Senyum Soeharto

Print Friendly, PDF & Email

Oase-IPJUMAT, 1 Maret 2013. Patung dan Rumah Sejarah Jendral Soeharto diresmikan di desa Kemusuk, Bantul, Yogyakarta, tanah kelahirannya. Dengan senyum lebar, putri sulungnya, Tutut Soeharto, membuka selubung patung berbaju militer setinggi 3,5 meter. Para tetamu, di antaranya menteri – menteri zaman Orde Baru, bertepuk tangan penuh haru.

patung-asuharto-2013

Probosutedjo, adik tiri Soeharto pidato berapi-api, tentang tujuan dibangun rumah itu, ‘Agar generasi pelanjut sejarah tidak kehilangan jejak Pak Harto dan selalu mengenang tanda-tanda kepemimpinannya!’ Tak lupa Probosutedjo menyertakan sanjung puji bahwa Soeharto pemimpin sederhana, tegas dan berjiwa besar.

Peresmian pada 1 Maret pun tak lepas dari urusan sanjung puji. Tanggal itu bertepatan dengan peristiwa heroik Serangan Umum 1 Maret 1949, dimana Soeharto mengklaim sebagai penggagas sekaligus aktor sentralnya.

Koran–koran memuat berita peresmian patung itu sebagai peristiwa biasa saja, bahkan tak muncul secuilpun narasi 32 tahun kediktatoran yang lantas ditumbangkan 14 tahun silam. Tapi, rupanya 14 tahun sudah terlalu lama bagi bangsa ini, sehingga  baru 14 tahun para kroni Soeharto sudah bisa memanipulasi sejarah dan membangun simbol-simbolnya.

Padahal Rumah Sejarah Soeharto yang sebenar-benarnya terentang dari Aceh, Timor Leste hingga Papua, yang berisi genangan darah. 1965 adalah fondasi awalnya membangun singgasana dengan rangkaian pembunuhan, penyiksaan dan penghilangan paksa jutaan orang. Efeknya juga luar biasa. Melumpuhkan keberanian dan nalar. Hingga pembungkaman kolektif yang berlangsung berpuluh-puluh tahun setelahnya.

Eksploitasi perut bumi, dimulai beberapa minggu setelah Soeharto dilantik sebagai Pejabat Presiden. 7 April 1967, ia langsung meneken ijin Freeport, raksasa tambang Amerika Serikat untuk mengeruk tembaga di gunung Ertsberg, Papua. Sebagai payung hukum, disahkan UU No 1 tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing. Setelah itu, berderet-deret praktik pengerukan tambang, laut dan hutan. Semua diobral dan dikorup bersama-sama para kroni.

Parade represi pun berderet di sekujur nusantara. Segala kritik dan suara yang dianggap jadi gangguan dibungkam dengan sepatu lars dan kokang senapan. Ribuan yang mati terjungkal di Aceh, Lampung, Tanjungpriok, Timos Leste, Ambon hingga Papua.

1998, Soeharto tumbang. Foto-fotonya dibakari di jalan-jalan. Simbol-simbol kebesarannya runtuh. Ia mulai diperiksa Kejaksaan Agung dengan tuduhan korupsi. Toh hingga mangkat kasusnya tak pernah diusut tuntas. Kejahatan kemanusiaannya, bahkan tak secuilpun tersentuh.

Soeharto masih bernasib baik, dia melenggang aman hingga liang kubur. Tak seperti  Jenderal Jorge Videla, diktator Argentina divonis seumur hidup atas pembunuhan dan penyiksaan yang dilakukannya semasa berkuasa. Vonisnya jatuh di usianya ke 85. Atau seperti Jendral Elfrain Rios Mont, mantan presiden Guatemala, di usia 86 ia terduduk kelu di kursi terdakwa untuk kasus pembunuhan massal tahun 1982-1983. Slobodan Milosevic, mantan presiden Yugoslavia diadili untuk kasus genosida dan kejahatan perang. Tahun 2006, ia mati kesepian di sel tahanan sebelum vonis dijatuhkan.

Dan Soeharto, 10 tahun berselang setelah tumbang, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) membuat sebuah iklan besar di televisi mengiklankan Soeharto sebagai Guru Bangsa dan Pahlawan Nasional. Tahun 2010, mereka mengusulkan Soeharto sebagai pahlawan nasional. Nasibnya sungguh baik bukan?

Kita memang miskin imagi atas Indonesia yang indah dan sejahtera. Orang berkelana mencari pada kemegahan masa silam, lantas terbius kepingan-kepingan palsu : Harga sembako murah, sekolah murah, senyum petani di Klompencapir, dan potret negara yang hirau pada pertanian, hingga harga kentang, cabe keriting dan wortel tanpa daun pun disiarkan radio setiap malam. Lupa bahwa semua dibangun di atas tindak represi dan korupsi.

Orang bosan pada pemimpin memble seperti sekarang. Jengkel setengah mati dengan aneka silat lidah dan retorika politik usang. Sepotong senyum Soeharto kembali berkelebat. ‘Biarpun punya salah, toh dia berandil besar membangun negara ini,’ demikian obrolan yang mampir di terminal dan warung kopi.

Bayangkan 10 tahun mendatang, gambaran apa yang dipunyai anak-anak muda akan sosok Soeharto? Bisa jadi, mereka menganggapnya benar-benar pahlawan. Mungkin mereka mengidolakannya sebagai sosok pengayom dan murah senyum. Mungkin gambarnya muncul di kaos–kaos seperti Che Guevara. Barangkali juga akan segera muncul kasak-kusuk bahwa Soeharto adalah korban sebuah konspirasi busuk.

Di Kemusuk, Bantul, patung Soeharto berdiri mentereng. Berjarak beberapa kilometer, jasad Fuad Muhammad Syafruddin rebah. Udin, wartawan yang mati dibunuh pada Agustus 1996 lantaran mengungkap korupsi bupati Bantul. Belasan tahun, kasusnya tak pernah terungkap. Kasus itu juga melibatkan lurah Kemusuk, kerabat Soeharto.

Piye kabare? Masih enak jamanku to?’ Begitu deretan huruf yang melintang di sebuah bak truk yang melintas di ruas tol Cikampek. Seraut senyum mengembang, seperti mengejek. Mungkin menertawakan bangsanya yang blingsatan tak berdaya. Bingung menentukan mana pahlawan, mana diktator. Siapa pemimpin dan siapa koruptor. Di negeri ini, bahkan kita harus bekerja keras, sangat keras, untuk tidak frustasi, hilang akal, dan hilang ingatan.***

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus