Kebangkitan Kristus dan Pembentukan Subjek Militan: Sebuah Telaah Paskah Dari Perspektif Alain Badiou

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Pinterest 

 

SETIAP hari raya Paskah tiba, sering muncul pertanyaan yang diajukan pada saya (sekalipun dengan bisik-bisik): “Apa benar peristiwa kebangkitan Yesus Kristus itu historis?”, “Apa benar kubur Yesus yang kosong di minggu pagi Paskah itu karena binatang buas memakan mayatnya?”, “Apakah kebangkitan adalah konspirasi para murid Yesus untuk menunjukkan supremasi ajaran Yesus setelah secara politik gerakan itu dipukul dan kalah?”

Uniknya, pertanyaan-pertanyaan kritis ini tidak diajukan oleh kaum ateis, atau penganut agama non kristen. Rentetan pertanyaan ini dilontarkan oleh warga Gereja dan anggota komunitas Kristen yang jujur. Semua pertanyaan ini, jika ditelusuri, berjangkar pada pertanyaan sederhana: ”Apa relevansi semua perayaan keagamaan ini buat saya?’

Dulu saya merespons pertanyaan ini dengan jawaban penuh amunisi untuk membuktikan keabsahan serta kemenyejarahan kebangkitan Yesus.   Para pembaca IndoPROGRESS yang gemar mengikuti isu-isu apologetika Kristen tentu tidak asing dengan nama-nama seperti Lee Strobel yang menulis buku “The Case for Ressurection” atau karya kompleks sarjana Alkitab perjanjian baru NT Wright, dalam bukunya The Resurrection of the Son of God (Christian Origins and the Question of God). Wright dan Strobel, misalnya, berupaya sungguh-sungguh memberi argumentasi kesejarahan dan bukti kebangkitan fisik Yesus secara harafiah. Buku-buku itu adalah acuan saya dalam memberikan argumen kebangkitan Yesus dari kubu yang secara relatif tradisional-konservatif.

Di kubu yang lebih liberal tentu ada juga tokoh-tokoh yang menolak tesis kebangkitan yang saya sebutkan tadi. Sebut saja uskup (emeritus) Gereja Episkopal Amerika Serikat, John Shelby Spong yang dalam bukunya Ressurection: Myth or Reality? mengatakan bahwa sebagai manusia modern kita harus meninggalkan iman kekanak-kanakan yang memercayai kebangkitan Yesus secara harafiah. Atau misalnya para periset Yesus sejarah dari Jesus Seminar seperti Marcus Borg, John Dominic Crossan, dan kawan-kawan yang juga giat membuktikan ketidakbangkitan Yesus secara badaniah. Tesis mereka berkisar pada dugaan bahwa kebangkitan adalah sebuah metafora, sebuah khayalan yang dipercayai menjadi fakta (hoax?), dan pelbagai usulan teori yang mempertanyakan pandangan tradisional Kristen perihal Paskah.

 

Masalah Dari Perdebatan Usang Ini

Dalam tulisan ini saya tidak hendak masuk dalam pembahasan teologi konservatif vs liberal terkait peristiwa Paskah. Hal itu sudah dilakukan di banyak forum di media sosial sampai jurnal akademik. Lebih-lebih kita semua juga sudah lelah menyaksikan perdebatan itu yang tidak membawa kita ke mana-mana di hadapan dunia dan pergumulannya.

Apa yang hendak saya soroti dalam tulisan ini adalah asumsi di balik pernyataan dua kubu tersebut. Disinilah saya akan meminjam analisa Alain Badiou, sang filsuf radikal asal Prancis untuk membedah peristiwa keagamaan.

Sekurang-kurangnya, dari kacamata Badiou ada dua masalah serius terkait dua pendekatan baik yang liberal maupun konservatif tersebut terhadap peristiwa keagamaan. Masalah pertama, menurutnya adalah pada pemahaman tentang apa itu yang menyejarah.

Menurut Badiou, peristiwa sejarah bukanlah sebuah rangkaian kontinuitas berlabel dan bertabel rapi seperti buku ensiklopedia. Perisitiwa sejarah ditandai dengan diskontinuitas, inkonsistensi, bahkan retakan-retakan dalam kekuasaan[1]. Maka segala upaya membayangkan yang menyejarah dan deterministik (entah versi sejarah bahwa Yesus bangkit secara harafiah atau secara metaforis) hanya meletakkan Paskah sebagai sebuah bagian dari sejarah masa lalu yang kita petik hikmahnya di masa kini. Bagi Badiou konsep sejarah seperti ini mengunci kemampuan agama untuk menjadikan penganutnya subjek yang sadar dan militan terhadap cita-cita perubahan sosial. Baik kelompok-kelompok yang konservatif yang dalam memandang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus secara harafiah maupun kelompok liberal yang metaforis dan moralis tidak berhasil memberikan dampak apa-apa bagi umat hari ini, menurut Badiou[2].

Masalah kedua, demikian Badiou, kedua kubu tersebut hanya berkutat pada pertanyaan bagaimana peristiwa (event) sejarah itu terjadi dan bukan pada bagaimana peristiwa (event) kebangkitan Kristus berurusan dengan subjek di sini, saat ini. Karena toh apapun skenarionya, entah benar misalnya secara historis Yesus Kristus tubuhnya bangkit dari kematian biologis ataupun sekadar metafora, atau bahkan dianggap sebagai kisah isapan jempol belaka, semua itu tidak ada urusannya dengan subjek (baca: umat beragama yang memercayai narasi ini) untuk mengubah dunia. Semua itu hanya membuat kita kreatif menafsirkan dunia dan bukan memperbaharuinya.

Narasi Paskah konservatif bertendensi menggerakan subjek untuk hadir dengan tabah sebagai umat Tuhan yang setia di bumi ini, yang melakukan tambal sulam (reformasi) pada masyarakat yang rusak. Sehingga dalam narasi ini, Iman kepada kebangkitan fisik Yesus hanya memberikan sedikit daya politik, kemudian sisanya diserahkan pada jalannya takdir ilahi. Di sisi lain, narasi Paskah liberal umumnya memberikan placebo ketabahan dan semangat bela rasa untuk merengkuh apa yang sudah terjadi dalam lini masa sebagai suratan yang harus kita terima dengan legowo, utuh dan setia, tanpa berpretensi mengubah apa-apa. Narasi ini mengandaikan, sebagaimana Yesus setia menerima nasib, maka kita pun diminta melakukan hal serupa. Sebuah panggilan untuk menjadi serupa seperti Sisyphus, yang membayangkan dirinya berbahagia dalam kesia-siaan.

 

Momen Paskah Sebagai Kelahiran Kembali Sejarah (Rebirth of History)

Dari kedua permasalahan di atas, Badiou kemudian menawarkan sebuah jalan ketiga yang radikal untuk meletakkan peristiwa kebangkitan Yesus kepada pendekatan yang disebutnya dengan kelahiran kembali sejarah. Apa maksudnya?

Bagi Badiou, pemahaman sejarah yang revolusioner mesti meletakkan setidaknya dua pertanyaan ini: pertama, apa yang tersisa dari apa yang diklaim sebagai peristiwa (event) yang sudah berlalu? Kedua, kapan dan dimana munculnya non term (sesuatu yang di luar kategori komprehensi dan kalkulasi politik) hadir? Menurut pembacaan saya, inilah yang mungkin Badiou maksudkan dengan keajaiban (miracle)[3].

Dalam peristiwa Paskah, pertanyaan pertama Badiou soal apa yang tersisa dari Paskah adalah sebuah rupture, interpelasi kepada kebuntuan politik gerakan Yesus. Peristiwa Minggu pagi di saat Yesus bangkit, hadir sebagai pemicu adanya gerakan baru yang lebih besar.

Sebagaimana kita tahu, semua murid Yesus depresi menyikapi kematian Yesus. Tidak ada lagi yang tersisa dari gerakan politik Yesus pasca kematiannya di bukit Golgota. Tapi event Minggu pagi yang disaksikan injil Yohanes pasal 20 itu memberikan surplus daya politik bagi gerakan Yesus. Yesus kala itu menjumpai Maria Magdalena di dalam kuburan. Yesus yang sama dalam tampilan yang berbeda, telah membuat Maria yang berkabung menjadi Maria yang berlari kepada kelompoknya untuk menafsirkan dan menamai peristiwa Minggu pagi itu dengan sebuah terma yang sama sekali asing baginya: kebangkitan.

Yesus yang bangkit memang bukan Yesus yang bisa dijamah Maria saat itu (bandingkan Yohanes 20:17), tapi Yesus yang bangkit itu memberikan kekuatan bagi Maria untuk kembali ke pusaran medan politik pergerakan[4]. Dalam kisah ini, peristiwa kesejarahan dimaknai bukan dari detail catatan soal kejadian tersebut, tapi dari dampak peristiwa itu bagi subjek politik bernama Maria Magdalena. Inilah kelahiran kembali sejarah menurut Badiou.

Sehingga dari sana muncullah non term itu. Apa yang tidak pernah masuk dalam kalkulasi para murid Yesus, bahkan musuh-musuh gerakan Yesus, mendisrupsi konstelasi politik gerakan perlawanan saat itu. Peristiwa kebangkitan itu kemudian berturut-turut membatalkan dua orang murid Yesus yang hendak desersi, saat pulang kampung ke Emaus. Mereka dengan berapi-api kembali lagi ke Yerusalem (Lukas 24:13-35), memberikan pencerahan dan melakukan konsolidasi bagi para murid yang ketakutan dan bersiap membubarkan diri (Yohanes 20:19-20), kepada Petrus sang penakut, sehingga dia menjadi pemimpin umat di Yerusalem ( Lukas 24:34), bahkan kepada Thomas yang sudah mengalami demoralisasi gerakan, sehingga memanggilnya kembali menjadi pengikut gerakan Yesus yang militan (Yohanes 20:24-25).

 

Paskah Bagi Kita Hari Ini

Menurut hemat saya, Paskah bukanlah soal pembuktian apologetis soal detail peristiwa yang terjadi pada kebangkitan Yesus di Minggu pagi 2000 tahun silam. Paskah sesungguhnya adalah perihal dampak peristiwa kebangkitan Yesus itu pada pembentukan subjek.

Sebagaimana kalender liturgi Gereja meletakkan Paskah sebagai puncak perayaan Gerejawi yang membentuk pemahaman kepada hari-hari besar lainnya, maka Paskah perlu membentuk kita sebagai subjek politik yang sadar, militan dan imajinatif.

Jika hari-hari ini politisi kita lebih mudah membuat distopia (baca: prediksi buruk di masa depan) soal kiamat Indonesia tahun 2030, gempa bumi karena LGBT, dan pelbagai hal menakutkan lainnya, maka peristiwa Paskah secara diametral harus menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk memiliki imajinasi baru: bahwa masa depan tanpa kapitalisme itu mungkin, bahwa masa depan tanpa penghisapan itu dapat dicapai di hadapan event kebangkitan Kristus.

Selamat Paskah!***

 

Penulis adalah Pendeta Gereja Komunitas Anugerah – Reformed Baptist Salemba

 

————–

[1] Badiou, Being and Event, trans. Oliver Feltham (New York: Continuum, 2007), hal. 24

[2] Badiou, hal.28

[3] Alain Badiou, Saint Paul: The Foundation of Universalism, trans. Ray Brassier (Stanford: Stanford University Press, 2003), hal, 8.

[4] Paus Fransiskus menamai Maria Magdalene sebagai apostle of the apostles pada tahun 2016 silam. https://aleteia.org/2016/06/10/mary-magdalene-apostle-to-the-apostles-given-equal-dignity-in-feast/

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus