Membaca Tanda-tanda Zaman Sebagai Panggilan Kristiani

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

BEBERAPA bulan silam terbit sebuah meme yang (secara karikatural) membuat profil kepribadian pengakses situs-situs berita dan opini di dunia maya. Di dalam meme ini pembaca vice.com di narasikan sebagai sosok penikmat budaya pop adiluhung ,  peminum bir,  pengguna topi bucket,  dan (berlagak)  memiliki daya retas yang tinggi dalam memahami meme yang absurd.   Lain lagi dengan profil pembaca Tirto.id.  Pembaca Tirto digambarkan sebagai figur kasual yang selalu mengunjungi kedai-kedai kopi hipster, senantiasa menulis status panjang lebar di media sosial, khususnya kalau sedang membahas mengenai isu sosial.

Yang tak kalah membuat kita takzim, meme ini juga secara akurat  membuat streotype pembaca indoprogress.com.  Pembaca IndoPROGRESS di deskripsikan sebagai orang-orang yang senantiasa memakai perspektif pertentangan kelas dalam segala sesuatu, sampai-sampai percakapan di kencan pertama pun harus menyertakan topik soal pertentangan kelas katanya!  Titel  mahasiswa abadi-cum pengunduh jurnal ilegal melalui situs serupa libgen, ditahbiskan bagi para pengakses setia situs ini.

Meme jenaka nan mengesalkan ini menyampaikan pesan subtil: penafsiran kita kepada dunia dan tatanan dibentuk oleh narasi yang kita yakini paling akurat mempresentasikan kenyataan objektif. Apa yang kita yakini tentang dunia ini turut membentuk preferensi kita dalam memilih kedai kopi, buku bacaan, pakaian, diksi dalam pesan di media sosial, bahkan seperti apa pasangan kencan ideal kita .

Lalu bagaimana dengan orang Kristen yang mendaku diri progresif?  Bagaimana seharusnya kita membaca zaman dan menafsirkan dunia ini bahkan mengubahnya?  Apakah kita mesti menjadi semacam mistikus yang senantiasa menerima keterlemparan kita di dalam dunia sebagai sesuatu yang terberi dan menjalaninya di dalam kepasrahan bahwa apapun yang terjadi di dalam dunia biarlah terjadi? Jawabannya tidak.

Yesus Kristus dalam kitab injil, sempat mengecam ketidakmapuan para murid dalam membaca tanda zaman. Tampaknya kesediaan dan kecakapan membaca tanda zaman menjadi tanggung jawab pengikut Kristus. Matius 16:2-3

Tetapi jawab Yesus: “Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman s  tidak 

Alkitab,  khususnya perjanjian baru memberikan perintah bagi para pengikut Yesus disepanjang masa untuk membaca tanda-tanda kerajaan Allah di dalam sejarah dunia.  Kerajaan Allah bukanlah realitas ideal dalam alam rohani.  Kerajaan Allah adalah disrupsi Ilahi ke dalam sejarah dunia material dalam segala tatanan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan.

Mengapa? Tentu tidak lain agar memastikan gereja tetap dalam gerakan kerajaan Allah yang mendisrupsi sejarah. Pembacaan zaman dan pemetaan zaman menjadi tanggung jawab semua pengikut Kristus.

 

Kosmos sebagai cara membaca dan merespons zaman 

Setiap agama, rezim politik, maupun gerakan sosial memiliki sebentuk peta kosmos.  Alexander Von Humbold, seorang ilmuan geografi dan filsuf Jerman abad 19 menyebut kosmos sebagai “Sistem yang menyeluruh yang menjelaskan tentang tatanan dan makna keberadaan semesta bagi manusia[1]. Kosmos adalah lawan dari chaos.

Sebagai sebuah sistem, kosmos pada umumnya mencoba menjelaskan asal usul semesta, dan bagaimana telos atau tujuan akhir dari semesta dapat dicapai. Kosmos juga pada umumnya menjelaskan berbagai faktor yang mengancam jalannya semesta untuk mencapai tujuan hakikinya.

Ada sistem kosmos greko-yunani yang melihat semesta sebagai sebuah kontingensi  dari tindakan para dewa. Dunia fisikal adalah kenyataan yang lebih rendah. Semua perjalanan sejarah umat manusia tidak lain hanya merupakan bayang-bayang dari kenyataan ultimat di alam langit dimana para dewa bertarung. Kaisar sebagai presentasi dari kenyataan. Dalam sistem yang lebih kuno, pada kebudayaan Babilonia, semesta fisikal dan realitas kebudayaan dihayati sebagai kenyataan yang pada dasarnya dibangun di atas kesengsaraan. Melalui hikayat Enuma Elish, dunia material dipahami tidak lebih dari jejamuran yang tumbuh di atas bangkai para dewa yang mati dalam pertempuran. Kalau ada realitas penindasan, duka, dan berbagai ketidakadilan ya wajar, toh kita semua dibangun di atas bangkai. Begitulah cara mereka memandang kehidupan.

Pasca aufklarung (pencerahan) kosmos didekati dengan sistem yang didaku ilmiah. Kosmos dilihat secara naturalistik dan empirik dan melihat semesta sebagai sebuah kumpulan kecelakaan dan kebetulan yang pada dirinya sendiri tidak memiliki hakekat. Sistem kosmologi yang di abad 20 diolah ulang dalam budaya populer oleh Carl Sagan ini melihat bahwa kebetulan-kebetulan yang membentuk semesta fisikal dan pada akhirnya peradaban manusia. Maka jika pada narasi -narasi kuno sebelum masehi determinasi sejarah dan kemanusiaan di tentukan oleh sistem politik para dewa-dewi di khayangan, maka pada era modern masa depan kosmos dibentuk oleh berbagai kebetulan-kebetulan. Pada hukum-hukum alam semesta dengan kekuatan impersonallah kodrat manusia dan semesta diletakkan.

Singkatnya pada setiap sistem kosmologi senantiasa terletak penjelasan bagaimana semesta semestinya bekerja dan sebagai konsekuensinya para penganutnya diberi obligasi untuk merespons dan bertindak di dalam dunia.

 

Bagaimana dengan kosmologi Kristen?

Pertama-tama perlu saya jelaskan bahwa kosmologi kristen bukanlah upaya cocokologi sains dan narasi agama. Tidak. Anda tidak perlu menjadi seorang kreasionis yang meyakini bahwa semesta raya dan isinya yang dapat terobservasi dari bumi seluas 28.5 gigaparsecs (93 milyar tahun cahaya 8.8 dikali 1023 kilometer )[2] diciptakan selama 6×24 jam.

Kosmologi kristen berdasar kepada ide bahwa kebenaran apapun yang sejalan dengan realitas objektif adalah kebenaran Allah, demikian st. Agustinus bersabda. Kosmologi kristen pada dasarnya tidak sedang berniat menjawab pertanyaan bagaimana (secara teknis) alam semesta dan kemanusiaan terjadi.

Kosmologi kristen di susun untuk menjawab pertanyaan mengapa, untuk apa, serta kemana semestinya segala realitas semesta ini bergerak? Anda bisa menjadi seorang yang percaya evolusi dan berbagai temuan saintifik lainnya soal asal-usul alam semesta dan tetap menjadi seorang pengikut Kristus.

Dalam kosmologi kristen dihayati bahwa alam semesta beserta kenyataan-kenyataan material dan empiriknya sejak semula diniatkan Allah untuk bekerja di dalam sebuah tujuan akhir (telos) yang membawa keutuhan di dalam rangkaian relasi yang harmonis antara Allah dan segenap ciptaan (bandingkan 1 Korintus 15:28). Semesta dan kemanusiaan ada untuk kesejahteraan (syalom) bersama .

Namun demikian senantiasa ada threat atau ancaman dalam jalannya sejarah semesta untuk mencapai telosnya. Ancaman-ancaman itu berasal dari sistem yang korup yang dikenal secara teologis sebagai dosa. Dosa adalah kekuatan sistemik yang korup dan merusak tatanan sehingga menyimpangkan tujuan Allah yang baik atas dunia.

Selain itu ada Iblis (demon, satan) sebagai agensi dari kekuatan dosa yang bermanifestasi di dalam sejarah sebagai kekuatan kapital, rezim yang menindas. Sebuah personifikasi kekejaman, ketamakan, dan penghisapan atas kehidupan. Agensi-agensi (satan,demon) yang beroposisi dengan kerajaan Allahlah salah satu penyebab penyimpangan (hamartia) dari telos semesta .

Di atas medan peperangan itulah para pengikut Kristus dipanggil menyatakan kabar baik Injil . Kabar baik Injil adalah bahwa kosmos dan segala tatanan kemanusiaan yang sudah disimpangkan, penuh penindasan dan ketidakadilan ini akan diperbaharui dan dibebaskan melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Didalam pergumulan menyampaikan kabar baik itulah gereja di sepanjang abad dan tempat dimandatkan untuk menghidupi dan memproklamasikannya.

 

Membaca Realitas Politik Kita Melalui Kosmologi Kristen

Media sosial dan media arus utama kita hari-hari ini diisi berbagai opini yang dilemparkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk 2019. Mereka menawarkan narasi-narasi  tentang semesta politik kita. Mereka mendeskripsikan siapa satan dan siapa mesias dalam kontestasi ini.

Ada yang menuduh bahwa satan dalam alam politik kita adalah komunisme dan karenanya sang mesias tidak lain adalah TNI. Ada yang mengklaim bahwa sang satan adalah pihak asing dan aseng dan karenannya mesiasnya tidak lain adalah sang nasionalis. Terdengar juga narasi dari begawan budaya dari Salihara bahwa komunisme adalah satan palsu. Ide tentang pertentangan kelas apalagi, menurutnya, ide revolusi, sudah lama kadaluarsa di dunia. Maka menurut sang begawan musuh sesungguhnya adalah korupsi dan mesias yang kita butuhkan adalah sosok yang dapat membuat reformasi tatanan.

Di tengah hiruk pikuk narasi yang tak henti dijejalkan itu, kita perlu senantiasa mengingat bahwa realitas politik Indonesia juga berbagian dengan pembacaan telos kosmologi Kristen dalam linimasa sejarah. Maka sebagai pengikut Kristus pembacaan struktrural perlu dilakukan, sebab kosmologi kristen pertama-tama meletakkan akar masalah peradaban dan semesta pada struktur yang korup dan pada agensi-agensi pelanggeng tatanan yang menindas tersebut.

Kosmologi Kristen yang menjelaskan telos dunia punya implikasi serius. Apa itu?

Kosmologi Kristen memberikan tanggung jawab moral kepada gereja untuk menjadi komunitas yang berkoinonia, yaitu komunitas yang berkontribusi bersama bagi perubahan tatanan dunia . Itu sebabnya mengambil bagian dalam perlawanan kepada perebut lahan rakyat, mengambil bagian dalam upaya pelurusan sejarah 65, bersuara untuk para pekerja rumah tangga dan kaum marjinal, dan berbagai upaya untuk berjuang bersama kelas pekerja adalah medan peperangan rohani kita di sepanjang masa.

Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah   dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah,   melawan penguasa-penguasa,   melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat   di udara.   Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah,   supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.-Efesus 6:12-13***

Penulis adalah Pendeta, Pengasuh Diskusi Rabuan dan Selasaan Gereja Komunitas Anugerah Reformed Baptist Salemba

 

————

[1] Humboldt, Alexander von; Paul, Benjamin Horatio; von), Wilhelm Humboldt (Freiherr; Dallas, William Sweetland (1860). Cosmos: a sketch of a physical description of the universe. Harper & brothers. Hal 15.

[2] Itzhak Bars; John Terning (November 2009). Extra Dimensions in Space and Time. Springer. Hal. 27–. ISBN 978-0-387-77637-8. R


comments powered by Disqus