Manifesto Komunis dan Masyarakat Non-Barat

Print Friendly, PDF & Email

SEBAGAI sebuah dokumen paling bersejarah dalam gerakan kiri sedunia,Manifesto Komunis (selanjutnya disebut Manifesto), telah menjadi sumber inspirasi sekaligus kontroversi teoritik dan gerakan sejak kemunculannya pada Februari 1848.

Karl Marx dan Friedrich Engels, sebagai penulis Manifesto, ternyata sangat sadar akan hal itu. Dalam Pengantar untuk edisi Jerman (1872), keduanya mengatakan bahwa “secara keseluruhan pernyataan-pernyataan yang ada  dalam Manifesto, dalam 25 tahun terakhir hingga hari ini adalah benar. Namun, dalam beberapa detailnya perlu untuk disempurnakan.” Adapun secara praktikal, keduanya mengatakan bahwa ”penerapan dari isi Manifesto ini sangat tergantung pada waktu dan kondisi-kondisi sejarah di setiap negara.”

Yang menarik, Marx dan Engels juga mengatakan, karena Manifesto telah menjadi dokumen historis maka keduanya tidak punya hak apapun untuk mengubah hal-hal yang dipandang keliru dalam Manifesto. Apa yang bisa mereka lakukan adalah membuat kata pengantar untuk setiap edisi baru terbitan Manifesto, sebagai jembatan penghubung ke  periode 1848.

Akibat dari kebijakan ini, maka banyak isu-isu penting yang digarap Manifesto melahirkan kontroversi dan penafsiran yang saling bertentangan. Salah satunya adalah tuduhan bahwa pandangan Marx tentang corak produksi Asiatik atau masyarakat  non Barat sangat modernis dan orientalis. Dan karena kebijakan yang tak ingin melakukan edisi revisi, maka tuduhan ini dianggap memiliki dasar yang kuat.

Tetapi, sebagaimana ditunjukkan oleh studi sosiolog Kevin B. Anderson, pandangan Marx tentang masyarakat non-Barat ini mengalami perbedaan yang signifikan antara periode 1848 dan periode setelah 1853. Jika dalam periode 1848, Marx seperti mendukung tesis-tesis modernisme, maka dalam periode setelah 1853 Marx sebaliknya menentang tesis-tesis modernisme.  Masih menurut Anderson, kesimpulan bahwa Marx mendukung kolonialisme disebabkan oleh cara pembacaan yang deterministik dan selektif terhadap teks-teks Marx menyangkut masyarakat non-Barat.

Dalam rangka merayakan ulang tahun Manifesto ini, saya ingin menunjukkan mengapa tuduhan bahwa Marx mendukung kolonialisme itu muncul.

Masyarakat berkembang secara linier

Seperti yang kita ketahui bersama, teori modernisme mengatakan bahwa perkembangan masyarakat berlangsung secara linear, yakni dari masyarakat agraris dan terbelakang menuju masyarakat industrial dan maju.

Teori tahap-tahap perkembangan masyarakat yang linear itu dengan sangat gamblang di kemukakan oleh Walt Whitman Rostow, atau yang lebih terkenal dengan nama W.W. Rostow. Dalam bukunya,  The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto,[1] Rostow mengatakan bahwa masyarakat berkembang dalam lima tahapan, yakni (1) tahap masyarakat tradisional; (2) tahap pra-kondisi untuk tinggal landas; (3) tahap tinggal landas; (4) tahap kearah kematangan; dan (5) tahap konsumsi massa yang tinggi.  Tetapi, yang lebih penting dari sekadar tahapan-tahapan ini, teori modernisasi mengatakan,  “jika negara agraris dan terbelakang ingin menjadi negara industri dan maju, maka mereka harus mengikuti jalan yang pernah ditempuh oleh masyarakat industrial maju tersebut.”

Kenapa harus demikian? Karena teori ini percaya bahwa kemiskinan dan keterbelakangan itu berakar pada kondisi-kondisi internal negara agraris-terbelakang tersebut. Misalnya, karena kualitas sumberdaya manusia yang rendah (pemalas, tidak punya tradisi berpikir kritis, lebih percaya percaya tahyul ketimbang ilmu pengetahuan yang rasional, tak punya motivasi berprestasi, dsb), rendahnya tingkat tabungan,  tingkat investasi, pasar yang terbatas, dll., yang oleh ekonom Ragnar Nurkse disebut sebagai lingkaran setan kemiskinan. Dengan kondisi internal seperti itu, maka masyarakat agraris tradisional ini tak mungkin terentas dari keterbelakangannya melalui usahanya sendiri. Rantai kemiskinan itu  harus diputus melalui injeksi dari luar.

Lantas, apa hubungannya dengan Manifesto, sebab teori modernisasi itu  sendiri  lahir pasca Perang Dunia II? Untuk mengetahuinya, kita mesti berjalan dengan  agak sedikit melingkar. Marxisme sebagai metode dan panduan dalam memahami serta melawan kapitalisme, lahir dari pengalaman ekonomi politik Eropa Barat, khususnya Inggris, pada abad ke-19. Dalam kasus Eropa Barat, perkembangan kapitalisme tampak berlangsung secara linear, sebagaimana yang dijelaskan Marx dan Engels dalam karya polemis mereka The German Ideology. Dalam buku tersebut, keduanya menjelaskan tahap-tahap perkembangan masyarakat dari tahap komunal purba, ke tahap masyarakat perbudakan, masyarakat feudal, lalu masyarakat kapitalis, dan berakhir pada tahap komunisme.[2] Dalam Capital Volume I, perkembangan yang linear muncul dalam kalimat, “negara terbelakang melihat negara industri maju sebagai gambaran dari masa depannya.[3]

Tetapi, tafsir linear itu ternyata tidak hanya terbatas pada ruang lingkup masyarakat  Eropa Barat. Kembali mengutip  Anderson,[4] dalam the Communist Manifesto, pandangan Marx dan Engels yang linear  terhadap masyarakat non-Eropa itu  muncul dalam kalimat:

“Kaum borjuis, melalui perkembangan cepat alat-alat produksi, perkembangan pesat sistem komunikasi, telah mengintegrasikan semua negara, bahkan yang paling barbar sekalipun, ke era peradaban. Harga komoditi yang murah adalah senjata artileri berat yang sanggup memorak-porandakan tembok Cina, lalu memaksa negara-negara barbar yang keras kepala dan senantiasa diliputi rasa kebencian yang mendalam untuk tunduk pada kekuatan asing; memaksa seluruh bangsa, dengan rasa sakit yang menyayat, untuk mengadopsi corak produksi borjuasi; secara paksa memperkenalkan mereka, dan apa yang disebut dengan peradaban itu harus dipaksakan masuk ke dalam lingkungannya, supaya mereka menjadi borjuasi. Ringkasnya, ia menciptakan suatu dunia menurut bayangannya sendiri.

Kaum borjuis telah menundukkan desa kepada kekuasaan kota. Menciptakan kota-kota besar, yang dihuni oleh penduduk dalam jumlah besar dibandingkan dengan penduduk desa, dan karenanya telah menyelematkan mayoritas penduduk dari kehidupan pedesaan yang terisolasi. Seperti halnya borjuasi menjadikan desa tergantung pada kota, demikian pula negara-negara biadab dan semi-biadab tergantung pada negara-negara yang lebih beradab,  bangsa petani kepada bangsa borjuis, Timur kepada Barat.”[5]

Dua paragraf yang muncul dalam Manifesto Komunis ini, telah menimbulkan kritik yang sangat keras terhadap Marx. Namun, sebelum kita masuk pada kritik terhadap Marx, ada baiknya kita kembali melihat pondasi teoritik dari pernyataan ini, yaitu pada Pengantar untuk buku A Contribution to the Critique of Political Economy. Di sana Marx menulis:

“Pada tahap perkembangan tertentu, kekuatan produktif material sebuah masyarakat berhadap-hadapan secara konfliktual dengan hubungan sosial produksi yang ada atau – dalam ekspresi yang sama dengan pengertian legal – dengan hubungan kepemilikan dalam kerangka kerja yang beroperasi saat itu. Dari bentuk-bentuk perkembangan kekuatan produktif, hubungan sosial ini kemudian membelenggunya. Lalu dimulailah era revolusi sosial….Tak ada  orde sosial yang bisa dihancurkan  sebelum seluruh kekuatan produksi yang tersedia saat itu berkembang, dan sebuah hubungan produksi baru yang superior tidak akan bisa menggantikan yang lama sebelum kondisi-kondisi material bagi keberadaannya berkembang pesat dalam kerangka kerja masyarakat lama.”[6]

Dengan tafsir yang deterministik, Shlomo Avineri mengatakan bahwa Marx secara eksplisit menghubungkan kondisi sosial-ekonomi dunia non-Eropa  pada filsafat sejarahnya yang umum ini. Dengan mengatakan bahwa  “Tak ada  orde sosial yang bisa dihancurkan  sebelum seluruh kekuatan produksi yang tersedia saat itu berkembang, dan sebuah hubungan produksi baru yang superior tidak akan bisa menggantikan yang lama sebelum kondisi-kondisi material bagi keberadaannya berkembang pesat dalam kerangka kerja masyarakat lama,” maka Marx jelas sekali menganggap bahwa kapitalisme adalah sebuah sistem yang revolusioner. Tentu saja Avineri  tidak mengabaikan kritik Marx terhadap kapitalisme sebagai sistem yang eksploitatif, brutal, dan merusak, tetapi dalam konteks dunia non-Barat, Avineri menganggap Marx sepertinya mengabaikan aspek destruktif kapitalisme karena menganggap hanya kapitalismelah yang sanggup “menciptakan infrastruktur ekonomi dan teknologi yang memungkinkan masyarakat memfasilitasi perkembangan bebas setiap anggotanya sesuai dengan kapasitasnya.”[7] Di sini Avineri mengutip pernyataan Marx dalam artikelnya “The Future Results of British Rule in India”:

“Inggris harus menggenapi misi gandanya di India: pertama misi destruktuif, kedua misi regenerasi – mengabaikan masyarakat Asiatik lama, dan meletakkan fondasi masyarakat Eropa di Asia.”[8]

Dari tafsir yang deterministik ini, dalam hubungannya dengan negara-negara non-Barat, berhamburan kritik terhadap Marx dan Engels. Pertama, merujuk pernyataan keduanya dalam Manifesto Komunis, maka kedua pendiri ajaran sosialisme ilmiah ini dianggap sebagai penganut teori modernisasi, yang meyakini kapitalisme sebagai sistem produksi sosial yang bersifat universal dan lebih beradab ketimbang sistem produksi sosial non-kapitalis; kedua, Marx dan Engels menaruh harapan besar di pundak kaum borjuasi sebagai juru penerang yang akan membawa kelas sosial lainnya ke masa depan yang lebih maju. Di sini tersurat keyakinan bahwa negara-negara non-Barat secara internal tidak akan sanggup keluar dari keterbelakangannya, tidak bisa menjadi negara kapitalis melalui usahanya sendiri, karena struktur sosialnya yang statis tersebut; dan ketiga, bagi negara-negara non-kapitalis tidak ada jalan lain untuk menjadi beradab kecuali menempuh jalan yang telah dilalui oleh negara-negara kapitalis di Barat dan mengintegrasikan diri ke dalamnya.

Konsekuensi dari pandangan modernis ini, Marx dan  Engels suka tidak suka harus mendukung ekspansi kolonialisme Barat kepada Timur. Demi kemajuan dan peradaban yang lebih baik, tidak masalah jika “…. desa tergantung pada kota, …. negara-negara biadab dan semi-biadab tergantung pada negara-negara yang lebih beradab,  bangsa petani kepada bangsa borjuis, Timur kepada Barat.” Jika negara-negara biadab dan setengah biadab itu menolak jalan kapitalisme, maka mereka harus dipaksa “dengan rasa sakit yang menyayat, untuk mengadopsi corak produksi borjuasi dan apa yang disebut dengan peradaban itu harus dipaksakan masuk ke dalam lingkungannya, supaya mereka menjadi borjuasi.”

Inilah kata Shlomo Avineri:

“…dan sejak Marx mempostulatkan bahwa tujuan akhir kemenangan sosialisme harus didahului dengan universalisasi kapitalisme, maka mau tidak mau ia harus mendukung ekspansi kolonial Eropa yang brutal itu, karena hal tersebut merupakan langkah maju menuju kemenangan sosialisme. Sebagaimana horor industrialisasi adalah kebutuhan dialektik bagi kemenangan komunisme, maka horor kolonialisme secara dialektik dibutuhkan untuk revolusi dunianya kaum proletariat karena tanpa proletariat maka negara-negara Asia (dan agaknya juga Afrika) tidak akan sanggup membebaskan dirinya sendiri dari kungkungan keterbelakangannya.”[9]

Kritik keras terhadap Marx berkaitan dengan pandangannya soal negara-negara Non-Eropa, juga dikemukakan oleh Edward Said, yang terkenal dengan teorinya tentang Orientalisme. Menurut Said, di luar humanismenya yang luar biasa, Marx ketika berbicara tentang negara-negara non-Eropa pada akhirnya tidak bisa melepaskan dirinya dari perspektif seorang orientalis.

“dalam artikel demi artikelnya, Marx selalu kembali kepada keyakinan yang semakin meningkat akan gagasan bahwa walaupun Asia telah hancur akibat kolonialisme Inggris, tetapi hal itu telah menyebabkan revolusi sosial di sana menjadi mungkin.”[10]***


Coen Husain Pontoh, Mahasiswa Ilmu Politik di City University of New York (CUNY)

[1] W.W. Rostow, “The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto,” Cambridge University Press, 1990.

[2] Untuk diskusi yang lebih rinci, lihat Karl Marx with Friedrich Engels, “The German Ideology Includes: Theses on Feuerbach and the Introduction to the Critique of Political Economy”, Promotheus Books, 1998, p.39-41.

[3] Karl Marx, “Capital Volume I”, Penguin Books, 1990, p. 91.

[4] Kevin B. Anderson, “Marx at the Margins On Nationalism, Ethnicity, and Non-Western Societies,” The University of Chicago Press, 2010.

[5] Karl Marx and Frederick Engels, “The Communist Manifesto A Road Map to History’s Most Important Political Document,” edited by Phil Gasper, Hatmarket Books,  2005, h. 45-46.

[6] Karl Marx, “A Contribution to the Critique of Political Economy”, edited, with an Introduction by Maurice Dobb, International Publisher, NY, 1989, h. 20-21.

[7] Shlomo Avineri (ed), “Karl Marx on Colonialism and Modernization His despatches and other  writings on China, India, Mexico, the Middle East, and North America,” Anchor Books, 1969, h. 3.

[8] Ibid., h. 15.

[9] Ibid., h. 13.

[10] Dikutip dari Anderson, op.cit., h. 17.

 

 

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus