Pesan Subversif dari Kenaikan Yesus ke Surga

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: 208.106.253.109

Imagine there’s no heaven

It’s easy if you try

No hell below us

Above us only sky

Imagine all the people living for today


KUTIPAN lagu  Imagine karya John Lennon  pada awal dekade 1970-an,  konon menginspirasi banyak orang  di seluruh dunia untuk mempertanyakan kembali ajaran tentang surga. Bagi flower generation, yang diwakii oleh Lennon,ide tentang surga dalam agama Kristen dianggap lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.  Pasalnya, ide soal surga dianggap bertanggung jawab atas berbagai malapetaka kemanusiaan[1]. Mulai  perang salib di abad ke 10 sampai  kekerasan terhadap kelompok LGBTIQ di abad 20  diasumsikan  terhubung dengan ide Kristen soal surga.  Tentu proposal Lennon untuk mengabolisi surga mendapat kecaman keras dari banyak kalangan Kristen konservatif.

Kebudayaan barat terbentuk di atas kerangka wawasan Judeo- Kristiani yang  memuliakan ide  surga dalam bangunan idealismenya.  Hal ini terbukti dari berlimpahnya kisah tentang surga di kebudayaan barat .  Mulai dari abad pertengahan via   Divine Comedy  karya Dante Alighieri, sampai era Renaisans  saat  Michaelangelo melukis mahakarya di langit-langit  Sistine Chapel, juga memasukkan narasi  surga dalam karyanya.

Keutamaan surga dalam kekristenan populer di abad 20, ternyata tidak semakin surut. Kita dapat menjumpai bagaimana  penglihatan Ellen G. White, sang pendiri Adventis hari ke 7 sampai kisah kesaksian  Choo Thomas yang mahsyur dalam buku Heaven is so Real[2],  lagi-lagi menempatkan surga  sebagai destinasi terakhir umat manusia.


Surga Yang Bermasalah ?

Sekalipun sejak abad pertengahan sampai abad ke-20 berbagai detail yang berbeda soal surga itu berkembang dalam ajaran Kristen,  ada benang merah  yang merajut  konsep surga dalam kekristenan barat[3] sejak abad pertengahan sampai saat ini.

Pertama, surga umumnya digambarkan sebagai sebuah tempat di luar bumi ini. Sebuah kenyataan ideal-spiritual. Ini memberi petunjuk tentang siapa Tuhan yang bersemayam di surga semacam itu. Tuhan yang  idealistik dan tak terpengaruh  apalagi terhubung dengan mahluk ciptaan (immpassable)  .

Kedua, surga adalah tempat yang akan dimasuki oleh orang-orang saleh yang telah ditebus oleh Yesus Kristus setelah kematian.  Surga, sebagaimana neraka, dipahami sebagai kenyataan post mortem. Hal ini membuat agama Kristen direduksi menjadi bekal akhirat semata.

Ketiga, karena surga adalah  destinasi utama yang abadi, maka bumi adalah fana dan sekunder. Konsekuensinya segala pergumulan di bumi  ini bukanlah hal utama yang harus diperjuangkan terlalu serius. Kehidupan di bumi  material hanyalah persiapan pada kehidupan rohaniah di surga kelak. Semakin relijius seorang Kristen, semakin abailah dia  terhadap kenyataan hidup.

Sengkarut  asumsi ini berhasil mengasingkan umat kristen dari jantung berita injil, bahwa kehendak Allah melalui Yesus kristus hendak memulihkan dunia demi kemuliaanNya.


Apakah Surga Dalam Imajinasi Yesus dan Gereja Perdana ?

Berbanding terbalik dari gambaran populer tersebut, sejarah pemikiran Kristen perdana dan kesaksian Alkitab memaparkan gambaran surga yang sangat berbeda. Gambaran  surga yang mungkin saja berseberangan dengan pemahaman Kristen  populer tentang surga.

Surga dalam alam pikir Gereja perdana, sangat dekat dengan sejarah dunia dan pergumulan politik umat Allah. Hal itu terjadi karena ide tentang surga dalam Gereja perdana beririsan dengan pemahaman Judaisme .

Salah satu referensi mengenai surga dalam Judaisme termuat dalam di Kitab Mazmur pasal 2:4-8 :

Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka. Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murka-Nya  dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-Nya: ”Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!” Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ”Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa  akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu.

Gambaran Kitab Mazmur tersebut menjadi petunjuk tentang surga. Di sana ditampilkan surga sebagai tempat Allah menyiapkan suksesi kepemimpinan Sion, menghakimi raja-raja dunia yang lalim dan berbagai siasat politik lainnya. Adegan yang digambarkan di kitab Mazmur sedang menunjukkan bahwa di balik kenyataan politik yang kasat mata, ada meta politics yang bekerja di balik layar.

Maka surga, alih-alih dipahami sebagai sebuah lokasi yang berbeda dari bumi, ia digambarkan sebagai dimensi yang  berdampingan (interlocked) dengan berbagai peristiwa bumi, di lokasi dan waktu yang sama. Surga adalah realitas  imanen di balik layar sejarah. Itu sebabnya surga dalam berbagai referensi di Alkitab perjanjian lama  senantiasa dikaitkan dengan asal usul kedaulatan politik.

Hal ini membuat kita dapat mengerti mengapa di Alkitab perjanjian baru ketika Yesus ditanya oleh para muridnya, dimana lokasi kerajaan surga, Yesus menjawab: “Sesungguhnya kerajaan  surga itu ada di antara kamu” (bandingkan Matius 9:35-10:8) .


Pertarungan Memperebutkan Mitos Surga

Kekuatan politik Imperium Romawi, sebagaimana semua imperium, dibangun bukan saja dari kekuatan represif militer tetapi juga kekuatan aparatus ideologis yang membangun legitimasinya lewat mitos. 

Mitos tidak serupa dengan kisah isapan jempol dari peradaban kuno. Mitos adalah imajinasi yang dinarasikan, yang diulang-ulang dan memberikan daya asertif untuk pendengarnya. Pada akhirnya mitos bertujuan agar permirsanya untuk berpikir, bertindak, merasa bahkan berharap sesuai wawasan dunia (worldview) di balik narasi itu[4].

Dalam kajian-kajian pascakolonial kita mendapati bahwa mitos dilembagakan dalam mitologi.  Mitos dibuat, dirawat dan direproduksi agar narasi tentang asal-usul, tujuan hidup individu maupun kolektif, selaras dengan kehendak sang penindas. Melalui kisah-kisah orang-orang bijak dan saleh, apa yang represif dibuat menjadi natural dan terberi[5].

Pakar semiotika, Roland Barthes, mengatakan  semua pembentukan dan pelanggengan kekuatan politik harus melibatkan mitologi yang ditegakkan lewat aparat-aparat kearifan dan kebudayaan[6].

Imperium Romawi membangun dan menyebarkan wawasan politiknya di bawah pengaruh mitos Gerika.  Sebagaimana wawasan Judaisme, mereka pun  memahami bahwa surga  adalah sumber kedaulatan bagi para raja dan penguasa. Semua kaisar dan struktur hierarki kekuasaannya  mendapatkan afirmasi dan justifikasi kultural karena semua sistem itu diklaim sebagai representasi  kehendak para dewa di surga[7]. Di hadapan mitos Gerika itulah  Kekristenan perdana membangun narasi tandingan tentang siapa dan bagaimana surga beroperasi .


Kenaikan Yesus Kristus ke Surga Sebagai Tindakan Subversif ?

Kekristenan perdana adalah agama yang radikal dalam membuat narasi alternatif. Setelah memproklamasikan kebangkitan Yesus Kristus, yang sebelumnya sudah di vonis mati dan dieksekusi di kayu salib, injil  menyaksikan Yesus Kristus dibangkitkan Allah dari Kematian (Kisah Para Rasul 2:32).

Secara teologis maknanya tersurat jelas: Kematian Yesus berasal  putusan pengadilan yang salah, kematiannya adalah kematian yang tidak direstui Allah. Maka Allah mengintervensi dan membalik semua kezaliman ini dengan satu tindakan radikal: Yesus dibangkitkan dari kematian. Kebangkitan Yesus  adalah pukulan telak bagi lembaga agama yang mapan saat itu: Allah berpihak pada “orang sesat dan pembangkang” seperti Yesus dan bukan pada tokoh agama mayoritas  dan penguasa politik yang dominan.

Tidak berhenti sampai di sana, Yesus Kristus yang bangkit itu kemudian terangkat ke surga, ke pusat kendali politik dunia. Inilah mitos tandingan yang membuat semua penguasa dunia akan memperhitungkan kekristenan sebagai agama yang memiliki potensi subversif.

Mengapa subversif ?

Karena surga ternyata tidak diisi oleh para dewa yang melegitimasi imperialisme global!

Surga, dalam narasi Injil direbut oleh Yesus kristus lewat kenaikannya ke surga. Tidak tanggung-tanggung, posisi Yesus di surga pun di narasikan, “duduk di sebelah kanan Allah Bapa” (Bandingkan Markus 16:19). Sebuah tempat yang dikhususkan bagi pengemban mandataris kuasa semesta.

Dampaknya  tentu jelas.  Sejak saat itu berarti semua  narasi  lama soal para dewa yang duduk di surga tidak mendapat tempat lagi. Akibatnya konstelasi imperium tidak memiliki landasan moral dan teologis untuk bertahan. Tatanan lama imperium  tinggal menunggu saatnya untuk tumbang dan digantikan tatanan baru (Bandingkan 2 Korintus 5:1). Ini adalah berita subversif yang akan memberi bahan bakar pada upaya makar.

Bagi Imperium Romawi  siapapun yang meyakini narasi  ini  berpotensi mengancam tatanan kekuasaan yang mapan.


Apa Dampak Keyakinan Ini Terhadap Cara Kita Melihat Dunia?

Beberapa hari lalu,  Gereja di seluruh dunia merayakan hari raya kenaikan Yesus ke surga. Seperti Gereja perdana, Gereja  masa kini  bersama segenap  umat manusia  sedang berhadapan dengan kekuatan kekaisaran. Jika dulu Gereja abad  pertama berhadapan dengan Imperium Romawi, hari ini gereja berhadapan dengan imperium kapitalisme global.

Berbagai masalah politik, sosial, ekologi, ekonomi dan kebudayaan berakar dari tentakel imperium ini. Tidak ada satu pun aspek hidup segala mahluk yang luput dari pengaruhnya.

Dalam pada itulah umat Kristen hari ini harus merajut titik kontak antara peristiwa kenaikan Yesus ke surga  di abad ke-1  dengan situasi kontemporer kita di abad  ke-21,  dalam gaung  pesan subversifnya sebagai berikut:

1. Karena tubuh personal-partikular Yesus sudah naik ke surga, kehadiran Kerajaan Allah di bumi  kini diperluas melalui tubuh kolektif-universal  pengikut Yesus (multitude[8]) ke segenap  ruang politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan, dll. Pada beragam ranah itulah Gereja menemukan medan pertempurannya (Efesus 6:12).

 2. Gerejamengabarkan pada dunia bahwa mereka tidak ingin meninggalkan bumi dan naik ke surga seperti Yesus. Sebaliknya  mereka memberitakan kabar subversif : Yesus yang sudah duduk di pusat kendali kosmik, akan menarik surga turun ke bumi untuk  mendisrupsi  imperium kapitalisme global (wahyu 12 :10).

3. Disrupsi   imperium  oleh kerajaan surga dilakukan melalui keterlibatan Gereja sebagai bagian dari  multitude  untuk membangun  sistem yang  adil dan benar melalui sosialisme.  Hanya di dalam tatanan itulah   kedaulatan  kerajaan Allah dapat  bertahta seutuhnya  di bumi seperti di surga (1 Korintus 13 :6).***


Suarbudaya Rahadian adalahPendeta Gereja Komunitas Anugerah-Reformed Baptist Salemba


————-


[1] Wawancara terakhir John Lennon sebelum meninggal dunia: https://www.rollingstone.com/music/music-news/john-lennon-the-last-interview-179443/

[2] Buku ini adalah sebuah kesaksian yang ditulis oleh orang Korea-Amerika Serikat tentang pengalamannya mengunjungi surga dan neraka. Buku ini amat laris di berbagai toko buku  di seluruh dunia dan dicetak puluhan ribu eksemplar ke dalam berbagai bahasa dalam 5 tahun terakhir.

[3] Kekristenan Barat meliputi Gereja Latin dari Gereja Katolik, berbagai denominasi Protestan, dan kelompok-kelompok lainnya yang berasal dari dunia Barat. Istilah ini digunakan secara kontras dengan Kekristenan Timur. Kekristenan Barat berkembang dan kemudian mendominasi sebagian besar Eropa, Afrika Utara, Afrika Selatan, serta seluruh Australia dan Belahan Barat. Ketika digunakan dalam periode sejarah sejak abad ke-16, ‘Kekristenan Barat’ mengacu secara kolektif pada Katolisisme Roma dan Protestanisme, terutama untuk perspektif-perspektif dan pendekatan-pendekatan teologis bersama mereka (misalnya liturgi, doktrin, sejarah, dan politik), serta bukan pada perbedaan-perbedaan mereka.

[4] Mitos ada di setiap peradaban lintas zaman. Mitos bekerja seperti ideologi, dia direngkuh, tapi tidak pernah disadari oleh subjek yang memeluknya. Jargon “kerja keras adalah kunci sukses”, “revolusi mental kunci kemajuan bangsa”, “NKRI harga mati”, “Komunis adalah sistem yang terbukti gagal” adalah beberapa mitos modern yang senantiasa direproduksi dan diyakini tanpa dipertanyakan. Mitos-mitos ini memberi navigasi dalam dinamika politik bahkan  tidak jarang merembesi kajian saintifik.

[5] Bandingkan On the power dynamics between Western cultural knowledge production and Indigenous knowledge systems, Laurie, Timothy; Stark, Hannah; Walker, Briohny (2019)

[6] Barthes, Roland, translated by Annette Lavers. Mythologies. London, Paladin, 1972, hal. 12

[7]Chaniotis, Angelos , The Divinity of Hellenistic Rulers, in Erskine, Andrew (ed.), A Companion to the Hellenistic World, Wiley-Blackwell, 2003, hal 55

[8] [Menurut Antonio Negri, multitude dapat dipahami dengan tiga cara berbeda: 1) sebagai subjek yang beragam (multiplicity of subjects); 2) sebagai konsep kelas; dan 3) sebagai komponen power (constituent/ontological power). Sebagai subjek yang beragam, multitude mengacu pada kelompok yang mempertahankan keberagamannya dan tidak dapat direduksi dalam satu kesatuan identitas. Multitude sebagai subjek politik perlu dibedakan dari berbagai subjek politik lainnya, misalkan rakyat ataupun kelas pekerja. Identitas rakyat atau kelas pekerja menurut Hardt dan Negri mengandaikan penyeragaman identitas diri menjadi bagian organik dari sebuah artikulasi kepentingan atau akumulasi kapital. Menurut hemat saya, kenaikan Yesus ke surga memberikan identitas baru bagi para pengikut Yesus yang ada di bumi dalam kelindan dengan tiga identitas di atas.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus