Kepada Anakku, Tentang Anak-Anak Muda Hebat Itu

Print Friendly, PDF & Email

Anakku

BEBERAPA hari lalu kubaca kabar di koran, seorang wartawan senior, disebut-sebut sebagai wartawan investigasi terhandal, gigih membela sang jendral yang tangannya berdarah-darah. Si penyuka kuliner yang jadi caleg partai Gerindra itu, melalui akun twitter-nya, menyanjung puja Prabowo Subianto sebagai prajurit sejati. Puncaknya, ia menyebut bahwa ‘penculikan aktivis itu sebagai antisipasi tindakan terorisme.’ Teroris!

Oh anakku, sungguh aku meradang. Bagaimana tidak, mereka yang diculik itu adalah kawan-kawanku! Kutulis surat ini Nak, pada engkau, 5 tahun usiamu, dengan harapan akan kaubaca setelah engkau dewasa. Biar kau memahami kepingan-kepingan sejarah ini, sebelum semakin dilupakan. Sebab kau tahu Nak, betapa mudahnya bangsa ini untuk lupa.

Baiklah, kumulai dari sebuah hari di tahun 1998. Negeri ini sedang siapkan hajatan besar: Sidang Umum MPR. Lalu belasan aktivis diculik. Sebagian kembali, sebagian tidak. Lantas poster berisi gambar wajah mereka berderet-deret di tembok, melekat di pohon, di sudut-sudut jalan. Poster itu dengan cepat menancapkan kata baru dalam sejarah Orde Baru: Penculikan aktivis.

Di poster itu, ada wajah yang sangat lekat denganku. Ada Herman, Bimo, Thukul, Suyat, dan Gilang. Kamu sebut saja Oom ya. Dan Pakdhe untuk Thukul.  1996, Oom Herman, berpipi gembul, kacamata berbingkai lebar, rambut selalu disisir rapi dengan belahan ke kanan. Dia, kau tahu, Nak, amat lantang berorasi. Bajunya selalu rapi, kendati kerap tidak ganti. Ia amat malas cuci baju. Kerap aku tahu, ia hanya menjemurnya, lantas dipakai lagi, berkali-kali. Ia memang agak jorok.

27 Juli 1996, ketika jalan Diponegoro diserang preman dan tentara, dan PRD mulai dicari-cari, ia, bersama Oom Rendro, diinstruksikan segera meninggalkan Surabaya. Ia tinggalkan sekretariat kami dengan tergesa. Punggungnya yang kukuh, langkahnya yang lebar, dengan tas besar warna hitam, pun pergi, tanpa menoleh lagi.

Oom Bimo, alisnya tebal. Mata agak sipit, dengan tahi lalat di bawah mata kanannya. Ia lihai bermain gitar. Suaranya pun bagus. Ia pandai menulis dan bikin kartun. Oom Bimo juga pandai melawak. Ah! Bagaimana mungkin aku lupa sebuah hari di ujung bulan Maret 1998: saat itu situasi ibukota sungguh mencekam. Beberapa kawan sudah diculik. Kami bertemu di sebuah halte bis di daerah Jakarta Barat. Kuberikan sebundel laporan, dan Bimo memberikan selebaran. Kami ngobrol singkat. Lantas pager-nya berbunyi. ‘Aku harus segera cabut. Kamu, hati-hati, ya..’ ujarnya sambil menjabat tanganku. Erat sekali. Jabat tangan paling erat yang pernah kurasa. Dan setelah itu, ia hilang. Dan setelah itu, wajahnya terpampang di poster-poster korban penculikan. Bimo, yang selalu ingatkan kawannya agar berhati-hati itu.

Sampai kini, Nak, aku seperti bisa merasakan erat genggaman tangannya. Hangat dan menguatkan.

Pakdhe Wiji Thukul? Aku pernah tunjukkan padamu, rekaman videonya ketika ia baca puisi. Berbaju merah kotak, syal di pundak, tangan menunjuk ke atas. Suaranya lantang, matanya menyala-nyala. Bait-bait puisinya, kautahu, Nak, sanggup membakar semangat anak-anak muda di jalanan. Dulu, bersama Suyat dan Gilang, kami meneriakkan lantang, lengkap dengan tangan terkepal: Hanya ada satu kata: LAWAN!

Mereka lah yang wajahnya berjajar di poster-poster itu, Nak. Mereka diculik, dan tak pernah kembali. Tim Mawar, pasukan di bawah Kopassus pimpinan Letjen Prabowo Subianto, yang melakukan operasi penculikan itu. Mereka hanya dihukum ringan dan kemudian naik pangkat. Prabowo dipecat dari tentara tapi tak pernah diadili. Ia tak pernah pertanggungjawabkan perbuatannya. Ia tak pernah seujung kuku pun minta maaf. Dan hari ini, 2014, dengan pongah ia proklamirkan diri sebagai calon presiden!

Alangkah mengerikan, jika bangsa ini membiarkan seseorang yang tangannya berlumur darah menjadi Presiden. Kita akan jadi bangsa yang halalkan sebuah kejahatan kemanusiaan!

Anakku, kautahu, kepahitan apa yang paling menusuk kalbu? Saat orang yang kaucintai hilang. Tanpa kepastian hidup atau mati! Tanpa kejelasan harus menunggu sampai kapan. Bayangkan para ibu ini: melewati lebih dari lima ribu malam yang letih dan sendirian. Tubuh-tubuh mereka mulai menua. Rambut beranjak memutih. Dan harapan yang mengembang pelan-pelan pudar. Kini, satu per satu dari mereka telah menemu ajal. Bapak Herman telah meninggal. Begitupun Bapak Suyat, serta Ibu Yani Afri. Satu persatu dijemput maut. Tanpa pernah tahu kejelasan nasib anaknya, hidup atau mati.

Bulan depan, Herman genap 43 tahun. Helai-helai uban pasti sudah merebak di kepalanya. Mungkin kumis tebalnya sudah dicukur. Dan yang jelas, ia pasti sudah mengganti kacamata berbingkai selebar pipi itu. Perutnya pasti gendut! Ya ya ya. Tapi aku yakin, tawanya masih hangat.

Anakku, kami pernah dipersatukan dalam sebuah cita-cita. Dalam situsi mencekam. Dalam banyak kepahitan. Kami saling menjaga, jiwa dan raga. Perkawanan itu, ibarat lengannya tertusuk bayonet, dan segera akan merembes darah dari jari-jari kaki ibumu ini! Kautahu keperihan itu tak terukur rasanya atas kehilangannya. Sakit dada ini, kala mereka yang diculik dan disiksa brutal ini disebut teroris. Kasusnya tak pernah diusut tuntas. Pelan dan pasti semakin dilupakan. Oh, sungguh ngeri membayangkan sundutan rokok, hantaman kursi besi, susunan balok es, hingga setruman listrik yang meremukkan badan.

Sesakit menyaksikan mereka yang berduyun-duyun bergandeng tangan dengan sang Jendral penculik. Berduyun-duyun menyanjung puja dan menjadi pembasuh dosa-dosanya. Aduh, sepahit-pahit hidup kita, jangan pernah kau buta hati, Nak! Rasa kemanusiaan harus dibasuh setiap pagi, biar semakin terang. Sehingga bisa membedakan mana besi mana loyang. Mana ksatria mana pecundang.

Anakku, Orde Baru telah sukses memberangus pikiran kritis. Orde sekarang, sukses memberangus ingatan sejarah. Orde yang mati-matian berusaha dirobohkan, kini disembah-sembah kembali. Soeharto, diktator dan koruptor kelas dewa langit itu kini  dipuja-puja. Golkar, partai garda depan pendukung Orde Baru, yang dulu ketika reformasi para petingginya terbirit-birit dikejar massa, spanduk-panduknya dibakari, kini kembali mengagung-agungkan zaman keemasan Orde Baru.

Tapi, jangan lupa, semua bobrok negeri ini akan abadi dalam ingatan bangsa ini. Ingatan rakyat akan jendral penculik, tetap menempel. Tak bisa dicongkel semena-mena dari rongga kepala. ***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus