Liputan

Pemilih Pemula yang Bertanya

EMPAT puluh delapan jam terjaga, pembuluh darah dijejali kafein dan nikotin, terdampar di warung waralaba di ketiak jalan Raden Saleh sambil sesekali mengecup bibir pilsener

Tawar Menawar dengan Konvensi Realisme Teater

Realitas dalam seni, dalam konteks ini seni teater, masih kerap dipahami secara naif. Realitas seni harus sama persis dengan realitas sehari-sehari. Di situ kemudian realitas, sebagai titik tolak berpikir yang lazim disebut realisme, akhirnya dimengerti sekadar sebagai perengkuhan realitas secara langsung. Interpretasi, transformasi dan stilisasi, dalam praktik seni yang disebut ‘realis’, menjadi benar-benar tidak penting. Sebab, apa yang direngkuh sebagai realitas, bentuk pemanggungannya harus semirip mungkin dengan ‘asli’nya.

Menjadi Eksil, Puisi Eksil, dan Indonesia: Wawancara dengan Agam Wispi

“Setelah tragedi 1965, ratusan orang yang sedang ditugaskan pemerintah Sukarno untuk sekolah, bekerja maupun melakukan lawatan dinas di luar negeri terhalang pulang. Paspor mereka dicabut dan akses komunikasi ke dalam negeri, bahkan untuk berhubungan dengan keluarga pun, diputus. Melalui wawancara dengan Agam Wispi, seorang penyair terkemuka, para pembaca diajak menelusuri sejarah tragedi ’65, bukan dari angka dan fakta-fakta besar, tetapi dari pengalaman pribadi yang sarat rasa dan asa. Bagaimana bentuk pencarian identitas sebagai “eksil” setelah tercerabut dari ‘akar’? Bagaimana pengalaman ini dituangkan dalam karya sastra, terutama “karya sastra eksil”, dan apa pengaruhnya dalam eksperimen bentuk dan isi? Juga, bagaimana imajinasi, frustrasi, dan harapan seorang eksil tentang “Indonesia”, “tanah air”, “masa lalu”, dan “kekinian”?”

Sebuah Percakapan dengan Titarubi

Apa yang disebut Titarubi sebagai pertanyaan-pertanyaan yang memeras otak itu sebetulnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan proses berkarya Titarubi dan juga zaman otoritarian Soeharto. Titarubi memang berkarya pada zaman itu pula dan ia pun pernah aktif dalam gerakan pembebasan dan peningkatan kesejahteraan tahanan dan aktivis Orde Baru. Tak hanya itu, ia pun akrab dengan beberapa aktivis kala itu. Selain itu, ada juga beberapa pertanyaan yang menyentuh isu-isu yang menarik perhatiannya dalam berkarya dan posisi perempuan dalam seni rupa. Selang sebulan surel itu saya terima, pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jawabannya dalam tatap muka kami.

SENJA: Anak Jalanan Bukan Lagi Korban Metropolitan

Tidak seperti biasanya, petang itu terasa aneh. Kami hanya bertemu beberapa orang saja dari anggota SENJA. Kami menunggu satu atau dua jam, berharap yang lain segera berkumpul seperti biasanya. Tapi, rupanya itu penantian yang sia-sia. Sungguh berbeda dengan waktu-waktu yang lalu ketika kampi mampir ke tempat ini, dimana dalam hitungan menit tempat ini sudah penuh sesak oleh mereka yang mampir dan nongkrong.

‘Kalau mau ketemu, kawan-kawan jangan hari Sabtu, bung. Itu haram. Hari sabtu pasti pada ngelayap ke mana-mana. Istilahnya, hari itu hari mereka untuk kejar setoran,’ ujar Heri Sunandar, koordinator SENJA saat ini.

Shopping Basket

Berlangganan Konten

Daftarkan email Anda untuk menerima update konten kami.