The Very Best of Fluxcup

Pengantar oleh Martin Suryajaya

AMBYAR—itulah kesan pertama yang saya dapati ketika menengok sejumlah karya Yusuf Ismail A.K.A. Ucup A.K.A. Fluxcup di kanal video Youtube. Seniman video ini tidak menghasilkan karya-karya yang sekadar bermain-main bentuk dan akrobat citrawi—singkatnya, ia tidak menghasilkan screensaver dengan subteks yang punya pretensi mendalam dan cendekia seperti kebanyakan seniman video. Ia mengerjai tetek-bengek hidup kekinian: ideologi how to, ideal-ideal kepraktisan hidup, kultur fanboy dan segala obsesi atas ketrendian. Ia membuat seluruh konstruksi ideal itu ambyar berkeping-keping. Dalam amatan sekilas, si Ucup terkesan memparodikan segala sesuatu—membuat semuanya jadi lucu. Dalam arti itu, ia bisa saja disebut tengah menjalankan laku kritik ideologi: membuyarkan aura sakral dari berbagai aspek laku hidup kontemporer yang biasanya dikeramatkan—seperti misalnya, obsesi untuk menjadi relevan, kaya sekaligus keren. Fluxcup membuyarkan semua itu dengan gelak tawa.

Namun, kalau kita perhatikan lebih jauh, ada yang ganjil dalam parodinya. Yang ia hadirkan bukan sekadar lelucon yang bikin kita tersenyum atau tertawa lepas begitu saja. Dalam beberapa karyanya, lelucon itu juga menyebabkan rasa pening di kepala. Dalam hal ini, kita bisa memilah dua kategori parodi dalam karya-karya Fluxcup. Yang pertama adalah karya-karya plesetan yang bisa dinikmati tanpa sakit kepala—karya-karya yang tidak saya masukkan ke dalam mixtape The Very Best of Fluxcup ini. Dalam kategori ini, terdapat berbagai karya hasil dubbing atas potongan film atau klip lagu pembuka suatu film. Misalnya, Ksatria Batang Hitam yang memparodikan klip lagu Ksatria Baja Hitam. Ini tak jauh beda dengan parodi-parodi yang dibikin P Project dan Padhyangan 6 pada era ‘90-an. Intinya: bisa dinikmati sambil lalu.

Lain halnya dengan karya-karya parodi dalam kategori kedua—semua yang disertakan dalam playlist di atas. Karya-karya dalam kategori ini membikin kita sedikit pusing karena objek parodinya adalah bagian dari diri kita sendiri: kultus Radiohead di kalangan anak hipster, kultus Nine Inch Nails di kalangan para penggembira musik metal-industrial, kultus Pharell Williams di kalangan para fanboy musik pop gak jelas, sampai dengan subkultur anak Kiri yang gemar meniru-niru gaya leluhur-leluhur Kiri nusantara. Selain karena objeknya berada di sekitar kita, parodi jenis ini juga bisa bikin pusing-pusing karena eksekusinya cenderung membawa suasana senewen dan agak neurotik. Kita seperti dibawa untuk merasa buntu terhadap keadaan sekitar. Kita seperti diantarkan untuk sampai pada kesimpulan bahwa, dalam konteks kekinian, segala sesuatunya mubazir. Petuah-petuah moral, tips-tips sukses, ideal-ideal untuk jadi trendi, semuanya sama saja: taik kucing. Segalanya mentok dan sia-sia. Dan kesadaran akan kemubaziran segala sesuatu adalah awal dari perlawanan.

Daftar putar:

  1. KillYourIdol#1 Radiohead
  2. KillYourIdol#2-Nine Inch Nails
  3. Biar Makin Happy
  4. Video Tutoria: How To Bagaimana Caranya Untuk (Tontey)
  5. Video Tutoria #1 (bagaimana cara mengunggah video tutorial mengunggah video tutorial)
  6. Video Tutoria Mencoblos Air Mineral (Damarezky)
  7. Video Tutoria Menusuk Sate Tanpa Tusukan Sate (Rico)
  8. Video Tutoria cara membuat lukisan Van Gogh diatas kertas
  9. FCKP (Fluxcup : Chroma Key Project ) #5
  10. Rapat Tersesat
×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065 atas nama Vauriz Bestika. Terima kasih..

Kirim Donasi

comments powered by Disqus