Alexandra Kumala: “Di Indonesia, Komitmen terhadap Keanekaragaman Masih Berupa Gembar-Gembor Belaka.”

Print Friendly, PDF & Email

Alexandra memerankan Lenore di “A Modest Proposal”. Kredit foto: Ellen Bryan


ALEXANDRA Kumala adalah aktor, penulis dan seniman yang penampilannya di panggung teater kota New York saya saksikan langsung dalam pertunjukan berjudul “A Modest Proposal” akhir Januari tahun lalu. Pertunjukan ini berkisah tentang bagaimana pemerintah sebuah negara antah berantah di sebuah masa depan yang distopian mengontrol jumlah warganya dengan menganjurkan bunuh diri. Alexandra memerankan Lenore, seorang perempuan cerah ceria penuh senyum dan tawa yang bekerja di salah satu pusat tempat bunuh diri sukarela itu berada. Tema pertunjukan ini lumayan gelap dan brutal, tapi Alexandra memerankan Lenore dengan intensitas yang menyala-nyala yang menunjukkan ironi keceriaannya saat menyuntikkan cairan kematian di tubuh-tubuh warga. Satu hal yang juga terlihat jelas di atas panggung: Alexandra adalah satu-satunya orang Indonesia dan Asia yang tampil di sana.

Perempuan asal Jakarta ini tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa ia akan berkarya secara serius sebagai seniman. Dia memang terlatih sebagai pebalet/balerina sejak kecil dan menghabiskan masa awal kanak-kanaknya dengan tampil dalam pertunjukan dari panggung nasional seperti Gedung Kesenian, Graha Bakti Budaya, Teater Jakarta, sampai konser dan pesta pernikahan, dan di banyak drama sekolah. “Saya suka aspek menampilkannya di panggung,” kata Alex. Tetapi selama beberapa tahun setelahnya, saat ia belajar di sekolah menengah di Singapura – sebuah periode yang dia istilahkan sebagai “cuci otak” karena membuatnya berpikir bahwa,“kecuali kamu masuk di bidang bisnis atau sains, kamu tidak akan berarti apa-apa” – Alex kemudian memutuskan untuk belajar Pra-Medis (Pre-Med – sekolah persiapan kedokteran) dan Kesehatan Global (Global Health) di University of Washington di Seattle.

Di sinilah ia pertama kali belajar tentang faktor-faktor penentu sosial kesehatan: bagaimana kesehatan masyarakat bukan hanya disebabkan hal-hal di tingkat sel, tapi struktur-struktur sistemiklah yang justru sangat memengaruhi kesehatan masyarakat. Ini membuat pandangannya yang tadinya mendewakan sains lalu terpapar dan terbuka ke ilmu-ilmu lain seperti ekonomi, sejarah, antropologi, ilmu politik dan jurnalisme dan bagaimana semuanya masuk ke dalam sistem yang memengaruhi kesehatan masyarakat. Alex pun mulai belajar tentang banyak hal yang tadinya tidak ia ketahui dan ia ingin menceritakan kisah-kisah ini. “Saya bayangkan kalau saja orang tahu tentang cerita lain di luar dunia mereka, itu akan memperdalam empati mereka dan menambah pengetahuan mereka sehingga mereka sendiri bisa membuat keputusan yang lebih empatik dalam praktik bisnis mereka, dalam posisi pemerintah mereka, dan kehidupan sehari-hari mereka.”

Suatu hari ia pergi dengan teman masa kecilnya dari Jakarta yang mendapatkan tugas kelas untuk melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda dari program studinya (ekonomi). Mereka putuskan untuk menonton pertunjukan sandiwara di ACT (transfer dari off-Broadway). Alexandra sudah lama sekali tidak ke teater saat itu. Pada saat menonton itulah, dia menangis dalam hening sambil berpikir, “Ya Tuhan, inilah yang harus saya lakukan dengan hidupku!”

Ia kemudian mulai mengambil kelas akting dan mengerjakan berbagai produksi di Seattle, termasuk “Supraliminal” dari Teater Seattle Immersive yang disutradarai oleh sutradara yang mendapat nominasi Gregory Award Paul Thomas, film “Game On” dari Comedy Dynamics, dan “The Man In The High Castle ” yang tayang di Amazon. Karena orang tidak dapat benar-benar mencari nafkah sebagai aktor di Seattle, Alexandra pun memutuskan untuk pindah ke tempat yang memfasilitasi apa yang ingin dia kerjakan dalam hidupnya: kota New York. Di kota yang tak pernah tidur ini, ia merambah teater di Off-Broadway, Off-Off-Broadway, teater indie dan film-film independen dengan dana terbatas, yang artinya pemilihan ceritanya haruslah yang benar-benar ingin diceritakan — kisah-kisah yang substansial, kisah-kisah yang menantang status quo, dan cerita yang mengeksplorasi apa yang diabaikan.



Sebagai perempuan Indonesia keturunan Tionghoa, cerita-cerita yang ada tapi sengaja diabaikan oleh mereka yang dominan adalah hal yang Alex sadari sejak lama. Saat ini ia sedang menulis skenario tentang diaspora Indonesia yang berdasarkan peristiwa nyata dan terinspirasi dari orang-orang Indonesia di dalam hidupnya dulu sampai sekarang. Skenario ini ia kembangkan bersama Broadway Advocacy Coalition di tahun 2019, juga Voices of America Writers Workshop dan The PlayGround Experiment di tahun 2020. Dia juga sedang mengerjakan proyek Fotografi Cina-Indonesia yang diceritakan melalui arsip keluarga dan mengeksplorasi kisah-kisah pribadi yang dibentuk oleh sejarah nasional. Alex bertemu orang-orang lain yang juga menemukan arsip keluarga mereka dari akhir 1800-an sampai awal 1900-an yang tersimpan di gudang keluarga mereka. “Mereka kesulitan menghubungkan cerita-cerita dan sejarah yang ada karena keluarga mereka juga enggan membicarakannya.”

“Kita semua penuh dengan cerita yang kita simpan untuk diri kita sendiri. Sebagian orang tidak bisa tidur tanpa mengekspresikannya ke orang lain, sebagiannya lagi tidur lebih tenang menyimpannya untuk diri mereka sendiri,” tuturnya. Ia menjelaskan lebih lanjut bagaimana sebuah cerita bisa terlalu menyakitkan untuk dihidupkan kembali. Tiap gambar, suara atau tanggal perayaan tertentu bisa memicu kembali ingatan dan pengalaman-pengalaman yang traumatis. Tidak semua trauma bisa diceritakan tapi bagaimana melewatinya dan bertahan hidup adalah apa yang bisa dibagikan secara turun temurun dalam sebuah keluarga demi untuk melindungi diri dan orang-orang yang dicintai. Di Indonesia, menjadi Tionghoa sering dianggap berbeda dari masyarakat Indonesia kebanyakan. Ada banyak diskriminasi bahkan kekerasan. “Sejujurnya, banyak sekali contoh diskriminasi yang mencolok atau bentuk-bentuk agresi kecil yang bisa saya beberkan, tapi saya sedang menulis skenario yang membicarakan tentang hal ini – sekarang lagi cari produser yang pas untuk mewujudkannya sebagai karya. Jadi, kalau lain kali ada yang tanya ini ke saya, saya tinggal bilang: tolong tonton saja film saya,” ucapnya sambil tertawa. Alex sadar bahwa rasisme adalah hasil kolonialisme yang hidup dari generasi ke generasi. Butuh kerja yang panjang untuk mendekolonisasi pikiran dan mengejawantahkannya ke dalam aksi nyata.

Beberapa kali Alex merasa sangat letih diperlakukan seperti alien dan beberapa kali pula sering berpikir untuk menyerah saja. Ada banyak kejadian di mana ia meninggalkan dunia seni dan bekerja di lapangan kerja yang tidak ada unsur seninya sama sekali, “Tapi tiap kali saya berada di titik itu, saya selalu terus ditarik kembali untuk melakukan apa yang harus saya kerjakan: menceritakan kisah yang begitu mendesak untuk diceritakan. Saya sadar bahwa menjadi seniman dengan identitas yang saya punyai adalah sebuah kesempatan bagi saya untuk bercerita, untuk membagi ide-ide, dan untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang bisa menantang dan mengubah persepsi kita tentang dunia, dan pada akhirnya, mengubah dunia.”

Alex menyebutkan nama-nama penulis dan seniman Indonesia keturunan Tionghoa yang menjadi inspirasinya dan juga menjadi alasannya untuk berkarya. “Mereka ini sangat mengagumkan dan memberi suara bagi pengalaman menjadi Cina Indonesia. Mereka membuat saya jadi tidak merasa sendirian dan menginspirasi saya dengan keberanian mereka.” Ia menyebut diantaranya: Leonard Surajaya, fotografer di Chicago yang karya-karyanya berakar dari masa dia bertumbuh sebagai seorang Buddhist yang dididik di sekolah Kristiani di sebuah negara Muslim. Rani Pramesti, seniman multidisipliner di Melbourne yang proyeknya, Chinese Whispers dari bentuk oral history jadi animasi atau novel grafis digital. Cynthia Dewi Oka, seorang penyair di Philadelphia yang bukunya, Salvage sangat menyentuh, “Saya sampai harus meletakkan bukunya beberapa kali ketika membacanya supaya saya bisa bilang ke diri sendiri untuk bernafas lagi”. Tiffany Tsao, penulis dan penerjemah sastra di Sydney, yang bukunya The Majesties membuka mata Alex untuk melihat banyak perspektif baru, terutama tentang kenapa persentasi signifikan Tionghoa Indonesia sekarang mengidentifikasi diri sebagai Kristiani paska 1998. Lucky Kuswandi, yang filmnya The Fox Exploits the Tiger’s Might, menurut Alex adalah karya cerdas yang menggunakan simbolisme untuk mengeksplorasi dinamika kuasa antara penindas dan yang tertindas, dan bagaimana yang tertindas menemukan, mendapatkan dan menggunakan kekuatan mereka.Dan tentu saja para dedengkot seniman seperti FX Harsono dan Myra Sidharta.”

Ada juga para seniman yang karyanya tidak atau belum membicarakan tentang identitas etnis mereka tapi mereka sangat “bangun” dalam soal ini. “Mereka ini yang memberi saya pencerahan ketika saya masih sangat tidak tahu apa-apa seperti Olen Riyanto, penyanyi jazz dan fotografer di Ubud yang mengenalkan saya dengan buku-buku Soe Hok Gie, lalu ada Alexander Sebastianus Hartanto, seniman tekstil dan peneliti di Boston yang mengajari saya tentang antropologi dan sejarah Cina Indonesia lewat tekstil dan arsitektur, dan masih banyak lagi lainnya.”

Para seniman tersebut, Alex mengaku, memengaruhi visi artistiknya. Ia belajar banyak dari mereka tentang bagaimana mempresentasikan karya, mengomunikasikan ide, dan mengatakan apa yang perlu dikatakan dengan halus sekaligus tajam. Ia juga terinspirasi oleh orang-orang biasa di mana ia berbagi percakapan sepintas lalu maupun diskusi yang dalam. “Dari penjaga toko, pemilik hotel, pelajar, koki masak, penjual tas, bankir, dokter, manajer restoran, tukang jahit, saya mendapatkan inspirasi. Kita semua ini sebenarnya penuh dengan cerita yang kita simpan untuk diri sendiri.”

Alex merasa beruntung berada di New York, kota yang sangat majemuk dan selalu berada di garis depan perubahan dibandingkan tempat-tempat lain di Amerika. Keanekaragaman dirayakan di kota ini. Banyak organisasi-organisasi kesenian yang komitmennya pun tidak cuma di atas kertas tapi betul-betul dilaksanakan dalam kenyataan. Di Indonesia, ia masih jarang menemukan hal ini, “Rata-rata komitmen atas keanekaragaman masih berupa gembar-gembor saja.” Meskipun demikian, baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia, ia selalu merasa jadi minoritas, “Di Amerika, saya sering jadi satu-satunya orang Asia di dalam ruangan, di atas panggung atau kadang-kadang di seluruh produksi. Di Indonesia, saya selalu jadi satu-satunya etnis minoritas.”

Dulu, ia sering merasa sendirian sebagai seniman. Banyak seniman atau aktor, lanjut Alex, lupa bahwa bentuk dan struktur didisain oleh si dominan untuk si dominan dengan manfaat bagi si dominan. “Ini adalah sistem yang sudah berurat akar sehingga kalau tidak ada satu saja orang yang melakukan sesuatu yang sangat berbeda, akan mudah untuk jatuh ke dalam perangkap untuk mengikuti dan menegakkan sistem tersebut tanpa sadar.”

Ia lalu memberi contoh tentang bagaimana film berwarna tadinya dirancang oleh orang Kaukasia sebagai ukuran standar (“Shirley card”). Teman fotografernya menunjukkan bahwa banyak fotografer Barat tidak menangkap sinar lampu sorot di mata orang-orang Asia, “Ini bikin ekspresi orang-orang Asia jadi tampak mati dan melestarikan stereotype bahwa orang Asia tidak punya emosi.”

Contoh lainnya yang paling mencolok terutama sebagai seniman perempuan adalah saat membicarakan laki-laki dengan track record kekerasan seksual. “Orang bilang kita seharusnya menilai karya mereka terpisah dari aksi atau perilaku mereka. Apakah mereka nggak berpikir bahwa anggapan ini keluar karena sistemnya dibentuk oleh laki-laki, untuk laki-laki, yang mengijinkan mereka untuk terhindar bebas dari aksi mereka dan bisa dinilai hanya dari hasil akhir kerja mereka meskipun dalam prosesnya melibatkan pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan?” Alex membayangkan jika saja sistemnya dibentuk untuk berguna bagi perempuan, maka kerja seni akan dinilai secara keseluruhan termasuk proses yang terjadi untuk mendapatkan hasil akhirnya.  

Saat ini, sistem yang ada mengijinkan orang bisa berdalih dengan komentar-komentar seperti, ‘perempuannya yang minta begitu karena mereka kepingin terkenal’, ‘begini ini yang harus kamu hadapi kalau mau sukses,’ ‘dia tidak mungkin memberikan penampilan yang bagus tanpa tekanan yang kita berikan padanya.’ Terhadap model dalih yang seperti ini, Alex hanya punya satu reaksi, “Tidak. Ini semua tidak semestinya kita dengar lagi.”

Salah satu mentor Alexandra adalah Perry Yung, seorang aktor perintis Asia Amerika awal di dunia teater (sekarang dia bermain di Warrior bersama Joe Taslim) dan anggota teater LaMama selama 30 tahun. Perry Yung punya nasehat bijak yang ia bagi ke Alexandra dan ia selalu lakukan melalui teaternya: selalu pastikan untuk menantang status quo. Misal, saat mencari sutradara, mereka akan sengaja mencari kesempatan untuk bekerja dengan imigran, perempuan kulit berwarna (women of color) dan lain-lainnya. Karena jika ini semua cuma sekadar menambah poin di resume, akhirnya hanya orang-orang berkulit putih saja yang bisa punya credentials karena mereka ada dalam sistem yang bekerja untuk mereka, “Jadi, ini adalah tanggung jawab teater-teater yang sudah mapan untuk menggunakan kekuatan mereka untuk mengangkat suara-suara yang terabaikan. Bikinlah agar mereka itu berada di depan.”

Ada banyak hal yang ia perhatikan saat berkesenian di Amerika Serikat maupun di Indonesia. Perbedaan terbesar adalah bagaimana di Indonesia, ada obsesi terhadap senioritas dan betapa dalam berakarnya ageism (stereotype/diskriminasi karena usia). Mereka yang muda tidak diperbolehkan menyuarakan ide apalagi diberi sumber daya untuk melaksanakannya. Mereka harus menghormati guru mereka selama berpuluh-puluh tahun, dan karena itu banyak yang kehilangan orisinalitas dan kreativitas mereka di waktu-waktu itu. “Seniman-seniman Indonesia terlatih sangat baik dalam mengikuti perintah dengan presisi dan detail absolut, tetapi begitu mereka memiliki kesempatan untuk mencipta sendiri — konsep orisinal, interpretasi, adaptasi, dramaturgi — apakah mereka bisa melakukannya sendiri? Apakah mereka akan mengambil kesempatan itu? Apakah mereka akan melihat peluang? Bagaimana orang bisa memicu ide dan  kreasi yang baru, berani berbeda ketika mereka sudah lama dicekoki sikap untuk tidak bersikap kritis, untuk tidak berpikir secara mandiri, untuk tidak mempertanyakan hal-hal, untuk tidak ‘menantang yang lebih tua’?”

Di Amerika Serikat, suara individu anak-anak dan remaja dipupuk untuk membantu suara unik mereka bersinar. Para pemimpin di organisasi-organisasi menjadikan ini sebagai prioritas dan karenanya memasukkannya ke dalam rencana kerja tahunan mereka, entah melalui program pendidikan mereka, melalui festival-festival dan laboratorium penulis baru dan yang sedang tumbuh, bermitra dengan sekolah, dan lain sebagainya. “Setiap kali ada kesempatan, saya coba menonton pentas-pentas dari program sekolah menengah atau sekolah menengah atas di sini. Anak-anak sekolah ini ngerap, nari, nyanyi, nulis materi mereka sendiri. Saya sering terpesona dengan betapa kuat voice mereka padahal masih sangat muda.”

Alex menambahkan bahwa para seniman di New York tidak mengalami segala macam keterbatasan terkait censorship laws yang membahayakan nyawa seniman. Sebagian besar hanya akan dipusingkan dengan keterbatasan dana. Kalau di Indonesia, para seniman yang betul-betul punya hal penting untuk disampaikan harus sangat kreatif dan hati-hati dalam memproduksi karya mereka sehingga pesan yang sampai tetap kuat tetapi mereka tidak akan terkena bahaya, “Di Indonesia itu kritis sedikit saja, kena cyberbully.”

Saat pandemi Corona menjangkiti seluruh dunia, Alex terkena dampaknya sebagaimana orang-orang lain di mana-mana. Para pembuat teater dan seniman yang kerjanya biasanya melibatkan tubuh yang bergerak di ruang yang sama terpaksa harus menunda atau membatalkan acara-acara yang sudah dijadwalkan. Banyak kegiatan seni yang Alex tangani – seperti mengajar teater anak-anak di Saung Budaya (sanggar tari Indonesia di New York) – terpaksa berhenti atau dibatalkan.

Salah satu drama baru di mana Alex terlibat dalam pengembangannya bersama teater investigasi The Anthropologist, “No Pants in Tucson” terpaksa dibatalkan jadwal residensi musim semi dan lokakaryanya pada bulan April-Mei ini. Drama ini menggunakan penelitian kearsipan dan sumber teks sebagai pendekatan untuk merancang teater tanpa naskah. Penciptaan drama ini terinspirasi oleh City Ordinance # 44 dari Tucson, Arizona, yang disahkan pada tanggal 8 Mei 1883. Peraturan yang tercantum di sana menyatakan bahwa setiap orang yang tampil “dalam pakaian yang bukan milik jenis kelaminnya” dikenakan denda atau dipenjara. Peraturan ini secara umum diartikan bahwa wanita tidak bisa memakai celana. Dari sinilah judul No Pants in Tucson itu berasal. Alex bersama kawan-kawannya di The Anthropologist belum menemukan bukti bahwa Undang-undang nomer 44 itu telah dicabut. “Penelitian kami juga menunjukkan bahwa undang-undang negara bagian Amerika dipenuhi dengan kebijakan yang membatasi otonomi — sebagian besar tentang tubuh perempuan, dengan serangan hukum terhadap hak-hak reproduksi dan transgender yang terjadi bahkan hingga hari ini — serta kebijakan perusahaan yang menjunjung tinggi struktur yang menindas tentang bagaimana perempuan harus bersikap dan bertingkah laku agar bisa sukses,” papar Alex. Berkat dukungan dari NYC Women’s Fund, Alliance of Resident Theatres New York, Dime Community Bank, dan Off-Broadway Angels Foundation, mereka bisa memastikan World Premiere pertunjukan ini di tahun 2021.

Alex bersyukur bahwa direktur artistik mereka, Melissa Moschitto, memutuskan untuk terus bekerja secara virtual meskipun lokakarya dan residensi mereka batal. Buat Alex, ini jadi sebuah proses yang menarik dan sangat memperkaya tim mereka semua saat merancang produksi secara digital. Mereka menggunakan teknik-teknik khusus untuk membuat komposisi: lapisan (layering), bank suara, bank gambar, juga penggunaan alat-alat teknis yang biasanya mereka lakukan dengan tubuh mereka. “Saya terpukau oleh kualitas komposisi ini. Kolaborator saya sangat tajam dan memiliki integritas artistik yang tinggi. Terlepas dari kreativitas dan orisinalitas klip komposisi kami, kami memilih untuk menginkubasinya daripada membagikannya. Ini sangat dibutuhkan di dunia yang begitu jenuh oleh para pencari perhatian yang putus asa mengaduk-aduk konten setengah matang cuma demi kehadiran virtual atau karena mereka gelisah dan tidak sabar. Saya menulis tentang ini kepada Nassim Soleimanpour dan dia bilang ke saya, ‘Gagasan butuh waktu. Alam adalah Ibu-Ide dan pasti butuh waktu. Lihat saja semua hal tidak alami dan tidak wajar yang kita lakukan pada lebah, pohon apel dan sapi hanya untuk memeras lebih banyak produk dari mereka dalam waktu yang lebih singkat! Seniman bukanlah penebusan.’ Saya akan selalu membawa nilai ini bersama saya. Akan saya terapkan melampaui masa Corona”. ***


Sari Safitri Mohan adalah Editor IndoPROGRESS

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus