
Iran: Krisis mata uang, politik anggaran, dan konflik kelas
Untuk benar-benar memahami Dey, analisis ekonomi politik harus dikembalikan dari posisi pinggiran ke jantung pembacaan peristiwa.
HomeArtikel

Untuk benar-benar memahami Dey, analisis ekonomi politik harus dikembalikan dari posisi pinggiran ke jantung pembacaan peristiwa.

Narasi “memberi makan anak” berfungsi sebagai tameng moral yang efektif untuk menyingkirkan keberatan publik. Orang tua, guru, dan relawan yang mempertanyakan kualitas makanan, keamanan konsumsi, maupun transparansi anggaran kerap distigmatisasi sebagai penghambat program.

Sejak mula, janji “transisi ekologi” ini ketika diterapkan pada isu pemanasan global dinyatakan secara ambisius dan gamblang: “tangan tak terlihat (invisible hand)” pasar diyakini mampu menekan emisi gas rumah kaca (greenhouse gas emissions) sekaligus menjaga tingkat keuntungan tetap tinggi.

Benarkah Republik Islam sudah berada di tepi kehancuran? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu ditelaah empat aktor utama dalam dinamika saat ini: rezim yang berkuasa, rakyat, oposisi, dan kekuatan eksternal.

Indonesia memiliki beragam masalah kompleks yang sudah struktural hingga sulit untuk dibenahi. Segala keindahan yang ada di Indonesia seperti terbenam oleh kebobrokan tingkah polah manusia yang mengelola negara ini.

Begitu ekonomi politik industri minyak benar-benar dibedah, penjelasan “ini semua tentang minyak” mulai kelihatan rapuh.

Publik diajak percaya bahwa mengganti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), atau mengganti mobil bensin dengan mobil listrik, hanyalah soal substitusi teknis. Padahal, infrastruktur energi selalu tertanam dalam struktur sosial, politik, dan ekonomi tertentu.

Agresi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela merupakan wujud imperialisme kapitalis yang bertujuan menguasai sumber daya alam, terutama minyak, dan tidak mencerminkan kepentingan rakyat di kedua negara. Oleh karena itu, perjuangan melawan imperialisme menuntut solidaritas lintas negara dan konsolidasi politik global yang berpihak pada rakyat, khususnya kelompok paling terdampak.

Di Tano Batak, kehadiran Toba Pulp Lestari mengubah tanah dari basis hidup komunal menjadi medan akumulasi, sementara hukum dan adat bekerja sebagai perangkat seleksi yang menentukan siapa yang boleh tinggal dan siapa yang harus disingkirkan. Dari proses inilah lahir Subjek Kriminal, bukan sebagai pelaku kejahatan moral, melainkan sebagai posisi sosial yang dilekatkan pada mereka yang mengganggu ritme produksi kapital. Ketika identitas adat terfragmentasi oleh diferensiasi kelas, penjara dan kontrak menjadi dua wajah pendisiplinan yang sama, menegaskan bahwa dalam konflik agraria, kelas berbicara lebih keras daripada sekadar perkara asal-usul.

Dalam konteks krisis ekologis, kapitalisme,menurut para aktornya,justru yang harus diselamatkan, bukan bumi itu sendiri.
Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.