Kelaparan dan Pertunjukan Kuasa

Sumber: www.geheugenvannederland.nl

KAMU MEMPERTUNJUKKAN KEKUASAAN di Kediri, Demak, Kudus, iya apa tidak! Kamu belajar perang buat beberapa hari dan boleh sadarkan pikiran dan ati di tempat tempat dimana penduduknya tidak tentram, sama mau jahat, sama suka berbuat yang tidak halal sebagia membakar, merampas, membunuh.

Kamu mertunjokan kekuasaan! Dicampur dengan aturan soldadu Europa, Ambon, Timor, Jawa dan diberi secukupnya bekakas perang, kamu mempertunjukkan kekuasaan.

Apa sebab kamu mempertunjukkan kekuasaan?

Kekuasaan siapa kamu wakili?

Penduduk tidak tentram, begitulah kamu dengar! Penduduk berbuat kurang ajar, berkerumun-rumun, mencuri! Rakyat yang tidak tentram mencuri! Mereka ambil buahnya tanah-tanah kepunyaannya onderneming onderneming. Mereka tidak menghormati secukupnya pada tebu tebu, yang sekarang ini sudah digiling jjadi gula di pabrik pabrik. Mereka mengeluh keberatan pajak. Mereka ada susah buat kumpulkan uang yang mesti diberikan pada kas negeri.

Soldadu, kamu mesti mempertunjukkan kekuasaan pada rakyat itu, supaya rakyat lebih baik mampus dari kelaparan, diam saja dan sabar, lebih baik begitu dari pada berkelahi guna hidupnya dan merusak pagar pagarnya kepunyaannya lain orang. Supaya rakyat belajar bahwa tabiat yang terbaik sendiri yaitu menurut saja. Supaya diam saja kalau kurang makan, lihat saja anak anak yang lembek sama mati, dan yang tua tua sama sakit. Supaya menerima saja nasibnya itu dengan tidak mengomel. Maka karena itu kamu dikirm ka tempat temat yang “tidak tentram” hai, soldadu soldadu! Kamu tidak bawa makanan buat yang sama lapar. Kamu tidak mencatat atau membukukan semua bekal bekal makanan yang ada di tangannya saudagar saudagar besar, supaya menolak bahaya kelaparan dan matinya karena bahaya ini. Kamu mempertunjukkan kekuasaan dengan senapan dan bayonet, kiwang dan mesin senjata, dengan banyaknya soldadu dan kepintarannya perang. –

Kekuasaan siapa yang kamu tunjukan? kekuasaannya si kuat, si pemerintah.

Kekuasaan suatu pemerintahan yang menjaga keperluan umum. Na, apa tidak begitu biasanya dikata? Siapa, dan apakah paperintahan dalam peri pengidupan bersama sama sebagai kita peonya sekarang ini? Yaitu wakilnya suatu kaum yang kuasa, yang mempunyai bank bank, pabrik pabrik, kapal kapal, spoor spoor dsb. Kaum yang tidak kenal pada kelaparan, yang hidup dalam kekajaan dan surga dunia. [Bagian hilang] Sebab rakyat sendiri kekurangan, miskin dan tundok pada kemelaratan. Ya soldadu, kekuasaannya siapakah kamu tunjukan!

Kekuasaannya mereka, yang buat pabrik pabriknya sudah bertopi – baja buat ambil tanah tanah, yang mengalirkan air irrigasi ke tanah tanah itu, yang dalam tempo kakurangan makan ini lebih senang bikin gula dari pada beri kembali pada rakyat semua sawah sawahnya guna tanaman padi. Kekuasaannya mereka, yang menyuruh bekerja berat di ondernemingnya pada perempuan dan laki laki dengan belanja 10-20 dan 10-35 sampai 10-40 satu hari, pekerjaan yang mana menguntungkan besar.

Kekuasaannya mereka, yang selalu meninggikan harganya buat rakyat, yang mencari untung luar biasa dalam masa kesukaran ini.

Soldadu soldadu! Kamu mempertunjukkan kekuasaan mereka, yang meskipun BERULANG ULANG DIPERINGATKAN DENGAN KERAS tida saja mengadakan penjagaan supaya membesarkan banyaknya bekal makanan, sebab dalam ini hal kaperluan kaum uang, yang kuasa, akan dirugikan samentara tempa buat kaperluannya orang banyak.

Di ini negeri ada bahaya kelaparan! Di sini ada dibikin gula lagi, yang barangkali dalam masa damei di jual dengan untung. TETAPI ADA BAHAYA KELAPARAN. Dari negeri negeri di kulilingnya tanah Hindia tidak ada banyak pengharapan dapat makanan dan dibeberapa tempat tanaman makanan rusak.

“Ada bahaya kelaparan…..dan kamu, soldadu soldadu, yang menjadi alat atau senjatanya kaum kuasa, kamu yang dinamakan balatentara, mempertunjukkan kekuasaan.”

***

Siapa kamu sendiri, soldadu, yang sudah dipergunakan buat pakerjaan ini? Apa kamu tergolong dengan kaum enak itu? Apa kamu datang di Tangsi dari tempat dimana kamu kajukupan? Kita tahu, bahwa sebagian besar dari soldadu bangsa Europa dulunya berumah di tempat kemiskinan, dimana juga mesti ada berkelaian melawan kelaparan dan kakurangan. Kita tahu, bahwa kamu sebagian besar anak anak kaum buruh dan kaum tani, yang bisa mengerti dengan gamang, bahwa kelaparan itu bikin tidak tentram, bahwa kelaparan memaksa membikin perlawanan. Juga meskipun kamu mesti mempertunjukkan kekuasaan pada Bumiputra Jawa yang jadi korbannya kaum orang yang memeras… kamu bisa merasakan bagaimana rasanya Bumiputra ini, sebagai juga soldadu soldadu di negeri Belanda bisa merasakan rasanya kaumnya (orang kecil) kalau mereka merampas rampas sebab bingung dari kelaparannya, sebagai Gi Amsterdam dan lain-lain.

Dan kita tahu juga, bahwa soldadu bangsa Hindia bisa mengarti, apa sebab “si kerbo mengamuk”, apa sebab orang kecil tidak suka dan tidak bisa lagi menurut dan diam saja. Kita tahu, bahwa soldadu bangsa Hinda (Ambon, Jawa, d.s.b) merasa lebih dekat pada orang kecil yang ia misti datangi, dari pada yang berkuasa, yang membuat ini soldadu buat pertunjukan kuasa, yang menjuruh (komendeer) mereka.

Dan kita mengharap, bahwa soldadu bukan Jawa, bukan belanda, yaitu soldadu Ambon dan Minahasa, bisa merasa, yang orang kecil tidak minta pelor atau mati, tetapi ada hak berichtiar buat hidupnya.

Sebab kalau kamu lihat betul, pikir betul, hal soldadu dari balatentara Hindia: kelaparan, kesakitan, kakurangan, beratnya pajak, kesusahan yang amat sekali, keenakan, kegagahan dan mencari untung dengan tidak perduli apa korbannya…..maka kamu merasa jijik dari pakerja’an yang diminta dari kamu kalau pertunjukan kekuasaan saja tida cukup buat bikin kenyangnya si lapar, “Maka kamu mukok (muntah) sebab kamu akan diperendahkan menjadi penakut, yang mesti memadamkan dengan pelor-mu dan senjata tajam tanganya orang sebab tidak dapat pengadilan, tangis sebab kekurangan, tangianya orang lembek, orang yang tidak bersenjata atau bersenjata tidak cukup, sedangnya orang orang ini mesti turut turut memberi orang pada negeri buat beli senjata perang yang kan membunoh dengan tida belas kasian pada mereka sendiri.

Soldadu soldadu, timbanglah ini semua. Timbanglah nasibmu sindiri yang juga tidak enak itu. Timbanglah bagaimana rendahnya mereka, yang suka saja menyadi perkakasnya orang orang kuasa, menyadi perkakas buat merusak kaumnya dan bangsanya sendiri.

Pikirlah, bawa sekarang ini dalam banyak negeri-negeri di Europa kaum soldadu sudah terangkan dengan keras: bahwa perkaranya raja, perkaranya si tertindas, yaitu perkaranya soldadu sendiri. Moga mogalah contoh yang baik itu bisa hidup dalam sanubarimu, moga mogalah ini bisa menentukan daya upayamu kalau ada perintah perintah yang akan bisa membikin tukang pembunuh dari kamu untuk membunuh saudara kamu sendiri, yaitu saudara saudaramu yang tidak diam saja dan suka saja mati kelaparan, saudaramu yang kepingin sedikit merdika dan sedikit selamat hidupnya.

Sahabat sahabatku, soldadu soldadu! Masa sekarang ini penuh dengan perubahan besar.

Bantulah perkaranya si lembek. Tutupilah perselisihan di dalam. Carilah perhubungan dengan rakyat. Soldadu Bumiputra, datanglah pada kumpulannya soldadu soldadu, kumpulan Sarikat-Islam dan I.S.D.V supaya bisa berikhtiar menetapkan perkara perkara yang juga pada kamu akan memberi penghidupan sebagai manusia, memberi pengadilan dan kemerdekaan. []


*Sumber: Sinar Hindia, 16 November 1918. Ini adalah tulisan terakhir H. Sneevliet sebelum ia dibuang dari Hindia Belanda.

**Sumber gambar: www.geheugenvannederland.nl


comments powered by Disqus