Rosa Luxemburg dan Proses Akumulasi Rasial Pokok/Asali

Print Friendly, PDF & Email

TULISAN ini dimaksudkan untuk memperingati meninggalnya Rosa Luxemburg, seorang pemikir dan aktivis revolusioner terkemuka Jerman di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang meninggal pada 15 Januari 1919 karena dipersekusi oleh antek-antek NAZI Jerman. Luxemburg meninggalkan satu karya monumental Accumulation of Capital (1913/2003). Kontribusi penting Luxemburg terletak pada pandangannya bahwa Kapital sedari awal keberadaannya membutuhkan masyarakat negara Dunia Ketiga sebagai bagian dari realisasi nilai lebih (surplus value). Dalam konteks ini, kontribusi kontroversialnya terletak pada kritiknya terhadap skema reproduksi kapital dalam skala luas (expanded scale). Salahsatu sumbangan terpenting adalah pengamatannya terhadap adanya unsur rasial dalam proses akumulasi pokok/asali (primitive accumulation). Luxemburg mengidentifikasi ras sebagai bagian yang melekat dalam proses diferensiasi tenaga kerja melalui proses ekspansi kapital dan proses akumulasi pokok/asali.

Saya akan membawa karya Luxemburg, Accumulation of Capital ke dalam percakapan dengan Lenin dan mempertimbangkan studi Luxemburg sebagai karya berharga dari bagian yang dikenal sebagai permasalahan agraria klasik (Agrarian Question). Studi klasik dari permasalahan agraria yang dikembangkan oleh pemikir pada akhir abad ke-19 seperti Karl Kautsky dalam Agrian Question (1988) dan karya Lenin, Capitalist Development in Russia (1967), membangun sebagian besar argumentasinya dari pemikiran Marx terhadap proses akumulasi pokok/asali (primitive accumulation). Kedua karya tersebut merupakan karya dasar yang membahas nasib kaum tani yang dihadapkan dengan proses transformasi agraria di Jerman dan Rusia. Pengambilalihan dan penyingkiran petani dari akses mereka terhadap tanah di Jerman dan Rusia, menghancurkan sumber penghidupan yang mereka miliki. Karya Kautsky, Lenin dan Luxemburg perlu dilihat sebagai saling melengkapi dalam upaya memperluas pemahaman dan pengembangan akan proses akumulasi pokok/asali yang telah ditorehkan oleh Marx. Ketiga pemikir ini membangun sudut pandang dan fokus yang berbeda dan menekankan pada proses-proses spesisifik yang menjadi kunci bagi masing-masing argumen.

Penyelidikan Kautsky berkaitan dengan penetrasi industri yang mendorong munculnya revolusi di pedesaan dalam cara memproduksi, lahirnya petani kapitalis (capitalist farmer) dan subordinasi pertanian ke dalam bagian dari cabang industri. Sedangkan Lenin memberi perhatian kepada proses penciptaan home market sebagai landasan bagi pengembangan industri perkotaan. Kautsky menekankan proses penetrasi dari luar pedesaan, sedangkan Lenin melihat dinamika perkembangan internal masyarakat pedesaan itu sendiri. Meskipun Kautsky dan Lenin menekankan proses yang berbeda mereka memulai analisis dari proses penyingkiran petani lalu mengembangkan penyelidikannya terhadap interaksi antara pertanian dan industri sampai dengan kaitannya terhadap pasar dunia.

Sebaliknya, titik tolak analisis Luxemburg adalah proses sejarah akumulasi pokok/asali terkait mengenai hubungan negara-negara Eropa dengan negara-negara lainnya di penjuru dunia dalam proses penaklukan dan kolonialisasi. Analisisnya dikembangkan dari kritik terhadap teori Marx mengenai reproduksi sederhana dan reproduksi skala luas dalam buku Kapital Volume II dan menawarkan pandangan alternatif mengenai hubungan di antara negara-negara kapitalis dengan negara-negara terbelakang selama abad ke-19. Kontribusi Luxemburg terletak pada penyelidikan sejarah yang berpusat pada penetrasi kapital yang mengubah hubungan agraria antara penduduk asli/pribumi (native) dan lingkungan sekitarnya di negara pinggiran. Dengan demikian, perbandingan Luxemburg terhadap Amerika, Afrika Selatan, India dan Cina mengungkap tabir nasib penduduk asli/pribumi (native) melalui transformasi agraria di luar Eropa, berbeda dengan Kautsky dan Lenin yang memfokuskan pada kaum tani melalui transformasi di Eropa. Luxemburg megembangkan permasalahan agraria petani (peasant question) menjadi permasalahan agraria penduduk asli/pribumi (native question).

 

Lenin Kontra Narodniks dan Luxemburg

Karya Luxemburg menjadi kontroversi di kalangan para pemikir Marxis klasik seperti Lenin (1913a, 1913b), Bukharin (1972), Raya Dunayevskaya (1943, 1981) dan proponen Black Marxism C.L.R. James (1943).[1] Lenin (1993a) bahkan berencana untuk menanggapi karya Luxemburg tersebut dengan mempersiapkan sebuah tulisan untuk jurnal Sotsialdemokrats yang berjudul “Rosa Luxemburg’s Unsuccessful Addition to Marx’s Theory” atau “Kegagalan Rosa Luxemburg Dalam Sumbangan Terhadap Teori Marx” tetapi entah bagaimana draft tersebut tidak berhasil untuk dipublikasikan. Selain rancangan tulisan juga ditemukan catatan pribadi Lenin yang digunakan untuk mempersiapkan tulisannya dimana dalam catatan tersebut ia menyebut karya Luxemburg sebagai “sampah, berantakan dan dia telah mendistorsi (pemikiran) Marx” (Lenin, 1913b).[2] Di rancangan tersebut Lenin juga memasukkan debat dia dengan kelompok Narodniks 14 tahun yang lalu terkait karyanya Development of Capitalism in Russia. Bukharin (1972), James (1943; 200), Dunayevskaya (1943; 94) juga membuat komentar yang hampir sama bahwa karya Luxemburg mengingatkan mereka terhadap kelompok Narodniks yang mengambil posisi berseberangan dengan Lenin. Lenin dan para pemikir ini bersikukuh bahwa proses tujuan dari reproduksi kapital dalam skala luas adalah “produksi untuk kepentingan produksi” atau production for the sake of production (James/Johnson, 1943). Di lain pihak, Luxemburg berpendapat bahwa ini menyebabkan produksi tanpa sebab, tujuan atau alasan dan mustahil untuk diterapkan dalam melihat kenyataan yang sebenarnya terjadi dalam kenyataan kapitalisme (2003; 315, 300).

Dalam kritiknya, Raya Dunayevskaya mengatakan bahwa Luxemburg tidak dapat membedakan antara bangunan teori Marx dalam karya Kapital dengan analsisis terhadap realitas sejarah sebenarnya (1982; 36-37). Dengan kata lain, Luxemburg tidak membedakan antara logika kapital (the logic of capital) sebagai abstraksi yang Marx buat yaitu bahwa kapitalisme sebagai sistem tertutup dengan mengandaikan terdapatnya hubungan sempurna di antara Kapital-Tenaga Kerja Upahan (Capital-Labor relations) dan membatasi faktor-faktor atau determinan-determinan lainnya. Logika Kapital atau abstraksi yang dibangun harus dibedakan dengan Sejarah Kapital (the history of Capital) itu sendiri dimana faktor-faktor yang dibatasi dalam proses abstraksi pada kenyataannya hadir dalam sejarah sebenarnya. Terkait dengan ini, pada bagian akumulasi pokok/asali dalam Kapital Volume I, Luxemburg sendiri mengakui bahwa Marx menyadari akan adanya hubungan antara negara-negara kapitalis dan masyarakat pra-kapitalis (2003; 345).

Inti perdebatan antara Lenin dan Narodniks, yakni kelompok ekonom populis Rusia, bahwa perkembangan Rusia lebih ditentukan oleh faktor internal (home market) atau faktor eksternal (foreign market) (1967; 184). Menurut Narodniks perkembangan kapitalisme di Rusia disebabkan oleh penetrasi modal asing dan dorongan relasi pasar yang muncul dari luar. Lenin menyanggah pendapat ini dan secara sistematis mengembangkan analisisnya dalam karyanya untuk memperlihatkan bahwa proses perkembangan kapitalisme di Rusia terjadi di tingkat paling mendasar, yaitu pedesaan, dengan terjadinya proses diferensiasi dan terbentuknya home market sebagai bagian utama penyanggah industrialisasi Rusia. Dua hal yang menjadi argumen Lenin utama yaitu permasalahan berkembangnya pembagian kerja (division of labor) dan isu mengenai krisis yang disebabkan oleh macetnya proses realisasi nilai lebih dari komoditas hasil produksi.

Terkait pembagian kerja, Lenin berhasil menunjukkannya melalui proses depeasantising (1967; 176) atau proses berangsurnya kepunahan petani mendorong terbentuknya pasar dalam negeri (home market). Lenin mendasari analisisnya pada pijakan salah satu bab dalam karya Kapital mengenai proses pembentukan home market ini dengan menunjukkan bahwa proses akumulasi pokok/asali terjadi pada level paling lokal yaitu di pedesaan dan dialami keluarga petani di Rusia. Keberhasilan Lenin, misalnya, dapat memberikan analisis lebih mendetail dibanding analisis Marx (1990; 909) mengenai diferensiasi petani Westphalia atau Kautsky (1988; ) dalam diferensiasi pada sistem Bagi Tiga ladang (Three Field System)[3]. Diferensiasi antara petani miskin, petani sedang dan petani kaya dimungkinkan untuk hadir dalam proses analisis karena Lenin berhasil mengabstraksi melalui pengolahan data-data statistik Zemstvo yang berasal dari belasan Gubernia (semacam wilayah administratif tingkat propinsi). Tidak berhenti di situ, Lenin berhasil menemukan proses diferensiasi yang lebih mendalam dari proses pembagian kerja yaitu diferensiasi pembagian kerja secara seksual (sexual division of labor) dan antara generasi. Terdapat tiga kategori pekerja yaitu pekerja penuh, pekerja paruh waktu dan pekerja paruh waktu yang memperbantukan. Kategori pertama untuk laki-laki dewasa, kategori kedua untuk perempuan dan pemuda dengan kategori umur 16-20 tahun dan remaja umur 12-16 tahun, sedangkan kategori ketiga adalah pekerja anak (1967; 237). Meskipun tidak mengeloborasi lebih mendalam kategori pembagian kerja ini, Lenin sebenarnya telah menemukan proses pembagian kerja secara seksual ini jauh sebelum Silvia Federici dalam karya Caliban and the Witch (2014) dan Maria Mies (2014) dalam karya Patriarchy and Accumulation in the World Scale sebagai dasar penindasan bukan hanya terbatas secara kelas tetapi juga relasional secara seksual.

Isu kedua terkait realisasi nilai lebih. Lenin berargumen bahwa dalam proses produksi tidak hanya terkait permasalahan realisasi tetapi juga bagaimana produksi untuk dikonsumsi oleh departemen produksi lainnya. Sebelumnya Marx berpendapat bahwa sebuah produk menjadi komoditas jikalau hasil produksi tersebut menjumpai pembelinya di pasar sehingga potensi nilai tukar terealiasi menjadi keuntungan dan berlipat menjadi modal. Permasalahan realisasi terkait dengan terjadinya proses produksi berlebih (overproduction) komoditas dari para kapitalis tetapi pada saat yang bersamaan para, pekerja sebagai konsumen dari komoditas ini, tidak mampu menyerapnya (underconsumption) untuk kebutuhan konsumsi individual. Lenin berargumen bahwa terdapat konsumsi produktif atau konsumsi yang dibutuhkan oleh unit-unit produksi lainnya terkait dengan kebutuhan komponen produksi seperti bahan mentah dan instrumen produksi selain kebutuhan konsumsi individual yang langsung dipakai oleh para kapitalis dan tenaga kerja. Narodniks dan juga Luxemburg nantinya berargumen bahwa komoditas berlebih ini perlu untuk di jual ke pasar luar negeri – foreign market (Narodniks) atau ke masyarakat pra-kapitalis di belahan dunia lainnya (Luxemburg). Lenin bersikeras dengan memperlihatkan bahwa konsumsi produktif terjadi di dalam pasar internal Rusia dengan terbentuknya home market dimana unit produksi tani yaitu rumah tangga tani, desa sampai manufaktur berproduksi untuk tujuan produksi lainnya, yaitu produksi yang diperuntukan untuk menyokong kebutuhan produksi industri besar di perkotaan.

Debat ini menurut saya mencapai titik impas karena kedua argumen benar dan sekaligus keliru tergantung kita melihat penekanan yang kita anggap lebih baik. Saya sendiri lebih melihat pendekatan yang mengombinasikan kedua proses internal dan eksternal sebagai pendekatan yang lebih komprehensif dalam memandang perkembangan kapitalisme secara utuh dan total. Kombinasi di antara Lenin dan Luxemburg tentunya, tetapi tulisan ini tidak hendak mengeksplorasi lebih jauh kombinasi tersebut. Variasi debat ini misalnya dapat kita temukan di dalam debat transisi feodalisme dan kapitalisme dari tahun 1950, 1970 dan yang terbaru 2010an ini.

 

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

Luxemburg; Kerja Alam dan Tenaga Kerja Rasial

Luxemburg memusatkan analisis historisnya pada abad ke-19, di era berlangsungnya hegemoni Inggris dalam sistem kapitalisme dunia. Dengan menggunakan studi kasus hubungan di antara negara-negara kapitalis Eropa dan negara-negara pra-kapitalis Dunia Ketiga, analisis hubungan di antara kedua departmen Produksi yaitu Departemen I (produksi bahan-bahan produksi) dan Departemen II (produksi untuk konsumsi langsung), di tangan Luxemburg menjadi lebih fleksibel tanpa batasan. Dia memberikan contoh menarik bagaimana industri Inggris memproduksi komoditas untuk konsumsi dengan memasok permintaan pasar dunia untuk konsumsi kapas dan komoditas lainnya ke seluruh penjuru Eropa, Asia, Afrika dan Amerika (2003; 332). Pada saat yang sama, industri di Departemen I menyediakan komoditas untuk pembangunan infrastruktur di negara-negara terbelakang (2003; 333). Dinamika kedua departemen I dan II secara berdampingan melakukan ekspansi pasar luar negeri. Pada saat yang bersamaan laju ekspansif ini mendukung pertumbuhan lebih lanjut pada industri pasar dalam negeri Inggris. Intensifikasi produksi alat-alat produksi melalui pasar luar negeri secara berurutan mendorong Departemen II untuk memproduksi komoditas untuk konsumsi individual bagi tenaga kerja Inggris yang bekerja di Departemen I (2003; 333).

Luxemburg lebih jauh menguraikan negara-negara kapitalis memerlukan pembaharuan masukan input, yaitu modal konstan (constant capital) berupa kandungan sumber daya alam dan modal variabel (variable capital) berupa tenaga kerja dari negara-negara pra-kapitalis. Realisasi nilai surplus dari perluasan pasar di negara-bangsa pra-kapitalis bukanlah satu-satunya aspek reproduksi kapital dan ekspansi kapital tersebut (2003; 335). Analisis bergeser ke penurunan keuntungan (tendency of profit to fall) karena untuk menjaga dan meningkatkan realisasi nilai surplus produksi kapitalis menghadapi tantangan untuk memperbarui modal konstan dan modal variabel (2003; 337, 347). Jadi, sementara negara-negara pra-kapitalis membutuhkan komoditas untuk konsumsi dan bantuan komponen infrastruktur dari negara-negara kapitalis, pada saat bersamaan negara-negara kapitalis membutuhkan bahan baku dan cadangan tenaga kerja dari populasi masyarakat lokal di negara-negara pra-kapitalis. Luxemburg berpendapat “sejak awal, bentuk dan hukum produksi kapitalis bertujuan untuk mengacaukan seluruh dunia sebagai gudang untuk kekuatan produktif” (2003; 338).[4]

Ada dua kontribusi penting dalam kerja Luxemburg mengenai proses pembaharuan modal konstan dan pembaharuan modal variabel dari negara-negara pra-kapitalis. Pertama, Luxemburg mengungkapkan bahwa unsur murahnya (element of cheapness) penggunaan bahan baku untuk produksi kapitalis di negara seperti Inggris diletakkan pada kenyataan bahwa komoditas ini ada pada awalnya bukan dari kegiatan kerja sebelumnya (previous labor) (2003; 336). Dia menunjukkan bahwa di industri ekstraktif dan pertanian unsur yang dihitung sebagai modal konstan adalah alat kerja sementara ketersediaan bahan baku disediakan secara gratis dari kerja alam (2003; 336). Oleh karena itu murahnya bahan baku dari negara-negara pra-kapitalis diambil tanpa memperhitungkan produksi alam, bahwa alam bekerja untuk memproduksi bahan-bahan tersebut. Reproduksi dan perluasan kapitalis bergantung pada akses berkelanjutan dari kerja alam yang memproduksi bahan baku murah ini (cheap nature) dari berbagai lokasi di bumi dan memusnahkan penghalang terhadap proses perampasan ini (2003; 338).

Kedua, pencarian bahan baku juga disertai dengan perburuan cadangan tenaga kerja baru di seluruh dunia. Reproduksi dan perluasan juga memerlukan kebutuhan modal variabel dari negara-negara pra-kapitalis (2003; 342). Dasar produksi bahan baku di negara pra-kapitalis didasarkan pada berbagai bentuk metode ketenagakerjaan. Produksi bahan baku di industri ekstraktif dan lokasi perkebunan membutuhkan pekerja lokal penduduk asli/pribumi (native) karena lingkungan alam dan iklimnya kondusif bagi mereka untuk melakukan pekerjaan. Luxemburg mengidentifikasi “Kapital membutuhkan ras lain untuk mengeksploitasi wilayah dimana orang kulit putih tidak dapat bekerja” (2003; 343). Produksi bahan baku kapas Inggris di Amerika didukung oleh penemuan institusi budak yang mengimpor buruh kulit hitam ke perkebunan kolonial (2003; 339, 343). Luxemburg menemukan unsur ras sebagai bagian konstitutif dari kegiatan produksi di negara-negara pra-kapitalis. Dia menguraikan lebih lanjut karakter rasial dari akumulasi pokok/asali yang ditemukan Marx di Kapital. Marx sendiri mengakui proses rasialisasi (racialization) ini terhadap penduduk asli di Amerika, India dan Afrika melalui “perbudakan” dan “perburuan komersial kulit hitam” dan kekerasan selama perang komersial Eropa, penaklukan dan pendirian lokasi produksi di koloni (1990; 915, 918 ).

Tantangan pembangunan dan ekspansi kapitalisme secara luas adalah merebut bahan mentah dari penduduk asli dan mengintegrasikan mereka ke dalam pembagian kerja secara rasial untuk produksi. Luxemburg berpendapat bahwa akumulasi pokok/asali adalah proses yang terus berlanjut melalui kombinasi antara kekerasan dan tata kelola kolonial yang menargetkan dan mengakhiri organisasi sosial dan solidaritas kolektif penduduk asli (2003; 350). Penduduk asli (native) dan seluruh eksistensi keberadaannya yang melekat pada lingkungan lokal mereka dibiarkan tanpa pilihan kecuali untuk melawan proses perluasan hubungan kapitalis dalam pertarungan dengan invasi Eropa untuk mencari modal konstan dan modal variabel (2003; 351). Ada tiga fase yang saling terhubung mengenai proses perluasan hubungan kapitalis yang diidentifikasi oleh Luxemburg (2003): 1) perjuangan untuk memusnahkan mode produksi alami penduduk asli, menyeret mereka untuk menyerahkan sumber daya alam mereka dan menundukkan mereka sebagai tenaga kerja; 2) membangun produksi komoditas baru di antara penduduk asli dan 3) mengembangkan pembagian kerja baru antara pertanian dan industri (2003). Proses ini menghasilkan proses diferensiasi yang berbeda dalam latar belakang sejarahnya yang spesifik dibandingkan dengan apa yang ditemukan Lenin dalam kasus Rusia. Sementara Lenin menemukan diferensiasi kelas dan jenis kelamin (sexualize class relation) dari proses perkembangan kapitalis di wilayah pedesaan Rusia, Luxemburg mengidentifikasi diferensiasi kelas dan rasial (racialize class relation) selama perluasan dan ekspansi kapital di luar Eropa.

Proses akumulasi pokok/asali dengan unsur rasial ini terlihat dalam proses revolusi pertanian yang memprakarsai ekspansi perbatasan Amerika yang hebat (the great frontier expansion) selama abad ke-19. Perkembangan pusat industri di Pantai Timur negara bagian Amerika Serikat mendorong keluar kaum tani imigran Eropa, yang sebelumnya telah menetap, memproduksi pertanian mereka bergerak ke bagian Pantai Barat Amerika (2003; 383). Karena itu, pembagian kerja antara industri dan produksi pertanian di antara kaum industrialis Amerika dengan imigran Eropa di Pantai Timur Amerika menghasilkan perluasan perbatasan, sementara penduduk asli Indian menderita sangat dalam dari proses ini. Luxemburg menangkap “Penduduk asli Indian Amerika dipaksa memberi tempat bagi petani (imigran Eropa) – dan sekarang petani pada gilirannya digerakkan ke luar Mississippi untuk menghasilkan modal” (2003; 383)[5]. Proses perluasan produksi kapitalis dan pembagian kerja antara industri dan pertanian menciptakan diferensiasi kelas rasial antara industrialis kulit putih, petani imigran kulit putih dan penduduk Asli Indian Amerika. Penduduk asli mengalami diskriminasi ganda dibandingkan dengan petani imigran karena status istimewanya sebagai penduduk asli dan organisasi sosial pribumi menghadirkan ancaman utama dalam menyiapkan hubungan produksi dan pasar kapitalis. Petani imigran juga mungkin mengalami diskriminasi karena mereka juga berasal dari Eropa sebagai akibat perampasan tanah-tanah mereka di pedesaan Eropa sebelumnya dan bermigrasi ke koloni baru (Kautsky; 1988, 246), namun “keputihan mereka” menyelamatkan mereka dari kepunahan karena para industrialis Amerika menghancurkan hubungan penduduk asli Indian Amerika dengan tanah sehingga mereka dapat membuka lahan baru untuk kegiatan pertanian para petani imigran.

Akumulasi rasial pokok/asali ini mengambil bentuk dan proses yang berbeda di Afrika Selatan selama abad ke-19. Inggris yang ingin memperluas ekspansi kapitalis mereka di Afrika Selatan menghadapi kehadiran petani Boer Belanda yang sejak abad ke-17 bermigrasi dari Belanda dan keberadaan penduduk asli Afrika Selatan. Penduduk asli kulit hitam Afrika Selatan juga mengalami nasib seperti penduduk asli Indian Amerika di Amerika, mereka terpaksa pindah dari tanah mereka karena petani Boer Belanda memperluas wilayah pertanian mereka (Luxemburg, 2003; 392). Ketika Inggris datang pada abad ke-19, mereka juga menginginkan hal yang sama seperti kaum Boer Belanda untuk memiliki sumber daya Afrika Selatan dan menghancurkan tatanan sosial penduduk asli Afrika Selatan (Luxemburg, 2003; 393). Keinginan Inggris untuk merebut sumber daya alam Afrika Selatan memicu perang melawan Boer, sementara penduduk asli Afrika Selatan menderita dari kedua belah pihak. Keberadaan cadangan berlian di Kimberley, North Cape dan emas di Transvaal membuat Inggris lebih agresif, termasuk mengekspor imigran kulit putih dari negaranya ke koloni baru Afrika Selatan (Luxemburg, 2003; 394). Pada akhirnya, Boer harus menerima superioritas Inggris dan pada gilirannya orang kulit putih bersatu (antara Inggris dan Boer) sebagai solusi dari pembentukan relasi modal baru yang memegang kendali, sementara orang kulit hitam asli Afrika Selatan tidak pernah lolos dari kesengsaraan mereka (Luxemburg, 2003; 396). Selanjutnya, sebagai penduduk asli setempat, orang-orang Afrika Selatan dari berbagai suku menjadi pekerja di industri ekstraktif berlian dengan kondisi kerja yang menyedihkan dan perumahan yang mengerikan (Luxemburg 2003; 344).

Luxemburg juga menggambarkan beragam catatan sejarah tentang akumulasi rasial pokok/asali ini yang dilakukan oleh Inggris di India dan China dan Prancis di Aljazair. Meskipun demikian, karakter ras akumulasi primitif sudah terbentuk dari awal abad ke-16 sebelum periode abad ke-19 yang diamati oleh Luxemburg. Permasalahan penduduk asli (native question) muncul berbarengan dengan permasalahan petani (peasant question) dan permasalahan budak (slave question) sejak awal perkembangan kapitalisme dunia di abad ke-16. Oliver Cox, salah satu pemikir Black Marxism mengidentifikasi kemunculan hubungan rasial sesaat setelah Spanyol menaklukkan benua Amerika pada tahun 1492 (Cox 1970; xxx). Pertanyaan tentang nasib penduduk asli ditambah dengan munculnya perbudakan di Amerika muncul dimana penduduk asli Amerika mulai mengalami kepunahan populasinya pada saat yang bersamaan juga orang kulit hitam Afrika diculik dari benua asal mereka untuk melakukan kerja paksa di tanah penduduk asli Indian-Amerika. Budak dari benua Afrika sebagai bentuk kerja rasial diperlukan bagi penjajah karena mereka memiliki kemampuan kerja terkuat untuk melakukan pekerjaan di industri ekstraktif Amerika dan perkebunan, termasuk di daerah Atlantik lainnya (Cox, 1970, 332). Ras menjadi salah satu unsur pembagian kerja di luar benua Eropa dan mendudukkan posisi penduduk asli serta Afrika Hitam sebagai inferior untuk dapat mempertahankan pasokan sumber tenaga kerja cadangan (Cox, 1970; 333-335). Cox berpendapat bahwa “eksploitasi ras hanyalah salah satu aspek dari masalah proletarisasi tenaga kerja, terlepas warna kulit pekerja … mereka adalah bagian dari hubungan keuntungan modal-pekerja; Oleh karena itu, hubungan ras adalah hubungan borjuis-proletar dan karenanya hubungan politik kelas “(Cox 1970, 333, 336). Cox dan Luxemburg berbagi pemahaman serupa bahwa orang Eropa kulit putih membutuhkan populasi rasial yang lain untuk melakukan tugas ketenagakerjaan dalam berbagai kondisi lingkungan yang asing bagi mereka.

 

Penutup: Politik Identitas dan Sumbangan Perbincangan Luxemburg dan Lenin

Karya Luxemburg sangat berpengaruh kepada beberapa varian Marxisme. Tradisi pemikiran sistem dunia yang dikembangkan oleh Immanuel Walerstein dan sahabatnya Terence Hopkins berpijak dari analisis Luxemburg terkait hubungan antara negara kapitalis Eropa dengan negara pra kapitalis di seluruh dunia. Walerstein dan Hopkins mengembangkan unit analisis Luxemburg, Lenin dan pemikir sebelumnya yang berfokus pada negara-bangsa sebagai unit utama dengan mengemukakan unit analisa yang lebih luas yaitu dunia sebagai unit analisis. Dasar dari kapitalisme sebagai sistem dunia adalah pembagian kerja pada skala dunia (world division of labor) yang memungkinkan proses mobilitas komoditas dan nilai tambah dari satu tempat ke tempat lainnya (Hopkins, 1979).

Pengaruh Luxemburg juga ditemukan pada pemikiran marxis feminis seperti Maria Mies. Mies mengatakan bahwa para pemikir marxis feminis Jerman seperti dirinya, Claudia v. Werlhof dan Veronika Bennholdt-Thomsen mendapatkan pencerahan dari Luxemburg terkait dengan adanya kerja non-upah (nonwage labor) di negara-negara pra kapitalis yang menyokong stabilitas hubungan kapital-kerja upah (capital-wage labor) (Mies, 2014; 34).

Melalui sumbangan Luxemburg ini, Maria Mies dapat membongkar eksploitasi sistem kapitalisme dalam relung terdalam, yaitu hubungan kerja domestik yang dijalankan perempuan sebagai ibu rumah tangga tidak hanya terjadi di Eropa tetapi juga terjadi di negara Dunia Ketiga. Ini mendorong pemikiran bahwa kerja tanpa bayar (unpaid work) yang dilakukan perempuan terjadi pada skala dunia. Luxemburg juga memberikan sumbangan pada pemikiran Jason W, Moore (2015) dalam mengembangkan analisa alam sebagai totalitas terkait akumulasi kapital. Dari karya Moore kita dapat melihat bagaimana konsepsi yang dia bangun mengenai cheap nature yang disokong oleh kerja murah (cheap labor), bahan baku murah (cheap raw material), makanan murah (cheap food) dan energi murah (cheap energy) bertumpu pada analisa Luxemburg terhadap kerja alam.

Namun, alih-alih mengupas varian-varian ini penulis melihat bahwa sumbangan analisis Luxemburg lebih pada kondisi yang relevan dihadapi di Indonesia. Dari perbincangan Lenin dan Luxemburg kita dapat menemukan bahwa diferensiasi secara material dalam proses akumulasi pokok/asali membelah populasi ke dalam sekat-sekat kategori berdasarkan ras, sex dan kelas. Di sini letak pentingnya perbincangan di antara mereka, bahwa permasalahan politik identitas dan politik kelas sebenarnya berpangkal pada satu proses tunggal yaitu pembangunan relasi kapital vis a vis populasi. Semua kategori sosial yang muncul tidak terlepas dari proses material pembagian tenaga kerja.

Melalui kerja Marxis feminis seperti Federici (2014) kita mendapatkan bahwa proses akumulasi pokok/asali tidak terbatas pada pemisahan kaum tani ke dalam proses proletarisasi tenaga kerja untuk upah, tetapi “juga akumulasi perbedaan (difference) dan pembagian/perpecahan di dalam kelas buruh, di mana hierarki dibangun berdasarkan gender, ‘ras’, dan usia sehingga menjadi bagian konstitutif dari kelas penguasa dan pembentukan proletariat modern” (2014; 63-64, 115). Mies misalnya menegaskan bahwa penderitaan perempuan dan analisa feminis harus bertumpu pada hubungan di antara eksploitasi perempuan dan kategori-kategori manusia lainnya dan alam (2014; 13). Feminisme perlu untuk melihat proses material dan historis di antara hubungan antara sexualitas, kategori sosial lainnya dan pembagian kerja secara internasional karena pembagian ini diciptakan oleh kelas kapitalis dengan menciptakan diferensiasi (2014; 11).

Pendekatan ini bertumbuh dari metode relasional Marx bahwa setiap kategori realitas konkrit terhubung satu sama lainnya. Berkembangnya politik identitas berdasarkan agama dan ras dari Pilkada DKI Jakarta yang lalu tidak bisa dilihat secara terpisah dari proses material pembagian kerja baik di ranah produksi dan reproduksi. Demikian juga masalah penggusuran sebagai bagian dari reproduksi tenaga kerja seolah-olah tidak terhubung dengan proses ekspansi kapital dan penggunaan identitas keagamaan sebagai upaya pembangunan diferensiasi tersebut. Ini juga berarti bahwa proses diferensiasi tidak hanya berlangsung di ranah material karena secara relasional terhubung juga dengan kerja ideologi-ideologi yang berkontestasi dalam ranah spesifik masyarakat Indonesia, yaitu antara ideologi religius, nasionalis sekular dan liberal. Pertikaian politik identitas yang berpusat pada kekuasaan hendaknya dipahami sebagai bagian dari perebutan akses kunci pada dua unsur kapital terpenting yaitu modal konstan dan modal variable. Pada pertemuan ini Cox memberikan sumbangan bahwa pembagian kerja rasial, sexual ataupun kategori sosial lainnya bertumpu pada proses akumulasi kapital sebagai bagian dari diferensiasi dalam populasi tenaga kerja. Dari pendekatan ini kita dapat mulai melihat relasi dan tautan antara kelas, ras, sex dan agama terhubung dalam kesatuan kendali kapital.***

 

Penulis adalah Dosen Sosiologi, FISIP UIN Syarief Hidayatullah Jakarta, Anggota Kolektif Kaji Dialektika sebuah kolektif kajian kritis di Ciputat, Pinggir batas Jakarta – Tanggerang Selatan

 

Kepustakaan:

Bukharin, Nikolai I. 1972. Imperalism and the Accumulation of Capital. New York and London: Monthly Review Press.

Cox, Oliver Cromwell. 1948/1970. Caste, Class, & Race; A Study in Social Dynamics. New York and London: Monthly Review Press.

Dunayevskaya, Raya. 1982. Rosa Luxemburg, Women’s Liberation, and Marx’s Philosophy of Revolution. New Jersey and Sussex: Humanities Press and Harvester Press.

Federici, Silvia. 2014. Caliban and the Witch; Women, the Body and Primitive Accumulation. New York: Autonomedia.

Forest, Freddie/ Raya Dunayevskaya. 1943. “A Letter to Editor of the New International”, The New International, edisi Maret, hal 94-95.

Hopkins, Terrence K. 1979. “The Study of Capitalist World-Economy: Some Introductory Consideration” in Walter L. Goldfrank, ed., The World-System of Capitalism: Past and Present, Political Economy of the World-System Annuals, No.2. Beverly Hills: Sage, 1979, pp. 21-52.

Johnson, J.R. / C.L.R. James. 1943. “Production for the Sake of Production”, Bulletin pp. 1-12.

Kautsky. Karl. 1988. The Agrarian Question, 2 vol. London, and Winchester: Zywan Publications

Lenin, V.I. 1967. The Development of Capitalism in Russia. Moscow: Progress Publisher.

Lenin, V.I. 1933a/2010. Rosa Luxemburg’s Unsuccessful Addition to Marx’s Theory, di unduh dari https://www.marxists.org/archive/lenin/works/1913/apr/rl-acc- capital-article.htm pada tanggal 26-12-2017.

Lenin, V.I. 1933b/2010. Comment of VI Lenin Concerning Rosa Luxemburg’s Book Accumulation of Capital, di unduh dari https://www.marxists.org/archive/lenin/works/1913/apr/rl-acc- capital-notes.htm pada tanggal 26-12- 2017.

Luxemburg. Rosa. 2003. The Accumulation of Capital. London & New York: Routledge

Marx, Karl. 1990. Capital: a Critique of Political Economy, Vol. 1. England: Penguin Books and New Left Review.

Mies, Maria. 2014. Patriarchy and Accumulation on a World Scale; Women in the International Division of Labor. London: Zed Book.

Moore, Jason W. 2015. Capitalism in the Web of Life: Ecology and the Accumulation of Capital. London: Verso.

 

——————-

[1] C.L.R. James ketika menulis pada tahun 1943 menggunakan nama pena J.R. Johnson, sedangkan pada tahun yang sama Raya Dunayevskaya menggunakan nama Freddie Forest.

[2] Lenin menyebutkan karya Luxemburg: “rubbish, a mess and…she has distorted Marx” (Lenin, 1913b).

[3] Lihat bab 30 dari karya Marx, Capital Volume I dan bab 3 dari karya Kautsky, Agrarian Question.

[4] “from the very beginning, the form and law of capitalist production aim to compromise the entire globe as a store for productive force” (2003; 338).

[5] Kata tambahan Imigran Eropa merupakan tambahan terjemahan oleh penulis.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus