Amanat Jasmerah dari Jenderal Post-Truth

Print Friendly, PDF & Email

Decorated general. Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

DI LUAR makam Presiden Soekarno, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan kepada seorang wartawan yang bertanya tentang keberatan sejumlah pihak, termasuk PBNU, jika film G30S diputar lagi.

“Kalau kita mau meluruskan sejarah menceritakan sejarah tidak boleh, mau jadi apa bangsa ini? Di makam ini, Bung Karno mengatakan jangan lupa jas merah, kan gitu? Jangan lupa jasa-jasa para pahlawan.”

Ziarah dalam politik adalah lumrah, sering dilakukan di hari-hari peringatan peristiwa bersejarah atau ketika kampanye politik. Laku ziarah seorang politisi bisa dibaca sebagai upaya mengidentifikasi diri dengan ketokohan seseorang yang dipandang penting, berpengaruh, dan punya pengikut banyak.

Pertama-tama Jenderal Gatot menziarahi makam Soekarno. Kali lain, Jenderal Gatot berziarah ke makam Soeharto di Karanganyar.

Sebentar, apakah Jenderal Gatot politisi? Oh tentu bukan. Dia tentara—alat negara, haram berpolitik.

Khusus untuk Soekarno, sejak citra politiknya direhabilitasi pasca-1998, tidak sedikit orang berlomba-lomba mengklaim mengidolakan Soekarno—termasuk lawan-lawannya. Dus, jadilah industri Soekarno: film Soekarno, lomba mirip Soekarno, hingga lomba pidato ala Soekarno. Ini belum mencakup orang-orang paruh baya yang mengaku putra Soekarno.

Bahkan Prabowo Subijanto, putra Soemitro Djodjohadikusumo yang sempat menggoyang kekuasaan Soekarno lewat PRRI/Permesta, memacak diri sebagai Soekarno 2.0 dalam pemilu 2014. Coba lihat mikrofonnya, seragamnya; silakan dengar retorika nasionalis-patriotiknya yang mirip-mirip Soekarno tua era 1958-1965.

Sulit dinalar apabila susu murni yang dioplos minyak rambut orang-aring bakal laku dijual sebagai yogurt.

Tapi politisi bisa membikinnya laris: mereka toh mampu seenaknya mencampur-baurkan apa saja yang kelihatan hebat kendati jelas berseberangan dan tak masuk akal. Mirip-mirip kegiatan tabur bunga di Blitar, lalu lanjut ke Astana Giri Bangun. Apa bedanya dengan menziarahi pahlawan kemudian mengencingi kuburannya?

“Saya perintahkan kepada prajurit saya untuk meneladani langkah perjuangan beliau, sejak 1 Maret sampai jadi presiden,” ujar Jenderal Gatot kepada wartawan di makam Soeharto.

Serangan Umum 1 Maret direncanakan oleh Sultan Hamengkubuwono IX yang rajin memantau situasi lewat berita-berita dalam dan luar negeri. Keterangan lain menyebutkan: ketika Serangan Umum berlangsung, Soeharto “sedang menikmati makan soto babat bersama-sama pengawal dan ajudannya.”

Sebuah teladan bukan?

Pada 1959, sebuah tim pemeriksa dibentuk oleh Mabes Angkatan Darat, diketuai Letjen Soeprapto dan beranggotakan Letjen S. Parman, Letjen MT. Haryono, dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo—termasuk dalam deretan perwira militer yang dibunuh pada 1 Oktober 1965. Apa tujuannya? Memeriksa Soeharto dalam kasus penyelundupan beras yang melibatkan The Kian Seng (Bob Hasan) dan Liem Sioe Liong (Sudono Salim). Penyelundupan terjadi ketika Jawa Tengah gagal panen sehingga terpaksa mengimpor beras dari Singapura.

Ahmad Yani, Kepala Logistik Angkatan Darat, naik pitam dan menggampar Soeharto. Sementara Kepala Staf Angkatan Darat A.H. Nasution bersikeras agar Mahkamah Militer mengadili Soeharto dan memecatnya dari Angkatan Darat.

***

Yang juga tarafnya sedikit di bawah ziarah politik adalah mengutip. Para pejabat dan politisi sering mengutip dan apapun bisa jadi bahan kutipan: ayat suci, judul berita, informasi yang kelihatannya ilmiah, berita palsu, dan tak lupa: wejangan ‘Guru Bangsa’. Dalam hal ini Soekarno laksana pabrik kutipan: tak semua orang membaca tulisannya, tapi mampu mengingat satu-dua penggalan kata-katanya (dari mana sumber dan apa konteksnya, itu soal lain).

Syukur alhamdulillah di zaman yang konon pasca-kebenaran ini, tiap pernyataan publik pejabat dan politisi meninggalkan jejak yang sempurna dan gampang sekali dinilai khalayak: Logiskah? Dari mana sumbernya? Tepat kontekskah kutipannya? Dia sedang bicara ke siapa?

“Di makam ini Bung Karno mengatakan jangan lupa jas merah … ” kata Jenderal Gatot kepada wartawan.

Adalah sebuah fakta telanjang bahwa orang yang sudah meninggal tidak bisa bicara, apalagi pidato. Hari ini di kedalaman 6 kaki, Soekarno jelas tidak sedang berkoar-koar tentang bahaya nekolim. Bahkan 47 tahun lalu ketika dimakamkan, dia juga tidak berpidato.

Susunan kalimat Jenderal Gatot secara teknis mengandaikan bahwa ada sesuatu antara Soekarno dengan jas merah.

Pada 2008, majalah National Geographic kembali menerbitkan edisi tahun 1955. “Sang Raksasa Muda”, demikian tajuknya, memajang foto berwarna Soekarno di istana negara mengenakan baju abu-abu. Kelihatannya itu kali pertama kita menyaksikan foto berwarna presiden pertama RI. Di luar itu, kita hanya kenal sosok Soekarno dalam potret hitam-putih.

Maka, kita tidak benar-benar tahu apabila Soekarno pernah mengenakan jas merah, atau setidaknya sempat punya jas merah, atau hubungan-hubungan lain antara si Bung dengan tiap jas di dunia ini yang berwarna merah—kecuali bahwa setelan resmi PDIP adalah jaket merah.

Oh, barangkali yang dimaksud Jenderal Gatot adalah pidato yang populer disebut ‘Jasmerah’ atawa ‘Jangan Sekali-Sekali Meninggalkan Sejarah’.

Jenderal Gatot nampaknya perlu diingatkan apa artinya mengutip ‘Jasmerah’. Setidaknya untuk dua fakta dasar: Pertama, pidato Jasmerah diucapkan di Istana Merdeka dalam rangka 21 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, bukan di kuburan Soekarno. Adapun slogan beken “Jangan lupa jasa-jasa para pahlawan” diambil dari pidato Hari Pahlawan 10 November 1961 di tempat yang sama.

Kedua, dalam pidato Jasmerah, Soekarno memang mengkritik Gestok, tapi juga mengkritik keras siapapun yang menggunakan Supersemar sebagai alat “transfer pemerintahan”, dengan kata lain: kritik terhadap siapapun yang sedang mensubversi pemerintahan Soekarno dari dalam melalui lisensi Supersemar—siapa lagi jika bukan para politisi anti-Soekarno, Angkatan Darat, aktivis angkatan ’66, dan Soeharto?

Sebagai seorang anti-komunis tulen, Jenderal Gatot mestinya sadar ada bahasan lain dalam pidato tersebut.

Saya kutip secara verbatim dari kumpulan pidato Soekarno yang diterbitkan sebagai Revolusi Belum Selesai (2014): “Saya berkata bahwa Nasakom atau Nasasos atau Nasa apapun adalah unsur mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia” dan “Nasionalisme, Ketuhanan, Sosialisme (dengan nama apapun) adalah merupakan tuntutan daripada tiap jiwa manusia, tiap bangsa, tuntutan seluruh umat manusia.”

Tapi bukankah segala yang “kom” dan “sos” itulah yang dimusuhi dan kini dibangkitkan jadi hantu oleh Jenderal Gatot?

***

“Tapi fakta dalam film itu [Pengkhianatan G30S] masih jadi polemik?” tanya wartawan.

“Biarin aja lah. Yang penting saya tidak berpolemik kok,” jawab Jenderal Gatot.

Para pejabat Gereja Katolik pada abad 16 berang gara-gara temuan Galileo yang menyatakan bahwa bumi bukan pusat alam semesta alih-alih mengitari matahari, bertolak belakang dengan doktrin gereja.

“Saya tak peduli kini ada temuan bahwa bumi mengelilingi matahari. Yang saya tahu matahari mengelilingi bumi. Itu ada di Alkitab.”

Sejak itu Galileo dituduh sesat, diadili dan dijatuhi tahanan rumah pada 1633. Temuannya yang dirangkum dalam “Dialogue Concerning the Two Chief World Systems” (1632) dinyatakan terlarang.

Pada 1992, 359 tahun setelah pengadilan itu, Vatikan menyatakan: Galileo benar.***


comments powered by Disqus