Asumsi Ketuhanan dalam Teologi Kristen: Sebuah Pengantar Teologi Materialis

Print Friendly, PDF & Email

TANPA bermaksud mengulangi apa yang pernah ditulis dalam buku saku yang pernah diterbitkan IndoPROGRESS “Marxisme dan Ketuhanan yang Maha Esa”, perkenankanlah kami dari para penulis rubrik Kristen Progresif memulai kembali perziarahan untuk membangun teologi materialis itu dari penjuru yang lain.

Tentu penjuru yang dimaksud adalah tradisi teologi Kristen, terkhusus Kristen Protestan.

Sebelum memulainya saya hendak memberi apresiasi yang tinggi kepada percakapan kompleks yang sudah dilakukan oleh rekan-rekan penyusun buku tersebut.

Jelas bahwa semua percakapan dan dalil kemungkinan yang telah dipaparkan oleh Martin Suryajaya, Muhammad Ridha, dan Hizkia Yosia Polimpung pada 2016 silam memberikan kontribusi yang amat berarti bagi saya dan rekan-rekan pegiat teologi Kristen di IndoPROGRESS.

Kartografi (pemetaan) yang telah ditunjukan Martin Suryajaya, serta pelbagai urun pendapat yang diajukan Ridha dan Yossie memberikan banyak masukan berarti untuk pengembangan kajian Agama dalam relasinya dengan Marxisme dan Materialisme Dialektika.

Maka proyek ini adalah semacam pendakuan (claim) bahwa mengonstruksi[1] teologi Kristen dalam pilin kelindan dengan Materialisme dan Marxisme adalah mungkin. Proyek ini dapatlah dianggap sebagai upaya melacak jejak Materialisme dalam metodologi berteologi (khususnya Protestan), untuk kemudian menggunakannya sebagai alternatif praksis beragama.

Perlu diakui kerja-kerja teori seperti ini memang seringkali dianggap sebuah upaya menjaring angin, karena dianggap tidak berkontribusi langsung bagi ‘perjuangan kelas’. Dalam hal ini, saya pikir, kita perlu mempertimbangkan nasehat Lenin soal teori dan praktek revolusioner yang populer itu. Sebagaimana tidak ada teori yang revolusioner tanpa aksi yang revolusioner, maka tidak ada aksi yang revolusioner tanpa teori yang revolusioner .

Area kerja teori dan praktik itu bukanlah terjadi di dua dunia yang berbeda. Maka frasa Lenin tersebut membantu kita terhindar dari sikap dikotomis terhadap laku dan pikir.

 

Prologomena Teologi

Pertama-tama perlu kita jernihkan dulu istilah yang saya maksud ketika saya menyebut teologi. Menurut Alister Mc Grath, teologi (bahasa Yunani θεος, theos, “], Tuhan”, dan λογια, logia, “kata-kata,” “ucapan,” atau “wacana”) adalah wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan tentu saja Tuhan.

Dengan demikian, teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan beragama. Teologi meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan. Para teolog berupaya menggunakan analisis dan argumen-argumen rasional untuk mendiskusikan, menafsirkan dan mengajar dalam salah satu bidang dari topik-topik agama. Teologi Kristen sedianya memampukan seseorang untuk lebih memahami tradisi keagamaannya sendiri ataupun tradisi keagamaan lainnya, menolong membuat perbandingan antara berbagai tradisi, melestarikan, memperbarui suatu tradisi tertentu, menolong penyebaran suatu tradisi, menerapkan sumber-sumber dari suatu tradisi dalam suatu situasi atau kebutuhan masa kini, atau untuk berbagai alasan lainnya.

Dalam kesempatan perdana ini saya hendak mendedah ide-ide dasar yang perlu direngkuh sebelum kita memulai percakapan mengenai teologi Kristen yang progresif. Mari kita mulai dari prologomena, sebuah pengantar yang bertujuan mengeksplisitkan asumsi-asumsi dasar ketuhanan dalam teologi Kristen, sebelum kita melanjutkan pada topik yang lain.

 

Non-Eksistensi Tuhan

Secara kontra intuitif percakapan ketuhanan dalam teologi Kristen sebenarnya dibangun dari pra-asumsi yang menegasikan eksistensi Tuhan. Sampai di sini saya harap pembaca tidak lekas berburuk sangka. Saya tidak hendak membatalkan percakapan teologis untuk diganti dengan percakapan sosiologis.

Pertama-tama kita perlu menjernihkan status keber-ada-an dan eksistensi Tuhan. Dalam tulisan ini saya akan melacaknya dari pemikiran Bapa Gereja abad ke 5 Masehi seperti Pseudo Dyonisius, Bapa Skolastik Thomas Aquinas pada abad pertengahan dan teolog Protestan Paul Tillich di abad 20 .

Menurut Aquinas, manusia sebagai agensi (subjek yang berkesadaran dan memiliki potensialitas) yang terbatas (finite), temporal dan material dapat mengetahui keberadaan Tuhan, bukan karena Tuhan itu dapat dilihat, dipegang, diendus, dsb, melainkan karena keberadaan Tuhan secara hipotesis dapat terpaut dengan akal budi kita[2].

Aquinas berpendapat bahwa yang mungkin teralami dalam diri manusia adalah segala hal yang terakses lewat kerja akal budi yang bersemayam di dalam tubuh. Apapun yang terlacak melalui akal budi dapat berpotensi mempertemukan adalah esensi Ilahi (yang dianggap memiliki rasionalitas) . Maka bagi Aquinas Jika esensi Tuhan adalah E dan Eksistensi Tuhan adalah T notasi logikanya adalah:

E = T

“Tuhan yang maha segala-galanya itu melampaui akal, kecuali kita berjumpa dengan esensiNya.” Esensi Ilahi dialami ketika manusia bertemu dengan lima jalan (five ways)[3], diantaranya: Agensi penyebab gerak, ide soal keteraturan alam semesta, ide soal penyebab yang tidak disebabkan (prima causa), penyebab niscaya dari dunia material, dan gagasan soal hasrat manusia yang tak pernah surut karena menantikan kesempurnaan.

Aquinas sangat mahfum bahwa Tuhan itu pada dirinya cukup bermasalah untuk disebut ‘eksis’. Bahkan sesungguhnya sejak abad ke 4 para bapa Gereja sudah menyadari hal ini. Bagi Aquinas, eksistensi adalah perkara keterpautan sebuah entitas pada ruang dan waktu, dan secara ordinal pada bahasa, politik, ekonomi dll. Maka “Lima Jalan” yang memungkinkan akal budi manusia berkorespondensi dengan Tuhan ada pada ranah esensi bukan eksistensi.

Masih menurut Aquinas, keberadaan (being) itu dapat dijejaki di dalam esensi. Jika eksistensi Tuhan sebangun dengan esensinya (misalnya Alkitab menyampaikan proposisi “Allah itu kasih” – 1 Yohanes 4:7) , maka esensi Ilahi dapat ditemukan secara rasional di dalam jejak-jejak kebajikan yang terlacak pada akal budi . Maka barang siapa dapat menemukan kebajikan sedang terhubung dengan Allah (secara rasional) dan akan hidup karenanya.

Skema Lima Jalan Aquinas :

Jika esensi Allah itu E, eksistensi Tuhan itu T, pengalaman kebajikan yang dikenal oleh rasio itu P, keteraturan semesta itu S , Prima causa C, Penyebab efisien N, ide Kesempurnaan itu O maka :

Untuk setiap P ^S ^ C ^ N ^ O E = T

Banyak orang Kristen cukup puas dengan penjelasan Aquinas yang dianggap memecahkan keraguan intelektual dan menentramkan iman itu. Namun tidak banyak yang tahu bahwa gagasan   lima jalan ini diterbitkan mahaguru dari Italia tersebut, karena beliau hendak menangkis gagasan mahaguru yang lebih tua beberapa abad darinya, yaitu Pseudo-Dionysius the Areopagite pada abad ke 5 Masehi .

Aquinas mengatakan pendapatnya soal Dionysius: “Dionysius menyampaikan hal yang berbahaya mengenai Tuhan. Dia menyampaikan gagasan bahwa Tuhan ada di ranah yang berbeda mutlak dari pengalaman manusia. Ini membuang kemungkinan bagi manusia untuk mengenal Tuhan[4]“.

Apa yang disanggah Aquinas dari Pseudo Dionysius, menurut saya, adalah sebuah kotak pandora yang perlu dibuka. Dari kotak yang sama kita akan menemukan berbagai masalah, tapi pada saat yang bersamaan kita akan menemukan jalan keluar.

Begini. Dionysius mengatakan bahwa proposisi Tuhan yang pertama-tama diklaim sebagai maha suci (berbeda mutlak secara kualitatif dari apapun), mengimplikasikan bahwa eksistensi Tuhan (T) yang sama dengan esensinya (E) mengharuskan segala hal yang terpaut dengan prasyarat eksistensi yaitu ranah ruang, waktu, materi (selanjutnya RWM) dinegasikan. Maka mengatakan Tuhan itu suci adalah mengatakan Tuhan tidak dapat lelah. Mengatakan Tuhan suci artinya mengatakan Tuhan itu tidak mungkin makan.

Mengatakan Tuhan itu suci artinya mengatakan juga Tuhan itu bukan batu, kucing, gedung, manusia. Singkatnya, mengatakan Tuhan itu suci artinya bersedia untuk menyadari bahwa Tuhan tidak dapat ditampung dalam proposisi apapun kecuali proposisi yang dirancang untuk menegasikan Tuhan itu sendiri.

Notasinya adalah :

∀E((E≠R ∧ E≠W ∧ E≠M) -> E=T)

Maka pada akhirnya Dia (Tuhan) itu non eksis. Dan karena asumsi dasar bahwa Esensi=Eksistensi, tindakan untuk menegasi salah satunya dengan sendirinya menyangkali ‘ada’(being)nya. Tuhan hanya mungkin ada dalam notasi logika. Dalam bahasa Dionysius “Kita tidak dapat mengatakan Tuhan itu ada di sana atau di sini, sebab Dia melampaui ruang. Inilah yang disebut kelak oleh para pemikir strukturalis sebagai Ante Rem atau kenyataan sebelum eksistensi.

Bagi Dionysius ,Tuhan yang maha suci membuat diriNya harus lebih besar dari eksistensi yang berjangkar pada ruang, waktu dan materialitas. Tuhan adalah In Rem (melawan prinsip prasyarat RWM) dan dengan demikian Tuhan pastilah bukan agensi.

Maka adakah kemungkinan untuk mempelajari Ketuhanan melampaui diskursus idealisme Ante Rem? Jika berhenti sampai di titik ini tentu jawabannya tidak. Tuhan itu tak memadai untuk dipahami (unintelligible).

Itu sebabnya, menurut saya, lima jalan keluar Aquinas yang sangat terpaut dengan ontoteologi jelas tidak tuntas secara material. Di sini secara jitu Pseudo Dionysius menunjukan permasalahan utama dari teologi Natural.

 

Agensi dan Kontingensi

Paul Tillich, seorang teolog Jerman-Amerika Protestan abad 20, mencoba menyelesaikan permasalahan yang diajukan Pseudo Dionysius. Di tengah-tengah situasi pasca Perang Dunia II,Tillich mengatakan bahwa Tuhan tidak ada. Semua orang kristen yang gagal paham langsung berang dan menuduhnya ngawur. Padahal yang dimaksud oleh Tillich adalah persis dengan apa yang digagas oleh Dionysius. Sang Suci yang tak terpermanaikan itu harus menyelesaikan paradoksnya sebelum masuk pada percakapan eksistensiNya.

Sebelum Dia mengada, masalah-masalah in rem harus diselesaikan.

Maka pertanyaan tentang “adakah Tuhan?” adalah pertanyaan yang pada dasarnya keliru. Karena, bagi Tillich, Tuhan adalah dasar keberadaan (Ground of Being)[5]. Jika dikenakan kepada Tuhan, Tillich beragumen eksistensiNya tidak bisa sama dengan esensiNya. Segala bentuk esensialisasi sifat Tuhan senantiasa berasal dari segala infrasruktur ontologis yang dibangun di atas landasan lain. Tuhan, demikian Tillich, tidaklah boleh berdiri di atas landasan-landasan itu, sebab jika itu terjadi, Tuhan hanya merupakan percikan dari proyeksi kebudayaan manusia (ala materialisme idealis Feurbach).  Tuhan mestilah bersama landasan-landasan itu sekaligus mengatasi segenap semesta realitas[6].

Disinilah revolusi Copernican teologis bermula.

Kesucian Tuhan yang menegasi dirinya secara kualitatif dari segala keberadaan (mulai dari NKRI sampai secangkir kopi sachet), mengharuskannya berbagian dengan apapun yang dinegasikan. Dan bagi saya, apa yang dikatakan Tillich tentang ambivalensi agensi dan kontingesi Tuhan dalam relasinya dengan segenap mahluk ada dalam analogi yang sebangun dengan paradoks himpunan Russel.

Menurut Bertrand Russel, himpunan itu pada dirinya sendiri memisahkan mana yang masuk di dalamnya dan di luar dirinya. Himpunan mesti jadi bagian dari anggota-anggotanya, sebab dia (himpunan) tidak bisa menghimpun tanpa berbagian secara kualitatif dengan anggota himpunannya. Di sisi lain himpunan tentu harus bukan bagian dari anggotanya agar dia dapat mendefinisikan mana yang berbagian dalam himpunan dan yang bukan[7].

Di dalam paradoks himpunan inilah konsep Tuhan dalam prologomena teologi Kristen teranalogi. Di satu sisi Tuhan adalah adalah kontingensi. Dia tak dideterminasi oleh dunia karena kesuciannya menegasi apapun tanpa ampun (Ibrani 12:29), tetapi di lain sisi dia terhubung dalam relasi dialektis dengan segenap kenyataan di dalam dan melalui segala mahluk (I Korintus 15:28).

Dialah Sang garis batas himpunan. Dia adalah subjek sejarah, sang khalik yang bergerak di dalam diri mahluk sekaligus secara simultan Dia adalah Sang objek yang juga terdeterminasi oleh relasi timbal balik gerak sejarah Insani. (Bandingkan Kejadian 6;6-7, Zefanya 3:17).

Dan itu sebabnya sang Firman itu pastilah sepenuh-penuhnya bernatur material sekaligus melampauinya. Tanpa dualitas status ontologis yang bertegangan dan simultan itu dia akan gagal menjalankan hakekatnya sebagai penghimpun ciptaan (Kolose 1:17-19).

 

Beberapa kemungkinan Ruang dialog Teologi Kristen dengan Materialisme Dialektika Historis

Dari uraian kita sejauh ini, saya pikir kita dapat menginisiasi percakapan teologi Kristen dengan gagasan materialisme dialektika historis pada beberapa pokok pikiran awal antara lain :

  1. Sebagaimana materialisme dialektika memaknai kenyataan material lebih dari sekadar objek inderawi, melainkan dari pemahaman bahwa keseluruhan obyek yang menyusun realitas dunia ini tak lain adalah efek dari aktivitas subjek yang sadar (yaitu subjek yang bekerja). Maka dalam hal ini, teologi Kristen yang menggagas bahwa ketuhanan itu adalah transendensi yang hanya menjadi aktual di dalam kerja Firmannya dalam sejarah politik, ekonomi dan kebudayaan manusia(Yohanes 1:14) , dapat turut membentuk asumsi kita tentang entitas apa yang kita maksud setiap kali kita menyebut nama Tuhan dalam teologi Kristen (progresif) .
  2. Jika materialisme dialektika memaknai bahwa realitas sejarah tersusun oleh materi yang memiliki relasi langsung dengan subjektivitas dan bergerak dalam untaian determinasi resiprokal atau sederhananya gerak sejarah adalah efek dari  perjuangan kelas[8], maka gagasan teologi Kristen tentang masa depan dunia yang masih terbuka (open ended future variabelnya bergantung pada perjuangan warga kerajaan Allah untuk melawan struktur imperium dunia-Efesus 6:12), berbagian dalam irisan visi eskatologis Marxisme yang meletakkan mandat perubahan sejarah bukan saja pada kontradiksi-kontradiksi sistem kapitalisme tapi juga pada kelas pekerja.
  3. Marxisme yang bertumpu pada konsepsi materialis—bahwa yang terselubung dari realitas sesungguhnya tak lain adalah praxis subjektif yang jadi material—hanya dapat diekspresikan oleh satu-satunya metode yang cocok dengan karakter materialis ini, yakni metode dialektika- menemukan persinggungan dengan ketuhanan yang fiksionalis (hidup dalam narasi tertentu untuk mencapai cita-cita politik tertentu) khas Kristen. Iman Kristen yang progresif secara sadar menerima fakta bahwa semua narasi ketuhanan di dalam Alkitab hadir dari satu konteks sosio-kultur dan modus produksi yang khas di tiap masa. Maka metode materialisme dialektis dalam Marxisme secara relatif dapat menjadi kacamata hermenetis bagi kaum Protestan (yang tradisinya sudah mengakomodasi) untuk melakukan pengkajian Alkitab yang memberi kekuatan bagi praxis emansipasi umat dalam perjuangan kelas.***

 

Penulis adalah Pendeta Jemaat Gereja Komunitas Anugerah-Reformed Baptist Salemba

 

———–

[1] Prinsip Protestanisme ,demikian Paul Tillich,mengatakan adalah upaya untuk senantiasa melampaui dan menegasikan apa-apa yang sudah sedemikian mapan dan senantiasa menamai kembali apa yang ditemukan dari negasi itu. Bandingkan Paul Tillich, Systematic Theology I (Chicago: University of Chicago Press, 1951),hal 208.

[2] Thomas Aquinas, Summa Theologiae la. A. 12, art. 1, obj. 3 [Blackfriars]

[3] Five ways Aquinas secara singkat dan relatif padat dapat dibaca di http://web.mnstate.edu/gracyk/courses/web%20publishing/aquinasFiveWays_ArgumentAnalysis.htm

[4] Jean-Pierre Torrell, Saint Thomas Aquinas: The Person And His Work, CUA press, 2005, p. 3.

[5] Paul Tillich, Systematic Theology I (Chicago: University of Chicago Press, 1951), p.204.

[6] Tillich, 1951,p.207

[7] Misalkan kita mendefinisikan A adalah himpunan hewan berkaki empat, maka anggota-anggota A adalah kambing, sapi, jerapah, onta, dan lain-lain. Himpunan A sendiri jelas bukan hewan berkaki empat, sehingga A bukan anggota A. Jika kita definisikan himpunan M dengan syarat keanggotaan semua hal yang dipikirkan manusia, maka anggotanya beragam, termasuk M sendiri adalah anggota M karena M juga merupakan hal yang dipikirkan manusia. Dengan demikian, ada himpunan yang dirinya bukan anggota himpunan, seperti himpunan A di atas, dan ada juga himpunan yang dirinya sendiri menjadi anggota himpunan tersebut, seperti himpunan M tadi.

Selanjutnya, definisikan M sebagai kumpulan semua himpunan yang tidak memuat dirinya sebagai anggota. Nah, kontradiksi akan muncul di sini terkait dengan keanggotaan M dalam himpunan M. Jika M tidak memuat M sebagai anggota, maka M adalah anggota dari M, tetapi jika M anggota dari M, maka M harus dikeluarkan dari M berdasarkan syarat keanggotaan M. Ini berarti  jika dan hanya jika .

[8] Njoto, Marxisme: Ilmu dan Amalnya (Jakarta: Penerbit Harian Rajat), 1962, hlm. 21

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus