Selamat Jalan, Bung Anantaguna!

Print Friendly, PDF & Email

Adakah duka lebih duka yang kita punya
kawan meninggal dan darahnya kental di pipi
tapi kenangan kesayangan punya tempat dalam hati

BARIS-barus di atas penggalan puisi karya Sabar Anantaguna. Puisi ini paling banyak dikutip, tapi jarang yang menyertakan judulnya: Potret Seorang Komunis. Barangkali kata komunis begitu menggentarkan kepala, hingga lidah pun terlanjur gemetar untuk mengucapkan.

Sabar Anantaguna barangkali tak terlalu populer bagi generasi kini. Penyair, esais, sosok penting di balik organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), peletup gagasan sastra revolusioner ini, kalah tenar dibanding para sastrawan Lekra lainnya. Anantaguna adalah generasi pertama sekaligus jajaran pimpinan pusat Lekra terakhir yang berpulang dalam usia 85 tahun, pada 18 Juli 2014.

Bagaimana bicara sastra Indonesia tanpa bicara tentang karya para sastrawan Lekra? Bagaimana bicara tentang puisi tanpa menyanding bait-bait puisi Anantaguna yang indah, magis dan begitu bernyawa?

Anantaguna lahir dengan nama Santoso bin Sutopangarso, di Klaten, Jawa Tengah pada 9 Agustus 1930. Ia penulis yang tekun dan produktif. Mula-mula menulis puisi, kemudian juga esai panjang dan cerpen. Banyak dimuat di Harian Rakjat koran milik PKI dan  Zaman Baru, Majalah Lekra di bawah pimpinan Rivai Apin. Anantaguna salah satu redakturnya. Beberapa bulan menjelang G30S, Lekra juga menerbitkan harian Kebudayaan Baru, digawangi oleh Anantaguna.

Di Lekra, Anantaguna adalah penggerak organisasi sekaligus penjaga gawang ideologi. Menjejak kiprah sebagai pendiri Lekra di Jogjakarta dan menjadi Anggota Sekretariat Pimpinan Pusat Lekra sejak 1959. Ia satu dari sedikit anggota Lekra yang sekaligus kader PKI.

Anantaguna berkawan karib dengan Njoto, salah satu pimpinan tertinggi PKI. Mereka pernah duduk satu kelas di MULO Solo. Perkawanan itu terajut hingga dewasa. Njoto, juga merupakan salah satu pendiri Lekra. Keduanya memiliki beberapa persamaan: kokoh memegang prinsip, tak banyak bicara serta lihai membuat syair-syair lembut namun menggugah.

Paska meledaknya peristiwa 1965, Anantaguna diciduk tentara dan ditahan di penjara Salemba. Dalam film dokumenter Tjidurian 19, garapan Lasya F. Susatyo dan M. Abduh Aziz, 2009, Anantaguna bertutur tentang peristiwa penangkapan itu berikut sepenggal kisah tentang kekasihnya, yang rela meninggalkan bangku kuliah dan bekerja menjadi baby sitter untuk bisa mengirim makanan kepadanya di penjara. Anantaguna pun dihajar gundah, sebelum akhirnya, pada sang kekasih, ia berujar ‘Kalau mau kawin, kawin saja. Sebaiknya kita tak usah ketemu. Tidak enak sama calon suamimu..’

Kekasihnya lantas pergi menikah. Anantaguna mengarungi laut ke dibawa ke Pulau Buru, hingga dibebaskan pada 1978. Di Pulau Buru, lahirlah puisi-puisinya yang begitu menawan. 13 tahun kebebasannya dirampas tanpa pernah diadili, menulis puisi adalah salah satu bentuk penghiburan, cara bertahan, sekaligus upaya menjaga mental politik dan ideologi.

Sebagaimana para tahanan politik lainnya, ia juga mengalami siksa mental dan fisik. Teror paling pedih adalah tatkala harus menyaksikan kawan-kawannya disiksa dan meregang nyawa. Penjara kemudian menjadi tempat terbaik ia hayati arti pedas kehidupan. Toh, Anantaguna menolak tunduk pada ketakutan. Ia anggap bahwa setiap persoalan harus sanggup ditaklukkan. Maka lahirlah selarik puisi Kepedasan Hidup:

Bila buah cabe bermatangan, dik, petiklah
biar pohonnya tidak cepat mati
Bila hati mematang, dik, petiklah
seperti kecapi
Tanpa persoalan hidup ini sudah mati!

Puisi-puisi yang diaduk dalam spirit yang sama, hasil permenungan intens atas kepahitan di balik tembok penjara, juga lahir dari tangan kolega di Lekra yang sama-sama ditahan di Pulau Buru, Sutikno WS. Puisi Kubur di Atas Bukit adalah kenangan perih Sutikno ketika menjadi saksi kematian dua orang kawannya di Pulau Buru.

Kembang mihong di bukit berbatu
Turun mengetukkan kesunyian
Jauh di dasar hatiku
Ah kalaulah biru itu kesetiaan
Alangkah mengharukan
Anak-anak yang istirahat di pengembaraan ini
Memeluk kedamaian abadi

Puisi-puisi Anantaguna, sebagaimana juga puisi Sutikno WS, memiliki nyawa serupa: kesetiaan pada ideologi. Tak ada gores sesal sebagai korban kebengisan politik. Ia juga berkisah tentang cinta, rindu, sunyi, bahkan juga menggamit kata bulan dalam puisinya. Semua ia rangkai dalam larik liris sarat permenungan. Tengoklah bait-bait keteguhan Anantaguna dalam Teka-Teki di Tembok

Cinta
diukur kesetiaan

Setia
diukur keteguhan

Teguh
diukur pendirian

Pendirian
dalam kata dan perbuatan

Paling monumental adalah Potret Seorang Komunis, yang dipuji Pramoedya Ananta Toer sebagai ‘prestasi sastra realisme sosialis.’

Adakah duka lebih duka yang kita punya
kawan meninggal dan darahnya kental di pipi
tapi kenangan kesayangan punya tempat dalam hati
Adakah tangis lebih tangis yang kita punya
badan lesu dan napas sendat di dada
tapi hasrat dan kerja berkejaran dalam waktu
Bila terpikir bila terasa bila kesadaran mencari dirinya
bila pernah ditakuti tapi juga disayangi
bila kalah pun berlampauan dan menang akan datang
adalah dada begitu sarat keinginan akan nyanyi
dan apakah yang aku bisa selain hidup
adalah bangga lebih bangga yang kita punya
di pagi manis daun berbisikan tentang komunis
begitu lembut begitu mesra didesirkan hari biru
Adakah cinta lebih cinta yang kita punya
sebagai kesetiaan yang berkibar di waktu kerja

Puisi ini merupakan gambaran paling nelangsa menyaksikan kawannya disiksa dan terkapar mati di depan mata. Anantaguna pun bertanya lirih: adakah duka yang lebih duka yang kita punya? Ikatan rasa yang kokoh, atas solidaritas dan ideologi. Kematian perih itu lantas ia pungkasi dengan sepotong frasa bertenaga: Adakah cinta lebih cinta yang kita punya sebagai kesetiaan yang berkibar di waktu kerja.

Anantaguna berada di barisan yang tegas bahwa Lekra harus mendorong seni kebudayaan rakyat. Lekra dibangun untuk memajukan rakyat, bukan hanya lembaga kebudayaan. Ia bersiteguh, karya terbaik adalah manifestasi dari turun langsung ke inti persoalan rakyat. Menyelami penderitaan rakyat, hingga ke pusat jantungnya.

27 Agustus – 2 September 1964, PKI menyelenggarakan Konfernas  Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) di Jakarta, diikuti para sastrawan dan seniman revolusioner seluruh Indonesia. KSSR adalah konferensi sastra dan seni pertama, sebagai hasil hasil sidang pleno CC PKI akhir 1963 yang menetapkan tentang pentingnya memberikan garis-garis pokok bagi penciptaan sastra dan seni revolusioner. KSSR bertekad bulat untuk mengabdikan sastra dan seni kepada kaum buruh, tani, dan prajurit. Anantaguna salah satu penggagasnya.

 

DI HARI TUANYA, sosok jangkung, berkacamata, berjanggut dengan tutur kata lembut ini dihajar penyakit Parkinson, yang membuat tangan dan kakinya mulai tertanggu. Anantaguna masih menolak menyerah. Ia masih rajin menyambangi perpustakaan, mengumpulkan data dan menulis dengan tangan beberapa esai. Okky Tirto, cicit RM Tirto Adhi Soeryo, pegiat Komunitas Mata Budaya yang kerap menemani hari-hari terakhir Anantaguna, masih mengingat jelas pesan Anantaguna padanya: ‘Menulislah tentang masa kini dan masa depan, karena masa kini sendiri sudah banyak keruwetan.’ Di bangsal rumah sakit, dengan lirih Anantaguna berucap pada Okky: ‘Kalau menderita itu sudah biasa, yang repot itu kalau jadi beban orang-orang..’ Hingga kini, Okky mengaku, kata-kata itu terus memantul di kepalanya.

Anantaguna memang sekokoh pokok karang. Setelah selama dua bulan bolak-balik masuk rumah sakit, akhirnya pada Jumat, 18 Juli 2014, ia menghembuskan nafas terakhir di bangsal sederhana RS Cipto Mangunkusumo.

Ia tak punya anak. Taty, istrinya, sedang terbaring lumpuh di Kalimantan. Anantaguna bersama istri sempat dirawat kerabatnya di Kalimantan selama 6 bulan, namun akhirnya kerabatnya kerepotan harus merawat dua orang usia lanjut yang sakit-sakitan. Dua bulan lalu, Anantaguna kembali ke Jakarta, hendak dirawat oleh kawan-kawan lamanya.

Irina Dayasih, putri Njoto menuturkan, ‘Lantaran keterbatasan biaya, kami hanya sanggup memulangkan Pak Anantaguna dari Kalimantan ke Jakarta. Istrinya masih di Kalimantan, dalam keadaan sakit. Itu salah satu yang bikin kesehatan Pak Anantaguna terus merosot…’

Sendirian dan sakit-sakitan, bolak-balik masuk rumah sakit dalam rentang dua bulan, hingga akhirnya digotong ke RSCM dan tak sadarkan diri selama 8 hari. Hingga hembuskan nafas terakhirnya, Ananataguna tanpa pernah tinggalkan pesan.

Usai sholat Jumat, 18 Juli 2014, ia dikebumikan di TPU Duren Sawit, Jakarta Timur. Matahari tengah terik-teriknya di atap langit Jakarta, ketika jasadnya diturunkan ke liang lahat. Diam dan sendiri.

Anantaguna tetap lah sekokoh pokok karang. Ia yang telah melintasi berlaksa badai, mereguk segala perayaan dan kepahitan hidup, selalu menatap langit dengan senyuman. Siang itu, sepotong puisi indah yang ditulisnya di penjara: Sisi Yang Cerah, seperti mengiringi kepulangan abadinya:

…kepahitan jika berlalu, jadi lagu sangat merdu….

Kepahitanmu sudah berlalu, Bung. Bersenandunglah dengan merdu. Tunduk hormat untukmu.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus