Pernah Membaca Marx?

Kredit ilustrasi: https://thecharnelhouse.org

 

PEMBACA kemungkinan besar pasti pernah membaca nama “Karl Marx”. Setidaknya sekali seumur hidup pembaca pasti pernah membaca nama Marx, di buku-buku, media massa, atau di internet. Pemikirannya yang besar bertahan hingga zaman kita sekarang, jadi rentang bersandar isu ilmu-ilmu sosial paling aktual, menghubungkan krisis ekonomi-kebudayaan Eropa, kebangkitan Republik Rakyat Tiongkok, hingga dosa sejarah Bangsa Indonesia. Lebih dari semua itu, nama “Karl Marx” identik juga dengan cap “Komunis”. Tidak apa-apa, Karl Marx memang komunis.

Tapi pernahkah kita benar-benar membaca tulisan Marx? Pernahkah kita, membuka buku dengan nama Karl Marx di sampul depan? Membaca utuh satu saja karya tulisnya dari awal hingga tuntas? Sedikit saja menyisihkan waktu membaca, lalu mengernyitkan dahi demi memahami yang Marx tulis? Pernah, saya juga yakin, dan teks itu pasti bukan hanya “Sebelas Tesis Feuerbach”.

Setahun terakhir, saya membaca tulisan-tulisan Marx. Membaca, dan berusaha memahami apa yang sesungguhnya mau ia sampaikan. Saya beli satu buku ukuran Folio, saya catatkan hasil pemahaman saya tiap-tiap sehabis membaca Marx di sana. Tahun ini saya memilih buku Das Kapital sebagai buku yang mau dibaca, sebab Manifesto Partai Komunis sudah saya tuntaskan; isi dari catatan ini kebanyakan adalah kutipan-kutipan langsung, sebagian lagi tafsir saya atas teks, komentar atas tafsir orang lain, pertanyaan-pertanyaan, ilustrasi, bagan, sedikit sejarah ekonomi-politik, hubungan dengan teks Marx(is) yang lain, hingga komentar-komentar ngalor-ngidul. Pembacaan tahun ini bukan yang pertama, saya sudah pernah membaca Marx di Sekolah Perhimpunan Muda sebelumnya. Saya kembali membaca Marx sebab kurang puas dengan pemahaman sebelumnya yang sepotong-sepotong dan cenderung sloganistik, tentu akibat rendahnya kapasitas pribadi.

Setahun membaca Das Kapital, beberapa teks lain, sambil tetap melaksanakan rutinitas selayaknya pemuda normal, saya berhasil menutup tahun dengan mencapai halaman ke-200 dari buku Das Kapital terbitan Penguin Books terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Ben Fowkes. Sebuah pengantar dari Ernest Mendel, satu pengantar penerjemah, dan tujuh kata pengantar & penutup dari edisi-edisi Kapital 1 berbagai bahasa oleh Marx-Engels yang ikut disertakan dalam buku ini saya lewati sebelum berhasil mencapai paragraf-paragraf awal seksi “Sirkulasi Uang” dari Bab 3 yang berjudul “Uang, atau Sirkulasi Komoditas”. Beberapa tahun mengenal Marx sepintas dan setahun ini kembali membaca Das Kapital, bikin saya berani tarik kesimpulan; membaca Marx memang susah, tapi bukannya tidak tertembus.

Kendala pertama membaca Marx adalah kendala bahasa. Marx menulis dalam bahasa Jerman abad ke-19 yang bagi kita yang tak mampu berbahasa Jerman, mesti puas dibaca lewat terjemahan Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesianya. “Kendala bahasa” ini termasuk juga kesulitan yang timbul akibat latar sosio-kultural penulis. Marx ialah seorang pemikir raksasa dengan referensi bacaan yang sangat luas. Dalam halaman yang sama di tulisannya, kita bisa menemukan ia menggambarkan penjelasannya dengan sebuah analogi di ilmu biologi lalu kutipan langsung dari sebuah karya satir. Hal-hal ini kadang mengecoh, tapi seperti semua kendala bahasa, ia bisa dilalui hanya dengan membiasakan diri.

Kendala kedua, adalah kendala yang timbul sebab kita tidak terbiasa membaca sebuah buku teoretis. Pernahkah sebelumnya kita membaca buku teori? Yang saya maksud sebagai buku teori di sini bukan sebuah buku “Pengantar Teori X” yang jamak ditemukan di toko-toko buku. Buku teori adalah buku yang isinya disusun terutama dalam bentuk sistem konsep-konsep yang ketat. Konsep yang satu bukan hanya saling berhubungan dengan konsep-konsep lain, tetapi juga saling menjelaskan. Masalah ketika menghadapi jenis buku seperti ini ialah metode menghapal yang sering kita gunakan dalam belajar di bangku sekolah tidak banyak membantu, sebab definisi satu konsep tidak dapat habis dalam satu kalimat. Definisi satu konsep mesti dilihat lagi dalam hubungannya dengan konsep-konsep lain yang terkait dengannya. Contohnya begini, apa yang dimaksud dengan “Kapital” dalam ekonomi-politik Marx? “Kapital”, dapat dimengerti sebagai “Nilai yang dapat memperbanyak dirinya sendiri”, sekaligus sebagai “Relasi sosial yang bertumpu pada eksploitasi tenaga-kerja”. Hal ini sebabnya mengapa masalah kesabaran dan ketelitian dalam membaca buku teori penting. Ini juga sebabnya mengapa sebuah buku teoretis umumnya bertahan lama dalam dunia pemikiran. Konsep-konsep yang hadir bisa dibaca dan ditafsir ulang tergantung fenomena yang hendak dijelaskan. Lebih lagi ini juga sebab mengapa metode asal kutip dalam mendapat definisi konsep dari sebuah buku teori sulit dipertanggungjawabkan.

Berjumpa dengan konsep-konsep artinya juga mesti membiasakan diri dengan laku abstraksi. Bagi pembaca seperti saya yang dididik secara formal dalam ilmu empiris, masalah abstraksi ini agak merepotkan. Konsep-konsep abstrak seringkali berada di balik penampakan empiris, kita tidak bisa meraba atau meninjunya. Kita kerap juga sulit menyaksikannya, melihatnya. Konsep abstrak berada di luar pancaindera, padahal pancaindera adalah sumber pengetahuan utama manusia. Tapi jangan salah, konsep-konsep abstrak ini sesungguhnya adalah sesuatu yang sangat-sangat nyata, ia justru esensi dari gejala-gejala yang bisa ditangkap pancaindera. Abstraksi konseptual digunakan sebab esensi dari kenyataan ini kerap berbentuk mekanisme-mekanisme. Kalau kapital bisa ditinju, ia pasti sudah lama K.O. dihajar Stalin.

Bagaimana dengan pembaca yang biasa dengan abstraksi, misalnya pembaca yang berlatar ilmu filsafat atau matematika? Saya yakin perkara yang abstrak-abstrak di atas jadi jauh lebih mudah. Tapi ada kendala terakhir, kendala yang paling besar dan paling sulit diatasi dalam membaca Marx. Tidak seperti dalam ilmu filsafat dan matematika, teori Marx pada dasarnya adalah teori mengenai kenyataan sosial yang spesifik. Di dalam tulisan-tulisannya ia sedang menyingkapkan ekploitasi, represi dan dominasi dalam masyarakat berkelas yang kita, para pembaca, tanpa terkecuali adalah bagian di dalamnya. Kita tidak bisa tidak adalah anggota dari satu kelas tertentu. Hal ini saya katakan paling berat sebab pada titik ini kita mesti sekaligus berhadapan dengan kesadaran penuh diri kita sendiri dan relasi-relasi sosial yang darinya kita hidup. Sadar untuk sadar, bahwa kesadaran individual kita yang kita kira unik, ternyata adalah bagian dari kesadaran sosial yang pada akhirnya (menurut saya ini bagian paling menyebalkan dari teori Marx) ditentukan oleh kondisi-kondisi material, oleh relasi-relasi kelas. Sulit sekali rasanya menerima pemikiran Marx sejauh kita tidak pernah memiliki, mengetahui, dan mengalami sendiri pengalaman kelas pekerja. Wajar sekali kalau kelas borjuasi anti-Marxisme. Yang penting disadari adalah mengapa kita yang bagian dari kelas pekerja juga mengalami kesulitan memahami Marxisme. Mengapa, meski sudah terlibat dalam perjuangan bersama rakyat, biar telah membaca Marx, kita tetap anti-sosialisme? Ini yang dapat diterangkan lewat teori hegemoni. Mengakui adanya hegemoni berarti mengakui kesadaran kelas pekerja pun dapat berada dalam lingkup ideologi kelas yang berkuasa, sekaligus dapat melepaskan diri darinya. Kita boleh sadar kelas sesaat ketika sedang khusyuk membaca Marx, tapi kesadaraan ini kemudian mesti terus menghadapi hegemoni harian lewat internalisasi nilai-nilai keluarga di rumah, dalam bincang-bincang ringan dengan kawan baik sehari-hari, dalam komentar-komentar santai di media sosial, belum lagi dari buku-buku pelajaran di sekolah, berita-berita media massa, ceramah di masjid, ketika menghayati lirik lagu band favorit, dan lain-lain sebagainya yang semuanya, dengan satu dan lain cara, menolak kesadaran baru kita yang tentu saja berlawanan dengan kesadaran sosial yang mainstream. Lihat, seberapa sering dan seberapa mudah gagasan “Semua manusia bersaudara”, atau “Kebenaran objektif tidak dapat dicapai oleh akalbudi manusia” kita lontarkan, terima, dan jadi patokan preferensi-preferensi sehari-hari dibanding menerima dan melontarkan gagasan “Buruh dan tani adalah sumber kekayaan masyarakat”?

Pemikiran Marx disebut revolusioner bukan hanya karena ia menulis kata “revolusi” yang banyak dalam tulisan-tulisannya. Pemikirannya bersifat revolusioner sebab ia menawarkan sudut pandang yang sama sekali berlawanan dengan kesadaran-kesadaran tatanan yang lama. Sebab pemikirannya menuntut kita, pembacanya, juga melakukan revolusi pemikiran. Yang terakhir ini adalah proses yang sama sekali tidak mudah sebab kita mesti berhadapan terus dengan kesadaran sosial sehari-hari yang justru lewatnyalah kita berelasi dengan orang lain. Oleh sebab itu proses ini tidak pernah berlangsung dalam sekali hentakkan. Ada rasa sakit dan tidak enak yang mesti dihadapi sendiri ketika kita mengalami mengalami “patahan-patahan pemikiran”, ketika kita memperoleh kesadaran baru yang menuntut kita meninggalkan (bahkan seringkali menentang) kebiasaan-kebiasaan berpikir yang lama. Marx sendiri juga mengalaminya ketika ia menentang kawan-kawan Hegelian Muda dan mentor sosialisnya P-J. Proudhon. Ini adalah proses normal dalam proses memahami pemikiran-pemikiran radikal. Jadi, kalau kita mengalami rasa kurang nyaman ketika mulai belajar memahami pemikiran Marx, tenang saja, itu tandanya kita di jalur yang benar.

Di luar kendala-kendala di atas, menurut saya desas-desus soal sulitnya Bagian Satu Das Kapital “Komoditas dan Uang” benar adanya. Pembaca yang baru pertama kali mengenal teks ini sangat disarankan untuk melompati bagian ini untuk langsung ke Bagian Dua, “Transformasi Uang Menjadi Kapital”. Saya sendiri dulu juga melewati bagian ini berkat dibimbing guru yang lebih berpengalaman. Saya hanya membaca dua seksi pertama yang menjelaskan relasi nilai-guna & nilai dan kerja-berguna dan kerja-abstrak untuk kemudian lompat ke Bagian Dua. Baru di pembacaan kali ini saya berani langsung masuk ke bagian-bagian angker itu. Hemat saya ini hanya kendala teknis yang mudah diatasi dan nyatanya tidak sesukar yang saya bayangkan sebelumnya. Marx menulis untuk kelas pekerja, bukan untuk anak indigo. Saya yang hanya bermodal waktu luang, rasa penasaran dan keberanian berpikir mandiri saja mampu melewatinya. Mereka yang serius mau tidak mau pasti mengembangkan disiplin, kesabaran, ketekunan, ketelitian, dan seperti yang dikatakan Ketua Mao, kejujuran dan kerendahan hati dalam petualangannya bersama Marx. Masalahnya hanya berani tidak membaca Marx?

Setahun membaca Das Kapital dan kesimpulan saya memahami Marx memang susah, namun bukannya tidak tertembus. Setahun membaca Das Kapital dan saya mendapat 200 halaman dengan pemahaman yang masih dangkal dan kemajuan yang lambat. Ribuan tahun membaca Marx dan mungkin pemahaman saya tak akan pernah seketat dan secanggih Martin Suryajaya. Tapi Marx sudah mati dan pemikirannya bukan lagi milik siapa-siapa. Kita semua bebas membaca dan menafsirkannya suka-suka. Mumpung di negeri ini Partai Komunis dilarang ada, mumpung membaca dan menafsirkan Marx belum berpengaruh ke nasib rakyat banyak.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus