Merawat Harapan

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

TAHUN baru umumnya dijelang dengan berbagai harapan baik, bahkan nazar untuk melakukan hal yang benar. Tapi seiring dengan semakin bertambahnya usia, sebagian dari kita mulai meninggalkan pendekatan optimistis nan saleh seperti itu terhadap pergantian masa. “Toh ini cuma pergantian kalender dalam tradisi penanggalan Gregorian”.

Apatisme ini terjadi bukan tanpa sebab. Ada berbagai kekecewaan dan keletihan dalam gumul juang kita yang seringkali meleset dari sasaran bahkan tak terwujud sama sekali di tahun-tahun yang sudah berlalu. Demoralisasi gerakan, konflik-konflik horizontal antar kawan dalam organisasi, dan pelbagai kisruh serta drama kehidupan membuat kita lebih mawas diri dan waspada dalam menautkan harapan.

Waspada tentu bukan saja baik, tapi itu juga sikap yang benar. Tetapi apakah berharap untuk dunia yang lebih baik itu masih perlu atau bahkan mungkin secara rasional ? Ataukah itu semacam candu yang terus perlu dipelihara oleh gerakan-gerakan sosial yang pada kenyataannya tidak berjangkar pada dunia objektif?

Saya persisnya tidak tahu bagaimana agama-agama Abrahamik lainnya memandang harapan. Tapi sejauh yang saya pahami, Kekristenan meletakan harapan sebagai keutamaan di dalam akidah imannya. Sekurang-kurangnya ada 659 kata pengharapan di dalam Alkitab Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama.

Rasul Paulus misalnya, di dalam surat 1 Korintus 13 :13 mengatakan :

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”

Lebih lanjut, penulis kitab Ibrani memberikan kerangka aksiologis dari harapan :

“Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, dimana Yesus telah masuk sebagai perintis bagi kita ketika Ia menurut peraturan Melkisedek menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.” (Ibrani 6:19-20).

Kata pengharapan dalam bahasa Yunani (bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru) adalah ἐλπίς (elpis), yang secara harafiah dapat diartikan mengantisipasi, menyambut, mempersiapkan diri.

Berharap rupanya tidak digambarkan sebagai sikap pasif menunggu datangnya hal baik tiba, juga bukan sebentuk lamunan kosong antah berantah yang tak berdasar. Berharap adalah sebuah aktivitas antisipasi secara aktif yang menantang sang subjek untuk merencanakan, mempertimbangkan, menghitung semua konsekuensi dari datangnya masa depan. Lini masa waktu dalam kekristenan bukanlah sekadar sebuah konsep abstrak. Dia dipahami hadir seumpama kanvas tempat Allah dan manusia berkarya. Waktu adalah tempat ditorehkannya peristiwa (event) di ruang material[1].

 

Ernst Bloch dan teologi pengharapan

Ernst Bloch, seorang teolog Jerman, sainstis ilmu politik dan seorang marxis pada abad 20 memberikan kita beberapa landasan mengenai pengharapan yang layak dipikirkan dan digumuli. Pemikiran Bloch sendiri sangat dipengaruhi oleh Hegel, Feuerbach dan Marx. Dengan pengaruh pemikiran ketiga tokoh tersebut, Bloch alkhirnya menyelesaikan magnus opusnya yang berjudul : Das Prinzip Hoffnung (Principle of Hope)[2].

Marx memberikan peran terbesar dalam The Principle of Hope Bloch. Pada Marx, Bloch menemukan esensi manusia dalam sejarah dan relasi sosialnya. Hal ini terumus dalam utopia konkrit. Walaupun memisahkan diri dari Hegel, Feuerbach mengambil perspektif antropologis dari Hegel dan telah membawanya ke eksistensi material.

Marx sendiri mengambil perspektif antropologi dari Feuerbach. Marx muda telah menyatakan sebuah kenyataan diri yang menaruh perhatian pada aktualitas masa depan sebagai masa depan aktualitas. Apa yang Marx kerjakan adalah memindahkan ketakutan mengenai masa depan manusia. Manusia dapat menyusun masa depannya dengan akal budi. Bloch mengatakan bahwa harapan dan akal budi harus digunakan secara bersamaan untuk menyusun masa depan[3]. Marxisme tampak sebagai kombinasi sempurna antara teori dan praksis mengenai dunia yang lebih baik. Ini berarti bahwa Marxisme sama sekali tidak membatalkan dunia saat ini, dan membawa ke dalam dunia utopia sosial yang abstrak tapi supaya mengubah dunia ini secara ekonomis dan dialektis.

 

Lamunan sebagai antitesis dari Nihilisme

Dalam pembukaan, The Principle of Hope volume pertama, Bloch menyampaikan tujuan dari buku tersebut yaitu mengajari umat manusia untuk belajar berharap sebagai bentuk perlawanan terhadap pusaran ketakutan yang didominasi oleh nihilisme. Kehidupan yang pasif seperti hewan, menurut Bloch, hanya akan melemparkannya pada suatu hal yang kebetulan. Oleh karena itu perlu dilawan dengan lamunan (daydream) mengenai masa depan dunia yang lebih baik .

Apa yang dimaksud Bloch dengan lamunan ?

Berbeda dengan posisi Feurbach yang meletakkan keyakinan kepada Allah dan segala masa depan yang lebih baik sebagai lamunan yang berasal dari proyeksi manusia oleh individu-individu entah sebagai objek perasaan, objek kesadaran keinginan atau objek kesadaran pikiran (Homo homini Deus), Bloch melihat pemikiran (atau lamunan ini) sebagai masa depan manusia yang belum dikenali.

Menurut Bloch lamunan adalah pintu masuk ke dalam harapan yang belum terkontaminasi dengan ide-ide transendensi yang mengatasi kondisi manusia[4]. Bloch menegaskan bahwa Marxisme sendiri tidak hanya menempatkan materialisme sebagai pembalikan dialektis Hegel tapi juga sebagai sebuah pengaturan kembali perhatiannya pada “hantu pengenangan” yang diperoleh melalui kontemplasi dan interpretasi[5].

Lamunan adalah visi tentang kepenuhan manusia yang dicapai lewat disrupsi terhadap keterbatasannya. Manusia diharapkan untuk mampu melihat gambaran kemungkinan masa depan secara sistematis sebagai satu-satunya dasar kewarasan dalam menjalani kehidupan. Bisa dikatakan, dalam pemikiran Bloch, lamunan adalah sebentuk emansipasi kesadaran tersebut dengan tugas pokok untuk menemukan ‘apa-apa yang belum disadari’[6].

Semua kisah-kisah penciptaan semesta, kisah-kisah pembebasan yang dilakukan Musa, sampai dengan mujizat-mujizat dan kebangkitan Yesus Kristus, bagi Bloch adalah bentuk sastrawi dari lamunan yang sedang melakukan ekspedisi perziarahan kesadaran mendahului perwujudannya dalam sejarah aktual.

Sampai di sini semoga kita tidak keliru memahami. Bloch bukanlah seorang Don Quixote yang naif. Menurut Bloch, berharap   hanya mungkin dilakukan  jika sebelumnya sang subjek telah membuka diri seluas-luasnya terhadap kenyataan. Baginya harapan haruslah merupakan utopia konkret (con-crescere utopia). Tentu kata Konkret di sini perlu dipahami dalam terang pemahaman Hegelian.

Dalam perspektif Hegel, utopia konkrit (concresere) adalah sebuah gerakan pertumbuhan antara kenyataan material sejarah dan intervensi manusia yang senantiasa penuh dengan kemungkinan untuk pembebasan tetapi belum terwujud, karena syarat-syarat materialnya belum terpenuhi. Bloch menggemakan kembal Hegel dengan mengatakan “processus cum figures, figurae in processu[7]” (Proses itu dikerjakan oleh mereka yang sebelumnya dibentuk oleh proses).

Segala bentuk lamunan tentang adanya pembebasan satu umat dari penindasan, ide tentang adanya perlawanan kelas pekerja pada pemilik modal, petani pada para tuan tanah, bukanlah berasal dari wangsit antah berantah (pre existence). Lamunan itu diproduksi oleh subjek-subjek yang di tempat pertama mengalami penderitaan dan penghisapan. Tidak mengherankan jika para Nabi di Perjanjian Lama muncul dari tempat yang paling tertindas, dan marjinal, hadir dengan narasi nubuatan yang paling tajam, kreatif dan dengan pesan yang kuat.

Itu sebabnya bagi Bloch, agama (religion=binding,ikatan konstruktif pada pengalaman manusia)   seharusnya menjadi binding back , pemaknaan ulang pengalaman manusia dengan narasi baru, terhadap makna lama yang telah didikte oleh penguasa[8].

Bloch sendiri dalam prosesnya mesti berhadap-hadapan dengan Theodore Adorno dari kelompok Mazhab Frankfurt yang cenderung pesimis kepada gerakan kebudayaan massal yang mampu membawa narasi yang membebaskan masyarakat dari konsumerisme pasif. Bloch masih meyakini bahwa dalam prosesnya kebudayaan populer pada dirinya dapat ditata metanarasinya. Tidak seperti Adorno yang meyakini bahwa teknologi pada akhirnya akan mewujudkan secara utuh penantian manusia modern akan kekosongan, Bloch meyakini bahwa senantiasa ada residu dari teknologi yang menyisakan kontradiksi-kontradiksi dan masalah-masalah di dalam masyarakat, yang memaksa manusia untuk mempertanyakan modernitas dan pembangunan.

 

Bagaimana agama merawat harapan di hadapan permasalahan Indonesia?

2018 dapatlah dikatakan sebagai tahun yang akan dipenuhi keriuhan dalam ranah politik elektoral, mengingat pada medio Juni mendatang akan diadakan pilkada serentak di 171 wilayah di berbagai propinsi dan kabupaten kota di seluruh Indonesia. Tentu hingar bingar ini menjadi ajang pemanasan bagi pemilu 2019 . Di hadapan isu ini kekristenan Indonesia ditantang untuk mengonstruksi teologi politiknya untuk memberi imajinasi baru tentang politik alternatif, syukur-syukur mampu melepaskan umat dari sindrom penantian satria piningit.

Tahun 2018 juga banyak memberikan pekerjaan besar bagi gereja-gereja untuk memberikan konstruksi teologis yang memberi ruang bagi isu-isu yang sudah dalam tahap yang sangat mengkhawatirkan. Sangat ironis bahwa umat kristiani Indonesia lebih fasih dan lantang bicara isu privat terkait masalah rumah tangga Basuki Tjahaja Purnama ketimbang situasi genting di Kulon Progo, misalnya. Etika Kristen yang sangat menekankan isu moralitas privat dan melupakan problem struktural turut bertanggung jawab untuk sikap abai umat dewasa ini terhadap isu-isu agraria.

Merawat harapan jelaslah bukan pekerjaan mudah. Perlu sikap eling lan waspada untuk menjaga diri agar tidak hanyut dalam rasa aman semu di hadapan rezim hari ini yang sedemikian dipuja oleh mayoritas komunitas Kristen. Di sisi lain, gereja juga mesti berjaga-jaga terhadap sikap apatis dan putus asa di hadapan masalah-masalah rakyat yang berat hari-hari ini. Mungkin secara bijak kita perlu mempertimbangkan ujaran Bloch: “We must believe in the Principle of Hope. A Marxist does not have the right to be a pessimist[9]“.***

 

Penulis adalah Pendeta Jemaat Gereja Komunitas Anugerah-Reformed Baptist Salemba

 

————-

[1] David Bradshaw, Aristotle East and West: Metaphysics and the Division of Christendom (Cambridge: Cambridge University Press), hal.179-182.

[2] The Principle of Hope adalahterjemahan bahasa Inggris dari karya Bloch yang berjudul Das Prinzip Hoffnung. Buku terbitan Basil-Blackwell, the Oxford-based publishers ini terdiri dari sekitar 1600 halaman yang terbagi dalam tiga volume. Richard H. Roberts sendiri menggunakan buku terjemahan Neville Plaice, Stephen Plaice dan Paul Knight untuk membuat review artikelnya yang berjudul: “An Introductory Reading of Ernst Bloch’s the Principle of Hope.” Secara garis besar buku tersebut terdiri dari tiga tema besar: pertama, lahirnya kesadaran utopia; kedua, kehidupan utopia-utopia dalam tradisi; dan ketiga, konfrontasi dengan kematian. Karya Bloch ini memang tersusun atas aneka macam pandangan dan materi seperti seni, filsafat, sastra dan religius. Cakupan isinya pun sangat luas yang mencakup perjalanan tradisi terutama di Eropa

[3] Puthur, Bosco, From the Principle of Hope to the Theology of Hope, Kerala, Pontifical Institute Publication, 1987,hal.17

[4] Bosco,1987, hal.22

[5] Bosco,1987, hal.29

[6] Bosco,1987, hal.31

[7] Bosco,1987, hal.30

[8] Bosco,1987, hal.31

[9] Bosco,1987, hal.33

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus