Martin Manurung

Neoliberalisme Kena Batunya

KALI INI neoliberalisme terpojok. Pemerintah Amerika Serikat menghadapi dilema dalam mengatasi krisis keuangan terberat setelah depresi besar pada tahun 1930-an.

Pilihannya adalah antara membiarkan mekanisme ”pasar bebas” mengoreksi segala kebobrokan finansial yang kian membubung selama 10 tahun atau melakukan intervensi pemerintah untuk mengerem laju percepatan krisis dan mengembalikan kepercayaan terhadap perekonomian negara adidaya itu.

Menggugat “Bapak Pembangunan”

Kepergian Soeharto diberitakan dengan dua pesan. Umumnya televisi-televisi lokal, bahkan Presiden Yudhoyono, menyebut dan memuja Soeharto sebagai ‘putra terbaik bangsa’ dan ‘pahlawan yang berjasa besar’. Akan tetapi, berita yang disampaikan oleh media-media internasional memiliki perspektif yang berbeda. Misalnya, sebuah kantor berita internasional, CNN, menyebut demikian: “Indonesia’s iron ruler dies” (penguasa bertangan besi Indonesia telah meninggal dunia).

Opini publik pun umumnya masih terbagi dua; sebagian mengatakan bahwa Soeharto berjasa besar, sebagian yang lain menyebutkan rangkaian tindak kejahatan kemanusiaan dan berbagai kasus korupsi yang terjadi selama pemerintahannya. Hal yang menarik, publik pada umumnya, termasuk yang mengkritik pelanggaran hak-hak asasi manusia yang dilakukan Soeharto, mengaminkan bahwa ia telah berhasil membangun perekonomian Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Paradoks Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja

Kredit foto: BURUH.CO   RASYIDI Bakri telah menulis perihal Revisi Undang-Undang (UU) No. 23 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dalam globalisasi. Tulisan ini akan menyoroti khusus

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.