Kamisan

Print Friendly, PDF & Email

Oase-IPANGGAP saja ini anekdot

Pernah diajukan tanya. Tak pasti jawabannya. Sederhana pertanyaan itu. Semua diawali dengan kata andaikan—agar imajinatif:

Andaikan, mamaknya Herman Hendrawan melihat teman-teman seperjuangan anaknya sekarang asyik masyuk dengan pensiunan jenderal, apa yang ada di benaknya? Andaikan, anak  Wiji Thukul menyaksikan di televisi kawan-kawan  seperjuangan bapaknya mendukung pensiunan jenderal, apa yang ada di pikirannya?

Ibu-bu itu mulai berdiri di seberang Istana tanggal 18 Januari 2007. Setiap Kamis. Ketika matahari berjalan menuju  senja, mereka berkumpul. Tak ada orasi. Tanpa agitasi. Hanya sesekali membagikan selebaran. Ada yang mendekap foto anaknya. Ada yang diam saja. Menghadap arah Istana warisan Gubernur Jenderal Louden.

Yang dilakukan ibu-ibu itu sama yang dijalani oleh ibu-ibu di Plaza de Mayo (Mothers of the Plaza de Mayo), Agentina. Sore juga. 30 April 1977, mereka memulai. Dengan kerudung putih. Memprotes dalam diam atas hilang dan dibunuhnya anak-anak mereka oleh diktator Junta Militer Argentina—militer mengaku menculik 9 ribu orang, tapi pengakuan ini dianggap isapan jempol. Tragedi itu bersamaan dengan  usaha Amerika Serikat menyapu ideologi kiri dari Amerika Latin. Ketika itu Perang Dingin melawan Uni Sovyet tengah berkobar.

Teror segera muncul. Esther Careaga dan Maria Eugenia Bianco, dua tokoh aksi diam itu, hilang. Tapi yang lain tak mundur. Empat belas orang menjadi pelopor. Kini sudah ratusan.

Mungkin sulit dicerna, ibu-ibu itu berdiri di Plaza de Mayo setiap Kamis, selama 30 tahun lebih. Tak tahu persis, keteguhan apa yang mereka miliki. Sepertinya grup musik U2 benar, di Plaza de Mayo, ibu-ibu itu ingin mendengar degup jantung, tawa dan tangis anak-anak mereka yang tak kembali:

‘Dengarlah degup jantung mereka
Kami mendengar degup jantung mereka….
Lewat angin kami mendengar tawa mereka
Lewat hujan kami melihat tangis mereka.’ (Mothers of the Disappeared)

Di Plaza de Mayo, persis di depan istana kepresidenan Argentina Casa Rosada, semua itu bisa di dengar dan di lihat.  Di seberang istana Presiden di Jakarta, ibu-ibu itu juga ingin merasakan hal yang sama. Adakah yang peduli?

Sepertinya mereka sedang mendayung di laut yang senyap. Peristiwa itu tak banyak dibicarakan. Mungkin pada upacara-upacara tertentu: 10 Desember, misalnya. Setelah itu akan menguap. Harapannya pada gerakan kiri—sebagaimana di Argentina dan negara lain. Tapi gerakan kiri di Indonesia masih sibuk berdebat: Apakah situasi sekarang sesuai dengan Rusia 1917? Lebih revolusioner mana membela proletar atau lonte? Memilih mana, memakai rok mini atau celana pendek dalam aksi? Mereka masih berada di dunia angan-angan.

Kita juga sulit menebak perasaan mantan-mantan aktivis yang ada di dalam Istana. Apa yang mereka pikirkan  saat  menyaksikan ibu-ibu, yang sebagian telah memutih rambutnya dan renta itu, berdiri di seberang Istana? Apakah mereka tak risih? Bukankah di antara korban-korban penghilangan paksa itu kawannya sendiri? Tentu akan banyak alibi untuk menjawabnya. Ini bukan perkara moral. Tapi tentang sikap politik. Baiklah, Machiavelli telah berhujah: boleh berlaku apa saja ketika berpolitik. Tapi politik macam apa yang sedang mereka lakoni?

Yang berada di dalam  Istana tentu punya penderian politik yang berbeda dengan yang di seberang Istana. Kekuasaan menghendaki seribu satu argumen untuk berdalih. Keluarga korban penculikan dan pembantaian hanya ingin satu saja: pertangungjawaban.

Baiklah, tak perlu melankolis. Jarak ingatan memang hanya sejengkal. Petilan sajak George Orwel mungkin bisa melukiskannya:

‘Namamu dan jasamu dilupakan
Sebelum tulang-tulangmu mengering
Dan kebohongan yang membunuhmu dikuburkan
Di bawah kebohongan yang lebih dalam.’

Mungkin—maaf kalau keliru—mantan-mantan aktivis yang ada di Istana itu sedang sibuk mengubur kebohongan. Tak sadar, karena bergegasnya, tak ingat lagi ada kawan mereka yang belum kembali. Sepertinya—semoga ini salah—sejak awal mereka sudah melupakan kejadian itu sebelum tulang-tulang kawan-kawannya yang hilang itu mengering. Pantaskah kita bersedih?

Tapi ibu-ibu itu tetap berdiri di seberang Istana setiap Kamis. Mereka tak mengharapkan kesedihan atau belas kasihan. Hanya ingin memanjangkan  ingatan  kita: masih banyak yang belum kembali. Juga mengingatkan: kekuasaan hitam dan tentaralah pangkal penyebab prahara itu, dan  tak ada pengadilan hingga sekarang.

Semua itu mengingatkan pada sosok Camelia—tokoh dalam novel Miguel Angel Asturias: The President.

Camelia hanya bisa menunggu ketika suaminya, Si Muka Malaikat, diculik. Cerdik Asturias menggambarkannya. Setelah kepergian itu, Camelia menunggu kedatangan tukang pos yang konon akan membawa surat dari suaminya. Sembari menjahit pakaian untuk calon bayi yang ada di perutnya, Camelia berharap tukang  pos mampir. Tiba-tiba tukang pos itu lewat. Hatinya berdebar-debar. Tapi ternyata tak singgah. Camelia masih bisa berlega hati: mungkin besok surat dari suaminya akan datang.

Sebulan, dua bulan, tiga, empat….surat dari suaminya tak pernah datang. Camelia tak lagi duduk di kamar yang menghadap ke jalan. Ia tiba pada satu titik: suaminya telah hilang. Baginya, jalan—tempat orang datang dan pergi—tak akan membawa suaminya kembali lagi.

Perasaan ibu-ibu yang anaknya dihilangkan tentu beririsan dengan debur emosi dalam diri Camelia. Mereka menunggu dan menanti. Senin, Selasa, Rabu…. Berganti minggu, bulan, tahun. Akhirnya sampai di depan Istana. Camelia ke luar rumah dengan janin di perutnya. Ia ingin bertemu Tuan Presiden. Bertanya di mana suaminya. Laku Camelia tak membuahkan hasil: Tuan Presiden tak menerimanya. Camelia menempuh banyak jalan: mengirimkan telegram, surat, dan permohonan resmi—semuanya mental.

Tak jauh beda dengan Camelia, ibu-ibu yang berdiri di depan Istana juga tak pernah digubris oleh Tuan Presiden. Konon—semoga ini hanya dongeng—mereka telah menulis 194 surat kepada Tuan Presiden. Tak satupun berbalas.

Maaf, kalau semua ini hanya andaikan:

Andaikan, ibunya Suyat mengetahui karib-karib seperjuangan anaknya saat ini satu barisan dengan pensiunan jenderal, apa pandangannya? Pun, andaikan, bundanya Bimo Petrus  mendapati konco-konco seperjuangan anaknya duduk mesra dengan pensiunan jenderal, apa yang ada di angannya?

Ibu-ibu berbaju dan berpayung hitam itu memang sendiri. Persis syair lagu Sting— They dance alone. Dengan alegori dansa, Sting bersenandung:

‘Mereka berdansa untuk yang mati
Mereka berdansa untuk yang tak kasat mata
Dukacita tak terkatakan.’

Bagi ibu-ibu itu, anak-anak mereka yang hilang itu hanya pergi bermain. Sore nanti akan pulang dalam dekapan. Berdansa bersama.

Ah, andaikan semua ini bukan anekdot.***

Lereng Merapi. 5 Juli 2012.

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.