Mitos Penciptaan dan Perdebatan Yang Tak Pernah Selesai

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Wikipedia

 

KITAB Kejadian adalah tentang permulaan: awal penciptaan, kemanusiaan, dan peradaban itu sendiri. Secara tradisi, Musa dipercaya sebagai penulis Kejadian (serta Keluaran, Imamat, Bilangan dan sebagian besar kitab Ulangan). Akan tetapi, penelitian modern tampaknya tidak setuju pada kesimpulan itu. Para ahli sejarah tampaknya meyakini kalau tulisan ini berasal dari kisaran abad ke-6 dan ke-5 SM.

Banyak pandangan umum yang menganggap “permulaan” yang dimaksud penulis adalah awal alam semesta material. Kejadian 1, diyakini, memberi kita sebuah kisah ilmiah tentang bagaimana Allah melakukannya. Oleh karena itu, banyak dari kita cenderung membacanya dengan parameter dari debat penciptaan versus evolusi. Apakah Kejadian 1 merupakan sejarah literal? Kronologis? Apakah kisah itu akurat secara ilmiah?

Dengan asumsi itu, orang cenderung pergi ke salah satu ekstrim dari dua kutub. Satu kelompok menyimpulkan “ilmu modern benar” tentang asal-usul alam semesta dan “Alkitab salah”. Sementara kelompok lainnya bersikeras bahwa “Alkitab itu benar” dan sains modern adalah propaganda ateisme untuk meruntuhkan budaya Kristen.

 

Beberapa Tuduhan Klise

Ada dua tuduhan mendasar tentang stigma Kristen yang lazim muncul dalam tulisan-tulisan para kritikus Kristen. Pertama, serangan konstan terhadap kekristenan—yang dianggap sebagai gerakan anti intelektualitas—dari para tokoh ateis baru.

“Iman adalah keyakinan tanpa bukti,” kata ahli saraf Sam Harris. Dia berpendapat bahwa semua penderitaan dan kekerasan dunia berasal dari keyakinan agama. Ahli biologi evolusi Richard Dawkins, yang terkenal karena The God Delusion-nya, menambahkan bahwa agama seharusnya membuat kita bermoral. Namun, kenyataan justru berbicara lain. Almarhum penulis dan kritikus sastra Christopher Hitchens, pengarang dari God Is Not Great: How Religion Poisons Everything, mengklaim bahwa agama adalah “gagasan yang tidak dapat dipertahankan secara intelektual.” Banyak orang Kristen yang merasa terintimidasi oleh argumen-argumen ini walau sebenarnya bukti sejarah berkata lain.[1][2][3][4]

Kekeliruan kedua adalah pandangan Kristen tentang umat manusia yang diciptakan menurut citra Allah dan sama sekali tidak berhubungan dengan binatang[5]. Memang harus diakui bahwa ada beberapa wawasan Kristen yang begitu gigih menolak teori evolusi dan sedikit banyak berkontribusi pada stigma ini. Ada ketakutan mendasar yang membentuk dikotomi fiktif bahwa iman dan pengetahuan tidak boleh berada di jalur yang sama; kebenaran dari salah satu pihak akan menegasikan kebenaran pihak yang lain.

“Lantas apa yang harus saya lakukan dengan Alkitab dan keimanan saya jika teori ilmiah terbukti benar?” Paranoia yang sebenarnya tidak perlu ada jika kita berusaha memahami maksud dari apa yang sesungguhnya terjadi di kisah penciptaan versi Alkitab.

Tak ada teks tanpa konteks. Itu sebabnya sebelum larut dalam dikotomi sains versus keimanan seperti ini, sebaiknya kita memahami dulu kapan dan untuk siapa sebenarnya kitab ini ditujukan, mencoba membacanya dari perspektif khalayak asli serta mempertimbangkan budaya dan situasi mereka saat itu.

 

Genre Genesis

Kitab Kejadian dibagi dalam dua bagian: Kejadian 1–11 (dikenal sebagai sejarah primordial) dan Kejadian 12–50 (kisah para Leluhur: Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf). Begitu sampai ke Abraham di Kejadian 12, kita akan menemukan nama-nama kota, tanah, tengara geografis yang jelas, dan dapat dikenali. Akan tetapi, kita tidak menemukan itu dalam Kejadian 1–11. Tidak ada yang bisa ditandai secara geografis atau historis dalam kitab itu. Selain itu, ada banyak hal dalam Kejadian 1–11 yang sangat mirip dengan cerita mitos di Timur Dekat kuno lainnya.

Lalu, jenis tulisan apa yang ada dalam Kejadian 1–11? Apa genre-nya? Ini sangat penting untuk diketahui, karena memahami genre sastra dari setiap teks akan menentukan cara bagaimana kita membaca dan menafsirkannya.

Kitab Kejadian tidak muncul dalam ruang hampa. Ia dibentuk dan terinspirasi dari pra-kondisi dan konteks saat itu. Salah satu kisah penciptaan yang ditulis sebelum Kejadian adalah kisah penciptaan bangsa Babel, yang dikenal sebagai Enuma Elish[6]. Format yang digunakan dalam bab pembuka Kejadian jelas menyerupai Enuma Elish. Penulis kitab Kejadian memakai mitos Babilonia itu sebagai vorlage, tetapi membuat kontra narasi dari teks tersebut. Dalam Enuma Elish, manusia adalah sebuah ciptaan yang terbuat dari sisa-sisa pertempuran. Mereka diciptakan untuk melayani gaya hidup para dewa. Sebaliknya, kisah penciptaan dalam kitab Kejadian menempatkan manusia di tempat Ilahi (Taman Eden) serta memiliki kehendak bebas.

Pada peradaban kuno, ketika berbicara tentang dewa dan pandangan mereka tentang tujuan dan makna akhir, mereka tidak menulis sejarah. Mereka pun tidak melakukan penelitian saintifik dengan penerapan metode yang ketat. Untuk mengartikulasikan isi pikiran, mereka menggunakan genre penulisan yang sekarang kita kenal sebagai “mitos”.

Mitos tentu tidak bersifat historis. Didalamnya ada cerita tentang alam, dewa-dewa, dan asal-usul para raja untuk melegitimasi kebijakan, memperkuat kekuasaan, dan mempropagandakan keistimewaannya.

Dalam hampir semua mitos kosmologi kuno, dewa atau agen transenden yang menjadi prima causa. Uniknya, mereka menciptakan sesuatu dengan kekerasan, entah itu mengalahkan para dewa lain atau memaksakan kehendaknya dengan dominasi agresif. Penciptaan dalam kitab Kejadian tentu lain. Ia tidak menampilkan kebrutalan semacam itu. Kitab Kejadian 1 justru menceritakan tentang Allah yang “berbudaya”. Ia menciptakan realitas material bukan dengan pertempuran atau amarah, tetapi melalui fondasi semua peradaban, yaitu bahasa (firman/logos).

Kejadian 1–11 memakai genre yang sama seperti kisah Enuma Elish. Akan tetapi secara konten, ia merombak pandangan dunia kuno secara radikal; menyampaikan visi Tuhan, ciptaan, dan umat manusia. Manusia dibuat menurut citra Allah, memiliki martabat, dan nilai yang melekat. Manusia diciptakan sebagai rekan sekerja Allah. Tentu saja ini kontras dengan mitos Enuma Elish yang menempatkan manusia sebagai pelayan. Manusia, dalam tradisi Yahudi, diciptakan hampir sama dengan Allah (Maz. 8:5). Oleh karena itulah, sejarah manusia layak diceritakan.

Orang-orang Israel kuno tidak bergumul dengan pertanyaan ilmiah modern seperti yang kita geluti hari ini. Orang-orang pada waktu itu diajari bahwa ada banyak dewa yang agresif dan berbahaya; eksistensi mereka tidak penting—tidak lebih dari sekadar budak—yang berada di bawah belas kasihan dewa-dewa itu. Mereka percaya bahwa menawarkan pengorbanan dan memberi penghormatan kepada dewa-dewa itu bukan karena didorong rasa cinta dan hormat, tetapi karena ketakutan. Mereka takut para dewa akan menghancurkan hidup mereka dalam sekejap. Itulah jenis budaya yang menjadi bagian dari para penulis kitab Kejadian. Jadi, ini penting untuk memastikan bahwa kita menafsirkan kisah penciptaan pada Alkitab dalam terang realitas itu.

 

Kembali Ke Perdebatan Usang Itu..

Saya percaya kisah penciptaan di kitab Kejadian tidak dimaksudkan untuk dipahami sebagai suatu catatan ilmiah atau sejarah. Bahkan, tidak ada teks Alkitab yang secara natur bersifat “ilmiah”. Pasalnya, sains seperti yang kita pahami, pertama kali muncul sekitar empat belas abad setelah komposisi buku terakhir Alkitab. Dengan begitu, perdebatan usang yang ditulis pada awal tulisan tadi tidak lagi terasa relevan. Alasannya, memperlakukan kosmologi naif di kitab Kejadian sebagai landasan berpikir ilmiah adalah tindakan gegabah yang salah arah. Narasi penciptaan berbicara lebih dari itu. Ia memberikan kita hal yang tidak bisa dilakukan sains, yaitu suatu landasan solid perihal nilai manusia yang inheren. Dengan kata lain, lewat kisah penciptaan, setidaknya kita diberi orientasi/nilai dalam melihat dunia. Pada mulanya, Allah tidak pernah ingin menciptakan budak yang akan dihisap dan dieksploitasi-Nya. Sebaliknya, Allah menciptakan manusia justru untuk menjadi rekan sekerja-Nya. Kita dicipta segambar/serupa Dia.  Apalagi jika mengingat bahwa Allah selalu melihat ciptaan-Nya adalah baik adanya (Kej. 1:31). Alam ciptaan-Nya bergerak dalam sebuah tatanan yang baik. Inilah kewajiban setiap pengikut Kristus, yaitu menarik Kerajaan Allah ke bumi untuk sebuah tatanan yang baik adanya. Kita juga bisa menarik relevansi kisah penciptaan dalam konteks kekerasan atas nama agama. Di Indonesia, pemeluk agama minoritas terus menghadapi pelecehan. Mereka terus mengalami intimidasi dari otoritas pemerintah dan ancaman kekerasan dari kelompok ekstremis. Mereka sering mendapat perlakuan tidak adil di hadapan hukum—undang-undang penodaan agama yang disalahgunakan. Menyikapi kasus ini, orang Kristen sejatinya jangan lagi terombang-ambing dalam ambiguitas moral. Kita harus menolak kebijakan negara yang diskriminatif[7], bukan semata mata karena kepatutan politis tetapi didorong oleh kesadaran bahwa pemeluk agama minoritas pun adalah bagian dari imago dei. Persekusi yang mereka terima adalah penistaan (distorsi) terhadap nilai kemanusiaan. Dalam kondisi ini, kita harus terpanggil turun tangan merestorasi dan menjadikan segalanya baik. Tabik.***

 

Dony BrascoTim Kebaktian dan Pembinaan Gereja Komunitas Anugerah Reformed Baptist Salemba

 

————

[1]  Gilley, Sheridan (2006). The Cambridge History of Christianity: Volume 8, World Christianities C.1815-c.1914. Brian Stanley. Cambridge University Press. p. 164. ISBN 0521814561. … Many of the scientists who contributed to these developments were Christians…

[2]  Steane, Andrew (2014). Faithful to Science: The Role of Science in Religion. OUP Oxford. p. 179. ISBN 0191025135. … the Christian contribution to science has been uniformly at the top level, but it has reached that level and it has been sufficiently strong overall …

[3] L. Johnson, Eric (2009). Foundations for Soul Care: A Christian Psychology Proposal. InterVarsity Press. p. 63. ISBN 0830875271. … . Many of the early leaders of the scientific revolution were Christians of various stripes, including Roger Bacon, Copernicus, Kepler, Francis Bacon, Galileo, Newton, Boyle, Pascal, Descartes, Ray, Linnaeus and Gassendi..

[4] S. Kroger, William (2016). Clinical and Experimental Hypnosis in Medicine, Dentistry and Psychology. Pickle Partners Publishing. ISBN 1787203042. Many prominent Catholic physicians and psychologists have made significant contributions to hypnosis in medicine, dentistry, and psychology.

[5] “We know that the human mind has nothing in common with the minds of animals because the Bible says that humans were created separately.. the modern sciences of cosmology, geology, biology, and archaeology have made it impossible for a scientifically literate person to believe that the biblical story of creation actually took place.”

Pinker, Steven 2002, The Blank Slate: the modern denial of human nature, Penguin, p.1-2.

[6] Heidel, Alexander (1951) [1942], The Babylonian Genesis (PDF) (2nd ed.), University of Chicago Press, ISBN 0 226 32399 4

[7] RUU tentang Pelindungan Umat Beragama, yang dijadwalkan akan dibawa ke Dewan Perwakilan Rakyat pada akhir 2017, melanggengkan pasal tentang penodaan agama dan aturan yang membatasi umat beragama minoritas membangun rumah ibadah. RUU ini juga menentukan kriteria yang sempit bagi sebuah agama buat dapat pengakuan negara, dan menguatkan posisi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang diskriminatif. https://www.hrw.org/id/news/2017/07/20/306808

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus