Membaca Manifesto Komunis Secara Dialektis

“Working men of all countries, unite!”[1] adalah kalimat penutup Manifesto Komunis (selanjutnya Manifesto) yang paling sering dilafalkan. Frasa ini bukan slogan tanpa landasan teoritik. Pertama, Marx dan Engels menulisnya, karena mereka mengantisipasi tendensi global dari kapitalisme, bukan sekadar fenomena Eropa Barat, asal-muasal kelahiran sistem ini. Marx dan Engels menulis:

Industri modern telah menciptakan pasar dunia, di mana penemuan Amerika telah membuka jalan. Pasar  dunia telah memberi kemajuan luar biasa bagi perdagangan, pelayaran, transportasi darat. Lantas, kemajuan itu mendorong perluasan industri; dan dalam waktu yang sama kemajuan terjadi di bidang perdagangan, pelayaran, perhubungan kereta api, dan seirama dengan itu kaum borjuasi semakin berkembang, kapitalnya bertambah…[2]

Dari karya-karya yang muncul kemudian, terutama dalam Capital, Marx menyatakan bahwa kapitalisme secara logis dan historis akan merambah ke semua permukaan planet. Teori tentang akumulasi kapital menunjukkan kapitalisme bergerak meruntuhkan semua dinding di seluruh penjuru dunia, menyatukan semua sudut bumi ke dalam genggamannya, agar supaya akumulasi menjadi mungkin.

Kedua, implikasi politik dari rumusan teoritik itu adalah bahwa kritik terhadap kapitalisme, yang dituangkan dalam perjuangan menentang sistem ini, juga mesti  melampau batas teritori negara bangsa. Dan semenjak kapitalisme diteorikan sebagai sistem berbasis eksploitasi kelas pekerja oleh kelas kapitalis, maka  sebuah proyek pembebasan mesti dimotori kelas pekerja dengan semangat internasionalisme. Dalam konteks inilah frasa “kaum buruh sedunia, bersatulah” harus dibaca secara dialektik.

Catatan ini bertujuan melihat sedikit lebih jauh hubungan antara dialektika materialisme, metode dalam studi Marxisme, dengan Manifesto. Mengingat metode ini digunakan Marx dan Engels dalam menulis karya-karya mereka, maka mempelajari Marxisme memerlukan pemahaman tentang metode ini. Dua ahli ilmu sosial yang mendedikasikan kesarjanaan mereka dalam metode ini, Bertell Ollman dan Tony Smith, menyatakan,  sejauh Marxisme membantu untuk mengerti dunia secara lebih baik, maka perlu mempelajari dialektika agar supaya pemahaman kita tentang Marxisme menjadi lebih maju.[3] Begitu lengketnya metode ini dengan Marx dan Engels, sehingga Lenin yang mengomentari tumpukan surat menyurat antara keduanya  mengatakan:

Kalau seseorang berusaha menyimpulkan dalam sebuah kata untuk melukiskan keseluruhan gagasan yang disampaikan dan diskusikan dalam korespondensi antara Marx dan Engels, maka tiada lain kata itu adalah dialektika.[4]

Saya ingin tidak mengulang diskusi yang sudah luas berlangsung, yakni tentang  Manifesto dan sejarah politik modern di dalam kurun lebih dari 160 tahun terakhir. Sebaliknya, melihat dokumen ini secara khusus sebagai sebuah proyek teoritis, tentu saja bukan dalam pengertian pemisahan antara teori dan praktik, karena prinsip dialektika sendiri adalah penyatuan antara keduanya. Dengan menimbangnya sebagai proyek teoritis akan memberi jalan untuk melihat relevansi Manifesto dalam konteks perkembangan kapitalisme modern. Seperti dikatakan ahli geografi Marxis, David Harvey,[5] yang membuat kajian kontemporer tentang dokumen luar biasa menakjubkan ini adalah karena dunia yang digambarkan dalam Manifesto tidak pernah [atau belum] lenyap.

Prinsip-prinsip Dialektika

Sesungguhnya Marx tidak pernah menulis sebuah karya khusus dan terpisah tentang dialektika, sebagai metode untuk menjelaskan cara kerja kapitalisme. Di dalam naskah yang luas dikenal sebagai “1857 Introduction,” dimuat sebagai pengantar dalam karya yang tidak diterbitkan Grundrisse, Marx[6] mendiskusikan metodenya di bawah anak-judul “the Method of Political Economy.” Di sini, dia membahas salah satu prinsip dialektika, yakni abstraksi (abstraction),[7] yang intinya dikenal sebagai metode pengembangan dari abstrak ke konkrit (the method of rising from the abstract to the concrete[8]). Sementara di bukunya yang diterbitkan secara resmi di tahun 1859, A Contribution to the Critique of  Political Economy (selanjutnya “1859 Contribution”), Marx[9] menyatakan metode yang disebutnya pengembangan dari yang khusus ke arah yang umum (to advance from particular to general). Ada dua penafsiran soal ini: pertama, metode “1859 Contribution” mengonfirmasi posisinya tentang konsepsi materialis tentang sejarah (materialist conception of history). Posisi ini diperkuat di Postface edisi kedua Capital, di mana Marx[10] menandaskan metodenya berbeda dengan metode-metode yang digunakan dalam tradisi ekonomi politik saat itu, dan belum pernah digunakan dalam bidang ini.[11]

Yang paling pokok, dia juga menambahkan bahwa dialektikanya berbeda dengan Hegel, tokoh yang mengembangkan metode ini.  Seperti dikatakannya:

Landasan metode dialektika saya bukan hanya berbeda dengan Hegelian, tetapi terang- terangan bertentangan. Kalau pada Hegel, proses berfikir menempatkan ide sebagai subyek bebas yang merupakan pencipta dunia nyata, dan dunia nyata tidak lain hanya cerminan luar dari ide. Maka pada saya, kebalikannya yang sesungguhnya benar: Dunia material tercermin di dalam pikiran, lantas diterjemahkan ke dalam bentuk pikiran.[12]

Dengan kata lain, perbedaan paling menyolok antara keduanya adalah bahwa pada Marx metode dialektika menjelaskan dan mengantisipasi perkembangan dunia berlandaskan pengamatan-pengamatan historik. Sebaliknya, Hegel, dengan dialektika idealisnya, percaya pada kekuatan pikiran pada penciptaan dunia. Karena, dibangun dari sumber-sumber pengamatan material historis, maka dialektika Marx disebut dialektika materialisme. Yakni investigasi mesti dilakukan atau dimulai dengan melihat kondisi-kondisi material.

Penafsiran kedua memandang  “1857 Introduction” dan “1859 Contribution” sebagai dua hal yang tidak perlu dipertentangkan, karena merupakan hal berbeda yang saling melengkapi. “1857 Introduction” mewakili metode penyajian (exposition) dan “1859 Contribution” merupakan metode investigasi (inquiry).[13] Pendapat ini diperkuat pernyataan Marx:

Metode presentasi memang harus berbeda dengan metode investigasi. Yang pertama harus mengumpulkan [informasi] material secara mendalam, menganalisa bentuk-bentuk perkembangannya yang berbeda, melacak hubungan-hubungannya secara internal. Hanya setelah hal ini dilakukan, lalu perkembangan aktualnya dipresentasikan secara tepat.[14]

Tentang metode (abstraksi) ini, ambil contoh konsep Marx tentang corak produksi (mode of production). Ada dua aspek mendasar dari corak produksi, yaitu kekuatan produksi (productive forces) dan hubungan-hubungan produksi (relations of production). Keduanya tidak bisa dipisahkan alias merupakan suatu kesatuan. Kekuatan produksi juga merupakan suatu kesatuan dari alat-alat produksi (means of production), yang terdiri dari (a) keseluruhan kerja manusia (labour) baik yang bersifat perorangan maupun secara gotong-royong; (b) perkakas-perkakas produksi seperti gedung dan mesin dan; (c) bahan-bahan produksi seperti bahan baku. Lantas, hubungan-hubungan produksi, pada dasarnya adalah hubungan-hubungan sosial, legal, dan politik, khususnya dalam kepemilikan alat-alat produksi. Sampai di sini, kita menemukan sebuah konseptualisasi yang sangat abstrak. Nah, untuk menurunkan ke tingkat lebih konkrit, maka  Marx[15] membahas aneka corak produksi, katakanlah corak produksi feudal, Asia (Asiatic mode of production), dan kapitalis. Ringkasnya, corak-corak produksi itu berbeda ditandai perbedaan-perbedaan dalam kekuatan produksi dan hubungan-hubungan produksi. Lalu, pada tingkat jauh lebih konkrit, Marx menjelaskan corak produksi feudal dalam pengalaman historis di Inggris atau yang dikenal dengan Tudor dan corak produksi kapitalisme di Eropa Barat, terutama dalam pengalaman sejarah Inggris, dan pengalaman China sebagai salah satu bentuk corak produksi Asia. Intinya, diskusi Marx tentang corak produksi merupakan contoh bagaimana metode abstraksi diterapkan.

Kemudian, menurut Bertell Ollman, prinsip lain dari metode dialektika adalah apa yang dia sebut sebagai sebuah filsafat tentang hubungan-hubungan internal (“a philosophy of internal relations”).[16] Prinsip ini mempertimbangkan dunia sebagai suatu keseluruhan dengan bagian-bagian yang saling berhubungan (inner-connected whole), bukan kumpulan aneka bagian yang tidak saling berhubungan.[17] Dengan menekankan  Hubungan (Relation), menurut Ollman lagi, pusat perhatian Marx adalah segala sesuatu berhubungan dengan segala sesuatu yang lain. Atau, Marx tidak membahas sesuatu secara terisolasi dengan sesuatu yang lain. Umpamanya, di Capital volume I, Marx menggambarkan sifat kapitalisme dengan mengurai hubungan antara momen-momen yang berlainan. Dari diskusi tentang komoditi hingga akumulasi primitif, dia  menggambarkan hubungan-hubungan logis dan historis dari aneka momen itu, yang membuat kapitalisme bekerja. Jika momen-momen itu bersifat ekonomi dan politik, maka mereka berhubungan sebagai suatu kesatuan. Teori-teori tentang proses kerja, hari kerja, akumulasi, dan akumulasi primitif menggambarkan bahwa dalam produksi kapitalisme peranan politik negara sangat sentral. Ringkasnya, berbasis filsafat tentang hubungan-hubungan internal, maka politik dan ekonomi ibarat dua sisi dari sekeping koin.[18] Kapitalisme sebagai corak produksi dalam pengertian ini bukan saja sebatas produksi, distribusi, dan sirkulasi sebagai momen-momen ekonomi, tetapi sekaligus mengandung hubungan-hubungan politik negara. Oleh karena itu, memisahkan ekonomi dari politik tentu melanggar prinsip filsafat ini, karena mengabaikan hal-hal yang sebenarnya saling berhubungan. Pendek kata, berdialektika berarti mengurai hubungan-hubungan itu, bukan mengabaikannya.

Apa yang sudah diungkapkan adalah usaha Marx menjelaskan dunia (kapitalisme). Tetapi, dialektika tidak sebatas menjelaskan atau menggambarkan anatomi kapitalisme serinci-rincinya. Prinsip lain adalah bagaimana membangun sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik, seperti diktum Marx yang terkenal: “Para ahli filsafat dengan berbagai cara hanya berusaha menafsirkan dunia; [padahal tugas pokok] adalah merubahnya.”[19] Karena pusat perhatian studinya adalah kapitalisme, maka apa yang dilakukan Marx secara dialektik tiada lain kecuali berikhtiar mengerti sifat kapitalisme sampai ke akar-akarnya, lantas berikhtiar merubahnya. Sejak Marx memusatkan studi pada kritik terhadap kapitalisme sebagai sebuah sistem berbasis penghisapan, maka metode dialektika pada hakikatnya merupakan proyek pembebasan kelas pekerja. Bertell Ollman menjelaskan secara terang mengenai metode dialektika Marx. Menurutnya, di dalam Capital, Marx berusaha menunjukkan bukan saja sifat dan cara kerja kapitalisme, tetapi juga mengapa kapitalisme perlu dipandang sebagai sebuah corak produksi yang bersifat transisi, jenis masyarakat macam apa yang harus dituju, dan bagaimana cara perubahan menuju ke arah itu.[20]

Manifesto

Kendati ide-ide di dalam Manifesto ditulis dengan tujuan agar bisa dibaca khalayak luas, aneka hal di sana merupakan konsep-konsep penting yang oleh Marx dan Engels didiskusikan secara dialektis. Poin tentang lingkungan hidup yang sedikit disinggung dalam Manifesto, misalnya, dengan mengatakan bahwa di bawah kapitalisme alam tunduk di bawah kendali manusia (“the subjection of nature’s force to man”),[21] memberi indikasi bahwa Marx terus mengembangkan idenya mengenai hubungan antara manusia dengan alam, seperti dia sudah diskusikan di dalam Economic and Philosophy Manuscript of 1844 (EMP). Di EMP, Marx membahas aspek paling filosofis, yakni tidak bisa dipisahkannya manusia dengan alam, atau lebih jelas antara kerja (labour) dan alam (nature).[22] Diskusi ini kemudian muncul secara lebih terang, utamanya di Capital, ketika dia bilang:

Kerja,[….], adalah proses antara manusia dan alam, yakni  proses di mana manusia, melalui daya tenaga yang dipunyainya sendiri memediasi, mengatur, dan mengontrol metabolisme antara dirinya dan alam.[23]

Marx dalam hal ini secara abstrak menunjuk hubungan dialektika antara manusia dan alam. Sebuah hubungan, di mana manusia menciptakan lingkungannya, bukan sepenuhnya berdasarkan pilihan-pilihan bebas, tetapi juga ditentukan oleh kondisi-kondisi material alam di sekitarnya. Manusia mempengaruhi alam dan dalam waktu bersamaan kondisi material alam mempengaruhi pilihan-pilihannya.

Dari penjelasan abstrak, Marx lantas memberi uraian lebih konkrit di dalam sejarah. Di Capital Volume I di bawah anak judul Large-Scale Industry and Agriculture, Marx menunjuk kontradiksi historis hubungan manusia dengan alam, dengan mengatakan bahwa kapitalisme berhasil mengonsentrasikan penduduk di wilayah perkotaan dengan tingkat pertumbuhan menakjubkan. Tetapi perkembangan ini dibarengi dengan kontradiksi; Di satu segi, memusatkan kekuasaan dan [kekayaan] masyarakat [borjuis], dan di segi lain, mengganggu hubungan metabolis antara manusia dan alam. Yakni, produksi kapitalis merusak kesuburan tanah. Sistem produksi ini membuat siklus alam terganggu sehingga menghambat keberlanjutan kesuburan tanah.
[24] Itulah mengapa Marx dan Engels sudah mengantisipasi di dalam Manifesto,  dengan menawarkan program revolusioner, yakni penggarapan tanah-tanah yang tidak diolah (uncultivated), baik yang diterlantarkan maupun lahan-lahan tanpa vegetasi, dan perbaikan tanah secara umum di bawah prinsip perencanaan bersama.[25] Sebuah jawaban terhadap sistem produksi kapitalis yang merusak lingkungan, dan menggantikannya di bawah perencanaan sosialis.

Manifesto jelas menunjukkan bagaimana Marx dan Engels menerapkan prinsip filsafat hubungan internal. Frasa “sejarah dari keseluruhan masyarakat adalah sejarah tentang perjuangan kelas”[26] menunjukkan itu. Pertama, kita tidak bisa membayangkan ada perjuangan kelas, tanpa ada hubungan internal kelas. Dalam masyarakat kapitalis,[27] perjuangan kelas muncul karena ada keniscayaan hubungan eksploitatif oleh kelas kapitalis terhadap kelas pekerja. Karena bersifat hubungan antara kedua kelas, maka dengan sendirinya perjuangan kelas bermakna perjuangan antara kedua kelas. Bukan saja perjuangan kelas pekerja, misalnya.

Kedua, perjuangan kelas  tidak semata tercermin dalam perjuangan yang menghadapkan kelas pekerja dan kelas kapitalis di pabrik-pabrik secara terisolasi, tetapi melampaui itu, yakni berhubungan erat dengan dunia di luarnya. Misalnya, dalam momen kesejarahan tertentu perjuangan kelas dapat berlangsung melalui usaha kelas kapitalis mempengaruhi proses-proses politik agar peraturan-peraturan tentang upah tidak memberatkan mereka; mereka berjuang menentang kebijakan-kebijakan redistribusi penguasaan alat produksi; menentang ketentuan-ketentuan yang memberatkan di pabrik-pabrik, katakanlah kontrak kerja, cuti haid, jaminan kesehatan, dan soal-soal keselamatan kerja lainnya. Sebaliknya, bagi kelas pekerja, perjuangan kelas bisa saja mengambil bentuk dalam pembentukan serikat pekerja, pemogokan-pemogokan, tuntutan-tuntutan upah yang tinggi dan berbagai jaminan sosial lain, hingga pembentukan partai-partai politik untuk merebut kekuasaan negara. Perjuangan kelas, oleh karena itu, adalah perjuangan ekonomi dan politik secara tidak terpisah. Seperti dikatakan dalam Manifesto, “setiap perjuangan kelas adalah perjuangan politik (every class struggle is a political struggle).”[28]

Selain itu, Manifesto juga kaya dengan gambaran tentang hubungan antara ekonomi dan politik. Tipe masyarakat dengan karakteristik ekonomi tertentu memiliki struktur kekuasaan politik yang khas dan berlainan dengan tipe lainnya. Tetapi, intinya tetap sama, kelas yang mengeruk surplus ekonomi juga memerintah secara politik. Keduanya menjelaskan:

Setiap langkah perkembangan borjuis diikuti oleh kemajuan politik kepentingan kelasnya. Sebuah kelas tertindas di bawah kekuasaan bangsawan feodal, sebuah asosiasi bersenjata dan yang memerintah secara sendiri dalam komune Zaman Pertengahan; sebuah republik kota merdeka (di Italia dan Jerman), “Third estate”  wajib pajak dalam sistem monarki (di Perancis), lantas, dalam era perkembangan manufaktur yang maju, dengan pengabdian kepada monarki semi-feodal  atau absolut sebagai kekuatan pengimbang terhadap kaum bangsawan, dan dalam kenyataannya, sebagai pijakan bagi monarki-monarki besar pada umumnya, maka pada akhirnya kaum borjuis, sejak berdiri industri modern dan pasar dunia, merebut segenap kekuasaan politiknya di dalam negara dengan sistem perwakilan modern.

Setelah memotret tipe-tipe masyarakat,  khususnya penyatuan kepentingan ekonomi kelas borjuis dan kepentingan politiknya, maka Marx dan Engels menyatakan transformasi ekonomi dan politik atau perubahan sistem agar supaya menjunjung kepentingan kelas pekerja. Sebagai alternatif terhadap negara yang dikuasai kaum borjuis, Manifesto menyatakan negara proletariat sebagai jalan keluar. Vladimir Lenin,[29] misalnya, menggaris-bawahi frasa penting — tetapi selalu dilupakan — tentang pengertian Negara dalam Manifesto, yakni “Negara adalah proletariat terorganisir sebagai kelas yang memerintah (the State [is] the proletariat organized as the ruling class).” Ini adalah alternatif terhadap: “eksekutif negara modern adalah komite yang mengelola kepentingan-kepentingan bersama kaum borjuis secara keseluruhan (the executive of the modern state is […] a committee for managing the common affairs for the whole bourgeoisie).” Inilah model negara berbasis demokrasi proletar, alternatif terhadap demokrasi borjuis. Hanya ini bentuk demokrasi sejati, kata Leon Trotsky.[30]

Penutup

Membaca Manifesto secara dialektik,  karena ditulis dengan metode ini,  mengantarkan catatan ini pada kesimpulan bahwa dokumen itu merupakan sebuah naskah ilmiah, kritikal, sekaligus revolusioner. Ilmiah, karena menjelaskan sejarah perkembangan masyarakat dengan logis; kritikal, karena menyoal struktur masyarakat yang eksploitatif; revolusioner, karena merekomendasikan politik pembebasan yang dimotori kelas pekerja untuk melahirkan struktur masyarakat baru tanpa eksploitasi.***

Anto Sangaji, Mahasiswa Doktoral di York University, Canada

 


[1] Karl Marx & Frederick Engels (1968[1848]) Manifesto of the Communist Party, dalam Karl Marx and Frederick Engels Selected Works, Moscow: Progress Publishers. Karena dokumen ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk tiga versi berbahasa Inggris, maka sangat berguna melihat studi Hal Draper tentang teks dan konteks Manifesto Komunis agar supaya dapat melihat secara dalam pengertian  kata/idiom yang digunakan dalam dokumen ini. Lihat Hal Draper (2004[1994]) The Adventures of the Communist Manifesto, Alameda: Center for Socialist History.

[2] Karl Marx & Frederick Engels (1968[1848]) Manifesto of the Communist Party, dalam Karl Marx and Frederick Engels Selected Works, Moscow: Progress Publishers.

[3] Lihat Bertell Ollman & Tony Smith (1998) Introduction, Science & Society 62(3):333.

[4] V.I. Lenin (1977) the Marx-Engels Correspondence dalam Lenin Collected Works Volume 19, Moscow: Progress Publishers.

[5] David Harvey (2008) Introduction, dalam Karl Marx & Frederick Engels, the Communist Manifesto, London: Pluto Press. Merayakan 150 tahun terbit dokumen tersebut, Socialist Register edisi 1998 memuat beragam artikel dari berbagai ahli untuk menafsirkan secara ilmiah dokumen tersebut dengan melihat relevansinya dengan perkembangan kontemporer kapitalisme. Lihat Leo Panitch & Colin Leys, editors, (1998) The Communist Manifesto Now, New York: Monthly Review Press.

[6] Karl Marx (1973[1857-1858]) Grundrisse, New York, London: Penguin Books.

[7] Tentang penerapan metode abstraksi ini di dalam ilmu sosial lihat Andrew Sayer (2010[1992]) Method in Social Science; A realist approach, New York: Routledge.

[8] Menurut Filosof Uni Soviet E.V. Ilyenkov metode pengembangan dari abstrak ke konkrit sebagai kaidah umum (universal law) dalam ilmu pengetahuan dirumuskan oleh Hegel. Tetapi metode ini menjadi metode yang benar di dalam pengembangan ilmu pengetahuan konkrit (concrete scientific) hanya setelah ditangani oleh Marx, setelah dia menyuntikkan sifat materialisme ke dalam metode ini.   Di tangan Hegel, karena berlandaskan penafsiran dan penerapannya secara idealis, maka metode ini muncul secara eksklusif sebagai sebuah metode untuk membangun ilmu yang spekulatif, yakni sebuah sistem absolut tentang “dunia sebagai suatu keseluruhan”. Marx, menurut Ilyenkov lagi, bukan semata menyuntikkan aspek material pada tingkat teori yang bersifat umum, tetapi menggunakannya untuk pengembangan sebuah disiplin yang konkrit, yakni ekonomi-politik. Bukunya Capital, dibuat  dengan bantuan metode ini. Lihat E.V. Ilyenkon (2008[1960]) The Dialectics of the Abstract and the Concrete in Marx’s Capital, Delhi: Aakar Books.

[9] Karl Marx (1971[1859]) A Contribution to the Critique of Political Economy, New York: International Publishers.

[10] Karl Marx (1976[1867]) Capital, London, New York: Penguin Books. Di dalam buku ini kita dengan mudah menemukan baik di dalam badan tulisan maupun catatan-catatan kaki bagaimana Marx mengeritik para ekonom klasik seperti Adam Smith, David Ricardo, John Stuart Mill, Thomas Robert Malthus, Jean-Baptise Say, Jeremy Bentham, Nassau William Senior, dan lain-lain.

[11] Sebuah penjelasan lengkap tentang perbedaan metode antara Marx dan ahli politik ekonomi klasik, Smith dan Ricardo  bisa lihat Dimitris Milonakis and Ben Fine (2009) From Political Economy to Economics: Method, the social and the historical in the evolution of economy theory, New York: Routledge.

[12] Karl Marx (1976[1867]) Capital, London, New York: Penguin Books.

[13] Sebuah diskusi tentang metode presentasi dan metode investigasi ini dikupas dengan terang oleh filsuf Rusia E.V. Ilyenkov, (2008[1960]) The Dialectics of the Abstract and the Concrete in Marx’s Capital (translated by Sergey Syrovatkin), Delhi: Aakar. Karyanya ini dalam edisi Progress Publishers yang diterbitkan di tahun 1982 bisa dibaca melalui: http://www.marxists.org/archive/ilyenkov/works/abstract/index.htm

[14] Karl Marx (1976[1867]) Capital Volume I, London, New York: Penguin Books.

[15] Lihat (1973[1857-1858]) Grundrisse, New York, London: Penguin Books; Karl Marx & Frederick Engels (1968[1848]) Manifesto of the Communist Party, dalam Karl Marx and Frederick Engels Selected Works, Moscow: Progress Publishers.

[16] lihat Bertell Ollman (2003) Dance of the Dialectic: Steps in Marx’s method, Urbana & Chicago: University of Illinois Press.

[17] Menurut Levins dan Lewontin, filsafat ini bertentangan dengan cara berfikir Cartessian, yang berpandangan bahwa bagian-bagian secara ontology sudah ada sebelum keseluruhan; di mana bagian-bagian eksis secara terisolasi dan muncul secara bersama-sama untuk membentuk keseluruhan. Dengan kata lain keseluruhan sama sekali tidak ada, kecuali kumpulan dari bagian-bagian. Levins dan Lewontin yang menjelaskan soal ini dalam ilmu biologi, juga menganggap bahwa model Cartessian ini juga merambah ke dunia ilmu-ilmu sosial. Lihat Richard Levins & Richard Lewontin (1985) The Dialectical Biologist, Cambridge, Massachusetts, London: Harvard University Press.

[18] Diskusi jernih soal ini dilakukan oleh Ellen M. Wood. Menurutnya, yang membuat Marx sangat berbeda dengan para ahli ekonomi politik klasik adalah bahwa Marx menunjuk secara jelas hubungan antara ekonomi dan politik Lihat  Ellen Meiksins Wood (1995) Democracy Against Capitalism: Renewing historical materialism, Cambridge: Cambridge University Press.

[19] Karl Marx & Frederick Engels (1969) Marx Engels Selected Works, Moscow: Progress Publishers.

[20] Ollman dalam hal ini sekaligus menolak sejumlah ilmuwan Marxist yang mereduksi dialektika ke dalam apa yang mereka sebut “Systematic Dialectic” atau “New Dialectic”, yang intinya mengklaim kesamaan dialektik antara Marx dan Hegel. Aliran ini melokalisir dialektika sebagai metode penyajian (exposition) dan metode investigasi (investigation). Lihat Bertell Ollman (2003) Dance of the Dialectic: Steps in Marx’s Method, Urbana & Chicago:University of Illinois Press. Kritik juga datang dari Alex Callinicos (2005) Against the New Dialectic, Historical Materialism, 13(2):41-59. Sementara ahli ekonomi politik Marxist, Alfredo Saad-Filho mengeritik “New Dialectic” yang dipandangnya bersifat idealis karena terutama menaruh perhatian pada konstruksi logis dari pada melihat  struktur material dari determinasi konkrit. Menurutnya, pendekatan Hegelian semacam ini berpotensi menyesatkan. lihat Alfredo Saad-Filho (2002) The Value of Marx: Political economy for contemporary capitalism, London: Routledge.  Diantara yang paling menonjol dari kelompok “New Dialectic” adalah  Christopher J. Arthur (2002) the New Dialectic and Marx’s Capital, Leiden: Brill.

[21] Karl Marx & Frederick Engels (1968[1848]) Manifesto of the Communist Party, dalam Karl Marx and Frederick Engels Selected Works, Moscow: Progress Publishers.

[22] Karl Marx (1975[1844]) Economic and Philosophical Manuscripts of 1844, dalam Karl Marx Early Writings, London, New York: Penguin Books.

[23] Karl Marx (1976[1867]) Capital Volume I, New York, London: Penguin Books.

[24] Karl Marx (1976[1867]) Capital Volume I, New York, London: Penguin Books.

[25] Karl Marx & Frederick Engels (1968[1848]) Manifesto of the Communist Party, in Karl Marx and Frederick Engels Selected Works, Moscow: Progress Publishers.  Sosiolog John Bellamy Foster yang mendiskusikan aspek lingkungan hidup dari Manifesto Komunis menyatakan bahwa sama sekali keliru menganggap Marx dan Engels antroposentris. Karena, di mata keduanya, manusia dan alam bukan dua dunia yang terpisah dan saling meniadakan, tetapi satu sama lain saling berhubungan sebagai proses metabolisme. Lihat John Bellamy Foster (2009) the Ecological Revolution: Making peace with the planet, New York: Monthly Review Press.

[26] Karl Marx & Frederick Engels (1968[1848]) Manifesto of the Communist Party, in Karl Marx and Frederick Engels Selected Works, Moscow: Progress Publishers.

[27] Esensi sistem kapitalisme adalah kontradiksi internalnya. Di satu sisi, harus terus-menerus menciptakan, memperbanyak, dan mengorganisir kelas pekerja untuk kepentingan produksi, dan dalam waktu yang sama mengeksploitasi mereka sebagai suatu keniscayaan.

[28] Karl Marx & Frederick (1968[1848]) Manifesto of the Communist Party, in Karl Marx and Frederick Engels Selected Works, Moscow: Progress Publishers.

[29] Lenin,V. (1987 [1934]) the State and Revolution, dalam Henry M. Christman, ed. Essential Works of Lenin, New York: Dover Publications, Inc.

[30] Leon Trotsky (2008[1937]) Introduction, dalam Karl Marx & Frederick Engels, the Communist Manifesto, New York, London, Montreal, Sydney: Pathfinder Press.


comments powered by Disqus