Ilustrasi: IndonesiaTera
Judul: Reset Indonesia: Gagasan untuk Indonesia Baru
Penulis: Dandhy Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo, Benaya Harobu
Penerbit: IndonesiaTera
Tebal: ± 496 halaman
Saya selalu melihat Indonesia seperti saya melihat nenek saya. Saya mempunyai nenek yang berumur seperti Indonesia. Ibu dari ibu saya itu dilahirkan oleh nenek buyut saya pada 18 Agustus 1945. Setiap momen perayaan HUT RI selalu menjadi pengingat berapa usia nenek saya sekarang ini. Yah, nenek saya sudah tua dan menjadi sering sakit. Beliau sekarang sudah tidak boleh makan pedas, padahal makanan itu adalah favoritnya.
Sedari kecil hingga sekarang ini, saya sering diceritakan cerita masa lalu tentang keluarga saya dan sejarah Lamongan oleh nenek saya. Dengan senyum yang penuh keriput, beliau selalu meladeni pertanyaan saya yang bermacam-macam, meskipun kadang jawabannya kurang menyenangkan karena beliau banyak lupanya.
Setiap pulang, nenek saya selalu cerewet minta ditemani. Setiap pagi, siang, hingga malam sering menelepon minta dibawakan makanan, padahal di kulkasnya sudah banyak sekali makanan, bahkan sampai ada yang kedaluwarsa. Tapi ya seperti itulah nenek-nenek. Selalu ingin berkumpul lagi dengan cucunya, meskipun cucunya ini hadir dengan tidak menjadi sosok ideal yang diharapkannya.
Mencintai Indonesia selalu saya ibaratkan seperti mencintai nenek saya. Ibu Pertiwi yang sering dipakai sebagai kata ganti tanah air, dalam imajinasi saya gambarannya adalah nenek saya tersebut. Seorang nenek yang selalu menunggu cucunya pulang dengan membawakan makanan dan cerita bermacam-macam. Seorang perempuan tua yang sendirian, karena anak-anak dan cucu-cucunya sedang meniti hidup menjadi manusia dewasa.
Sebulan lalu ketika menyambanginya, saya terkejut melihat kabel TV di rumahnya sudah dicabut. Nenek saya menjelaskan bahwa sekarang sudah tidak suka menonton TV karena isinya berita buruk semua. Untuk mengisi waktu luang, nenek saya lebih suka mengaji. Nenek saya saja ternyata sudah pasrah terhadap Indonesia. Membaca dari gelagatnya, sepertinya nenek saya kesal kenapa presiden yang terpilih itu sudah tua dan tidak mau gantian dengan yang lebih muda. Nenek saya seperti ingin menyampaikan sebuah ungkapan: “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kiamat.” (HR. Al-Bukhari).
Membaca buku Reset Indonesia ini, saya menjadi berpikir ulang, barangkali kecintaan saya kepada Indonesia memang betul seperti mencintai nenek saya saja. Saya mencintainya meski tak bisa berbuat banyak untuk membantu hidupnya. Saya selalu senang ketika berjalan-jalan atau makan dengannya, meski tak bisa menyerahkan seluruh hidup saya untuk mengurusinya. Permasalahan semacam ini tentu banyak terjadi di Indonesia. Suatu permasalahan sistemik yang rasanya memang sangat susah untuk diselesaikan, termasuk juga peliknya permasalahan keluarga saya, atau mungkin banyak lagi di keluarga yang lain.
Barangkali, saat ini kita memang terlahir bernasib buruk. Kita hidup di Indonesia pada sebuah masa yang antah-berantah. Masa lalu kita sepertinya cukup baik diceritakan dengan perjuangan dan segala cerita romantismenya. Masa depan kita dicenayangkan akan hadirnya masa keemasan yang penuh gilang-gemilang. Masa kini? Ya seperti ini, segala berita buruk yang hadir di media sosial adalah gambaran suatu waktu yang penuh dengan carut-marut.
Halaman demi halaman buku Reset Indonesia seperti membawa kita pada seabrek permasalahan yang ada di pusat hingga penjuru negeri. Dari pusat hingga yang terdekat dengan kita sekarang ini, tidak ada yang beres. Kita seperti dipertontonkan kesalahan-kesalahan struktural yang dilakukan pemerintah, tapi rakyatnya sendiri juga mengamini kesalahan itu dengan cara yang lebih brutal.
Pada kata pengantarnya saja, Dandhy Laksono sudah berkisah tentang keruwetan pemerintah mengelola negara ini yang digambarkan dengan cara mereka mengelola air. Air sebagai sumber utama kehidupan manusia tidak mampu dikelola dengan baik. Melihat kesuksesan sebuah negara, dalam penjelasan Dandhy, dapat dinilai dari bagaimana negara itu mengelola airnya. Untuk minum saja, dari 38 provinsi di Indonesia, ada 10 provinsi yang 50 persen penduduknya kini harus membeli air minum. Itu lebih dari separuh populasi nasional. Berbeda dengan negara-negara maju yang sudah bisa minum langsung dari keran yang ada di rumahnya.
Saya menjadi teringat masa kecil yang indah, ketika saya dan teman-teman saya masih bisa mandi di sungai. Kenangan tersebut tak bisa diulang sekarang karena permasalahan di kampung saya di Lamongan, airnya sudah tercemar. Bahkan untuk menyentuh airnya saja, kami sekarang sudah enggan. Air yang warnanya sudah kecokelatan itu kini telah tercampur banyak sampah dan buangan pupuk kimia dari lahan pertanian.
Berada di daerah yang airnya payau, sedari kecil saya terbiasa minum air dari sungai, meski harus direbus dahulu dan airnya memiliki rasa asam-asam. Setelah sungai tercemar dan kami mengenal air pegunungan dalam bentuk kemasan, banyak orang dari desa saya tersebut menjadi ogah untuk minum air dari sungai. Demikian juga untuk mandi, setelah banyak orang merasa gatal-gatal karena air sungai, kami menjadi memakai air PDAM atau menggunakan sumur bor. Bahkan sungai yang biasa digunakan untuk transportasi perahu pun kadang-kadang masih terkendala karena pendangkalan sungai dan juga banyaknya enceng gondok.
Tinggal di desa yang dikelilingi sungai tetapi tidak bisa menikmati airnya memang menyedihkan. Kami jadi perlu mengeluarkan uang lagi untuk hal kecil seperti minum ataupun mandi. Sungai pun bahkan kadang memberikan bencana ketika musim penghujan dengan membawa banjir. Banjir yang selain membuat banyak kegiatan masyarakat terganggu, juga menghancurkan pertanian. Hal-hal semacam inilah yang membuat banyak orang dari desa di sekitar Bengawan Solo ini memutuskan untuk merantau, entah untuk berjualan pecel lele atau ke luar negeri menjadi TKI.
Pada bab-bab berikutnya, kita semakin dibuat marah dengan kesalahan-kesalahan pemerintah dalam mengelola negara, sesuatu yang menurut Dandhy Laksono, Farid Gaban, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu perlu di-reset. Reset yang berarti mengembalikan semuanya dari awal, bukan restart yang memiliki makna mematikan sebuah proses untuk dinyalakan kembali.
Buku setebal hampir 500 halaman ini merupakan catatan perjalanan dari mereka berempat selama berkeliling Indonesia mengendarai motor. Sebuah pengalaman yang tidak hanya berbicara tentang betapa eksotisnya Indonesia, tetapi juga betapa muramnya negeri ini. Indonesia memiliki beragam masalah kompleks yang sudah struktural hingga sulit untuk dibenahi. Segala keindahan yang ada di Indonesia seperti terbenam oleh kebobrokan tingkah polah manusia yang mengelola negara ini.
Perjalanan mereka memang seperti Ernesto Guevara de la Serna dalam The Motorcycle Diaries atau Christopher McCandless dalam Into the Wild. Namun perjalanan ini dijalani dengan sangat kampungan, norak, dan penuh keterbatasan jika dilihat dari sisi kebarat-baratan. Mereka mungkin bisa memilih motor yang lebih keren dan sangar untuk mengarungi puluhan ribu kilometer, tetapi yang mereka pilih justru hanya Supra Geter. Mereka terlalu nekat dan gila, seperti tidak memedulikan bencana apa yang bisa terjadi di depan mereka. Namun mungkin dari keterbatasan itulah yang justru membuat perjalanan ini menjadi menarik.
Yang paling berkesan dari sebuah perjalanan adalah tentang membukukannya. Apalagi sebagai jurnalis, tentu banyak cerita yang tidak bisa disajikan lewat visual, tetapi masih ingin mereka ceritakan lewat cara lain. Buku ini menyajikan catatan-catatan yang tidak bisa mereka ungkapkan dalam video-video dokumenter Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Biru, dan segala turunannya. Enam bab yang tersaji dalam buku ini, jika bisa digarisbawahi, isinya berkisar tentang krisis demokrasi, kerusakan alam, ketimpangan ekonomi, konflik masyarakat, reforma kebijakan, dan masa depan Indonesia.
Ketimpangan ekonomi dalam tulisan berjudul Kecil Itu Indah memberi gambaran betapa rakusnya kebanyakan orang Indonesia. Manusia yang selalu merasa tidak cukup dengan satu rumah, satu mobil, atau bahkan satu istri. Kesenjangan ekonomi dan pendidikan ini saya rasakan sendiri sebagai sesuatu yang menjengkelkan.
IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.
Saya acapkali melihat orang berpendidikan tinggi namun memiliki pendapatan yang tidak seberapa jika dibandingkan pedagang pecel lele yang hanya lulusan SMA. Seorang pedagang pecel lele yang pendapatannya bisa lima kali lipat lulusan S2 tentu menimbulkan masalah. Contohnya dalam mengelola sampah. Pedagang pecel lele yang pendidikannya kurang tentu akan membuang sampah dalam jumlah besar seenaknya, sedangkan yang berpendidikan tentu tidak akan melakukan itu. Itu hanya contoh kecil dibandingkan begitu banyak contoh lainnya di Indonesia.
Menonton dan menyaksikan karya-karya Watchdoc dengan segala macam proyeknya membuat kita sadar bahwa yang menyedihkan dari kita sesungguhnya adalah ketika kita tidak pernah ke mana-mana. Kita yang tidak pernah ke mana-mana dan melihat realitas masyarakat sesungguhnya, suka sesumbar bahwa Indonesia dalam keadaan baik-baik saja. Padahal Indonesia ini begitu luas hingga susah untuk dijelaskan dalam satu hari. Indonesia terbentuk dari beragam pulau dan memiliki beragam budaya serta bahasa yang sesungguhnya sulit untuk disatukan.
Cukup menyedihkan, dengan luas wilayah semacam itu, seluruh masalah di negara ini justru diselesaikan lewat sudut pandang Jakarta. Belum lagi budaya korupsi di Indonesia sepertinya sudah mengalir juga dalam DNA kita, seperti yang ditulis dengan sangat ciamik dalam bab Republik Drakula. Yang lebih menyedihkan, ketika rakyat ingin menyampaikan kebenaran, suara mereka justru selalu dihalang-halangi.
Dalam bab itu ditulis bahwa dalam demo berminggu-minggu menolak UU Cipta Kerja di seluruh Indonesia, tercatat sedikitnya 400 orang menjadi korban kekerasan polisi dan 5.200 orang sempat ditangkap, menurut catatan Amnesty International. Peristiwa Malari pada 1974 yang cukup melegenda seperti tidak menjadi pelajaran berharga bagi para pemangku kebijakan untuk memandang arah perekonomian kita.
Wacana negara federasi sepertinya menjadi jawaban yang cukup menarik. Dalam bab Federasi Siapa Takut, dijelaskan bahwa pemerintah masih terlalu kolot dengan menganggap konsep federalisme sebagai bawaan kolonial, sehingga membayangkannya saja sudah dicap subversif bahkan tidak nasionalis. Wacana negara federal semacam itu tentu terasa jauh dari angan karena keputusan politik. Ditulis dalam bab itu bahwa salah satu sebab ekonomi Indonesia masih relatif terbelakang dan tidak berkeadilan adalah karena Indonesia terlalu luas.
Pemilu sebagai upaya memberi perubahan pun ditulis dalam Mencoblos Murah Meriah bahwa pemilu kita memang salah arah. “Tak hanya kurang aspiratif, sistem pemilu kita sekarang merupakan sumber konflik dan polarisasi,” halaman 355.
Yang menyenangkan dalam membaca buku ini, menurut saya, adalah keberpihakannya pada orang-orang kecil di akar rumput sebagai subjek yang dikaji. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari turut menghidupi Indonesia, namun jarang menjadi perhatian pemerintah. Dari Suku Badui, Suku Dayak, orang-orang Papua, para nelayan di Mamuju, hingga petani di Pakel atau di Wadas. Dalam buku ini, mereka adalah sosok yang suaranya mesti didengar untuk memperbaiki Indonesia, bukan orang-orang yang hanya diambil suaranya saat pemilu berlangsung.
Buku hampir 500 halaman ini terasa tebal untuk membaca keruwetan Indonesia, tetapi terlalu tipis untuk menampung segala kecarut-marutan yang ada di sekitar kita. Kita diberi kesadaran bahwa hidup di negara yang amburadul tetap menuntut kita menjadi manusia yang berani bersuara melihat kesewenang-wenangan. Kita seperti diberi suntikan agar mampu memperkuat barisan di sekitar kita ketika kebatilan datang. Seperti yang disampaikan Gandhi, jika motor pendorong utama produksi massal adalah pemujaan terhadap individualisme, sebaliknya ekonomi yang berbasis pada masyarakat desa memupuk semangat gotong royong menuju kesejahteraan bersama (halaman 391).
“Gagasan tentang Indonesia Baru” sebagai subjudul terasa sebagai upaya yang ciamik. Jika ada Indonesia yang baru, seperti inilah yang semestinya menjadi kajian. Masyarakat yang suaranya jarang didengar mestinya menjadi bahan utama untuk menentukan arah kebijakan. Masyarakat yang kerap disebut termarjinalkan ini seharusnya diberi ruang agar Indonesia yang mengaku demokratis benar-benar menjalankan demokrasi yang sesungguhnya.
Melihat karut-marut kondisi Indonesia sebagaimana ditulis dalam buku ini, barangkali memang lebih mudah membayangkan Indonesia seperti nenek saya saja. Toh, nenek saya yang merupakan warga negara Indonesia juga tentu bisa bersuara demi keberlanjutan Indonesia yang lebih adil dan sejahtera. Mencintai Indonesia seperti mencintai nenek terasa lebih sederhana daripada menjadi nasionalis yang sok-sokan. Sebab, sebelum mencontohkan kebaikan, bijaknya kita memang harus sudah baik terlebih dahulu. Syahdan, setelah membaca buku ini dan kita tidak mencoba membenahi hidup kita sendiri, barangkali kita adalah bangsa yang tidak pernah belajar. Reset Indonesia yang paling bijak adalah dengan me-reset diri sendiri.
Ismail Noer Surendra adalah seorang wartawan dan esais. Tambahan editor: Saat mengunggah artikel ini, kami menemukan tinjauan kritis buku Reset Indonesia oleh Diana Susanti, Angga Bassoni Al Barkah, dan Ayisha berjudul Menguji Janji Reset Indonesia. Anda bisa membacanya sebagai pengaya informasi dan perbandingan di sini.




