Agama dan Terorisme: Sebuah Usulan Untuk Melampauinya

Print Friendly, PDF & Email

Poster #HentikanTerorisme #StopTerrorism. Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

TEROR bom beberapa hari ini telah berhasil membuat sebagian besar masyarakat Indonesia sulit tidur nyenyak. Sebagai sebuah tindakan terorisme, kejadian di beberapa tempat di Surabaya itu telah berhasil mencapai tujuannya: membuat kita semua gelisah, marah dan panik.

Tindakan teror itu umumnya ditengarai dilakukan oleh gerakan terorisme berbasis agama dengan metode yang hampir mirip dari aksi-aksi sebelumnya, yaitu bom bunuh diri .

Berbagai analisa sosial politik pun telah dilontarkan di berbagai media sosial oleh tokoh-tokoh masyarakat merespons kejadian berdarah itu. Sebagai seorang teolog, saya kerap mempertanyakan   klaim yang sudah lazim diungkapkan setiap kali terjadi aksi teror serupa ini. “Aksi keji ini bukan ajaran agama manapun. Tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. Tindakan keji ini adalah perilaku oknum umat”.

Kita menyaksikan bersama, pernyataan usang itu yang disampaikan ulang oleh Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) pada Minggu 13 mei lalu saat meresponi aksi terorisme. Belakangan disusul dengan pernyataan serupa oleh Presiden Joko Widodo di rumah sakit Bhayangkara-Surabaya di hari yang sama.

Benarkah bahwa peristiwa terorisme di Surabaya sama sekali tidak terhubung dengan entitas agama dan umat beragama? Jawaban saya, tentu saja ya! Teroris dan terorisme ada hubungannya dengan agama.

Rasanya dengan common sense saja kita dapat menalar bahwa ada hubungan agama dan aksi teror . Justru karena beragamalah orang-orang ini melakukan terorisme. Kita bahkan dapat membuat daftar panjang pelbagai gerakan dan aksi teror berbasis agama, apapun agamanya. Agama Kristen pun tidak terkecuali memiliki sejarah panjang dan kepelbagaian dalam motif pembentukan kelompok terorisme[1].

Banyak ahli sosiologi agama pun sepakat bahwa agama punya dimensi ambivalen. Di dalamnya ada cinta kasih dan unsur pemeliharaan kehidupan, namun pada saat yang sama di dalamnya juga terdapat sisi destruktif dan maut. Seorang kawan mengatakan, “terorisme itu ibarat kanker yang ada di dalam anatomi agama-agama, dia adalah sisi buruk dari ambivalensi agama”.

Sayangnya amatan yang dapat terlihat secara gamblang ini rupanya tidak sejalan dengan political correctness di Indonesia. Akibatnya meskipun banyak yang tahu, tapi hanya sedikit yang berani mengungkapkannya di hadapan publik.

 

Mendedah Anatomi Kekerasan Dalam Agama

Dalam kitab suci agama Kristen, jejak kekerasan atas nama agama dapat kita lacak dari sejak halaman-halaman pertamanya. Paling tidak bagi tokoh di Alkitab, Allah yang menciptakan langit dan bumi itu ditempatkan sebagai sumber otoritas atas laku kekerasan. Mengapa? Rupanya Tuhan Allah digambarkan sebagai penguasa atas kehidupan dan kematian (Bandingkan: Mazmur 104:1-12). Kehidupan dan kematian ada berdamping-sampingan, dan keduanya adalah instrumen Allah untuk mengelola dunia ini dalam jalannya sejarah. Entalpi dan entropi adalah bagian dari dinamika sejarah, meskipun Allah senantiasa digambarkan berpihak pada kehidupan.

Alkitab punya perspektif yang unik terhadap kekerasan. Dia (Alkitab) tidak melihat kekerasan pada dirinya sendiri sebagai sebuah hal yang salah. Baik buruknya kekerasan rupanya terletak pada banyak variabel. Bilamana kekerasan dilakukan, bagamana itu dilakukan, serta kepada dan oleh siapa itu dilakukan. Sebagaimana Georg Hegel beberapa abad silam menyatakan dalam Phenomenology of the Spirit bahwa kekerasan tidak bobot moral pada dirinya sendiri. Kekerasan senantiasa hadir di hadapan kesadaran, dunia, dan subjek yang secara material berakar pada institusi negara, keluarga dan masyarakat sipil.[2]

Sederhananya, kekerasan dalam agama itu relatif. Bobot justifikasinya bergantung pada relasi-relasi sosial,politik dan teologis dimana kekerasan itu terjadi. Kekerasan terhadap imperium Mesir yang dipimpin oleh Firaun yang di motori oleh Musa adalah sesuatu yang diperkenan Allah yang disembah bani Israel. Kenapa? Karena Firaun berada pada sisi politik yang berseberangan dengan ide besar kemanusiaan yang emansipatoris dan merdeka (Bandingkan: Keluaran 8-10). Perang antara bani Israel dengan bani Amalek menjadi peristiwa yang punya bobot moral dan relijius karena bani Amalek hadir sebagai kekuatan anti kehidupan yang dianggap kontra kepada keadilan dan penghormatan pada harkat dan martabat manusia (Bandingkan: 1 Samuel 15 :18).

Yesus Kristus yang digelari sang Raja damai, juga punya sejarah terlibat di dalam “aksi kekerasan”. Dia berkonfrontasi secara fisik dengan saudagar-saudagar yang menjual perlengkapan ibadat di bait Allah. Yesus Kristus dalam kitab Injil digambarkan sangat gusar sampai menjungkirbalikan meja-meja pedagang yang memeras orang-orang miskin (Bandingkan: Matius 21:12).

Ada banyak lagi bentuk-bentuk kekerasan yang dalam kitab suci terjustifikasi karena konteks relasi sosialnya.

 

Transformasi Energi Kekerasan Dalam Agama

Karl Marx, dalam Critique of Hegel’s Philosophy of Right mengatakan bahwa agama adalah keluhan dari orang-orang yang tertindas. Dalam kacamata Marx, Agama pada dirinya sendiri adalah sebuah gejala sosial ketika orang-orang mencoba menjelaskan adanya anomali dalam relasi-relasi sosial dan ekonomi. Karena agama dipahami sebagai keluhan dan geliat penderitaan, maka gesture reaktif, keras, bahkan destruktif adalah hal yang tak asing ditemukan di dalam agama.

Hal yang menarik ditemukan Roland Boer saat menganalisa teks Marx yang populer itu. Menurut Boer dalam tulisan tersebut Marx tidak mengajak orang-orang untuk menjadi ateis ala Richard Dawkins atau Christopher Hitchens. Marx mengajak pembacanya untuk melakukan Kritik terhadap agama. Maka bagi Marx, agama yang dianggap sebagai opium untuk lari kenyataan hidup, mesti dikritik dengan cara dilampaui (aufhebung).

Boer mengatakan bahwa dengan melakukan kritik agama, manusia diberi semacam pengalaman relijius baru (dalam bahasa Marx disebut “halo”) yang memberikan jangkar penjelasan bahwa semua pengalaman relijius itu berakar dari masalah-masalah sosial. Boer menandaskan bahwa agama dengan segala manfaat dan mudharatnya itu tidak bisa dientaskan. Agama hanya bisa diradikalkan.

Apa maksudnya ? Bagaimana caranya?

Radikal berasal dari bahasa Latin Radix yang berarti akar.   Agama dengan segala ambivalensinya harus kembali kepada akarnya sebagai kekuatan perawat kehidupan dan pewujud kesejahteraan segala mahluk. Kata agama (dalam bahasa Latin Religere) secara definitif adalah kekuatan pengikat kehidupan. Kekuatan yang mengintegrasikan kehidupan. Maka agama yang radikal bukanlah agama yang berisi kebencian dan hasrat pada kematian. Agama yang radikal adalah agama yang kembali ke akar hakekatnya sebagai kekuatan sosial teologis pembentuk tatanan baru. Oleh tatanan itu mengarahkan umat lewat ajaran, liturgi dan penatalayanannya, bukan menyiapkan umat pergi ke surga, tetapi membawa surga datang ke bumi. Membawa Tuhan dikenali dari keadilan yang diwujudkan dalam relasi sosial, dari cinta yang diejawantahkan dengan perawatan kehidupan.

Energi yang memungkinkan adanya kekerasan dalam agama tidak bisa dilenyapkan. Agama punya marwah untuk hadir dalam pilin kelindan sosial, ekonomi dan politik. Alih-alih dijinakkan, energi dalam agama itu mesti dialihkan kepada kekuatan politik yang berdaya melawan ketidakadilan ekonomi dalam sistem kapitalisme dan anasir-anasirnya.

Saya kerap menduga jangan-jangan karena agama-agama di Indonesia selama puluhan tahun dilucuti dimensi radikalnya, dimoderatkan (baca: dicocokkan dengan agenda penguasa), dan dibuat menjadi sekedar acuan moral privat, agama menjadi layu. Celakanya ketika state religion itu impoten, kekuatan religio-fasislah   yang masuk memberi daya kepada agama. Agama yang selama ini dikosongkan imajinasi tatanan sosial politiknya (karena dipaksa tunduk kepada imajinasi tatanan sosial milik penguasa) diinjeksi oleh kekuatan perusak kemanusiaan.

 

Sebuah Petunjuk

Maka peristiwa terorisme di Surabaya dapat menjadi petunjuk bagi kita untuk mengevaluasi cara kita melihat agama. Jangan-jangan peristiwa ini terjadi karena kita selama ini telah keliru menempatkan agama-agama dalam konstelasi sosial politik .

Upaya-upaya untuk menyangkali adanya relasi antara agama dan kekerasan, adalah sebuah kecerobohan analisa yang justru melestarikan laku beragama yang destruktif. Namun, di sisi lain, upaya menihilkan agama dari semua ruang sosial juga adalah upaya mubazir dan sia-sia karena itu tidak mungkin juga dilakukan. Agama adalah suprastruktur peradaban manusia dalam berbagai bentuknya.

Satu-satunya cara adalah kita perlu mentransformasi agama kembali kepada kodratnya sebagai kekuatan sosio-politik pembentuk tatanan yang berkeadilan. Hanya dengan itu agama akan kembali berdaya menjadi kekuatan pembentuk peradaban. Agama yang radikal seharusnya tidak menghasilkan teror pada rakyat pekerja dan anak-anak seperti yang kita saksikan hari-hari ini. Agama yang radikal harus menghasilkan koresistensi segenap umatnya kepada segala tatanan yang merusak kehidupan. Sedianya kita mesti memiliki optimisme itu.***

 

Penulis adalah Pendeta Jemaat Gereja Komunitas Anugerah-Reformed Baptist Salemba

 

————

[1] Mulai dari Klu Klux Klan di Amerika Serikat, Gun Powder Plot di Inggris, Pogrom di Rumania sampai dengan God’s Army di Myanmar. Penelusuran lebih lanjut dapat di baca di Michael Barkun (1996), Religion and the Racist Right: The Origins of the Christian Identity Movement, University of North Carolina Press.

[2] [PG] G.W.F. Hegel, Phänomenologie des Geistes (1807), ed. G. Lasson (Leipzig: Verlag der Dürr’schen Buchhandlung, 1907); [PS] G.W.F. Hegel, Phenomenology of Spirit, trans. A.V. Miller (Oxford: Oxford UP, 1977).

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus