Imajinasi Politik Apa yang Kita Pahami Saat Menyebut Yesus Sebagai Tuhan?

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Faith Presbyterian Church Aledo

Kamu menyebut Aku Guru   dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan”- Yesus dalam Injil  Yohanes 13 : 13


DI ANTARA berbagai agama Abrahamik, Agama kristen adalah satu-satunya agama yang menempatkan sosok Yesus Kristus sebagai figur sentral. Sejak kemunculannya di abad pertama, penyematan gelar Kristus (yang diurapi, dilantik) dan Tuhan secara sengaja dan terus menerus dilekatkan pada pemuda Palestina bernama Yesus itu.

Mengapa demikian ?

Umumnya para teolog  sistematika menandaskan upaya mengonstruksi  ketuhanan pada diri  Yesus kristus dilakukan untuk mendamaikan ide monoteisme Israel  dan sentralitas Yesus dalam episentrum teologi Kristen.

Sebagaimana kita ketahui, iman monoteisme Israel meyakini bahwa hanya ada satu Allah yang menciptakan semesta dan segala isinya. Pencipta yang Satu itu haruslah berbeda secara kualitatif dan radikal dengan ciptaan yang beragam ini.

Manusia sebagai ciptaan bisa berbicara tentang dan kepada Allah jika dan hanya jika Allah berkenan menyatakan diri-Nya melalui mediasi ciptaan (budaya, bahasa dan sebagainya). Di luar penyataan diri Allah itu, Allah adalah misteri yang tak terbayangkan, tak terkatakan dan tak terhampiri.

Agar Allah dapat menyatakan diri-Nya kepada ciptaan dan tetap yang dikomunikasikan adalah diri-Nya sendiri, maka harus ada sebuah pribadi ilahi yang pada hakikatnya adalah Allah, bukan ciptaan, tetapi yang kemudian memasuki wilayah ciptaan, menjadi sama dengan ciptaan dan pada saat bersamaan tetaplah Allah.  “Yang bukan ciptaan” namun “sama dengan ciptaan” itu adalah Kristus yang oleh Rasul Paulus disebut sebagai “yang sulung, lebih utama dari segala ciptaan” yang “di dalam Dia telah diciptakan segala sesuatu” (Kol. 1:15-16):

Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,  karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. (Kol 1:15-16)

Singkatnya, haruslah ada satu mediator yang sekaligus ilahi dan manusiawi. Pribadi ilahi- manusiawi itulah yang secara tradisional  oleh umat Kristen dikenal sebagai Tuhan Yesus Kristus. Hal ini dilakukan dengan  asumsi  tanpa mempertahankan keilahian dan keinsanian dalam satu entitas, monoteisme  dalam imaji trinitarian tidak bisa berjalan dengan baik.

Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus (1Timotius 2:5), demikian klaim Rasul Paulus.

Apakah ini satu-satunya Formulasi  yang dipahami oleh orang Kristen Perdana?

Tetapi apakah  gelar Tuhan (kurios) yang ditautkan  kepada Yesus Kristus  semata-mata dilakukan untuk merapikan bangunan abstraksi teologis saja?

Saya pikir  tidak.

Sebelum lebih jauh memaparkan dalam tulisan ini, saya pikir  mendesak dipahami oleh kita bersama bahwa ketika kata kurios  diterjemahkan menjadi kata Tuhan dalam bahasa Indonesia, referensinya tidak mengacu pada sosok Allah yang transendental, dan non-material di alam gaib surgawi.

Kata Kurios yang diterjemahkan menjadi kata Tuhan dalam kitab suci terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI),  mengacu kepada ide soal penguasa politik dalam dunia material. Kurios mengimajinasikan ide tentang penguasa tunggal. Itu sebabnya saya berpendapat alih-alih menerjemahkan Kurios  menjadi “Tuhan”, lebih tepat menerjemahkannya sebagai “Tuan”.

Dari sudut pandang itu, maka pertanyaan tentang mengapa umat Kristen perdana menyebut Yesus sebagai Tuhan (Kurios) hanya dapat terpahami jika kita meneropong  pergumulan  sosial politik gerakan Kristen perdana  kala itu.  

Gerakan Yesus Kristus dimulai pada abad pertama masehi  saat Palestina berada di bawah okupasi penjajahan Imperium Romawi. Kala itu Kaisar Agustus (27 BD-14 AD) adalah penguasa Imperium. Kaisar Agustus ketika itu mengembangkan sebuah kultus penyembahan Kaisar (yang sebelumnya diinisiasi oleh Julius Caesar)  bernama Caesar Divi Filius, yang artinya “kaisar adalah putra Allah dan Tuhan[1].

Ide besar yang melandasi kultus ini adalah bahwa  segala kesejahteraan, ketenteraman dan kemakmuran seantero warga kekaisaran berasal dari kemurahan hati sang Kaisar yang adalah manifestasi material dari Tuhan.  Maka kultus penyembahan kepada Kaisar dilakukan bukan agar rakyat mendapat kebaikan dari sang penguasa, melainkan dibuat sebagai bentuk pengucapan syukur (gratitude) dan kepada kebaikan Ilahi yang sudah merawat rakyat melalui kebaikan sang Kaisar.

Puja puji kepada Kaisar sang Tuhan (kurios) itu kemudian dilembagakan melalui agama publik (civic religion). Perlu diingat bahwa imperium Romawi dikenal sebagai tiran yang memberi penghargaan tinggi pada multikulturalisme dan keberagaman.  Namun ruang bagi kebhinekaan ini tidak gratis. Kebebasan ini  punya harga. Apapun agamamu, etnismu dan ekspresi kebudayaanmu, Kesetiaan kepada agama publik (civic religion)  wajib  melandasi keberagaman  dalam imperium[2].

Jadikanlah kaisar sebagai Tuhan (kurios), Cesar Kurios.

Kultus kekaisaran mempropagandakan bahwa hanya melalui sang kurios, seantero rakyat mendapatkan kesejahteraan. Dalam kemurahatian sang kurios, sistem distribusi kekayaan diedarkan. Hanya oleh sang kurios  keadilan di wujudnyatakan. Singkatnya  sang Kaisar adalah Tuhan (kurios) yang mampu memberi keselamatan (soter)[3] bagi seluruh dunia.


Gerakan Yesus sebagai Anti Tesis Agama Publik

Gerakan Yesus dari Nazareth, dikenal publik  abad pertama sebagai gerakan Sang Jalan (Kisah Para Rasul 9:2). Banyak tafsiran populer dewasa ini memaknai Yesus sebagai  satu-satunya jalan agar seseorang masuk surga setelah mati.

Tetapi lagi-lagi bukan itu referensi publik abad pertama kepada julukan “Sang Jalan”.

Ketika Yesus menyebut dirinya sebagai  Jalan (της οδου), sebagaimana dicatat dalam Yohanes 14 :6, Dia sedang membuat  anti tesis kepada klaim agama publik. Yesus sedang memproklamasikan, bahwa jalan keutuhan, keadilan dan kesejahteraan segenap warga, atau yang dikenal dengan Keselamatan ada di dalam gerakan yang dibawanya, dan bukan pada kultus Kaisar. Maka tidak heran jika gerakan politik Yesus juga menggunakan imaji restorasi pembebasan mesianik Judaisme  untuk melawan propaganda agama publik yang menyembah Kaisar.

Berbagai referensi tentang pembebasan nasional dan pembaruan tatanan dari kitab para nabi di era okupasi Babilonia dan Persia, ditautkan secara retroaktif kepada diri Yesus Kristus (bandingkan Lukas 4 :18 misalnya).

Gerakan sang Jalan ini memberi klaim tandingan bahwa bukan pada Kaisar yang despotis dan narisitik dunia akan dibawa menjadi lebih baik, tetapi hanya melalui  pengabdian pada sang Jalan itu, yang termuat dalam gerakan politik Yesus.


Bagaimana  Kultus Kaisar dan Kultus Kristus bisa berbeda?

Jika  pengabdian pada Kaisar sang Kurios itu mensyaratkan semua  tunduk pada  totalitarianisme Kaisar, maka  dalam penghayatan Kultus Yesus  Kristus kekuasaan  yang menyelamatkan terjadi karena  didesentralisasikan pada orang-orang biasa dan jelata.

Sesaat setelah klaim Yesus mengenai Ketuhanannya diplokamirkan dalam Yohanes 13 :13. Yesus kemudian mengatakan:

Kamu menyebut Aku Guru   dan Tuhan,   dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.  Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu  sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Ide soal Kurios yang dibawa oleh Yesus tidak meletakkan beban revolusi pada satu pemimpin tunggal yang serba bisa. Dalam teks Injil Yohanes pasal  13, Yesus Kristus sang Tuhan, justru menunjukkan kuasanya karena  melucuti kedaulatannya dan mendistribusikan lewat pelayanan kepada semua orang.

Yesus sang kurious  memberi definisi baru tentang bagaimana dunia baru bisa terwujud, yaitu dengan membangun kekuatan alternatif dari bawah yang setara dan saling melayani. Hanya dengan cara itu kekuatan totaliter kaisar dapat dihancurkan.


Apa Implikasi menyebut Yesus sebagai Tuhan Bagi Kita Hari Ini?

Dalam konteks hingar bingar menuju pemilihan umum, khususnya pilpres di Indonesia, pengakuan iman kita kepada ketuhanan Yesus  menemukan kanal ujiannya.

Ujian yang pertama bagaimana menemukan implikasi politik praktis  dari syahadat terhadap ketuhanan Yesus.

Mengakui Yesus sebagai Tuhan artinya menyadari bahwa agenda politik kerajaan Allah senantiasa bersifat anti despotik. Fanatisme sempit sebagian umat Kristen yang menjadi pendukung keras salah satu Capres (khususnya pendukung Jokowi-Ma’ruf)[4], menunjukkan bahwa nasib dan masa depan  bangsa ini seolah-olah sepenuhnya bergantung pada kemenangan paslon yang diusung. Kita mesti waspada agar tidak tergelincir dalam ilusi, seolah-olah  kerajaan Allah hanya hadir dalam gerakan kita saja.

Ujian yang  kedua,  menjadikan Yesus sebagai Tuhan adalah apakah kita masih   memberi diri kita (setelah dibuat frustrasi dengan real politics) menjadi bentara  kehadiran kerajaan Allah yang menyingkirkan kegelapan dan penindasan di dunia ini?

Sikap  apatis dan ketidakpedulian kepada masa depan dan kesejahteraan bangsa ini  dapat menjadi indikasi ketidakpercayaan kita terhadap pengakuan iman  Yesus sebagai Tuhan (Kurios). Kecenderungan menarik diri  ini rupanya sudah diperingatkan Yesus Kristus sendiri dalam Injil Matius:

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia.   Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.  Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah  itu.” (Matius 5 :13-16)

Pengakuan iman bahwa  Yesus Kristus adalah Tuhan,  harus  menemukan ekspresi aktualnya dalam upaya membangun gerakan-gerakan politik alternatif secara independen. 

Begitu  banyak contoh dalam sejarah bagaimana gereja  yang mengakui ketuhanan Yesus Kristus menggalang kekuatannya (secara mandiri tanpa minta dukungan dari penguasa) untuk menjegal pembusukan peradaban. Sejarah menunjukan bagaimana gerakan Gereja yang mengaku (Bekennende Kirche) di Jerman pada perang dunia ke II, berinsiatif bergerak dalam ancaman untuk tetap melawan NAZI, bahkan merancang plot pembunuhan terhadap Hitler.

Kita menemukan juga dalam sejarah bagaimana  ekspresi pengakuan iman kepada  ketuhanan Yesus Kristus  hadir dalam gerakan teologi pembebasan di Amerika Latin, yang memberi bahan bakar bagi  perlawanan kepada penguasa lalim.

Kita menyaksikan ekspresi iman yang serupa mewujud dalam Teologi Hitam di Amerika Serikat yang melawan rasisme. Kita juga mendapati pewujudan syahadat   ketuhanan Yesus oleh umat Kristen di Palestina via  teologi pembebasan  ala Palestina, yang gerakannya  dimotori oleh para Imam gereja Anglikan. Sebuah tindakan kontroversial karena tendensi politik  gereja Anglikan yang sampai sekarang berpihak kepada negara Israel.

Semua gerakan alternatif  ini dinafasi oleh syahadat  yang sama: Jika  Yesus adalah Tuhan, maka keselamatan sejati harus diproklamasikan kepada dunia setiap saat.  Pengakuan iman ini juga  menantang kita untuk terus bergumul dengan pertanyaan bagaimana pengakuan kepada ketuhanan Yesus  Kristus diwujudkan dalam hidup kita hari ini?***


Suarbudaya Rahadian adalah Pendeta Jemaat Gereja Komunitas Anugerah-Reformed Baptist Salemba


————–

[1] Ferguson, Everett, Backgrounds of early Christianity, 3rd edition, Wm. B. Eerdmans Publishing, 2003, P.87

[2] Allen Brent, The Imperial Cult and the Development of Church Order: Concepts and Images of Authority in Paganism and Early Christianity before the Age of Cyprian,Brill, 1999, PP 32-35.

[3] Fishwick, Duncan, The Imperial Cult in the Latin West: Studies in the Ruler Cult of the Western Provinces of the Roman Empire, volume 3, Brill Publishers, 2002, PP 71-75

[4] Pengalaman pribadi saya menunjukkan bahwa umat  Kristen yang menjadi pendukung fanatik  paslon Jokowi-Ma’ruf relatif lebih militan dan lebih agresif, ketimbang orang umat Kristen pendukung Prabowo-Sandi.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus