Ketika Ideolog Mengritik Teater

Tanggapan atas kritik tentang Opera “Tan Malaka

Goenawan Mohamad

1. KRITIK ini mungkin keras, mungkin cerdas, tapi memakai pendekatan konvensional seorang ideolog. Dalam pandangan kritik ini, teater adalah sebuah pertunjukan hagiografis: Tan Malaka harus tampil sebagai sosok yang koheren, padu, serba benar, tanpa kontradiksi.– dan sehubungan itu, penulis kritik ini menganggap teater tak bisa mengandung benturan dalam statemen-statemennya sendiri.

Dalam lakon saya, kontradiksi (‘dialektik’) berkecamuk, antara tokoh dan narrator, antara pernyataan si tokoh dan narrator sendiri, antara dua sosok itu dengan kur – dan dengan itulah sebuah teater berproses. Teater adalah sebuah peristiwa yang tak selesai hanya di panggung. Andaikata saya mau menulis sebuah hagiografi yang hanya ingin memuja seorang tokoh, saya tak akan menuliskannya dalam bentuk teater.

2. Aneh jika absennya Tan Malaka dikaitkan dengan teori Lefort. Bagi saya absennya Tan Malaka justru untuk menunjukkan bahwa Revolusi bukan pekerjaan satu orang, bahwa emansipasi adalah rangkaian panjang orang-orang tak bernama (katakanlah ‘massa’) yang menafsirkan secara kreatif cita-cita Revolusi, dan selamanya baru. Tan Malaka tak hadir, karena ia tak bisa dijadikan berhala yang itu-itu saja.

3. Saya katakan tadi, kritik ini memakai pendekatan konvensioal seorang ideolog. Seorang ideolog bertolak dari dalilnya sendiri, dengan jargon-jargonnya sendiri, (‘kelas’, dst.), dengan label-label (‘humanisme universil’, dst) yang tak pernah dipersoalkan lagi.

4. Seorang ideolog yang menilai karya seni kurang-lebih sama dengan seorang fuquha yang menilai karya seni: yang hendak ditemukan adalah apakah karya ini cocok dengan dalil atau tidak, murtad atau tidak, mengandung unsur kafir atau murni beriman.

Jenis ideolog itu banyak ditemukan dalam zaman “realisme-sosialis” ala Zhdanov di masa Stalin. Saya sulit untuk cocok dengan itu.***

2 comments

  1. JNN

    di poin kedua tanggapan di atas tertulis “Aneh jika absennya Tan Malaka dikaitkan dengan teori Lefort. [...] Tan Malaka tak hadir, karena ia tak bisa dijadikan berhala yang itu-itu saja.”

    kita potong di frasa terakhir: “Tan Malaka tak hadir, karena ia tak bisa dijadikan berhala yang itu-itu saja”

    “Tan Malaka tak hadir, karena ia tak bisa dijadikan berhala yang itu-itu saja”?

    “Berhala yang itu-itu saja”…

    Artinya GM sebenarnya membenarkan/menerima/etc adanya ‘berhala’?? —cuma kali ini: Tan jangan jadi “yang itu-itu saja”?

    (berhala: mungkin dialah sang ‘pemegang hegemoni’; dia —atau apapun itu— yang memungkinkan subjek yang terserak-serak tanpa segi-segi yang ‘identik’ itu [seperti dalam Laclau yg diuraikan GM] menjadi punya ranah yang memungkin mereka disebut ‘universil’; semacam ‘prototipe’ bagi subjek-subjek yang tengah berjuang “mencapai kebebasan dan keadilan”; apa yang memungkinkan mereka bisa disebut ‘satu,’ ‘padu,’ menuju tujuan itu)

    Jika benar begitu, maka siapakah ‘berhala’/prototitpe yang lebih memadai (sekaligus mungkin paling dikenal) dari seorang Tan di sepanjang sejarah Indonesia?

    di tengah-tengah itu, tentu saja via OTM, GM justru seperti ingin meredam sang berhala??

  2. dewi savitri

    duh, mengejutkan sekali tanggapan ini, bukan karena kecerdasannya melainkan karena kekonyolannya. gm menyebut martin setara dengan ideolog dan menyetarakannya dengan ideolog2 zaman zhdanov. tapi, siapa sebenarnya yg ideolog?
    apakah menempatkan tan malaka dalam peranannya sebagai seorang marxis (seorang penulis madilog yang ide-idenya diserap dari tradisi marxian sekaligus pemimpin partai komunis) bisa langsung cap sebagai seorang ideolog. dengan dalih dialektik, gm tidak mau menjadi tan malaka koheren dan padu. keberatan dari jawaban ini, pertama: menafsir tan malaka sebagai seorang marxis tidak lantas menjadikan tan malaka serba benar dan tanpa kontradiksi, kedua: mencap begitu saja tafsiran semacam itu (tan malaka yg marxis) sebagai seorang ideolog bukankah perilaku seorang ideolog juga. siapa sebenarnya yg menjadi “zhdanov” di sini?!

    kekonyolan lain dari tanggapan itu adalah apabila opera tidak hendak memberhalakan tan malaka dan menjadikan massa sebagai aktor sebenarnya dalam Revolusi kenapa opera itu memakai nama Opera TAN MALAKA bukan misalnya Opera Revolusi Indonesia? kenapa tidak seperti Leon Trotsky yang menulis tentang revolusi Bolshevik memberi judul bukunya History of the Russian Revolution, karena menurutnya Lenin sendirian tak mungkin melakukan revolusi, tanpa kondisi subyektif dan obyektif di Rusia.

Beri tanggapan

Anda dapat menggunakan HTML:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge