Era Palu Arit dan Bintang Fajar

Aksi KNPB 2 Mei 2016, penangkapan di Uncen, Perumnas 3 Waena (foto: Zely Ariane)

 

SAYA pikir ini bukan era kelabu, walau elemen-elemen politik Orde Baru sedang mengganggu.

Sweeping buku-buku kiri, pembubaran diskusi, kriminalisasi aktivis, penangkapan massal, pelarangan berekspresi dan aksi, sesungguhnya adalah pola lama yang tidak pernah benar-benar berlalu setelah reformasi 1998.

Tetapi keadaan tidak lantas lebih buruk, karena teknologi informasi tidak saja mempercepat berita namun juga pengetahuan, kesadaran plus solidaritas. Diskusi-diskusi terkait 65 dibubarkan, aksi-aksi rakyat menuntut hak dikriminalisasi. Tetapi diskusi tidak berhenti, aksi pun tidak berhenti.

Rezim militer Indonesia memang belum goyah, ideologi warisan Orde Baru masih mengakar, tetapi tidak ada satu kekuatan politik dominan manapun yang bisa menguasai dan mengontrol keadaan saat ini. Ruang berkontestasi masih tersedia, jika, dan hanya jika, media sosial tidak diberangus, gerakan sosial tidak berhenti, rezim diktator tidak berkuasa kembali.

Banyak kejutan yang akan muncul, bergerak di hari-hari depan, tanpa satu kekuatan pun punya otoritas mengontrolnya. Setidaknya belum. Seberapa besar kekuatan alternatif sanggup maju memblokade, sekaligus membangun kekuasaan baru, adalah persoalan lain lagi.

Era baru ini, saya sebut sebagai eranya Palu Arit dan Bintang Kejora (baca: Bintang Fajar). Sebuah era yang digerakkan oleh generasi baru, yang sedang menghancurkan mitos palu arut di sini; menegakkan bintang fajar di sana. Sebuah pergerakan kebangsaan yang baru.

Di perkotaan Indonesia, generasi palu arit ini sedang menertawakan (sekaligus melawan) ‘perang’ yang dilancarkan Negara pada PKI dan Komunisme. Bagaimana mungkin memerangi partai yang tidak ada? Bagaimana mungkin memerangi ide dari pikiran orang-orang yang tidak mau tunduk? Generasi ini sedang mengkonfrontasi salah satu warisan teror sejarah Orde Baru terkait PKI dan Komunisme. Generasi yang sedang berdialog dengan masa lalunya. Tidak melulu untuk mendukung dan menjadi komunis. Yang lebih penting justru untuk mengetahui siapa itu bangsanya, mengapa menjadi seperti sekarang, dan bagaimana memperbaikinya.

Di Papua, generasi baru bintang fajar terus angkat muka dan teriakkan “Papua Merdeka” dengan gembira. Mereka tidak takut ditangkap, dipenjara, bahkan dibunuh. Mereka sedang memaksa Indonesia mendengar sikap mereka, dan semakin kreatif merebut dan menduduki ruang-ruang publik. Mereka melakukan aksi-aksi damai, memberitahukan kegiatannya pada aparat kepolisian, menyatakan dengan lantang kehendak kemerdekaannya di manapun mereka berada. Generasi ini sedang menciptakan budaya politik baru melawan ingatan penderitaan (memoria passionis), membangun identitas kebangsaan Papua baru yang berkali-kali dihancurkan negara.

Sebagian besar mereka adalah generasi muda, besar di era revolusi teknologi informasi, hidup dalam rezim yang lahir dan berkuasa atas sejarah dan ilmu pengetahuan. Rezim yang tumbuh oleh pembohongan sejarah.

Sekarang rezim ini terbukti salah tingkah dan kalang kabut menghadapi lompatan pengetahuan generasi ini. Generasi yang tidak bisa lagi didominasi oleh kebodohan dan kebohongan lama yang diulang-ulang. Rezim ini sedang dibuat kalut, kebenaran sejarah dirinya akan terbongkar. Rezim mengantisipasi dengan menggelar simposium dan temu kelompok terbatas untuk mencari jalan tengah persoalan sejarah dan politik HAM di negeri ini.

Tetapi perjuangan dan harapan para penyintas sudah terlanjur lebih tinggi, mereka menuntut peradilan HAM. Sementara perjuangan serta kehendak orang-orang Papua untuk merdeka tidak bisa dibeli oleh otonomi khusus dan percepatan investasi pembangunan infrastruktur.

Indonesia ini berdiri di atas fondasi yang berisi tulang belulang setidaknya 500 ribu sampai 1 juta orang Indonesia, dan ratusan ribu orang Papua. Indonesia yang dibangun dari rangka prasangka buruk (kalau tidak jahat) dan stigma negatif terhadap komunisme dan separatisme. Indonesia dengan memori pendek dan pikiran pendek, tetapi berlagak besar dan merasa kuat.

Indonesia pasca ’65 itu sebetulnya adalah Indonesia yang lemah; Indonesia yang hilang arah.

Bagaimana tidak lemah karena sebagian dari orang-orang terbaik sebangsanya dibunuh, diculik, disiksa, diasingkan, diusir dari tanah airnya. Orang-orang itulah yang justru hendak membangun tanah airnya jauh lebih baik ketimbang yang ditawarkan para pendukung Orde Baru pasca 1965.

Indonesia lemah bukan karena belanja militernya sedikit atau peralatan tempurnya tua, atau kurangnya rasa nasionalisme dan bela negara; bukan juga karena narkoba dan miras merajalela atau kurang bermoral dan kurang ibadah. Kelemahan ini disebabkan oleh rasa sayang antar sesama dirusak oleh kekuasaan politik dan eksploitasi ekonomi yang hanya mengabdi pada profit dan melayani segelintir orang-orang pemilik kapital dan para penjaganya.

Kelemahan ini diakibatkan oleh tumpulnya nalar sosial karena ruang-ruang diskusi dan perdebatan, aksi dan ekspresi direpresi, dibubarkan, dikriminalisasi. Orang-orang Indonesia tidak dibiasakan berhadapan dengan perbedaan, sabar mengelola ruang demokrasi, dan berpikir keras sebelum bertindak beringas. Fondasi kemanusiaan dan kebangsaan Indonesia sukses dihancurkan oleh Soeharto-Orde Baru. Orang-orang seperti itu produk kekuasaan 33 tahun Rezim berdarah Orde Baru. Dan reformasi belum berhasil melahirkan lebih banyak orang dengan nalar sosial yang baik.

Indonesia masih remaja. Masih dilanda kegalauan di sana sini. Masih belum berani melangkah, berhadapan dengan dosa-dosa masa lalunya. Memilih rekonsiliasi tanpa pengungkapan kebenaran dan peradilan. Takut tak beralasan pada palu arit dan bintang fajar.

Padahal tanpa pengakuan, pengadilan, penulisan ulang sejarah Indonesia, maka Indonesia pasca ’65 hanya akan makin hilang arah.***


comments powered by Disqus