Sepuluh Tahun Lalu…

Print Friendly, PDF & Email


Kredit ilustrasi:Julien Decaudin


BANYAK yang dapat berubah dalam jeda sepuluh tahun belaka. Anda, boleh jadi, tak sama rupawan atau justru lebih rupawan ketimbang dulu. Anda mungkin merasa lebih sehat atau malah mengidap wasir. Dan dulu Anda, bisa jadi, masih belum putus asa dengan masa depan dunia ini. Anda masih menanti-nanti revolusi sebelum akhirnya menjadi pekerja kantoran, patah arang, dan merasa revolusi yang paling realistis ialah berumah di luar pondok mertua indah.

Banyak yang, memang, dapat terjadi dalam sepuluh tahun. Dalam semangat tantangan sepuluh tahun yang, mudah-mudahan, masih hype, saya akan merunut beberapa perubahan dramatis yang patut kita cermati.

Mari kita periksa bersama-sama.


Sepuluh tahun lalu, Facebook masih menjadi darling semua orang. Gurita kapitalisme digital darling semua orang.

Sekarang? Reputasinya yang buruk adalah hapalan semua orang. Ia mengutil data Anda. Ia mengecernya ke dunia bisnis, politik dan siasatnya ini mengantarkannya menjadi salah satu perusahaan terbesar dunia. Pun, bagaikan kekasih yang posesif, ia tak mau Anda mengalihkan pandangan Anda darinya. Algoritma demi algoritma terus dicobakannya untuk memastikan emosi Anda teraduk-aduk di platformnya, terlepas, dampaknya, ujaran kebencian melambung jumlahnya dan para fakir penjajanya menjadi junjungan tak layak banyak orang hari ini.

Namun, sedari ia masih nampak imut-imut dan menawan sekalipun Facebook adalah sebuah bisnis. Ambisi pertamanya adalah keuntungan. Mark Zuckerberg cs, di hari-hari awal merintis bisnis ini, bukannya tidak pernah memimpikan Facebook menjadi labirin yang menyesatkan banyak orang saya yakin.

Dan fakta bahwa kita tak bisa meninggalkannya, betapapun kita membencinya, merupakan bukti ampuhnya siasat canggih teknokapitalisme. Ia tidak menawarkan komoditas yang sesungguhnya kita butuhkan. Ia yang menorehkan kebutuhan itu sendiri dengan mengutak-atik sisi paling rentan, tanpa pertahanan kita. Afeksi kita.


Sepuluh tahun lalu, Gojek dan Bukalapak belum ada.

Hidup Anda kini lebih mudah, tentu. Anda tak harus mengeluh dengan sistem transportasi yang tak pernah ditata dengan memadai atau, bahkan, setidaknya, sedikit waras. Namun, Anda pun pastinya tak membayangkan kemarin-kemarin bahwa manusia dapat ditertibkan melalui gawai kecil di genggamannya. Mereka dapat diatur tanpa sang pengatur menggaji pengawas-pengawas yang mahal—cukup dengan bintang, komentar, dan algoritma yang mengolah penilaian pengguna ini.

Hasilnya? Pengemudi Gojek selalu digentayangi kekhawatiran dengan ketidaknyamanan pelanggan, bahkan pelanggan yang tidak masuk akal dan abai mereka hanya mendapatkan uang yang nominalnya remeh untuk jasanya. Makanan pesanan kurang telur—kekeliruan yang manusiawi? Pengemudi tak membuang pulsanya untuk menelpon agar tahu pasti di mana lokasi pelanggan? Penghidupan mereka terancam.

Suatu hari di masa silam, junjungan kalian pernah berkata, pemilik modal merupakan kelompok yang pada dasarnya revolusioner. Mereka, tepatnya sebenarnya, revolusioner terhadap instrumen produksi. Mereka tak dapat ada tanpa tabiat serba canggih ini. Dan menyaksikan potensi penghematan dan pengaturan otomatis yang memang menggiurkan dari penerapan teknologi, maksud Marx tak sulit ditangkap.

Mungkinkah, pertanyaannya, pemutakhiran teknologi diujungtombaki justru oleh usaha-usaha mengurai eksploitasi? Atau, sederhana kata, usaha meletakkan fondasi-fondasi teknis sosialisme?


Sepuluh tahun lalu, populisme masih nampak menjanjikan.

Ernesto Laclau masih menjadi cendekiawan kesayangan orang-orang kiri. Sarannya agar perjuangan sosialis menggadang-gadang idiom rakyat alih-alih sibuk dengan perbendaharaan penanda jelimetnya sendiri masih nampak sebagai cara paling realistis agar ia mendapatkan panggung dalam dinamika politik arus utama.

Sepuluh tahun kemudian, populisme adalah idiom yang ada di mana-mana—bahkan, bisa jadi, grup Whatsapp keluarga Anda. Ia tak sohor dengan reputasi yang baik, Anda tahu. Ia lekat dengan para demagog yang menggelorakan kemurnian ras, peperangan terhadap minoritas kambing hitam, serta menempatkan dirinya, pendukungnya, maupun orang banyak yang tak mendukungnya dalam kereta yang berjalan pasti menuju jurang. Kita pun bertanya-tanya, apakah jodoh sejati populisme adalah para politisi sayap kanan mentok? Mereka yang tak punya rem apa pun dalam retorikanya sepanjang ia bisa memantik perasaan dizalimi kelompok mayoritas?  

Boleh jadi, Francis Fukuyama, sang neokonservatif, benar. Kalau ada yang akan menggerakkan sejarah lagi setelah ia mentok, ia adalah kebosanan. Dan kita menjadi saksi para punggawa dari sebelah kanan jalan merenggut tongkat komando sejarah tak lain lantaran kelihaian mereka membumbui hidup banyak orang dengan fantasi-fantasi mencekam.


Sepuluh tahun lalu, Rizieq Shihab tak ada dalam pencarian Google.

Saya bohong. Rizieq Shihab sudah ada dalam pencarian Google. Namun, namanya dulu sama sekali tak sebesar namanya sekarang. Sama halnya dengan FPI. Organisasi massa ini sudah cukup kondang sepuluh tahun silam. Akan tetapi, kesohorannya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kesohorannya hari ini.

Fakta ini merupakan pembenaran lebih jauh betapa ampuhnya retorika populis sayap kanan yang mengumbar diri yang teraniaya oleh minoritas korup. Momen kala Rizieq Shihab paling bersinar, toh, adalah momen kala ia menggugah umat Islam untuk menuntut “sang penista agama” menjelang pemilihan Gubernur Jakarta 2017. Tanpa “sang penista agama”—serta minoritas-minoritas yang harus diperangi yang setia mengemuka dalam khotbah-khotbah Rizieq—Rizieq tidak akan pernah didaulat sebagai imam besar. Tanpa pertarungan para titan politik dan bandarnya, ia tak akan menjadi siapa dirinya hari ini.

Tak heran, kebencian tak masuk akal pada minoritas kian mengganas seiring popularitas politik menjadi komoditas yang kian diperebutkan.


Sepuluh tahun lalu, blogger ini adalah orang gila.

Jokowi ialah walikota Solo. Terlepas reputasinya yang harum, ia tak berdarah biru. Ia tak berasal dari militer—lebih-lebih mantan petingginya. Ia tak punya posisi yang patut diperhitungkan dalam organisasi agama atau partai. Kekayaannya pun tak seberapa. Satu-satunya yang dipunyainya adalah citranya yang memanusiakan manusia berkat kebijakannya yang menyentuh.

Namun, sejarah memang tengah bersiap-siap berbelok. Reputasi ternyata cukup untuk mendudukkannya menjadi orang nomor satu Republik Indonesia. Pada tahun 2014, kita mendapatkan presiden yang tak perlu bertanggung jawab kepada siapa pun kecuali rakyat. Ia terpilih karena citra merakyatnya. Mandatnya, karenanya, sepenuhnya adalah kepada rakyat.

Atau, itu setidaknya yang kita pikir kita dapatkan.

Bagaimana oligarki bekerja, sialnya, adalah persoalan lain. Seiring kita memasuki kurun lebih lanjut dari demokrasi liberal, kita mendapati bagaimana konglomerasi bisnis dan politik menyangga kekuasaan pejabat pilihan demokrasi langsung bukan dengan menjanjikan keterpilihannya melainkan kelanggengan rezimnya. Akhirnya, pembagian lapak instansi, komisaris, maupun bisnis untuk elite-elite tetap berlangsung. Keengganan untuk mengintervensi praktik mereka yang merugikan terus menjadi penyakit pemerintahan.

Pesan moralnya, silakan mencoba mencalonkan diri menjadi presiden walaupun Anda tak bermodal. Siapa tahu berkah.


Sepuluh tahun lalu, berita teratas dengan kata kunci “kiri” adalah “bahaya menyalip dari kiri”.

Sekarang, berita-berita teratas ihwal “yang kiri-kiri” selalu mengorbit di seputar razia, pemberangusan, unjuk rasa pelarangan. Dan unggahan teratas di laman umpan berita mereka yang merasa kekiri-kirian tak lain dari keprihatinan terhadap perkembangan-perkembangan terbaru tersebut.

Apakah ia menandakan kita akan kesulitan mengakses gagasan-gagasan penting mulai sekarang? Jauh dari itu, saya kira. Kita punya segala macam medium untuk memperoleh gagasan semacam, dan aparat yang represif dibatasi anggaran yang cekak serta birokrasi yang terlalu gembrot dan rumit untuk mencekal semua sumber informasi kita. Belum lagi, praktik maupun pemikiran yang transformatif tak selalu berlabel praksis atau filsafat kiri.

Sebaliknya, ia justru momen yang seyogianya melecut kita merenung. Apakah kita rupanya lebih mengagung-agungkan label dibandingkan esensi? Apakah reaksi menggunung kita terhadap represi pemerintah merupakan cara kita untuk meyakinkan diri bahwa keberadaan kita dianggap dan diperhatikan?

Perkaranya, kolega-kolega yang saya sayangi, bukanlah kita kiri atau tidak kiri. Bukan pula kita Marxis sejati atau Marxis abal-abal. Tapi bagaimana transformasi sosial yang dicita-citakan itu diperdebatkan lama dan panas dalam khazanah pemikiran yang kompleks tersebut? Pertanyaan barusan, saya kira, jauh lebih penting disambangi tak peduli apa yang menjadi payung identitas dari gagasan kita.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus