Unboxing Imperialisme: Lima Buku Terbaik tentang Imperialisme Menurut Vijay Prashad

Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi: Deadnauval


IMPERIALISME menempati posisi khusus dalam analisis Marxis, mulai dari Rosa Luxemburg hingga Lenin, Henryk Grossman sampai Immanuel Wallerstein. Namun, sejumlah pemikir Marxis kontemporer berpandangan bahwa konsep imperialisme tak lagi cukup membantu kita memahami dunia hari ini. Di sisi lain, terutama di bidang kajian-kajian humaniora kritis, konsep tersebut digunakan untuk meneropong berbagai macam fenomena, mulai dari hegemoni budaya Barat (“imperialisme kebudayaan”) hingga kebangkitan Tiongkok di panggung politik global.

Pada pekan terakhir Januari lalu, dua editor IndoPROGRESS, Fathimah Fildzah Izzati dan Windu Jusuf membicarakan buku-buku tentang imperialisme bersama Vijay Prashad, seorang sejarawan, jurnalis, dan intelektual Marxis asal India. Prashad telah menulis 20 buku, di antaranya The Darker Nations: A People’s History of the Third World (2007), The Poorer Nations: A Possible History of the Global South (2012), dan Red Star Over the Third World (2017).

Buku terbarunya Washington Bullets: A History of the CIA, Coups, and Assassinations (September 2020) adalah kumpulan esai tentang persekongkolan jahat yang disokong Washington melawan pemerintah dan gerakan rakyat, serta kisah-kisah pembunuhan terhadap kaum sosialis dan komunis di seluruh Dunia Ketiga. Washington Bullets ditulis tak lama setelah Evo Morales digulingkan oleh kudeta sayap kanan di Bolivia (2019).

“Buku ini tentang bayang-bayang,” tulis mantan Presiden Bolivia Evo Morales dalam kata pengantar Washington Bullets, “tapi ia bersandar pada pustaka cahaya.”


Wawancara berikut telah melalui proses alih bahasa dan penyuntingan. Edisi bahasa Inggris: “Unboxing Imperialism of Our Time: Five Books on Imperialism with Vijay Prashad”


Windu Jusuf

Vijay Prashad, terima kasih Anda sudah mau meluangkan waktu untuk membicarakan buku. Wawancara ini dilakukan untuk salah satu rubrik IndoPROGRESS, bertajuk Batjaan Liar. Batjaan Liar sendiri adalah istilah pemerintah kolonial untuk menyebut buku-buku kiri radikal yang diterbitkan oleh aktivis anti-kolonial zaman Belanda. Nah, kami mengambil alih istilah itu.

Vijay Prashad

Semua istilah kalau perlu dibajak saja karena, toh, kita tidak malu dengan istilah itu. Saat saya masih muda, orang kadang bilang kelakuan saya mirip berandal. Nah, ada cerita menarik soal ini yang berhubungan dengan Vladimir Lenin dan Mayakovsky. Iya, Mayakovsky, penyair fenomenal Rusia. Dia menggubah ekspresi-ekspresi baru.

Ada orang bilang begini ke Lenin: “Mayakovsky itu kan berandalan.” Jawab Lenin, “Dia itu berandal komunis. Dia berandal kita!” Mayakovsky sosok penting. Dia menempa budaya. Jadi, ya, kita bajak sajalah istilah-istilah itu.

Windu Jusuf

Kami ingin tahu bagaimana imperialisme menjadi tema pokok dalam karya-karya Anda. Bisa Anda cerita sedikit tentang perjalanan intelektual Anda?

Vijay Prashad

Selalu ada perjalanan intelektual dan perjalanan politik. Untuk orang-orang seperti kami, keduanya saling bertalian dan mustahil terpisah. Anggaplah saya masih bocah, saya baca karya Lenin, Imperialism, the Highest Stage of Capitalism (1917), dan tiba-tiba merasa diyakinkan oleh apa yang saya baca Anda baca sebuah buku dan buku itu langsung mengusik pikiran. Enggak begitu prosesnya. Biasanya muncul kombinasi pengalaman politik, pengalaman pribadi, dan perjalanan intelektual. Ketiganya berbenturan entah bagaimana caranya.

Saya lahir pada 1967, dua puluh tahun setelah India merdeka, dan dibesarkan di Kolkata, Benggala Barat. Waktu saya masih kecil, India-Pakistan sedang perang. Ini satu-satunya perang yang betulan dilakoni India di Front Timur—garis depannya di Pakistan Timur. Perang inilah yang kelak melahirkan Bangladesh pada 1971. Sebagian pengungsi masuk ke Kolkata. Tapi, bahkan sebagai bocah, saya ingat jelas Armada Ketujuh AS berlayar ke arah Kolkata. Mereka ingin mengebom Kolkata supaya India tidak lanjut perang dengan Pakistan. Saya ingat, kapal-kapal Amerika melaju ke sini dan kami harus menempelkan kertas hitam di jendela. Saya kurang paham persisnya kenapa kami harus begitu. Soalnya, ya, gampang sih kalau mereka mau cari kota kami. Apapun itu, saya ingat apa yang harus kami lakukan sebagai anak-anak: menempelkan kertas hitam di jendela dan menutup tirai. Dampaknya besar. Sama sekali enggak sepele.

Saya betul-betul teradikalisasi oleh perang Amerika di Vietnam. Kolkata adalah kota penting. Ada konsulat AS dan Inggris yang berdiri di satu ruas jalan. Saat saya masih kecil, sebuah pemerintahan koalisi sayap kiri berkuasa di negara bagian yang saya tinggali. Pemerintah memutuskan mengganti nama jalan menjadi “Jl. Ho Chi Minh” [sebelumnya Harrington Road]. Walhasil, Konsulat AS dan Inggris ada di Jl. Ho Chi Minh! Bayangkan, sampai sekarang namanya masih Jl. Ho Chi Minh. Seumur hidup, peristiwa ini jadi semacam pelajaran penting soal bagaimana kami melawan kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan, kejahatan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap rakyat Vietnam.

Waktu itu saya belum tahu apa-apa tentang Indonesia. Peristiwa 1965 masih kabur buat saya yang baru lahir dua tahun setelahnya. Cerita-cerita soal 1965 baru muncul jauh belakangan. Cerita yang saya dapat tentu saja dari Vietnam. Barulah setelah saya terlibat bersama teman-teman di isu Kuba dan Israel-Palestina.

Jadi, ada tiga tempat di dunia ini yang bikin saya tertarik saat itu. Pada 1982, lagi-lagi saat saya masih belia, saya melihat halaman depan koran arus utama di Kolkata. Saya menemukan foto sebuah kejadian di Beirut, Lebanon. Foto-foto itu bikin saya terenyuh. Salah satu artikel pertama yang saya tulis untuk koran mahasiswa adalah tentang peristiwa Sabra dan Shatila. Waktu itu Israel merebut Beirut. Mereka mengizinkan milisi fasis Falangist masuk ke dalam kamp Palestina dan membantai pengungsi di dalamnya. Kejadian ini berdampak besar buat saya. Amerika Serikat membekingi Israel. Jadi, pintu masuk saya ke imperialisme adalah politik imperialisme, bukan ekonomi. Ini fakta sederhana: ada sebuah negara atau sekelompok negara—jujur sajalah ini, kan, bukan cuma soal Amerika—yang mengobrak-abrik dunia demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dulu saya enggak paham secara ekonomi kenapa dunia kok bisa seperti ini. Kok bisa negara ini begitu? Apakah ini masalah budaya? Kenapa mereka bisa dominan?

Saya rasa tidak ada penjelasan riil dari masa saya kecil kenapa mereka melakukan ini dan itu, meskipun saat itu saya tahu perbuatan mereka salah. Saya paham Perang Vietnam salah. Saya tahu bahwa apa yang mereka [imperialis] lakukan ke Kuba salah. Solidaritas pro-Kuba di India bermekaran saat itu. Castro bahkan melawat ke India dan disambut Indira Gandhi di bandara.

Yang ketiga adalah Palestina. Saya sempat fokus ke sana—dan harus diakui saya merasa tergerak berkat liputan-liputan arus utama seputar penyerbuan ke kamp pengungsian Sabra dan Shatila. Nah, saya ingin bilang ini ke muda-mudi zaman sekarang: pers mainstream zaman itu mengangkat isu-isu seperti ini. Mereka meliput pembantaian di Beirut. Mereka membongkar kekerasan ugal-ugalan pemerintah AS di Vietnam. Mereka juga mengangkat kisah bagaimana Kuba dicekik. Hari ini hampir tidak ada lagi liputan tentang apa yang terjadi di Afghanistan. Perang terus berkecamuk, tapi hampir tidak ada liputan. Saya bahkan enggak paham apa anak muda sekarang tahu bahwa ada perang yang enggak pernah selesai di Afghanistan. Yang saya maksud tentu bukan anak muda yang melek segala isu, tapi anak muda seperti saya dulu yang awalnya cuma ingin tahu skor pertandingan kriket dan malah ketemu foto [pembantaian Sabra dan Shatilla]. Saya kira pers arus utama atau media korporat saat ini tidak merekam apa yang terjadi di Venezuela, atau bahkan Kuba. Mereka juga tidak meliput dengan cara yang tepat soal apa yang terjadi pada orang-orang di Sahara Barat.

Beberapa bulan lalu, saya ngobrol dengan seseorang di Papua Nugini. Dia bercerita tentang perusahaan tambang di Papua Nugini. Dia sendiri seorang tokoh di pertambangan sekitar. Dia cerita bagaimana saudara kandungnya dikubur hidup-hidup oleh pihak keamanan swasta sewaan perusahaan tambang. Dia dilempar ke lubang, dikubur hidup-hidup, lalu mati. Inilah represi yang dialami para penambang di Papua Nugini. Dia bilang, “Pulau Papua adalah hutan hujan terbesar kedua di dunia setelah Amazon.” Saya kaget, “Ah, yang benar? Kok saya enggak tahu?” “Iya, kekerasan yang dilakukan oleh perusahaan tambang itu ekstrem,” jawabnya.

Saya belum pernah membaca soal [Papua] ini di mana pun!

Kok bisa saya tertarik isu imperialisme? Ya, lewat kejadian-kejadian itu. Tapi, saya juga ingin bilang bahwa dulu media korporat meliput beberapa kejadian ini karena ada editor yang berintegritas, sementara editor hari ini… Yah, saya enggak paham, tapi mereka tidak lagi meliput kejadian seperti itu. Saya tidak sedang bertanya kenapa itu tidak mereka lakukan. Saya cuma ingat saya marah karena ini benar-benar terjadi.

Fathimah Fildzah Izzati

Saya membaca karya Anda, misalnya, The Red Star Over the Third World. Saya penasaran soal pendapat Anda terkait perdebatan tentang imperialisme hari ini, contohnya seperti yang Anda bisa lihat pada komentar David Harvey [bahwa “Arus kekayaan yang secara historis mengalir dari Timur ke Barat … kini telah berbalik selama 30 tahun terakhir,” atau juga yang terbaru], buku Value Chains: The New Economic Imperialism karya Intan Suwandi.

Vijay Prashad

Pertanyaan bagus. Saya merasa harus menjelaskan kenapa negara-negara imperialis kelakuannya begitu. Tadi saya bilang, saya kecewa dengan perang di Vietnam, kenapa AS ngotot melanjutkan perang Vietnam, apa sih perlunya? Tapi di balik itu ternyata ada teori yang penting untuk diterangkan.

Apa itu imperialisme? Imperialisme adalah proses yang sangat sederhana. Saya kasih penjelasan yang gampang. Nanti saya akan bikin penjelasan ini dua kali lipat lebih njelimet. Melalui kekuatan militer yang sangat besar, beberapa negara berusaha menangguk keunggulan ekstra secara ekonomi. Katakanlah kita ingin berdagang. Saya bilang ke Anda, saya punya pensil yang ingin saya tukar. Lalu Anda jawab, “Saya punya flash disk yang bisa ditukar dengan dua puluh atau mungkin ratusan batang pensil.” Lalu lahirlah sejarah konvensi sosial seputar dagang. Muncul cara untuk menukar barang. Barang A sejumlah B, ditukar dengan barang C sejumlah D.

Ketika kapitalisme berkembang selama 200 tahun terakhir, negara seperti Prancis, Inggris, juga Spanyol, Portugal dan seterusnya tiba-tiba mencuat dan merombak dunia sedemikian rupa demi cuan. Pertukaran ekonomi seolah sederajat, tapi sebenarnya sudah dirancang dengan cara yang tidak setara.

Misalnya begini, Inggris tiba di India pada 1600-an. Pada 1757, mereka menaklukkan India dan memerintah selama hampir dua ratus tahun dari 1757 hingga 1949. Ketika Inggris hengkang, angka melek huruf di India naik 13 persen. Bayangkan: 13 persen! Inggris mendarat di India, tepatnya di tempat yang sekarang bernama Bangladesh, salah satu daerah paling tajir sedunia. Tempat itu dulunya pusat produksi tekstil—ingat, yang dihasilkan bukan bahan mentah, tapi tekstil. Nah, kedatangan Inggris menghancurkan industri tekstil. Inggris juga menyusutkan tingkat pendapatan. Singkatnya, Inggris membonsai laju perkembangan sosial masyarakat setempat dan menurunkan tingkat upah. Penurunan tingkat upah (wage deflation) ini adalah unsur penting imperialisme.

Mereka [imperialis] mencitrakan orang Indonesia dan India bisa bertahan hidup dengan uang sekian rupiah. Walhasil, bahkan jika Anda melihat paritas daya beli, tingkat upah jauh lebih rendah di India daripada di Jerman. Tingkat upah Jerman lebih tinggi. Standar hidup lebih tinggi. Paritas daya beli sama sekali tidak sebanding. Dompet buruh India sangat tipis. Bahkan mereka kekurangan gizi, saking kelaparan akut di sana jadi pemandangan sehari-hari. Upah cuma cukup untuk tempat tinggal sementara. Itu pun sulitnya luar biasa. Bayangkan, jika Anda harus tinggal berlima di satu kamar kos. Sudah mirip anak buah kapal; tidur bareng di satu kasur, dan seterusnya. Mereka enggak punya jaminan kesehatan sehingga sering sakit-sakitan.

Penurunan tingkat upah di tempat kita ini memungkinkan berbagai komoditas yang kita hasilkan dihargai sangat rendah. Harganya ditekan habis-habisan sehingga perusahaan bisa meraup untung besar. Imperialisme itu bukan cuma soal modal monopoli (monopoly capital) yang sikut-sikutan lalu merantau ke luar negeri untuk mengamankan pasar dan sumber daya. Imperialisme adalah juga soal penurunan tingkat upah. Inilah poin penting dari argumen Prabhat dan Utsa Patnaik tentang penurunan tingkat upah dalam buku tebal mereka tentang imperialisme. Sayang, [David] Harvey keliru melihatnya. Harvey memakai perspektif yang terlampau makro. Pertanyaan Harvey kira-kira begini: “Dari mana sumber Investasi Asing Langsung (Foreign Direct Investment/FDI)?” Lho, apa cuma gara-gara FDI masuk lalu Indonesia sekarang jadi “negeri kuli” dalam Sistem Dunia (World-System)? Kan tidak. Ada berbagai alasan kenapa FDI masuk ke Indonesia, misalnya infrastruktur. Buku Intan Suwandi ini sangat bagus. Dia mengamati dua perusahaan cetak dan bagaimana keduanya terintegrasi ke dalam rantai komoditas global.

Tapi, hal terpenting dari studi semacam ini adalah penurunan tingkat upah karena para buruh pabrik digaji minim. Para manajer atau pemilik pabrik bahkan merasa terjepit juga. Ya, dalam hal ini mereka mungkin bukan pahlawan, tapi mereka pun dililit rantai komoditas. Kalau mereka tidak menyuplai produk dengan harga murah, modal akan cari pabrik baru di Malaysia, di Vietnam atau di tempat lain. Balap-balapan blangsak [race to the bottom] ini berdampak besar sekali ke buruh.

Bahkan para manajer pun ikut stres. Buku Intan menangkap gambaran tekanan yang dirasakan para manajer. Dalam studi ciamik ini, dia panjang lebar mewawancarai para manajer. Intan juga menggambarkan bahwa stres ini sifatnya periodik. Ya, wajar, karena suatu waktu mereka bisa bangkrut kok. Akhirnya stress. “Anjir, gue stres banget gara-gara enggak bisa beli Lamborghini!“—ya, bukan stres yang model begini juga sih. Manajer-manajer ini enggak kaya-kaya amat kok. Mereka juga kelas menengah. Tapi, stres yang sesungguhnya dihadapi oleh pekerja beserta keluarga. Seringkali—dan saya yakin ini juga terjadi di Indonesia—buruh industri adalah petani yang bekerja di pabrik. Mereka sering disubsidi keluarga. Katakanlah saya buruh pabrik di pinggiran kota Delhi. Keluarga dari kampung datang naik bus atau kereta sambil bawa sekarung beras. Atau ketika saya mudik, saya akan kembali ke kota lengkap dengan beras satu karung dan bahan pangan lainnya karena saya enggak mampu bisa beli makan di sana, padahal saya terus-terusan lapar. Ya begitulah, saya kirim gaji ke kampung, lalu keluarga di kampung memasok makanan karena saya kelaparan.

Penurunan tingkat pendapatan ini adalah kunci untuk memahami imperialisme. Pokok ini dilewatkan oleh David Harvey, dkk. Mereka melihat imperialisme dari kacamata yang terlalu makro. Buat saya konyol ketika mereka bilang bahwa Tiongkok sekarang adalah negara imperialis. Dalam hal apa RRC imperialis? Saya blas enggak percaya Tiongkok itu imperialis—sama sekali. Tapi, akhirnya, kita harus bicara globalisasi sebagai sebuah kebijakan. Globalisasi sudah berlangsung ratusan tahun sebagai fenomena sosiologis. Contohnya Indonesia. Jepang pernah mampir di sana; Belanda juga. Siapa lagi yang pernah ke sana? Oh, orang India, karena kita ini punya beberapa kesamaan kultural dan sudah sejak lama ada jalinan budaya antara India dan Indonesia. Islam juga mendarat di sana. Globalisasi adalah fakta sosiologis, bukan fenomena ala-ala 1990-an. Namun, sebagai fenomena politik dan ekonomi, ada yang khas dari globalisasi hari ini, yaitu globalisasi sebagai konsekuensi perubahan teknologi yang masif—satelit, teknologi komputer, pengiriman dan pengemasan barang yang lebih baik, produksi pabrik dipecah-pecah. Orang menciptakan apa yang di Jepang dikenal sebagai “produksi tepat waktu” [just-in-time production, untuk meningkatkan efisiensi]. Pabrik besar bisa didirikan di berbagai negara sehingga daya tawar pekerja yang memunculkan masalah “tepat waktu” ini bisa ditekan.

Unsur penting dalam imperialisme rantai komoditas ini adalah hak kekayaan intelektual. Nah, ada dua aspek imperialisme modern yang perlu digarisbawahi: penurunan tingkat upah dan hak kekayaan intelektual. Jika Anda tidak memiliki hak kekayaan intelektual, semua perusahaan subkontrak kecil ini bisa mulai memproduksi barang berdasarkan desain bikinan Anda lalu menjualnya. Mereka yang bilang bahwa imperialisme sudah punah rupanya mengabaikan penurunan tingkat upah dan hak kekayaan intelektual. Mereka masih berpijak pada definisi lawas. Harvey, dkk. memakai definisi imperialisme ala Hobson dari abad ke-19—ini bahkan sebelum Lenin.

Ingat Lenin bilang apa? Analisis konkret tentang kondisi konkret. Itu yang dia bilang, bukan memakai definisi yang dicomot dari seabad lalu dan mengira-ngira apa itu bisa dipakai hari ini.

Windu Jusuf

Kekeliruan kategoris.

Vijay Prashad

Iya, category mistake. Tapi saya enggak mau juga sih menuduh David Harvey melakukan kesalahan kategoris. Malu rasanya. Dia kan senior.

Windu Jusuf

Kita kembali ke tujuan wawancara ini. Apa lima buku tentang imperialisme yang Anda ingin rekomendasikan?

Vijay Prashad

Buku pertama, Imperialism in the Twenty-First Century: Globalization, Super-Exploitation, and Capitalism’s Final Crisis (2016) terbitan Monthly Review Press. Buku karya John Smith ini besar pengaruhnya buat saya. John Smith, seorang anggota serikat pekerja Inggris, dalam buku ini sangat serius merespons isu super-eksploitasi (super-exploitation)—dengan kata lain “pembagian kerja internasional” (international division of labor). Menurut Smith, Marx sudah menunjukkan dua strategi penghisapan nilai lebih di bukunya, Capital. Strategi pertama, nilai lebih absolut (absolute surplus value), yang dilakukan dengan menambah jam kerja, atau kebijakan-kebijakan lain yang lebih bengis terhadap buruh, termasuk penggunaan kekerasan. Ekstraksi nilai lebih seperti inilah yang disebut Marx sebagai nilai lebih absolut.

Kedua, nilai lebih relatif (relative surplus value). Menurut Marx, semakin efektif proses mekanisasi, semakin baik pula produktivitas tenaga kerja. Contohnya sederhana saja: Anda menata meja agar lebih efisien sehingga tak perlu menghabiskan waktu lima belas menit untuk mencari barang yang hilang. Nah, proses mekanisasi ini meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Marx menyebutnya nilai lebih relatif. Ketiga, argumen Smith—yang tidak ada di Capital, tapi ada bukti ini pernah dibahas Marx dan Smith mencoba menelusurinya—adalah bahwa ada ekstraksi nilai lebih melalui super-eksploitasi. Sekarang, misalnya, muncul arbitrase upah (wage arbitrage) atau pemanfaatan selisih harga tenaga kerja.

Jadi, pada satu titik tenaga kerja di Indonesia lebih murah daripada tenaga kerja di—katakanlah—Tiongkok. Syahdan, sebuah perusahaan Swiss memindahkan operasionalnya ke Indonesia. Nah, itu bisa terjadi karena sifat alamiah rantai komoditas. Tiap kompartemen produksi hari ini tidak serumit dulu. Kompleksitas produksi dipecah sepanjang rantai komoditas. Sebelumnya, Anda punya satu pabrik raksasa dan semua aktivitas produksi dilakukan di pabrik itu. Sekarang berbeda. Misalnya Anda memproduksi mobil. Hari ini Anda bikin ban di sini, dasbor di situ, ini di sini, itu di sana. Anda bisa bangun pabrik dalam waktu cukup singkat karena Anda cuma produksi ban, bukan keseluruhan mobil. Enggak perlu bersusah payah bangun pabrik mobil. Anda bisa memindahkan pabrik ban dari Shenzen ke Indonesia dalam tempo dua bulan. Yang penting Anda punya gudang. Anda bisa kirim mesin [dari Shenzen], lalu melatih buruh sambil menunggu kiriman tiba. Produksi cukup ditunda dua bulan, tak lebih dari itu. Jangka waktu dua bulan itu bukan apa-apa dalam skema produksi industri.

Super-eksploitasi inilah hakikat imperialisme yang dicatat Smith: mengambil keuntungan dari selisih upah atau arbitrase upah. Buku Smith bagus betul. Saya banyak menggunakannya di Tricontintental Institute. Dalam studi perdana Tricontinental, In the Ruins of the Present, ada bagian di mana kami mengembangkan, memperdalam, dan membuat poin Smith lebih mudah dibaca.

Buku kedua sudah saya sebutkan tadi, karya Utsa dan Prabhat Patnaik berjudul A Theory of Imperialism (2016). Ada komentar dari David Harvey di dalamnya. Ini menarik karena Harvey adalah pengkritik Patnaik, tapi diundang untuk berkomentar di buku yang sama. Utsa dan Prabhat Patnaik adalah intelektual Marxis terkemuka dari New Delhi, India. Di buku ini mereka bikin argumen bahwa ada sabuk geografis, yaitu daerah tropis, yang menghasilkan komoditas tertentu yang tidak dapat ditanam di tempat lain. Di sabuk inilah terjadi penurunan tingkat upah dan pendapatan besar-besaran. Upah pekerja di sabuk tropis ini terus ditekan sedemikian rupa agar harga bahan mentah atau komoditas pangan tetap murah. Buku John Smith sudah menunjukkan fenomena arbitrase upah dan super-eksploitasi. Nah, buku Utsa dan Prabhat Patnaik ini memaparkan suplemennya: penurunan tingkat pendapatan.

Saya menerbitkan The Poorer Nations pada 2013. Argumen saya di buku itu: hak kekayaan intelektual (intellectual property rights) adalah instrumen utama imperialisme abad ke-21. Jika Anda tidak memahami peran kekayaan intelektual, maka mustahil Anda mengerti apa itu imperialisme. Setelah kebijakan reformasi ekonomi 1978, Tiongkok dengan cerdiknya menandatangani kontrak yang menjamin transfer teknologi. Itulah kunci kebangkitan Tiongkok. India dan Indonesia tidak melakukan itu. Indonesia kira-kira bilang begini: “Silakan datang dan bangun pabrik, mumpung ada arbitrase upah dan penurunan tingkat pendapatan. Plus, hak kekayaan intelektual tetap di tangan Anda. Kami butuh itu saja, kok. Datanglah ke sini, beri kami sedikit FDI, dan pekerjakan beberapa orang kami.”

Yang tidak dikatakan indonesia: “Transfer sains Anda, latih orang-orang kami, transfer teknologi Anda, tunjukkan cara kerjanya.”

Sebaliknya, itulah yang dikatakan Tiongkok. “Silakan datang ke sini. Ada penurunan tingkat pendapatan, tapi buruh-buruh kami sehat wal’afiat karena upaya perbaikan di bawah Mao. Silakan kemari, mumpung ada arbitrase upah. Tapi ingat: beri kami sains dan teknologi.”

Dalam berbagai bidang hari ini—telekomunikasi, robotika, energi hijau— negeri-negeri Barat sudah bablas disalip Tiongkok. Mereka dua generasi lebih maju. Perusahaan Tiongkok seperti Huawei, ZTE? Dua generasi lebih maju. Kekayaan intelektual adalah argumen saya dalam Poorer Nations. Buku ini sebenarnya ditulis sebagai kritik implisit terhadap buku Harvey tentang neoliberalisme, karena argumen Harvey adalah neoliberalisme dimulai di Kota New York, di Inggris era Thatcher, Amerika Serikat di bawah Reagan, dan seterusnya. Neoliberalisme, menurut Harvey, bermula dari upaya memecahkan masalah perkotaan dan krisis di dunia Barat sana. Saya enggak sepakat. Saya percaya neoliberalisme muncul dari upaya mengontrol negara-negara Selatan untuk mempertahankan penurunan tingkat pendapatan, mempertahankan keuntungan yang diperoleh dari arbitrase upah, dan hak kekayaan intelektual.

Windu Jusuf

Yang barusan buku ketiga?

Vijay Prashad

Ya, itu buku ketiga. Lalu ada buku keempat yang disunting rekan saya, Emiliano Lopez. Judulnya The Veins of the South Are Still Open: Debates Surrounding the Imperialism of Our Time (2020). Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk pembaca Indonesia. Emiliano Lopez bekerja untuk Tricontinental. Dia dari Buenos Aires, Argentina. Bunga rampai ini memuat semua topik yang barusan kita bicarakan. Ada esai pembuka Utsa dan Prabhat Patnaik tentang “Imperialisme di Era Globalisasi”. Ada tulisan John Smith, “Eksploitasi, Super- Eksploitasi, dan Teori Imperialisme”. Ada karya salah satu ekonom utama Tricontinental asal Turki, E. Ahmet Tonak. Atilio Boron dan Gabriel Merino dari Argentina juga menulis tentang geopolitik. The Veins of the South Are Still Open adalah upaya merangkum diskusi-diskusi yang ada dari sudut pandang kami, karena kami condong kepada pandangan Smith-Patnaik tentang imperialisme ketimbang cara pandang Harvey. Judulnya pun plesetan dari buku Eduardo Galeano, The Open Veins of Latin America.

Buku kelima, Fictitious Capital (2017) karya Cedric Durand. Yah, saya sebetulnya tidak merekomendasikan buku ini, tetapi saya merekomendasikan buku-buku tentang kapital finansial (finance capital). Saya sebenarnya tidak yakin dengan istilah finansialisasi (financialization). Konsep ini tidak tepat karena kapitalisme selalu mengandung unsur finansialisasi. Finansialisasi bukan fase baru kapitalisme. Sayangnya, ketika orang mulai bicara finansialisasi, mereka justru menghilangkan fakta bahwa ratusan juta manusia masih banting tulang untuk menghasilkan nilai lebih. Mereka mengabaikan kenyataan penurunan tingkat upah dan pendapatan, sabuk tropis, dan arbitrase upah. Mereka mengabaikan seluruh bangunan intelektual imperialisme abad ke-21. Yang dilihat cuma sektor finansial dan sekali lagi buruh lenyap dari percakapan. Beberapa orang percaya sektor keuangan menciptakan nilai lebih. Tidak. Sektor ini sekadar mengocok ulang nilai lebih. Nilai lebih hanya tercipta dalam proses kerja, dalam proses produksi.

Untuk hal itu saya seorang Marxis yang sangat konvensional. Saya tidak percaya bahwa di bidang keuangan Anda bisa memindahkan duit lalu menghasilkan nilai lebih. Yang ada, Anda memindahkan uang lalu menghasilkan uang—dan itulah ilusi optik yang membuat segelintir orang kaya. Ya, enggak sepenuhnya ilusi optik sih. Tapi saya pikir orang perlu membaca tentang kapital fiktif (fictitious capital) dan segala kecanggihannya. Nah, itu buku kelima.

Sebenarnya saya baru menerbitkan buku berjudul Washington Bullets. Terjemahan bahasa Indonesia segera keluar. Isinya sejarah CIA dalam 150 halaman sejak 1945 sampai hari ini. Sumber-sumber yang dipakai adalah dokumen CIA, wawancara dengan agen CIA, wawancara dengan beberapa korban, tapi yang utama adalah kisah-kisah CIA yang saya tafsirkan sendiri. Ada banyak syair dan nyanyian di sana. Saya menelisik hal-hal yang terlupakan, misalnya intervensi CIA atau militer AS di Thailand. Ketika ada gelombang protes besar di Bangkok, militer AS turun tangan.

Windu Jusuf

Itu era 1970-an?

Vijay Prashad

Tahun 1960-an. Tentu saja pernah ada kudeta militer di Thailand pada 2013. Tapi, siapa sih yang memperhatikan? Pemerintah produk kudeta masih berkuasa. Thailand tidak diperintah oleh monarki, bahkan tidak juga oleh borjuasi. Thailand selalu diperintah militer. Ini kediktatoran militer yang sudah berlangsung entah sejak kapan. Banyak orang bilang Thailand dikuasai monarki. Ternyata tidak. Raja itu cuma pemimpin simbolik tapi enggak punya kekuatan riil. Raja yang sekarang ini hampir seumur hidupnya tinggal di Jerman. Segelintir elite Thailand di sekitar Bangkok juga bukan elite yang sepenuhnya merdeka. Kekuasaan mereka bergantung pada militer, yang akhirnya juga dibeking Washington.

Dan di dalam Thailand itu ada produksi komoditas kecil-kecilan yang sangat besar. Bangkok itu kota semrawut. Tapi di sekeliling Bangkok adalah deretan pabrik—ya, mirip di Indonesia—dengan produksi skala kecil. Konon kecil, tapi rupanya tidak. Skala produksinya besar dan kondisinya menyedihkan. Inilah orang-orang dan pabrik-pabrik kecil yang dijabarkan Intan dalam bukunya. Tapi mereka tidak berproduksi untuk pasar lokal. Mereka berproduksi untuk rantai komoditas global. Saya kira bukan pandangan sempit jika ada yang bilang rentetan peristiwa di Thailand itu terkait dengan produksi barang, barang yang sangat murah dan diecer ke seluruh dunia. Nah, sudah lima buku kan?

Fathimah Fildzah Izzati

Minimal lima buku.

Vijay Prashad

Oh iya, saya lupa. Sorry banget, saya lupa sebut yang klasik-klasik, Imperialism-nya Lenin dan yang lain-lainnya itulah. Saya memang enggak ingin fokus ke karya klasik, karena bagi saya penting untuk melihat siapa yang mengembangkan teori [yang sudah ada]. Samir Amin, misalnya. Guru saya itu. Yah, saya tadi cuma ingin ngobrol hal-hal kontemporer.

Fathimah Fildzah Izzati

Enggak apa-apa kok. Dari kelima buku ini apa ada urutan dari buku pertama sampai kelima untuk pembaca Indonesia, khususnya pembaca pemula?

Vijay Prashad

Oh, enggak ada. Tapi saya ingin mendorong penerbit Indonesia untuk menerbitkan The Veins of the South are Still Open karena di buku ini ada esai Patnaik, John Smith, dkk. Debat-debat yang sudah kita bicarakan ada di dalamnya. Dan ini perdebatan dari sudut pandang kami. Maksudnya, perspektif atau pemikiran anti-kolonial, Marxisme anti-kolonial, pemikiran pembebasan anti-kolonial, dan sebagainya. Inilah perspektif kami.

Buku Patnaik ini [Theory of Imperialism] luar biasa. Agak lebih teknis dan panjang. Ya, butuh kecakapan teknis juga untuk membacanya. Buku John Smith enak dibaca, tapi lebih tebal. The Veins of the South are Still Open adalah pengantar bagus tentang debat seputar imperialisme dalam 150 halaman. Coba saja lihat subjudulnya “perdebatan seputar imperialisme di zaman kita.” Semoga buku ini bisa diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.

Mestinya saya ngobrol dengan Ronny [Agustinus dari Marjin Kiri]. Marjin Kiri menerbitkan Red Star Over the Third Word edisi Indonesia. Ciamik bukunya. Saya suka jenis font di bagian sampul. Mirip huruf Sirilik. Cerdas banget pilihannya. Ini Ronny yang menerjemahkan.***



Kerabat kerja edisi spesial Batjaan Liar:
Transkrip: Haris Prabowo, Daniel Sihombing, Fathimah Fildzah Izzati
Alih Bahasa: Windu Jusuf
Ilustrasi: Deadnauval


Pada awal abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda melalui tangan Balai Poestaka berusaha membendung arus penerbitan buku dan artikel karya para aktivis anti-kapitalis dan anti-kolonialis. Barisan literatur yang berperan besar menyuburkan gerakan politik kelas di Indonesia ini dicap Belanda sebagai “batjaan liar”. Kami mengklaim kembali istilah tersebut untuk sebuah rubrik berisi rekomendasi bacaan yang disusun secara tematik untuk merespons berbagai macam isu. Haris Prabowo adalah editor tamu Batjaan Liar. Sehari-hari ia bekerja sebagai jurnalis Tirto.id.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus