Cinta dan Tragedi, Kerja LSM dan Eksploitasi

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)


WAJAHNYA kuyu. Kantung matanya tebal, gelap, dan rias wajah seperti apa pun tak dapat menyelubunginya dengan sempurna. Ia kurang tidur, jelas. Namun, dapatkah Anda membayangkan seseorang kekurangan tidur nyaris sepanjang dua tahun penuh?

Di hari liburnya, ia tetap harus mengawal dan mengoordinasi rapat, menyusun anggaran, menagih pekerjaan dari kolega-koleganya. Pada kebanyakan hari, ia mesti berada di kantor sampai lewat tengah malam dan tidur tanpa menanggalkan beban pekerjaan dari pikirannya. Pun, keletihan fisik bukan hal terburuk dalam hidupnya dua tahun terakhir. Ia acap diintimidasi, difitnah, dan direndahkan oleh kolega-kolega senior yang tak menyukainya.

Dua tahun silam, saya masih ingat, semangatnya kontan menggebu-gebu ketika representasi sebuah organisasi prestisius di Eropa hendak mewawancarainya. Ia melamar sebagai koordinator sebuah proyek yang misinya mempromosikan kesetaraan dan HAM. Para juru seleksi, nampaknya, menyadari pengalaman dan kesungguhannya. Sejak mahasiswa, ia sudah menunjukkan keseriusannya terhadap isu bersangkutan melampaui kebanyakan orang. Ia menggerakkan organisasi yang mewadahi pertukaran pikiran di bidang ini hingga bertahun-tahun, diakui, dan memiliki afiliasi di banyak tempat.

Kesempatannya kini tiba, ia pikir. Selangkah lagi, ia akan bekerja secara profesional di bidang yang lama digelutinya tanpa pamrih. Ia akan memperoleh kesempatan untuk memperjuangkan isu yang dipedulikannya bersama lembaga-lembaga prestisius, aktivis-aktivis berpengalaman, serta memberikan pengaruh yang lebih luas, mendalam, dan mengena.

Pengumuman penerimaannya, yang datang beberapa hari kemudian, disambutnya dengan kegirangan tak terkira. Tentu saja.

Dua tahun proyek yang diampunya berjalan. Sepanjang  kurun tersebut pula, hidupnya tidak pernah tenang. Ia tak bisa beristirahat. Cuti dan batas jam kerja hanyalah kosmetik di kontraknya—ia tak pernah benar-benar dapat memakainya. Acap, tekanan tak tertahankan dan ia menjauh dari semua orang. Ia, lantas, menangis sendirian—entah di pojokan tak terlihat, di kamar mandi, atau di taman.

Berkali-kali pikiran untuk mengakhiri hidup menghinggapinya.

Saya berkali-kali memintanya mengundurkan diri. Ia tidak bisa melakukannya. Ia ragu akan menemukan kesempatan lain serupa. Dan, memang, di hari-harinya yang tak tertahankan, ia pun mendapatkan momennya. Ia diberikan panggung di pertemuan-pertemuan mancanegara paling puncak di bidangnya. Ia terlibat dalam tim yang mengadvokasi kemelut sosial di Indonesia ke badan internasional atau memperkarakan kebijakan-kebijakan bermasalah langsung ke pemerintah.

Ia merasa ia sedang melakukan sesuatu. Dan ia tak bisa memilih antara kewarasannya dan pekerjaannya.

Apa yang terjadi? Setahun silam, saya menulis tentang cinta tragis pekerja LSM di Indonesia. Itulah yang terjadi, saya percaya. Para pekerja ini cinta dengan apa yang diperjuangkan pekerjaannya. Kecintaannya menjadikan mereka pekerja-pekerja yang paling rentan—subjek dari gurita eksploitasi atas nama dunia yang berkelanjutan.

Eksploitasi? Bukankah mereka memang bekerja atas dasar kerelaan? “Bukankah dunia hanya dapat menjadi tempat yang lebih baik bila orang-orang berbuat baik tanpa pamrih, Bung Geger?” Sayangnya, “sukarela,” satu kata yang rutin dipakai sebagai predikat kerja LSM di mana-mana, adalah satu kata yang juga canggih dalam menyembunyikan kenyataan. Kenyataan apropriasi nilai yang kelam dan muram.

Mari kembali ke tokoh kita yang saya sebutkan di awal tulisan ini. Dia tak harus mengorbankan semua waktu, perasaan, dan kewarasannya untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik, sebenarnya. Namun, tidak—hibah para pengucur dana untuk LSM harus langsung berkontribusi mengubah dunia. Para pengucur dana tidak memperkenankan uangnya digunakan untuk merekrut lebih banyak pekerja, memberikan mereka tunjangan-tunjangan yang layak, membangun sistem dan infrastruktur, atau merawat organisasi lokal penggerak program-programnya. Semua harus menjadi kegiatan, program di negara-negara Dunia Ketiga, dan para pekerja lokal harus “merelakan” hak-hak yang bisa diterimanya seandainya ia bekerja di sektor lain.

­

Hasilnya, tak sukar diterka. Pekerja-pekerja LSM lokal remuk. Segelintir insan kulit putih, yang mengawasi, menagih, dan mementungi mereka dari organisasi induk nun di kejauhan sana, sementara itu meraup reputasi sebagai inisiator pusparagam program yang telah mengubah dunia. Eksploitasi? Tentu saja—dan bukan cuma dalam pengertian KBBI-nya melainkan dalam pengertian Marxiannya.

Kita tahu, di ranah kerja LSM mata uang yang berlaku adalah reputasi. Program-program yang terealisasi adalah pencapaian-pencapaian heroik yang akan melekat dengan manis di portofolio para aktornya. Ia adalah lencana-lencana yang akan melunakkan donor dalam memercayakan uangnya ke mereka atau memungkinkan sang manajer program memperoleh posisi lebih prestisius. Dan atas kerja siapa reputasi ini tercetak? Siapa yang mempersembahkan paling banyak waktu, peluh, dan air mata untuknya?

Tokoh kita, salah satunya. Tokoh kita yang namanya terbenam dan tidak bisa menjual pencapaian itu sendiri sebagaimana insan-insan tempatnya melapor. Tokoh kita yang acap ketika tengah terdesak membutuhkan konsultasi dari organisasi induknya tak bisa menghubungi mereka lantaran mereka sedang menikmati libur yang banyaknya tiga hari dalam seminggu atau cuti yang jatahnya sebulan. (Sementara, ia sendiri tak bisa berlibur—tidak bahkan di hari Lebaran, Natal, maupun tahun baru. Program-program prestisius yang dibanggakan oleh organisasi induknya itu akan porak-poranda sekali ia mencoba menikmati waktu luangnya.)

Dan bukan hal yang benar-benar rahasia, Anda tahu, di samping dapat mengklaim utuh-utuh jasa atas terselenggaranya program tersebut, para manajer organisasi-organisasi amal internasional menerima gaji serta manfaat berkali-kali lipat di atas pekerja LSM lokal program-programnya. Pekerja LSM lokal dengan upah sekadarnya. Manajer berkulit putihnya, sang juru kampanye kesetaraan, yang mendapatkan rumah, kendaraan, per diem, dan upah yang tak masuk akal timpangnya.

Eksploitasi terjadi—telanjang dan diiringi segenap kelengkapannya. Ada nilai yang direnggut dari kerja kelas tak berpunya. Ada yang hanya dapat menyambung hidup dan ada yang mengepul kekayaan sebanyak-banyaknya—finansial maupun simbolik. Ada yang tercekik dengan kerja-kerja reproduktif, tak terlihat, tak berbayar untuk memastikan keberlangsungan organisasi lokalnya, dan ada yang menjadi pahlawan lantaran membawahi rentengan program di seluruh dunia yang mentereng di mata masyarakat yang mendambakan heroisme maskulinistis menyelamatkan dunia.

Dan keberartiannya bagi tokoh kita menjadikan pekerjaan ini bukan pilihan. Tokoh kita tahu cara agar hidupnya lebih tenteram. Ia tahu persis. Ia mempunyai gelar S2 dari perguruan tinggi yang disegani. Ia pernah membuktikan dirinya mampu bekerja memanajemeni urusan-urusan rumit di bidang lain. Jika saja ia sudi meninggalkan pekerjaannya mengawal proyeknya, sederet opsi untuk kehidupan yang, setidaknya, lebih tenang sudah tersaji di depan matanya.

Ia tidak melakukannya. Ia percaya, ia sedang membangun sesuatu yang bermakna. Ia masih menaruh harapan bahwa hari-hari yang lebih baik menanti di depan. Bahwa akan tiba hari kala kenestapaannya menjadi masa silam—kala ia duduk setara dengan para pengambil keputusan utama di dunianya. Harapan yang, saya takut, sama khayalinya dengan godot.

Yang saya tahu, seiring waktu, seiring ia berumur, pilihannya semakin sempit. Kepercayaan butanya tersebut harus berbayar atau ia akan kian tergulung dalam pusaran kerentanan dan eksploitasi ini. Dan ia bukan satu-satunya, saya tahu, yang menghadapinya.

Selamat hari buruh, “para pekerja kebaikan” di Indonesia. Panjang umur perjuangan.***


Geger Riyanto, Mahasiswa Ph.D. Institut Antropologi Universitas Heidelberg

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus