‘Der Junge Karl Marx’ (2017)

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: aureliehuet.com

 

DER Junge Karl Marx (atau “Le Jeune Karl Marx” dan “The Young Karl Marx”) adalah film biopik besutan sutradara Raoul Pack. Film ini dibintangi antara lain oleh August Diehl yang memerankan Karl Marx, Stefan Konarske sebagai Friedrich Engels, dan Vicky Krieps sebagai Jenny von Westphalen. Film ini mengambil latar kehidupan Marx, atau lebih tepatnya Marx-Engels, sepanjang kurun 1843-1848. Kira-kira saat keduanya menginjak usia dua puluh tiga sampai dua puluh tujuh tahun. Di Eropa-Amerika, selain babak revolusi industri dan dimulainya penggunaan telegraf publik, ini adalah kurun ketika orang baru saja menyaksikan ambruknya monarki absolut Perancis, disahkannya Undang-undang Penghapusan Perbudakan Inggris, juga terbitnya Oliver Twist Dickens dan edisi berbahasa Yunani karya lengkap Aristoteles suntingan I. Bekker di Jerman. Ini adalah sebuah era baru penuh pergolakan ketika tatanan sosial dan pemikiran-pemikiran baru lahir nyaris berbarengan. Prolog bagi zaman yang disebut Eric Hobsbawn sebagai “The Age of Capital”.

Film dibuka dengan adegan Marx membacakan artikelnya “Debates on the Law on Thefts of Wood”[i] di kantor Rheinische Zeitung, Kӧln, sembari memandang kedatangan gerombolan petugas keamanan dari celah jendela. Ini adalah adegan pembuka yang dengan cepat membuat kita terpana dengan kalimat-kalimat artikel yang ditulis Marx, sekaligus dibuat terkejut dengan penampakan mimik Marx muda yang, hemat saya, komikal. Sejak awal film Marx muda sudah diperlihatkan sebagai sosok penulis cergang (cerdas dan garang) yang mengutip Montesquieu di satu sisi, namun berpembawaan tinggi tensi. Barangkali karena kebiasaan menghisap cerutu murah yang melekat pada sosoknya sepanjang film. Rheinische Zeitung sendiri dalam sejarahnya merupakan surat kabar yang didirikan bisnismen Ludolf Camphausen, Gustav von Mevissen dan Dagobert Oppenheim Januari 1842, yang banyak mengakomodir penulis-penulis demokrat radikal Prusia waktu itu. Konon Marx pertama kali ikut berkontribusi di surat kabar ini melalui tulisan berjudul “Debates on Freedom of the Press and Publication of the Proceedings of the Assembly of the Estate” yang ia kirim tepat di hari ultahnya yang ke dua puluh empat, 5 Mei 1842. Lima bulan kemudian, sebagian berkat ketajaman tulisan-tulisannya, Marx diangkat sebagai editor Rheinische Zeitung, bikin surat kabar ini perlahan menancapkan pengaruh di seantero Prusia, sekaligus membayarnya dengan terus dihantui tekanan sensor-sensor legal pemerintah seperti yang terlihat di awal film.

Sesuai judulnya, plot film banyak berputar di sekitar aktivitas dan pribadi-pribadi terdekat Marx. Di kalangan marxolog, tahun 1844 dikenang sebagai tahun penting sebab di tahun itulah Marx bertemu untuk kedua kalinya dan benar-benar berbicara panjang lebar dengan Friedrich Engels. Di film, pertemuan itu sendiri digambarkan cukup kocak: dua anak muda arogan dengan latar belakang yang amat berlainan memulai percakapan dengan saling melempar ucapan sarkastik (Marx menyebut Engels sebagai seorang “amatir”) untuk berakhir dengan pujian atas tulisan satu sama lain. Keduanya lantas menghabiskan sepuluh hari bersama yang intens di Paris, berbagi berbotol-botol anggur, bermain catur, diskusi-diskusi keadaan sosial dan politik Eropa, dan bersepakat tentang poin-poin teoretis-filosofis terpenting. Di film, sementara Marx adalah seorang filsuf yang menjalani hidup romantik sebagai penulis, Engels disorot sebagai anak borjuasi yang jatuh hati ke buruh-pejuang bernama Mary Burns (diperankan Hannah Steele) yang meski punya asal kelas berbeda, serta digambarkan relatif kurang berbudaya dibanding Marx, Engels, atau Jenny Marx, namun berjasa besar menarik Marx dan Engels dari dunia pemikiran ke gerakan buruh dengan mengenalkan keduanya ke orang-orang dari organisasi yang jadi cikal bakal Internasional: League of The Just. Sosok Mary Burns di film ini, tampak kontras dibanding Jenny Marx yang dari aspek sikap-perilaku tampak amat berbudaya tinggi. Khas anggota keluarga aristokrat Prusia yang dengan mudah berbicara dalam bahasa Perancis, Jerman dan Inggris dengan sama baik dan menawannya. Lihat saja adegan Jenny menyela Proudhon di Paris. Tapi jangan keliru. Frau Marx punya pemberontakannya sendiri. Dengar saja yang ia katakan ketika Engels terheran kepada dirinya yang pergi dari kehidupan aristokrat yang nyaman: “Saya lari dari kehidupan membosankan”, kata Jenny, sebab “…kebahagian memerlukan pemberontakan…Dan saya berharap melihat dunia lama segera runtuh”.

Ditilik-tilik secara umum, sosok Marx di film ini persis dengan deskripsi yang pernah dicatat mata-mata pemerintah Prusia dulu. Karl Marx, tulis laporan itu, “menjalani kehidupan intelektual bohemian sejati… sekalipun ia tampak diam saja selama berhari-hari, ia bekerja siang malam dengan keuletan yang tak kenal lelah saat ada banyak yang harus dikerjakannya. Tak ada jam tetap baginya untuk tidur dan bangun. Ia kerap begadang semalam suntuk, dan lantas terbaring dengan pakaian lengkap di sofa saat tengah hari dan tidur hingga petang, tak hirau akan hiruk pikuk seisi dunia.” Saya sendiri puas dengan akting August Diehl (uniknya ia adalah orang yang sama yang memerankan seorang Kapten Gestapo di “Inglorious Basterds”) yang kurang lebih berhasil mem-visualisasikan sosok Marx muda yang selama ini terbayang: Yahudi, penuh energi, arogan, punya pemikiran mandiri, sulit kompromi ke pemikiran yang berseberangan dengan dirinya, namun sekaligus komikal, penuh satir, humor, dan rasa sayang yang tulus ke orang-orang terdekat.

“Untuk akal budi yang benar berpikir dan jiwa-jiwa bebas”, ucap Marx sambil mengangkat gelas sampanye-nya setelah meng-skakmat Engels di salah satu hari mereka di Paris. Kontras dengan Marx, sosok Engels muda tampak lebih dandy, berpostur tegap, rapi, klimis. Engels adalah sosok gentleman sejati yang jauh dari imej ‘berantakan’ yang lebih pas dilekatkan ke Marx. Jika sosok Marx mewakili relasi romantik yang intens, Engels muda mewakili relasi anak muda-orangtua yang pelik. Ia mesti mendamaikan kontradiksi antara keyakinan politik pribadinya, dengan posisi sosial sebagai anak seorang borjuasi terpandang asal Bremen. “Hidup itu sendiri adalah sebuah kontradiksi…” tulis Engels tua jauh hari kemudian di Dialektik der Natur.

Penggambaran dari lika-liku aktivitas tokoh-tokoh gerakan pekerja di Eropa abad-19 di film ini tidak lantas menghalangi filmnya, setidaknya hemat saya (yang jarang-jarang menonton film) untuk mudah dicerna. Alur filmnya relatif sederhana, umpamanya dibanding film-film Eropa yang pernah saya tonton. Film ini mainstream saja, tanpa pretensi untuk jadi avant-garde atau penuh paradoks seperti yang tadinya diduga untuk sebuah film yang menjinjing nama Marx. Lumayan lah, buat hiburan para fanboy Marx yang lagi usaha mati-matian studi ekonomi-politik. Tentu ada ketidakuratan historis di sana-sini. Misalnya soal Arnold Ruge yang sesungguhnya tidak pernah terlibat di jajaran editorial Rheinische Zeitung. Di luar hal-hal itu, apresiasi utama saya ke film ini selain pada dialog-dialognya yang amat menghibur jusru terletak pada plot film yang tidak lantas jatuh ke glorifikasi sosok Marx-Engels. Oleh sang sutradara, Marx dan Engels dipotret sebagai dua anak muda bersemangat, berbakat dan kurangajar (tergantung dari sudut mana menilai mereka) yang dengan caranya sendiri memberi kontribusi signifikan ke gerakan sosialis. Sutradara Raoul Pack menaruh Marx-Engels muda di konteks historis luas, yang justru bikin kita dapat membayangkan kondisi Eropa tempat lahirnya Marxisme. Keberhasilan film ialah kesuksesannya menempatkan yang privat dalam konteks sosial-ekonomis yang tertentu. Raoul Pack seolah ingin mengatakan jika gagasan-gagasan Marx-Engels tidak pernah berdiri sendiri, dan bahwa Marx-Engels bukan satu-satunya orang yang berjuang untuk gagasan-gagasan sosialisme. Yang benar malah sebaliknya, gerakan sosialis luas lah yang justru menginspirasi pemikiran keduanya. Andai saja bukan lagu Bob Dylan yang menutup film; delapan bintang untuk ‘Der Junge Karl Marx’—seribu bintang untuk Sosialisme ilmu.***

 

———–

[i] MECW, Vol.I: 132-182.


comments powered by Disqus