Edisi XXXIV/2015

CountingStars

Daftar isi:

Kiri yang Berumah di Awan

Anwar ‘Sastro’ Ma’ruf: Gerakan Sosial Harus Membangun Partai Politik Sendiri

 

MENULIS adalah bekerja untuk keabadian, demikian tulis Pramoedya Ananta Toer. Dengan menulis, kita dapat mengenal orang-orang yang usianya jauh lebih pendek dari usia karyanya. Dengan karya, kita mengenal nama-nama orang yang hidup tidak sezaman dengan kita dan mengetahui apa yang dipikirkan mereka, termasuk konteks sosial yang melatari lahirnya karya tersebut. Bahkan, karya-karya tersebut tidak jarang menginspirasi banyak orang untuk melakukan sesuatu yang melintasi zaman. Itulah yang kita temui dalam banyak karya intelektual besar manapun di dunia.

Tetapi, untuk apakah keabadian tersebut? Tentu, keabadian tersebut bukan semata agar penulis tetap dikenal generasi-generasi sesudahnya. Karya-karya, terutama yang sifatnya praksis, berguna bagi generasi saat ini untuk menganalisis dan kemudian mengubah tata sosial yang tidak ideal. Dengan kata lain, keabadian bukan untuk karya itu sendiri, tetapi bagi mereka yang hidup sesudahnya. Inilah yang kita temukan dari karya-karya para penulis yang mendedikasikan dirinya bagi pembebasan manusia seperti Marx, Engels, dan Lenin. Pun kita juga mengetahui, bahwa banyak dari intelektual tersebut tidak sekadar menulis atau berteori, mereka juga melakukan dan coba mewujudkan apa yang mereka tuliskan. Artinya, intelektual-intelektual tersebut adalah seorang yang berpraksis. Mereka dengan brilian menuliskan gagasan-gagasannya, menganalisa kondisi riil yang sedang terjadi, juga bersamaan dengan itu tidak canggung berpeluh untuk mengorganisir massa rakyat.

Tetapi, sudah terlalu sering kita mendengar kisah-kisah intelektual yang berpraksis tersebut. Apa yang masih jarang terjadi adalah pengalaman sehari-hari orang biasa itu sendiri, mereka yang–dalam pemahaman dominan—tidak termasuk dalam golongan ‘intelektual’. Dalam konteks kapitalisme, kita sudah terlalu sering mendengar gagasan-gagasan para pimpinan serikat buruh di media massa atau media sosial tentang bagaimana sistem tersebut membuat rakyat pekerja menderita atau sengsara. Kita juga telah terlalu sering membaca karya-karya para intelektual yang mengabstraksikan permasalahan-permasalahan keseharian buruh dengan sistem ekonomi politik kapitalisme yang menjadi basis bagi permasalahan-permasalahan tersebut.

Tapi di satu sisi, masih sangat jarang kita mendengar atau membaca penuturan langsung dari massa buruh biasa, dari mereka yang berasal dari kampung, mengadu nasib ke kota-kota industri dan menemukan kenyataan bahwa apa yang ada di angan mereka sangat berbeda dengan kenyataan. Beruntung, baru-baru ini hadir satu buku yang menjadi oase di tengah kekosongan tersebut. Buku tersebut berjudul ‘buruh menuliskan perlawanannya’.

Bagi kami, buku tersebut bermakna banyak hal. Pertama, tuturan genuine tersebut menjadi arsip yang sangat berharga bagi gerakan buruh, baik sebagai bahan refleksi atau propaganda bagi massa rakyat yang lain. Apalagi, harus diakui bahwa tradisi mendokumentasikan apa yang dialami oleh gerakan sosial masih sangat minim di Indonesia (Itulah mengapa arsip-arsip tentang gerakan sosial Indonesia justru lebih banyak berada di luar negeri, misalnya di Belanda). Kegunaan ini menghasilkan beberapa manfaat turunan, misalnya, apa saja metode yang telah digunakan dalam pengorganisiran serta kelebihan dan kekurangannya, sehingga ke depan metode pengorganisiran bisa lebih efektif.

Selain itu–dan ini yang menurut kami paling penting—adalah dimulainya tradisi mereka yang berlawan menuliskan pengalamannya sendiri, menuliskan apa yang dialaminya dalam perspektif mereka sendiri. Narasi-narasi kecil ini, tentu saja, bukan untuk mengeliminir narasi-narasi besar dari para intelektual kita, ia justru melengkapi narasi-narasi besar tersebut. Terlebih lagi, ia menjadi jembatan yang menghubungkan antara para intelektual kritis dengan kondisi riil yang dialami para pekerja itu sendiri. Dengan menuliskan pengalaman serta upaya perlawanannya sendiri, para buruh-buruh tersebut juga dibiasakan untuk untuk melakukan analisis, baik pengalaman materil yang langsung dihadapi ataupun yang ada di balik pengalaman-pengalaman tersebut. Pada akhirnya, jika hal ini terus dibudayakan, bukan hanya intelektual kritis saja yang mampu melakukan gerakan yang praksis, tetapi juga mereka yang sehari-hari melakukan perlawanan. Mereka akan mulai menganalisis, memahami, dan melakukan perlawanan dengan basis pemahaman yang lebih kokoh.

Dalam kegembiraan diluncurkannya buku tersebutlah Left Book Review (LBR) kembali hadir ke hadapan sidang pembaca. Dalam ulasan kali ini, kami akan menghadirkan ulasan buku dan wawancara yang berkaitan dengan apa yang tadi dibahas. Coen Husain Pontoh hadir dengan ulasan buku berjudul The Left Hemisphere Mapping Critical Theory Today (2014) karya Razmig Keucheyan. Dalam ulasan ini, dijelaskan bagaimana panorama keterpisahan intelektual kritis dengan gerakan massa ternyata bukan fenomena di Indonesia saja. Ia adalah gejala umum yang menandai kekalahan praktik-praktik sosialisme di berbagai negara, sejak revolusi sosialis justru tidak menyebar ke luar Rusia dan justru fasisme Hitler muncul dengan segala kebengisannya. Khusus bagi Indonesia, ini adalah ekses dari kekalahan panjang sejak genosida pasca 1965 dan efeknya terus berlanjut hingga saat ini.

Selain itu, kami juga hadirkan wawancara dengan Anwar ‘Sastro’ Ma’ruf, aktivis gerakan buruh yang telah bertransformasi menjadi aktivis Kiri dan kini memimpin sebuah federasi lintas sektoral yang diproyeksikan akan ikut serta dalam Pemilu 2019, Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI). Darinya, kita akan mengetahui bagaimana konstelasi gerakan buruh Indonesia, baik saat ini ataupun beberapa tahun sebelumnya serta bagaimana posisi gerakan rakyat di tengah menguatnya konsolidasi para oligark seperti hari ini.

Selamat membaca!


comments powered by Disqus