Mendedah Pertimbangan Moral dan Teologis Franz Magnis-Suseno Tentang Golput

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Twitter



KERIUHAN soal golput (golongan ptih) merebak kembali pasca tulisan Romo Franz Magnis-Suseno, SJ, di harian Kompas beberapa hari lalu. Berbagai dukungan maupun sanggahan terhadap artikel itu telah disampaikan dalam beragam medium.

Kita semua yang telah cukup lama mengikuti hingar bingar pemilu 2019, tentu sudah bosan dengan argumen yang itu-itu saja yang dilontarkan para buzzer  militan anti golput. Mungkin satu-satunya kebaruan yang ditawarkan Romo Magnis   dalam tulisannya soal golput adalah carik  kemarahan yang meluap-luap, yang tergambar dalam pelabelan psycho freak, lemah mental, berwatak benalu dan sebagainya kepada warga negara  yang secara sadar memilih golput dalam pemilu kali ini.

Tanpa bermaksud  mengulangi   berbagai respons argumentatif yang sudah disampaikan terhadap tulisan Romo Magnis, saya akan mencoba   mendedah berbagai kemungkinan landasan teologis dan moral di balik vonis moral  Romo Magnis terhadap golput. 

Bagaimana  imajinasi teologis soal dunia dan kodrat alamiah manusia (nature) dalam teologi kristen   berkontribusi kepada  konstruksi moralitas   lesser evil  ala Romo Magnis sekaligus juga dapat memberi landasan kepada golput?  Dari reservoir pemikiran kristen yang luas, saya pikir kita dapat menemukan keduanya.


Beragam Ide Soal yang Kodrati dan Anugerah

Kekristenan memiliki sejarah panjang percakapan soal apa itu kodrat manusia dan dunia, serta  bagaimana menyikapinya. Percakapan ini dalam khazanah teologi sering disebut “relasi kodrat dan anugerah” (nature and grace relation). Dalam percakapan ini tokoh yang sering digadang-gadang terlibat adalah Saint Thomas Aquinas (1225-1274)  dan St. Augustine (Aurelius Agustinus (354-430).  

Aquinas mengidentifikasi kenyataan dunia material dengan  mengatakan bahwa alam  dan berbagai perangkatnya adalah tempat dimana potensi ilahi diwujudkan[1].  Alam (kenyataan sejarah)  melalui kerja manusia menemukan kepenuhan potensinya saat kehendak Allah (yang sudah dirancang sebelumnya) ditaati oleh manusia. Karena bagi Aquinas manusia dan alam dipahami sebagai subjek yang bebas (roh yang bebas)  maka ketaatan kepada  kehendak Allah secara voluntaris  adalah cara satu-satunya untuk hidup sesuai kodrat,ketika sejarah bergerak dan bertemu dengan kehendak Allah.

Lebih lanjut, Aquinas menuturkan bahwa alam, meskipun sudah tercemar oleh dosa, pada dirinya  masih memiliki potensi untuk mencapai kodratnya. Maka intervensi Allah pada alam  (sejarah manusia) di hayati sebagai anugerah (grace)[2].

Anugerah adalah sarana yang diberikan Allah  agar manusia mampu  bereaksi sesuai kodrat di dalam sejarah.  Dalam bahasa Aquinas anugerah adalah forma acidentalis[3], sebuah subsidi kepada defisit daya manusia menuju kepenuhan  kodratinya.  Ibarat sebotol minuman berenergi bagi supir bus   yang keletihan. Lebih jauh, Aquinas meyakini Anugerah memampukan akal secara analogis menemukan kebenaran dari beragam persepsi inderawi. Kerja rasio dan anugerah  dapat  menjadi sarana pamungkas untuk  menemukan pilihan benar, adil, jujur dan bertanggungjawab.

Apa konsekuensinya? Jalannya kenyataan sejarah tidak boleh diintervensi begitu saja. Karena berbagai hal yang muncul dalam sejarah senantiasa punya dimensi ‘kebaikan’, maka tugas manusia dalam sejarah  adalah bekerjasama dengan  anugerah Allah agar dapat  mengenali kebaikan intrinsik  dalam dunia. Bagi Aquinas selalu ada kebaikan dalam kekacauan dunia ini. Sebuah pandangan yang optimistik kepada kenyataan.

Agustinus, bapak pujangga gereja pendahulu Aquinas, memiliki pemahaman berbeda.  Secara umum Agustinus yang platonik itu, meletakkan kecurigaan kepada apa-apa yang alamiah dalam perjalanan sejarah.  Bukan karena dia tidak mencintai kehidupan, namun bagi Agustinus dosa telah merusak unsur-unsur konstitutif dari alam dan kenyataan sejarah[4].  Dosa telah membuat alam dan subjek dalam sejarah, yaitu manusia abai (ignorante) terhadap daya kritis akal budinya sendiri.

Tentu hal ini bukan berarti  manusia kehilangan daya voluntaristiknya, tetapi karena justru kebebasan manusia  telah terkunci sepenuhnya pada hasrat melayani kepentingan dirinya sendiri. Dalam bahasa Agustinus hal ini diformulasikan sebagai “kehilangan cinta kepada Allah karena terhalang oleh cinta pada dirinya sendiri”[5].  Lebih jauh Agustinus menegaskan bahwa epidemi ini bukan saja terjadi pada ranah kesadaran manusia saja. Berbagai elemen  yang muncul dalam panggung sejarah peradaban secara sistemik terpapar kepada dosa yang melumpuhkan dayanya untuk terarah pada kebaikan. Maka anugerah bagi Agustinus dipahami sebagai gratia dei gratuita,  sebuah gerak keluar dari diri Allah untuk mengintervensi jalannya sejarah . 

Jika bagi Aquinas (sebagaimana semua Aristotelian) Allah adalah sang penggerak yang tidak dapat digerakkan, maka Allah hanya dapat  membuat stimulus bagi manusia, maka bagi Agustinus, Allah adalah potensialitas aktif  bekerja di dalam sejarah melalui sang Firman, Yesus Kristus, untuk merestorasi alam.

Inilah anugerah itu, sebuah tindakan intervensi kepada segala sesuatu yang natural dan dianggap mapan. Hal ini juga punya konsekuensi. Jika dosa sudah dianggap mencemari pranata dunia, maka tidak ada satupun pranata yang pada dirinya sendiri lebih baik dari yang lain.  Semua aspek dalam alam dan perjalanan sejarah manusia mesti lolos dalam gerak dialektis dihadapan Anugerah.

Gerakan dialektis ini membuat status ontologis dari kodrat ada dalam ketidakstabilan. Mengapa? Sebab apa-apa yang dahulu kita anggap ‘memang harusnya begitu’, terus dipertanyakan. Bagi Agustinus rasionalitas senantiasa terdeterminasi oleh struktur dunia yang berdosa[6]. Misalnya, jika pernah ada masa dalam kekristenan  menjadi budak adalah sebuah kewajaran dalam pranata sosial , maka dihadapan anugerah kita dihadapkan dengan pertanyaan mendasar tentang bagaimana relasi antar manusia dalam pekerjaan yang beradab selaiknya dibangun.  Sesuatu yang dikerjakan Agustinus selama dia berkarya sebagai rohaniwan di Hippo.[7]


Masalah Teologis Dari Pilihan Etis Lesser Evil Romo Magnis

Pada bagian ini izinkan saya  menduga-duga. Apakah mungkin Romo Magnis, yang memvonis golput sebagai  tindakan immoral dan tidak sehat secara mental, sedang mencocok-cocokkan semangat chauvinisme  pada skema moralitas hukum kodrat Aquinas? Bahwa kodrat  berwarganegara yang dikehendaki Allah hanya dapat diraih dengan ikut pemilu. Maka  kemudian  masuk akal  dalam cocokologi ini  jika anugerah Allah, dihayati  sebagai  Forma accidentalis, subsidi keberanian  untuk memilih yang terbaik di antara yang jahat semata untuk mencegah yang terburuk berkuasa. 

Romo Magnis, sebagaimana Aquinas dan  teolog era skolastik, tampaknya melihat  dunia dan kenyataan sosial  sebagai sesuatu yang terberi. Sebuah sikap naif nan  abai dalam melihat dunia. Watak yang seyogyanya  tidak dimiliki oleh seorang teolog dan filsuf yang sudah makan asam garam dalam mengarungi perjalanan sejarah di  abad 20 dan  21.

Beliau juga mungkin lupa bagaimana gereja-gereja di Jerman menyerukan pilihan Lesser evil pada tahun 1932  untuk memilih Paul Von Hindenburg demi menghindari Hitler  berkuasa, hanya untuk kemudian memberi kewenangan kepada  sang lesser  evil  untuk menunjuk Hitler menjadi kanselir partai NAZI[8].

Saya juga menduga Romo Magnis mungkin lupa  pada sabda  Yesus yang  mengatakan bahwa :

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah,  juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana!  Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu “-Lukas 17 :20-21

Berbanding terbalik  dari sikap pasrah pada pilihan yang ada, sikap moral yang baik dalam  merespons Kerajaan  Allah  jelas dicontohkan Yesus dengan menolak terjebak pada opsi yang ada dan merumuskan secara mandiri cara alternatif untuk  memperbarui dunia. Cara yang berbeda dengan cara kaum Zelot, Farisi, Herodian, bahkan Essenes kala itu.

Tetapi bisa saja dugaan-dugaan saya di atas tersebut  keliru.  Bisa saja ternyata  Romo Magnis  tidak lupa apalagi naif  dalam isu pemilihan umum.

Maka inilah kecemasan  saya:

Saya takut jangan-jangan bukan usia lanjut atau kecerobohan yang membuat Romo Magnis menjadi sedangkal itu,  melainkan keberpihakan buta kepada salah satu kandidat yang berlaga di Pilpres 2019  lah yang mencederai  pertimbangan  moralnya.***


Suarbudaya Rahadian adalah Pendeta Jemaat Gereja Komunitas Anugerah-Reformed Baptist Salemba


————-


[1] St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae A Concise Translation, ed. Timothy McDermott (Westminster: Christian Classics, 1989), 86.

[2] St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae A Concise Translation, 91.

[3] Robert E. Brennan, ed., Essays in Thomism: The Role of Habitus in the Thomistic Metaphysics of Potency and Act, by Vernon J. Bourke (New York: Sheed&Ward, 1942), 103-09

[4] J.N.D. Kelly, Early Christian Doctrines (San Francisco: Harper Collins Publishers, 1978), 362.

[5] Steven Ozment, The Age of Reform 1250-1550 (New Haven: Yale University Press, 1980), 6.

[6] J.N.D. Kelly, Early Christian Doctrines, 368

[7] Agustinus menyebabkan banyak rohaniwan di bawah kepemimpinannya di Hippo membebaskan budak mereka “sebagai suatu tindakan kesalehan”. Ia dengan berani menulis surat kepada kaisar yang berisi desakan untuk menetapkan suatu hukum baru menentang para pedagang budak dan ia menyampaikan keprihatinan yang besar terkait perdagangan anak-anak. Para kaisar Kristen pada zamannya, selama kurun waktu 25 tahun, mengizinkan perdagangan anak-anak sebagai salah satu cara untuk mencegah infantisida oleh orang tua yang tidak mampu merawat anaknya, bukan karena mereka menyetujui praktik itu. Agustinus mengetahui bahwa para petani penyewa, khususnya, terpaksa menyewakan atau menjual anak-anak mereka sebagai suatu cara untuk bertahan hidup. Bandingkan Augustine, Of the Work of Monks”, p. 25, Vol. 3, Nicene & Post-Nicene Fathers, Eerdman’s, Grand Rapids, MI, Reprinted 1986.

[8] Bandingkan William Shirer, The Rise and Fall of the Third Reich (Touchstone Edition) (New York: Simon & Schuster, 1990)

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus