Ilustrasi: Istimewa
PADA 3 Januari kemarin, militer Amerika Serikat melakukan tindakan ilegal terhadap Venezuela, sebuah negara berdaulat di kawasan Amerika Latin. Dengan menggunakan 150 pesawat tempur yang lepas landas dari 20 pangkalan udara di seluruh benua Amerika, dan tanpa adanya perlawanan, militer AS kemudian menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan menerbangkannya ke New York, AS. Inilah wajah dan aksi brutal dari imperialisme AS yang kembali dipertontonkan kepada dunia. Dengan seenak jidat, AS bertindak melanggar aturan internasional, tanpa peduli pandangan dan persetujuan komunitas internasional.
Bagaimana kita memahami dan menyikapi tindakan brutal AS? Berikut wawancara Coen Husain Pontoh dari IndoPROGRESS dengan Dian Septi Trisnanti, Pemimpin Umum Marsinah.ID.
Coen Husain Pontoh (CHP): Halo Dian, apa kabar? Coba perkenalkan dirimu secara ringkas kepada pembaca IndoPROGRESS (IP).
Dian Septi Trisnanti (DST): Hi, nama saya Dian Septi Trisnanti, aktivis buruh perempuan. Saat ini aktif sebagai Pemimpin Umum Marsinah.ID, sebuah media komunitas buruh perempuan.
CHP: Kita tahu bahwa pada tanggal 3 Januari lalu, Presiden AS Donald Trump melakukan agresi militer ke Venezuela dan menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Apa pendapatmu tentang hal ini?
DST: Menurut saya, agresi militer AS ke Venezuela adalah bagian dari imperialisme yang bertujuan menguasai dan mengontrol sumber daya Venezuela, terutama minyak, karena Venezuela merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar. Apa yang dilakukan AS adalah kelanjutan dari perang ekonomi (blokade ekonomi) yang sudah dilancarkan selama dua dekade terakhir terhadap Venezuela, juga kelanjutan politik luar negeri AS terhadap Amerika Latin dan negara-negara Global South lainnya.
Negara yang diserang imperialisme tentu saja akan kesulitan menyediakan pangan, kesehatan, dan hak dasar rakyat lainnya. Dengan demikian, imperialisme selalu menempatkan rakyat di barisan terdepan yang menanggung dampak, terutama perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya. Tubuh perempuan menjadi sasaran serangan sehingga kesehatan reproduksi makin hancur dan menyebabkan krisis kerja perawatan, di mana rakyat kelaparan karena pangan langka, akses kesehatan makin tiada, serta ruang hidup hancur. Tindakan AS dengan jelas menghancurkan kehidupan rakyat Venezuela dan masa depan Venezuela sebagai sebuah bangsa.
Selain itu, agresi militer AS ini juga melanggar kedaulatan bangsa, merampas kemerdekaan bangsa dan hak menentukan nasib sendiri. Dari Palestina hingga Venezuela, imperialisme tidak bisa dibiarkan. Bila tidak, bangsa lain—termasuk negara kita—juga bisa mengalami hal serupa, yang artinya rakyat global terancam hak dasarnya sebagai manusia.
CHP: Dari penjelasanmu berarti ini adalah perang untuk kepentingan para kapitalis minyak di AS dan Venezuela. Perang ini tidak ada urusan dengan kepentingan rakyat AS, juga bukan perang antara rakyat AS versus rakyat Venezuela. Bisa jelaskan lebih lanjut soal ini?
DST: Ya, konflik ini sama sekali bukan perang antara rakyat Amerika Serikat melawan rakyat Venezuela. Rakyat di kedua negara tidak memiliki kepentingan untuk saling menghancurkan. Yang sedang berkonflik adalah kepentingan elite ekonomi dan politik, terutama kapitalis energi dan aktor negara yang melindungi kepentingan mereka.
Venezuela memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia. Sejak lama, sektor energi Venezuela menjadi arena perebutan kepentingan antara negara, perusahaan minyak nasional, dan korporasi minyak multinasional. Ketika negara Venezuela berusaha mempertahankan kontrol atas sumber daya alamnya dan membatasi akses penuh modal asing, konflik dengan kepentingan kapital global—terutama yang berbasis di Amerika Serikat—menjadi tak terelakkan.
Di sisi lain, kapitalis minyak di Amerika Serikat memiliki kepentingan besar untuk membuka kembali akses terhadap cadangan energi Venezuela, baik untuk keuntungan ekonomi maupun pengaruh geopolitik. Negara, dalam hal ini, tidak bertindak netral, melainkan menjadi alat yang melindungi kepentingan kapital melalui sanksi ekonomi, tekanan politik, hingga kekerasan militer.
Dalam konflik semacam ini, rakyat Amerika Serikat tidak diuntungkan. Pajak mereka digunakan untuk membiayai perang, sementara kebutuhan sosial di dalam negeri, seperti kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan, terabaikan. Demikian pula rakyat Venezuela yang menjadi korban langsung melalui kehancuran infrastruktur, krisis ekonomi, dan hilangnya rasa aman.
Karena itu, penting untuk membedakan antara negara dan rakyat, serta antara kepentingan kapitalis dan kepentingan masyarakat luas. Narasi yang membingkai konflik ini sebagai pertarungan antarbangsa justru menutupi fakta bahwa yang sedang dipertahankan adalah keuntungan segelintir elite ekonomi dan politik, sementara rakyat di kedua sisi dijadikan korban dan alat legitimasi.
Memahami agresi militer ini sebagai perang kapitalis, bukan perang rakyat, membuka ruang bagi solidaritas lintas negara. Rakyat Amerika Serikat dan Venezuela sejatinya berada di posisi yang sama, yaitu sama-sama menghadapi sistem global yang mengorbankan kehidupan demi akumulasi kapital.
CHP: Apa dampak ekonomi dan politik dari tindakan imperialisme ini bagi gerakan rakyat di Venezuela dan belahan dunia lainnya
DST: Rakyat Venezuela menjadi korban terdepan, bukan hanya saat ini, tetapi sejak perang ekonomi dilancarkan oleh AS terhadap Venezuela. Blokade ekonomi tersebut telah membuat rakyat Venezuela kehilangan ruang hidup, kelaparan, serta kesulitan mengakses fasilitas dan pelayanan kesehatan serta hak dasar lainnya. Bagi perempuan, tubuh semakin hancur karena kesehatan reproduksi terabaikan dan kerja perawatan semakin tidak sanggup ditanggung. Hal ini berdampak pada kelangsungan hidup rakyat Venezuela.
Ketika satu negara bisa dengan mudah diinvasi tanpa banyak halangan—karena ketimpangan kekuatan dan kuasa—maka negara lain juga terancam.
IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.
CHP: Apa yang bisa kita lakukan saat ini untuk merespons tindakan imperialistik itu?
DST: Indonesia pernah dijajah dan mengalami penghancuran gerakan rakyat pada periode 1965 (di mana negeri-negeri imperialis juga berada di belakangnya). Kita merasakan bagaimana penghancuran alam dan rakyat telah merampas ruang hidup kita dalam mengakses kesehatan, pendidikan, hingga kebebasan berekspresi. Jutaan rakyat dibunuh, dan hal ini menyisakan trauma lintas generasi. Lukanya tidak pernah pulih.
Secara historis, Indonesia memiliki sejarah panjang melawan imperialisme. Kita tentu ingat Konferensi Asia Afrika (KAA) yang digagas oleh Indonesia, di mana melaluinya Indonesia sukses melakukan konsolidasi global melawan imperialisme. Artinya, komitmen Indonesia melawan imperialisme memiliki landasan historis yang kuat. Sebagai bagian dari rakyat Indonesia, kita memiliki tugas sejarah untuk melanjutkan perjuangan melawan imperialisme. Penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi; tidak boleh ada negara yang berkuasa atas negara lainnya. Tanpa melawan imperialisme, mustahil kita bisa merdeka, setara, dan sejahtera.
Apa bentuk konkret solidaritas kita? Sebagaimana solidaritas kita terhadap Palestina, kita bisa melakukan aksi solidaritas, membangun konsolidasi politik anti-imperialisme, serta konsolidasi solidaritas Venezuela, dan menyebarluaskan aktivitas gerakan tersebut di platform media yang kita miliki, mulai dari media sosial pribadi hingga media alternatif. Sebab imperialisme tidak datang sendirian; bersamanya turut serta kekuatan propaganda. Di sinilah pentingnya bertarung secara narasi, memberitakan apa yang terjadi di Venezuela, serta memberi ruang bagi rakyat Venezuela dan belahan dunia lain yang bersolidaritas.
CHP: Terakhir, menurutmu seruan politik apa yang bisa kita, sebagai gerakan rakyat secara global, lakukan untuk melawan atau bahkan menyudahi tindakan imperialisme AS ke depan?
DST: Membangun konsolidasi politik anti-imperialisme dan konsolidasi solidaritas terhadap rakyat Venezuela dan Amerika Latin. Hal ini penting agar gerakan kita memiliki napas panjang—lebih panjang dari napas imperialisme yang menggerogoti hidup kita dan rakyat global.***




