baru muncul pada corak produksi perbudakan, yang ditandai oleh hubungan yang ekspoitatif antara dua kelas yang dominan saat itu: budak dan tuan budak. Pada kapitalisme hubungan kelas yang eksploitatif dan konfliktual ini menjadi semakin rumit dan semakin dipertegas.

Definisi Kelas

Bagi Marx dan Engels, kelas bermakna hubungan sosial antara produser (proletariat) dan pemilik alat-alat produksi (borjuasi), yang merampok nilai lebih (surplus value) dari hasil kerja buruh. Sementara bagi kalangan non-Marxis (juga sebagian kelompok Marxis), kelas bermakna lokasi seseorang dalam struktur produksi yang diukur berdasarkan tingkat pendapatan, peluang pasar atau pekerjaan serta gaya hidup.

Dengan mendefinisikan kelas berdasarkan pada hirarki lokasi dalam struktur produksi, maka keberadaan kelas-kelas dalam masyarakat bukanlah sesuatu yang konfliktual sekaligus bersifat kaku. Hari ini si A yang borjuis bisa menjadi proletar pada esok harinya, jika tiba-tiba kekayaannya lenyap karena dirampok, dibakar dalam aksi rusuh massa, bangkrut akibat krisis atau bencana alam, dsb. Atau sebaliknya, si B yang hari ini adalah seorang gelandangan, besok bisa naik pangkat menjadi borjuis jika ia berhasil memenangkan undian berhadiah miliaran rupiah. Karena itu yang penting bukan memajukan perjuangan kelas guna menghapuskan keberadaan kelas-kelas, tapi bagaimana mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam menghadapi berbagai kesempatan yang mungkin datang.

Melihat kelas secara struktural seperti ini, juga mendatangkan kebingungan ketika kita dihadapkan pada fakta: seseorang yang pada pagi harinya menjadi buruh pabrik (karena itu disebut proletariat) dan pada malam harinya berjualan indomie telur di pinggir jalan (karena itu disebut borjuis kecil). Menghadapi perpindahan posisi struktural dalam lokasi produksi ini, bagaimana teori kelas menjelaskannya? Ketidakmampuan menjelaskan gejala ini, maka secara analitik pendekatan kelas dianggap tidak memadai diterapkan dalam masyarakat kapitalis terbelakang.

Dihadapkan pada kebuntuan tersebut, Woods memperkenalkan konsep relationship (hubungan) dan process (proses). Di sini, Wood bicara soal hubungan kelas (buruh-kapitalis) dan hubungan di antara anggota kelas. Pada yang pertama, ia mengatakan bahwa relasi kelas melekat pada hubungan produksi tertentu, misalnya pada hubungan antara budak dan tuan budak pada hubungan produksi perbudakan atau hubungan antara buruh-kapital pada hubungan produksi kapitalis. Proposisi hubungan produksi sebagai fondasi bagi hubungan kelas, merupakan basis bagi seluruh analisa teori materialis tentang kelas, tapi tidak mencukupi. Wood melanjutkan, hubungan kelas yang melekat pada hubungan produksi memang menghasilkan konflik tak terdamaikan (antagonistik) antara produser langsung dan pencuri nilai lebih, tetapi hubungan kelas tidak bisa direduksi pada hubungan produksi semata,  sebagai penjelas bagi seluruh fakta sosial yang muncul.

Melihat kelas sebagai hubungan sosial produksi antara pemilik alat-alat produksi dan mereka yang menjual tenaga kerjanya untuk bisa hidup, maka makna kelas esensinya adalah hubungan kekuasaan, yakni kekuasaan antara borjuasi versus proletariat dalam mengontrol alat-alat produksi (kekuasaan dalam sistem ekonomi) dan juga kekuasaan politik dan sosial-budaya. Dalam makna ini, bukan berarti menolak keberadaan kelas berdasarkan lokasinya dalam struktur produksi, tapi melihat lokasi struktural itu sebagai titik berangkat untuk mengetahui seberapa besar kekuasaan yang dimiliki kedua kelas. Misalnya, keberadaan kelas pekerja karena pada dasarnya ia tidak memiliki dan menguasai alat-alat produksi, tetapi posisinya itu merupakan hasil dari sebuah proses pertarungan kekuasaan (perjuangan kelas) antara produser dan mereka yang merampas nilai lebih (borjuasi). Secara fisikal status buruh ditentukan oleh posisi atau kedudukannya dalam struktur masyarakat yang antagonistik, tetapi dari segi kesadaran keberadaannya ditentukan dari seberapa besar kontrol atau kekuasaannya terhadap alat-alat produksi. Dan kenyataannya, kekuasaan kelas pekerja atas proses kerja (perencanaan produksi, produksi, pemasaran, dan ekspansi kapital) sangat kecil untuk tidak bisa dibilang tidak ada. Dalam beberapa kasus, misalnya perusahaan yang menerapkan kepemilikan saham atau perusahaan yang berwatak kooperatif, kekuasaan kelas pekerja juga tetap kecil.

Dengan demikian, seorang borjuasi yang bangkrut karena krisis atau karena bencana alam, tidak serta-merta menjadi proletar. Di masa krisis beberapa kapitalis mengalami kebangkrutan dalam bisnisnya tapi tak lantas mereka menjadi papa sengsara. Melalui tabungan, jaminan asuransi, atau dana talangan pemerintah, mereka masih memiliki kekuasaan (walaupun terbatas) terhadap bisnisnya. Atau sebaliknya, seseorang yang mendadak jadi milyarder karena menang undian berhadiah, tidak otomatis berubah status jadi borjuasi.  Ia memang menjadi kaya, tapi tak berarti ia memiliki kekuasaan untuk menentukan  dan mengontrol proses produksi. Karena itu, soal utamanya bukan konflik antara kaya vs miskin, tapi konflik antara buruh vs kapitalis.

Dengan melihat kelas sebagai kemampuan sekelompok orang dalam mengontrol proses produksi, maka yang disebut kelas bukan hanya mereka yang terlibat dalam sebuah hubungan produksi tapi juga mereka yang berada di luar hubungan produksi, misalnya petani dan kaum miskin perkotaan. Dalam bahasa ekonom Michael Zweig,

‘Ketika saya bicara tentang kelas pekerja, pada satu sisi, saya bicara tentang  mereka yang membagi situasi bersama dalam struktur sosial ini (baca struktur sosial kapitalisme)[23] tetapi tidak memiliki kekuasaan yang banyak (dalam proses produksi).[24] Untuk menjadi kelas pekerja maka seseorang berada pada tempat yang relatif rentan – dalam pekerjaan, di pasar, dalam politik dan kebudayaan.’[25]

Dari sudut pandang ini, maka kelas pekerja adalah kelas yang mayoritas dalam masyarakat kapitalis. Tetapi, karena kekuasaannya terbatas dalam sebuah proses produksi, maka mereka juga memiliki kekuasaan yang sangat terbatas di sektor politik, sosial dan budaya. Itu sebabnya, dalam The German Ideology, Marx dan Engels mengatakan, ‘gagasan yang dominan pada setiap epos adalah gagasannya kelas penguasa.’[26]

Kelas Menengah (petty-bourgeois)

 

Dalam Manifesto, Marx dan Engels selain menyebut adanya kelas proletariat dan borjuasi, juga menyebut kelas lain yang tidak kalah pentingnya, kelas menengah atau petty-bourgeois. Pada Bagian III ‘Socialist and Communist Literature,’ Manifesto menulis,

‘Di negara dimana peradaban modern telah maju, sebuah kelas baru terbentuk yakni kelas menengah, yang keberadaannya terombang-ambing di antara  proletariat dan borjuasi, dan kemudian memperbarui dirinya sendiri sebagai bagian dari borjuasi. Namun demikian, ketika industri modern semakin maju, anggota individual dari kelas ini secara konstan terempas jatuh menjadi proletariat sebagai hasil dari kompetisi…..’[27]

Pada Bagian I ‘Burgeois and Proletarians’, Marx dan Engels mengatakan, kelas menengah yang terempas jatuh menjadi proletariat karena kalah bersaing dengan industri modern itu adalah anggota dari kelas menengah bawah, yakni pedagang kecil (small tradespeople), pemilik toko kecil (shopkeepers), para rentenir alias tukang riba (retired tradesman generally), para pekerja kerajinan tangan (handicraftsmen), dan petani (peasents)…[28] Tetapi keduanya juga mengatakan bahwa tidak semua anggota dari kelas menengah ini lenyap akibat kalah bersaing dengan borjuasi. Sebagian dari anggota kelas menengah ini kemudian menjadi kelas menengah baru dalam struktur industri modern.[29]

Kedudukan kelas menengah ini sangat penting dalam analisa kelas yang menggunakan pendekatan hirarki lokasi produksi, yang keberadaannya diukur berdasarkan tingkat pendapatan dan gaya hidup. Buruh yang doyan belanja produk terkenal di mall-mall, dengan demikian dikategorikan sebagai kelas menengah. Dalam sistem politik AS, misalnya, dimana analisa kelas lenyap, maka posisi kelas menengah dianggap sebagai mayoritas dan menentukan maju mundurnya kualitas demokrasi. Semakin kuat kelas menengah, semakin kuat demokrasi, begitu sebaliknya. Karena itu, semua politisi berlomba-lomba untuk memenangkan suara dari kelas menengah: pendidikan untuk kelas menengah, kesehatan untuk kelas menengah, dan keringanan pajak untuk kelas menengah.

Tetapi, jika kita melihat kelas menengah dalam makna kekuasaan, yakni mereka yang hidup di antara dua kelas yang saling bertentangan, maka secara kuantitatif jumlah kelas menengah lebih kecil dari kelas pekerja dan lebih banyak dari borjuasi. Zweig menyebut kelas menengah ini terdiri  para profesional, pemilik bisnis kecil, manajer dan pengawas buruh. Sebagai kelas yang hidup di tengah dua kelas yang saling bertentangan,  pengalaman mereka dalam beberapa aspek dibagi dengan kelas pekerja dan dalam beberapa hal lainnya, berhubungan dengan elite korporat. 

Sebagai contoh, pemilik bisnis kecil memiliki kepentingan yang sama dengan para kapitalis dalam soal pemilikan pribadi (private property) aset-aset bisnis, penghancuran kekuatan serikat buruh, dan pemangkasan UU perburuhan. Tetapi, mereka juga berbagi dengan buruh dalam kerja itu sendiri, dan kesulitan memperoleh asuransi kesehatan.

 Para profesional juga demikian, jika melihat pengalaman lebih dari 30 tahun terakhir, para profesional yang hidup berdampingan dengan kelas pekerja, dokter yang berpraktek di kampung kelas pekerja, pengacara yang membela kepentingan publik, para pengajar sekolah umum, tampak bahwa kondisi ekonomi dan sosialnya semakin menurun di hadapan kelas yang dilayaninya. Tetapi, jika kita melihat mereka yang hidup dari pelayanannya terhadap kelas kapitalis – pengacara korporat, dokter-dokter yang berpraktek di lokasi mewah, para intelektual yang melayani kepentingan korporat – mereka ini jelas-jelas memperoleh keuntungan dari elite yang dilayaninya. Dari sisi ini, kepentingan mereka merefleksikan kepentingan elite korporasi.

Tetapi, secara umum kesadaran politiknya adalah konservatif  bahkan reaksioner. Dalam Manifesto disebutkan, konservatisme kelas menengah bawah ini disebabkan oleh perlawanan mereka terhadap borjuasi lebih ditujukan untuk menyelamatkan posisi mereka sebagai fraksi dari kelas menengah. Jika kondisi revolusioner semakin membara, dimana kelas buruh semakin kuat dan dekat pada kemenangan, maka kelas menengah ini justru menjadi reaksioner, karena perjuangan mereka justru ingin menciptakan kembali sistem masyarakat lama.

‘Jika karena kesempatan mereka menjadi revolusioner, maka mereka melihat dirinya di masa depan akan menjadi proletariat. Jadi dalam perjuangan revolusioner itu mereka bukan membela kepentingan mereka saat ini, tetapi kepentingan masa depan mereka, kepentingan mereka berdasarkan sudut pandangnya sendiri dan dengan itu menempatkan dirinya di hadapan proletariat.’[30]

Kesadaran kelas

Sebagai pembaca Hegel yang baik, Marx banyak menggunakan term-term Hegel dalam menjelaskan konsepsinya sendiri, termasuk di antaranya konsep tentang kelas.

Secara garis besar, meminjam Hegel, Marx membagi kesadaran kelas proletarian atas dua: class in itself/an sich (kelas pada dirinya sendiri), dan class for itself/für sich (kelas untuk dirinya sendiri). Secara konsepsional, class in itself ini merujuk pada apa yang disebut Drapper[31] sebagai “kelas pekerja yang teratomisasi,” yakni kelas pekerja yang tidak terorganisir. Sebagai buruh, ia sadar dirinya berbeda dengan majikannya tidak lebih. Sementara, class for itself adalah kesadaran bahwa keberadaan sosialnya melekat dalam kebutuhan struktur masyarakat kapitalis yang antagonistik, sehingga jika ia ingin kelasnya bebas maka ia harus menghancurkan kapitalisme; tapi penghancuran itu sendiri bukan hanya prasyarat bagi pembebasan kelasnya, tapi pembebasan masyarakan keseluruhan.[32] Dalam karya klasiknya What Is to Be Done?, Lenin membahasakan kesadaran class in itself sebagai kesadaran serikat buruhisme (trade union conciousness), sementara kesadaran class for itself sebagai kesadaran sosial demokrasi (social-democratic conciousness).[33]

Ralph Miliband[34] membagi kesadaran kelas ini atas empat lapisan. Pertama, kesadaran kelas yang secara akurat dipersepsikan oleh anggota kelas tersebut, yakni individu proletariat. Seorang individu yang merasa dirinya berbeda dengan majikannya bisa disebut telah memiliki kesadaran kelas. Tetapi, menurut Miliband, individu buruh yang berpikir bahwa dirinya adalah bagian dari kelas menengah, misalnya, tidak bisa dikategorikan telah memiliki kesadaran kelas.

Kedua, kesadaran kelas merujuk pada kepentingan mendesak dari anggota kelas tesebut. Menurut Miliband, kesadaran tingkat pertama dan kedua ini belum tentu saling berinteraksi: misalnya, boleh jadi anggota dari kelas pekerja ini menjadi sadar, bahkan sangat sadar akan kepentingan mendesaknya sebagai kelas proletariat, tanpa menyadari apa sebenarnya kepentingan mendesak yang mereka butuhkan itu. Bahkan, masih menurut Miliband, jika toh dua level kesadaran itu menyatu dalam anggota kelas, hal itu tidak otomatis yang meningkat ke level ketiga kesadaran kelas, yakni kehendak untuk memajukan kepentingan kelasnya. Jadi, sangatlah mungkin bahwa individu buruh memiliki persepsi yang jelas akan kelasnya dan juga kepentingan kelasnya tapi, tidak berkeinginan untuk melakukan apapun untuk memajukan kepentingannya, apapun alasannya. Misalnya, mereka tidak melihat pentingnya organisasi kelas, tidak merasa berkepentingan untuk terlibat dalam protes-protes yang menuntut pemenuhan kebutuhan mendesaknya. Boleh jadi, yang mereka lakukan adalah mencari cara bagaimana agar kepentingan pribadinya lebih didahulukan ketimbang kepentingan kelasnya. Misalnya, siang hari memburuh, malam hari jualan kacang goring di perkampungan buruh.

Keempat, dan ini yang paling sulit, yakni kesadaran kelas yang dipahami tidak hanya sebatas makna, tidak hanya kesadaran anggota kelas dan kepentingan tertentu mereka, dan tidak hanya kesadaran untuk memajukan kepentingan kelasnya, tidak hanya persepsi untuk memajukan kepentingan mendesak dan terbatas mereka, melainkan kepentingan yang lebih umum, yang lebih global yang tak lain adalah class for itself. Dan karena itu, dalam perspektif Marxis, demikian Miliband, kelas buruh disebut memiliki kesadaran palsu ketika ‘mereka gagal memahami kepentingannya yang dibutuhkan untuk menghancurkan kapitalisme; dimana penghancuran itu sendiri bukan hanya syarat bagi pembebasan kelasnya, tapi juga masyarakat sebagai keseluruhan.

Sampai di sini kita dihadapkan pada soal lain, bagaimana ceritanya kelas buruh memiliki kesadaran kelas? Kalangan deterministik dan non-Marxis berpendapat bahwa menurut Marx ada garis lurus yang langsung antara posisi kelas dan kesadaran kelas. Karena ia buruh maka otomatis ia memiliki kesadaran kelas proletariat. Begitu mereka menemukan fakta bahwa kelas buruh tidak otomatis melawan penindasan kapital, mereka menyimpulkan bahwa teori kelas Marx tidak benar dan kelas buruh sebagai kelas yang memanggul tugas historis menghancurkan kapital dan kapitalisme hanyalah mitos.

Pandangan deterministik ini jelas telah mengebiri teori kelasnya Marx. Seperti ditulis filsuf Istvan Meszaros,[35] kesadaran kelas tidak muncul secara tiba-tiba. Tidak juga kesadaran kelas merupakan produk otomatis dari ekonomi, khususnya moda produksi seperti tuduhanya kalangan post-marxis dan anti-marxis. Kata Meszaros, bahkan di bawah kondisi ekonomi yang tengah mengalami krisis atau juga karena propaganda individu yang tercerahkan, adalah mimpi yang utopis untuk mengatakan bahwa kesadaran kelas proletarian akan muncul secara spontan atau langsung. Ada banyak lapisan kesadaran yang saling berinteraksi; satu ketika hal itu menyebabkan kesadaran kelas tertimbun rapat-rapat, di saat lainnya hal itu mempercepat munculnya kesadaran kelas.

Keadaan ini, secara tak terelakkan membutuhkan keberadaan organisasi – baik dalam bentuk partai konstitusional maupun bentuk-bentuk organisasi perantara lainnya, sesuai dengan kondisi struktur sosial-historis yang ada. Kembali meminjam Drapper, kelas pekerja tidak memiliki kesadaran kelas karena ia tidak terorganisasi.[36] Dengan adanya organisasi atau kelompok berkesadaran ini, kesadaran kelas proletariat dikelola dan diarahkan, untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dalam konteks waktu tertentu.
Namun demikian, adalah keliru besar jika kita mengatakan bahwa kesadaran kelompok adalah cerminan dari kesadaran kelas, apalagi mengklaim bahwa organisasi adalah perwakilan kesadaran kelas proletarian.

Keberadaan organisasi bisa diterima atau dibutuhkan sejauh organisasi tersebut mengabdi pada kepentingan kelas proletarian – yakni terus membuka jalan selebar-lebarnya bagi proletariat untuk menghapuskan struktur masyarakat kapitalis yang antagonistik. Dalam bahasa Engels, “kelas pekerja membutuhkan organisasi hanya demi kelancaran perjuangan; jika hanya untuk mengumpulkan orang per orang kelas pekerja tak butuh organisasi.” Inilah makna dari apa yang disebut Meszaros bahwa perkembangan kesadaran kelas adalah sebuah proses yang bersifat dialektik.[37]

Perjuangan kelas

Lebih dari sekadar memaparkan keberadaan kelas-kelas dalam masyarakat, Manifesto juga memberikan penekanan penting pada perjuangan kelas-kelas tersebut:

“Manusia bebas dan budak, bangsawan dan rakyat jelata, tuan dan pelayan, pedagang dan  buruh pengrajin, dalam satu kata, penindas dan tertindas, saling berkonflik satu sama lain tanpa henti, berlangsung tanpa henti, pertetantangan itu kadang berlangsung secara terbuka, kadang berlangsung secara tertutup, dimana akhir dari pertentangan itu secara revolusioner terbentuk sebuah masyarakat baru atau kelas-kelas yang saling bertentangan itu lenyap bersama-sama.”[38]

Pembahasan tentang perjuangan kelas ini sangat esensial, karena menentukan maju-mundurnya dan pendek-luasnya kekuasaan kedua kelas ini. Semakin besar kekuasaan kelas buruh maka semakin mampu mereka memblok perkembangan kapital dan selanjutnya mengalahkannya di semua front perjuangan (teori, politik, dan organisasi), demikian sebaliknya. Itu sebabnya, inti dari seluruh kebijakan kapitalis adalah bagaimana mengalahkan kekuatan kelas buruh sehingga mereka semakin leluasa memperluas dan mengakumulasi kapital. Inilah mengapa memahami kelas dan perjuangan kelas merupakan esensi dari dari Marxisme.

Menurut Manifesto, dalam perjuangan kelas buruh berhadapan dengan kapital berlangsung secara perlahan-lahan sesuai dengan tingkat kesadaran yang dimilikinya. Pertama-tama perlawanan terhadap kapital itu dilakukan oleh individu buruh, kemudian oleh para buruh di tempat  kerja, lalu oleh serikat buruh dalam satu lokalitas tertentu melawan individu borjuasi yang secara langsung mengeksploitasi mereka. Serangan langsung kaum buruh ini pada mulanya tidak ditujukan pada kondisi-kondisi produksi borjuasi tetapi pada instrumen-instrumen produksi; mereka menghancurkan mesin-mesin impor yang dianggap sebagai saingan dari tenaga kerjanya, mereka menghancurkan mesin-mesin tersebut, kemudian membakar pabrik-pabrik tersebut, dengan tujuan mengembalikan statusnya sebagai pekerja bebas layaknya di jaman Abad Pertengahan.

Bagi Manifesto, pada tahap ini gerakan kaum buruh tampil dalam bentuk yang terserak-serak di seluruh negeri, dan kemudian hancur karena kompetisi di antara mereka sendiri. Jika pun mereka menyatu dalam satu wadah organisasi tertentu, itu bukan karena konsekuensi dari aktivitas mereka untuk bersatu, tapi karena konsekuensi dari persatuan  kaum borjuis, yang demi mewujudkan dan mempertahankan kepentingan kelasnya maka mereka harus memaksa seluruh proletariat untuk bergerak dalam satu irama. Pada tahap ini, kaum buruh tidak melawan musuh mereka sendiri, tetapi melawan musuh dari musuh mereka, yakni sisa-sisa monarkhi absolut, tuan tanah, borjuis non-industrial, dan kelas menengah. Jadi, seluruh gerakan historis terkonsentrasi di tangannya borjuasi, setiap kemenangan yang diperoleh adalah kemenangannya borjuasi.

Namun, seturut perkembangan industri, kaum buruh turut berkembang, tidak hanya dalam hal jumlah, tapi juga kekuatannya dan kepercayaan dirinya pun semakin besar. Akibatnya, keberagaman kondisi-kondisi kehidupan dan kepentingan di antara anggota kelas pekerja semakin menyusut, terlebih ketika situasi ekonomi dalam keadaan krisis dan kompetisi di antara sesama borjuasi semakin tajam. Hal ini menyadarkan kelas buruh bahwa musuh mereka bukanlah mesin-mesin atau pabrik-pabrik, tapi kondisi kerja yang panjang dengan upah yang rendah, sehingga perjuangan kemudian diarahkan pada tuntutan: jam kerja yang pendek dan upah yang tinggi. Koalisi-koalisi yang terbentuk pun bukan lagi koalisi antara individu buruh dengan individu borjuis, tapi koalisi antar kelas untuk memenangkan kepentingan kelasnya.

Dalam kondisi dan tuntutan ini maka kemenangan mulai berpihak pada proletariat. Tetapi perjuangan memenangkan jam kerja pendek dan upah tinggi ini, hanya hanyalah kemenangan yang bersifat sementara, sangat lokalis, dan terbatas pada pabrik tertentu. Akibat perkembangan alat-alat transportasi dan komunikasi, kaum buruh kemudian mulai bisa berkomunikasi satu sama lain lebih cepat, bisa saling kontak antara stu daerah dengan daerah lain, sehingga perjuangannya tidak lagi bersifat lokal dan terbatas pada pabrik tertentu, namun semakin menasional sehingga kemudian  dimenangkannya undang-undang sepuluh jam di Inggris.

Dari kemenangan-kemenangan ini, kesadaran pekerja semakin terakumulasi menjadi kesadaran kelas, dan setiap perjuangan kelas adalah perjuangan politik. Konsekuensinya, pengorganisasian buruh sebagai sebuah kelas pada akhirnya adalah mengorganisasikan mereka ke dalam sebuah partai politik.

Menilik proses ini, Manifesto tampak muncul dalam wajahnya yang deterministik-teknologis, bahwa basis (ekonomi) secara langsung menentukan superstruktur (politik, budaya, ideologi), atau keadaan sosial menentukan kesadaran sosial.  Tetapi, kalau kita baca lebih cermat, Manifesto mengatakan, proses pengorganisasian proletariat ke dalam sebuah kelas dan kemudian ke dalam partai politik, ternyata tidak berlangsung secara otomatis. Proses itu sangat berliku dan penuh hambatan, mulai dari konflik di antara sesama buruh, di antara satu serikat dengan serikat lainnya, antara satu lokal dengan lokal lainnya, belum lagi represi dari borjuasi baik di tempat kerja maupun di luar tempat kerja, atau karena kompetisi antara borjuasi nasional dengan borjuasi asing yang sanggup memanipulasi kesadaran buruh untuk berpihak pada salah satu borjuasi. Dalam satu masa kesadaran kelas ini tenggelam tapi kemudian bangkit lagi semakin kuat dan kuat, bukan hanya karena hasil dari proses dan pengalaman perjuangan itu tapi juga karena sistem sosial produksi kapitalis memang tetap melahirkan tenaga-tenaga kerja agar sistem ini bisa terus eksis.

Pada titik inilah, kenapa kemudian Manifesto melihat kelas buruh sebagai kekuatan revolusioner satu-satunya berhadapan dengan kelas kapitalis.

‘Dari seluruh kelas-kelas yang berhadap-hadapan muka dengan borjuasi hari ini, hanya proletariat itu sendiri yang secara otentik merupakan kelas yang revolusioner. Kelas-kelas lainnya semakin membusuk dan membungkuk di hadapan industri modern;…’[39]

Lalu, apa tujuan perjuangan kelas ini dari perspektif kelas pekerja? Menjawab soal ini, menarik dilihat surat Marx kepada sahabatnya Weydemeyer, yang sebagian telah saya kutip di atas. Setelah mengatakan tentang sumbangan para sejarawan borjuis mengenai kelas dan perjuangan kelas, Marx mengatakan bahwa yang orisinal dari pemikirannya tentang kelas dan perjuangan kelas adalah tiga hal ini:

‘(1) bahwa eksistensi dari kelas tersebut melekat pada fase-fase sejarah tertentu perkembangan produksi; (2) bahwa perjuangan kelas itu pada akhirnya membawa pada kediktatoran proletariat; (3) dan kediktatoran proletariat ini sendiri hanyalah transisi menuju penghapusan seluruh kelas dan selanjutnya menjadi masyarakat tanpa kelas.’[40]***


Coen Husain Pontoh, Mahasiswa Ilmu Politik di City University of New York (CUNY)

[1] Phil Gasper (ed.), “The Communist Manifesto A Road Map to History’s Most Important Political Document,” Haymarket Books, 2005, p. 39.

[2] Ibid., p. 40.

[4] Philip P. Wienner, ‘Dictionary of the History of Ideas Studies of Selected Pivotal Ideas,’ Charles Scribner’s Sons, Publishers, NY, p. 441.

[5] J. Foster, ‘Class’ dalam John Eatwell, Murray Milgate & Peter Newman (ed.) ‘Marxian Economics,’ W.W. Norton & Company, 1990, p. 79.

[6] D. Ross Gandy, ‘Marx and History From Primitive Society to the Communist Future,’ University of Texas Press, 1979, p. 105.

[7] Lihat Wienner, ‘op.cit., p. 441.

[8] Foster, dalam ibid., p. 79.

[9] Loc.cit

[10] Lihat Gandy, ‘op.cit., p. 105.

[11] Ibid., p. 442-443.

[12] Dikutip dari Oliver Cromwell Cox, ‘Caste, Race, and Class A Study in Social Dynamics,’ Monthly Review Press, 1959, p. 153.

[13] Wiener, ibid., p. 443.

[14] Loc.cit

[15] Ibid., p. 443-444.

[16] Foster, dalam ibid., p. 79.

[17] Ellen Meiksins Wood, “Democracy Against Capitalism Renewing Historical Materalism,” Cambridge University Press, 1995, p.152.

[18] Karl Marx, “Grundrisse,” Penguin Books, 1993, p. 103.

[19] William I. Robinson, “A Theory of Global Capitalism Production, Class, and State in a Transnational World,” The John Hopkins University Press, 2004, p. 8. Definisi Weberian inilah yang paling banyak dianut oleh para ilmuwan sosial untuk menolak tesis Marx tentang kapitalisme dan keberadaan kelas-kelas dan perjuangan kelas dalam masyarakat. Diskusi yang detil dan mendalam tentang debat antara Weberian dan Marxian bisa dibaca dalam Wood, op.cit, khususnya bab 5, “History or teleology? Marx versus Weber,” p. 146-180.

[20] Pembahasan lebih dalam tentang posisi teoritik Balzac ini, lihat David Harvey, “Paris, Capital of Modernity,” Routledge, 2006.

[21] Penjelasan yang sangat rinci mengenai “market as opportunities” dan “market as imperatives,” lihat buku Ellen Meiksins Wood, “The Origin of Capitalism a longer view,” Verso, London, 2002.

[22] Karl Marx, “The Poverty of Philosophy,” Promotheous Books, NY, 1995, p. 84.

[23] Tambahan dari saya.

[24] Tambahan dari saya.

[25] Michael Zweig, ‘The Working Class Majority America’s Best Kept Secret,’ Cornell Univerity Press, 2000, p.13

[26] Bunyi lengkap dari teksnya, ‘The ideas of the ruling class are in every epoch  the ruling ideas:i.e., the class which is the ruling material force of society is at the same time its ruling intellectual force,’ lihat Karlx Marx and Fridriech Engels, ‘The German Ideology,’ Promotheus Books, 1998, p.67

[27] Lihat Gasper, op.cit., p. 75.

[28] Ibid., p. 50.

[29] Ibid., p. 75.

[30] Ibid., p. 54.

[31] Hal Drapper, “Karl Marx’s Theory of Revolution The Politics of Social Classes,” Vol. II, Monthly Review Press, 1978, p. 40. Dalam Manifesto, politik perjuangan kelas buruh ini muncul dalam kalimat, ‘The proletarians cannot become masters of the productive forces of society except by abolishing their own previous mode of appropriation, and thereby also every other previous mode of appropriation,’ lihat op.cit, p.55.

[32] Henry M. Christman, ‘Essential Works of LENIN “What Is to Be Done? And Other Writings,’ Dover Publications, INC, NY, 1987, p. 73-74.

[33] Ralph Miliband, ‘Barnave: a case of bourgeois class conciousness,’ in Istvan Meszaros (ed), “Aspects of History and Class Conciousness,” Herder and Herder, NY, 1971., p.  22-23.

[34] Frase ini adalah pengulangan dari apa yang tertulis dalam pasal 1 the Rules of the Communist League, yang berbunyi “The aim of the league is the overthrow of the bourgeoisie, the rule of the proletariat, the abolition of the old bourgeois society which rests on the antagonism of classes, and the foundation of a new society without classes and without private property,” lihat ‘The Communist League,’ http://www.marxists.org/archive/marx/works/1847/communist-league/index.htm

[35] Istvan Meszaros, ‘Contingent and necessary class conciousness,’ in Meszaros, op.cit., p. 101. Baca juga Ellen Meiksins Wood, “Democracy Against Capitalism Renewing Historical Materilism,” op.cit.

[36] Ibid

[37] Ibid., p. 101.

[38] Loc.cit

[39] Op.cit., p. 54.

[40] Op.cit

 


comments powered by Disqus