Utopia dan Harapan: Pembentukan Cakrawala Politik Kristen Menurut Ernst Bloch

Print Friendly, PDF & Email

Kredit foto: Society for US Intellectual History

 

BAGI Anda yang hadir dalam kebaktian-kebaktian atau misa di sepanjang bulan Agustus ini,  tema-tema mengenai kebangsaan, nasionalisme, dan kebinekaan menjadi santapan rohani yang marak disajikan di kotbah-kotbah mimbar gereja kita.  Bahkan di beberapa gereja, kegiatan agustusan dirayakan lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.  Mulai dari balap karung, upacara bendera sampai perjamuan kudus diselenggarakan dengan limpahnya.

Meskipun kait-mengaitnya perlu diurai lebih lanjut, sulit disangkali pasca Basuki Tjahaja Purnama ditahan Mei 2017 silam karena kasus penistaan agama, secara sporadis terbit reaksi dan geliat di kalangan gereja-gereja Indonesia untuk bicara nasionalisme dan kebinekaan[1].  Sejak saat itu tidak jarang penulis mendengar seruan “profetik” dikumandangkan melalui media-media oleh tokoh gereja dan teolog. Isunya cukup seragam: kita mengalami krisis kebangsaan dan nasionalisme[2].

Maka bak cendawan di musim hujan,  semangat itu berkembang pesat menjadi jargon-jargon “Aku Indonesia, Aku Kristen”,  “100 persen Indonesia, 100 persen Kristen”,  dan berbagai aforisme yang sedikit banyak mirip dengan jargon politik kebangsaan pemerintah Jokowi di bulan ini.  Entah kebetulan atau janjian, saya belum berani menyimpulkan terlalu jauh.

Apa harapan yang ingin dicapai dari kegiatan semacam ini? Penulis mengambil contoh dengan menyitir pesan pastoral menyambut HUT kemerdekaan Republik Indonesia ke -72 dari Sinode Gereja Masehi Injili di Timor :

“  Di saat kita merayakan HUT ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 2017 ini, kita perlu bercermin pada semangat nasionalisme Musa. Allah telah memilih Musa sebagai pemimpin bangsa Israel, untuk keluar dari Mesir dan menuju ke Tanah Perjanjian, dengan melihat potensi, keberanian, dan amat terlebih imannya Musa. Sebagaimana disaksikan dalam Kitab Ibrani 11:23-26,…”Dalam konteks pembacaan ini, yang perlu diteladani adalah nasionalisme Musa..”

Yang menggelitik dari gejala latah seperti ini adalah apakah visi politik gereja tentang masyarakat dan ruang publik hanya sebatas partisipasi dan koeksistensi dengan berbagai elemen sosial politik yang berbeda? Puaskah kita bicara kebangsaan dengan melantunkan syair lagu nasionalis nan heroik karya H. Mutahar, “Hari Merdeka”  tapi menolak peduli soal pembunuhan sistemik pada bangsa Papua?

Adakah yang heroik dari sikap abai kepada nasib ribuan warga gereja (mungkin puluhan ribu)  yang keluarganya terpapar dampak TAP MPRS no.25 /1966 soal PKI dimana mereka di penjara, di bunuh, dan di matikan hak-hak sipilnya selama rezim Orde Baru tanpa diadili ?

Saat tulisan ini dibuat, ada begitu banyak warga gereja yang berjibaku dengan persengketaan agraria. Salah satu kasusnya adalah konfilk agraria para petani Lampung (yang sebagian dari mereka adalah warga gereja GKSBS) dengan PT BNIL. Persengketaan ini bahkan menyeret salah satu pendetanya pada vonis 1,5 tahun penjara karena keberpihakannya pada petani[3]. Tak banyak gereja yang mau tahu dan membicarakan hal ini seingat saya.

Apakah roh nasionalisme kristiani yang marak belakangan ini memberi ruang kritis pada kemiskinan, perampasan tanah rakyat, dan berbagai tindakan mengerikan lainnya yang dilakukan oleh para ikon mobokrasi, para “raja kebun” yang sangat dermawan menyumbang gereja ?[4]

Bagi saya, tidak ada frasa yang tepat untuk menggambarkan situasi ini selain dari kemiskinan akut imajinasi politik kristen di Indonesia.

 

Agama Kristen Sebagai Embrio Pengharapan Ernst Bloch

Di tengah kemiskinan imajinasi politik kristen dewasa ini, pemikiran dari seorang teolog marxis Jerman abad 20, Ernst Bloch, menurut saya layak di pertimbangkan. Dalam sebuah trilogi magnum opus nya yang berjudul Das Prinzip Hoffnung (Principle of Hope)[5], Bloch menyampaikan pokok-pokok pikiran yang memberi ruang bagi seni, kebudayaan, dan secara khusus, agama kristen, sebagai wadah persemaian semangat revolusioner yang memberi amunisi untuk mendobrak kebuntuan-kebuntuan perlawanan kepada kapitalisme yang membelenggu setiap aspek kebudayaan manusia. Begitu besarnya pengaruh buku ini, sampai-sampai teolog besar abad 20, Jurgen Moltmann terinspirasi karenanya dan menjadi sumber embrio dari teologi harapannya (theology of hope) kelak .

Dalam analisa Bloch, segala bentuk kebudayaan, epos, musik, arsitektur terlebih agama mengandung bibit-bibit imajinasi di masa depan tentang dunia yang lebih baik dari hari ini. Kisah-kisah perjuangan bani Israel melawan perbudakan di Mesir, sampai dengan kisah Yesus Kristus yang membebaskan dan menyembuhkan orang-orang sakit dan miskin di Palestina 2000 tahun silam adalah epos yang sekalipun kesejarahannya (baca: apakah kejadian itu sungguh-sungguh pernah terjadi) bisa diragukan (terlebih Bloch adalah seorang materialis yang tidak percaya mujizat supranatural), namun semangatnya yang mendasari lahirnya kisah-kisah ini dalam tradisi agama tidak dapat dinafikan begitu saja[6].

Semua kisah-kisah itu sedang membalik permainan, memasukkan narasi baru dalam konstelasi tatanan sosial dan politik yang stagnan pada masanya.

 

Utopia Konkret Sebagai Sebuah Inversi Alam dan Manusia

Menurut Bloch semua bentuk kisah-kisah eksodus, mujizat kesembuhan ilahi, pengusiran setan, kebangkitan orang mati adalah percikan visi eskatologi tentang kemenangan kerajaan Allah melawan Imperium. Semua cerita itu adalah adalah sebentuk Utopia yang hadir di dalam narasi pengharapan: sebuah mimpi preskriptif tentang masa depan yang lebih baik dari kebuntuan sistem hari ini.

Mempertajam pemahaman mengenai utopia dari Marx, Bloch berpendapat bahwa utopia bukanlah delusi tak bermakna. Utopia adalah antropologisasi dan materialisasi karya Allah di dalam sejarah yang berwajah ganda. Di satu sisi utopia hendak mengkritik hegemoni ideologi dominan saat itu dengan membongkar kontradiksi-kontradiksi internalnya, di sisi lain kisah-kisah utopia ini memberi visi operatif tentang bagaimana seharusnya hidup yang lebih baik itu dialami[7].

Dari mana genealogi utopia yang setajam pedang bermata dua ini berasal? Tidak seperti psikoanalis Sigmund Freud dan para psikonalis lain yang menganggap bahwa harapan tentang kehidupan lebih baik di masa depan versi agama sebagai bentuk neurosis dan eskapisme dari penderitaan subjek, bagi Bloch imajinasi ini berasal dari tuntunan Roh Kudus yang secara inheren bekerja pada akal budi manusia lintas kebudayaan dan zaman yang merespons situasi material dan sejarah objektifnya[8].

Jika Freud mengategorikan visi utopis relijius sebagai ketidaksadaran (unconciousness) yang secara laten bergerak mendekati kematian (thanatos), bagi Bloch gejala ini justru dipandang sebagai kesadaran menyongsong hidup yang lebih baik yang masih tertunda (not yet-conciousness). Sebuah harapan tentang kehidupan dalam tatanan baru yang dinantikan segenap mahluk (Wishful Images of the Fulfilled Moment, bandingkan Roma 8:23-24) [9].

Bloch berpendapat bahwa utopia konkret Marx hanya dapat dimanifestasikan dalam kenyataan saat manusia menemukan esensinya dalam sejarah dan relasi sosialnya. Caranya? Tak lain dengan menaturalisasi manusia, dan menghumanisasi alam[10].

Manusia dinaturalisasi ketika apa yang kodrati ditentukan dan didefinisikan dari relasi sosialnya. Pelbagai hal yang melekat pada identitas manusia seperti gender, agama, pekerjaan senantiasa mesti dipastikan berada dalam relasi yang egaliter dan adil masing-masing seturut kemampuan dan kebutuhannya. Hanya dengan hal inilah manusia dapat dibebaskan dari keterasingan.

Dalam Alkitab kisah mengenai Yesus yang menyembuhkan anak dari perempuan Siro Fenisia (Markus 7:24-30) adalah salah satu gambaran naturalisasi manusia. Secara politik dan hukum agama Yesus yang Yahudi saat itu tidak diperkenankan melayani dan menyembuhkan orang yang dianggap kafir apalagi perempuan. Namun Yesus tidak memedulikan political correctness . Dalam kisah ini kemunafikan agama judaisme yang rasis dalam balutan hukum Taurat ditelanjangi. Pada saat yang bersamaan, sabotase kepada sistem agama Yahudi oleh pelayanan penyembuhan Yesus ini justru mengakibatkan kesembuhan bagi putri perempuan Siro Fenisia tersebut.

Alam dihumanisasi saat alam tidak dipandang sebagai ilahi, namun sebagai ciptaan yang dapat dikelola. Humanisasi alam tidak lain adalah upaya meretas alam yang chaos dan tertutup terhadap dirinya untuk kemudian menjadi cosmos (rumah) yang terbuka bagi kita[11].

Bagi Bloch, event ketika Yesus meredakan badai di danau Galilea mesti dibaca sebagai tanda bahwa Yesus terlibat dalam kerja menghumanisasi alam (Matius 8:23-27). Maka makna mujizat Yesus dalam kisah ini adalah tentang bagaimana yang natural tidak dapat begitu saja diterima. Yesus mengintervensi, bahkan memanipulasi alam sehingga nature menjadi elemen yang mendukung visi politik kerajaan Allah bagi pembaharuan semesta. Yang natural tidak melulu baik, yang sintetik tidak selalu membahayakan dan merusak. Kisah mujizat Yesus meredakan angin topan di danau Galilea menunjukkan dengan apik hal tersebut[12].

 

Gereja dan Konstruksi Cakrawala Baru Politik Indonesia

Dalam situasi dimana lembaga gereja dan lembaga keumatan kristen secara konformis mendukung hampir segala kebijakan yang menjadi produk pemerintahan Jokowi, menurut hemat saya, saat ini secara mendesak diperlukan postur politik kristen yang lebih kritis, dan berorientasi pada pengejawantahan utopia kristen ke dalam realitas politik konkret .

Kegandrungan akan nasionalisme reaktif hari-hari ini bagi memiliki beberapa potensi masalah. Pertama, nasionalisme reaktif semacam ini tidak memberi ruang untuk berjarak dengan kekuasaan dan ideologi dominan. Padahal berkali-kali rasul Paulus mengingatkan jemaat kristen perdana untuk waspada terhadap injil lain, injil kosong yang membuai karena konformitas pada ideologi populer tapi tidak berdasarkan ajaran Kristus yang berpihak pada anugerah pembebasan (bandingkan 1 Timotius 1:3-6). Kedua, semangat nasionalisme reaktif semacam ini menafikan salah satu ciri politik kristen yaitu menegakkan ketegangan antara semangat primordial (bandingkan 1 Korintus 7:17-18) dan internasional dari kekristenan (bandingkan Galatia 3:28). Kegagalan menjaga ketegangan ini seringkali harus dibayar dengan konsekuensi mahal. Sejarah gereja menunjukkan di tahun 1940 nasionalisme akut telah mengubah Deutsche Evangelische (Gereja Injili Jerman) menjadi unified Reich Church (Gereja Nasionalis Jerman) yang menjadi kaki tangan NAZI yang fasis nasionalis[13] .

Jika hari ini yang natural dalam alam politik kita adalah nasionalisme reaktif yang berinkarnasi dalam jargon “NKRI harga mati” dan karenanya menjadi dasar legitimasi penindasan pada bangsa Papua, maka pengharapan kristiani mencegah kita menerima nature begitu saja. Kita perlu menghumanisasi nature dengan mengatakan bahwa “NKRI adalah harga hidup”. Tidak boleh ada kehidupan umat manusia di Papua atau dimana pun yang di eksploitasi demi melayani prinsip impersonal semacam ini.

Jika menjadi manusia Indonesia di 72 tahun HUT kemerdekan republik ini diterjemahkan menjadi individu yang berorientasi pada “kerja bersama” untuk melayani developmentalisme yang mereduksi kemanusiaan, maka Gereja sebagai tubuh Kristus dipanggil untuk menaturalisasi idea kemanusiaan semacam itu. Caranya? Tidak kurang dari membangun simpul koresistensi dengan segenap komponen rakyat dengan seruan: ”lawan bersama!”.

 

Penulis adalah Pendeta pengasuh diskusi rabuan dan selasaan Gereja Komunitas Anugerah Salemba

 

————

[1] Gejala ini terlihat pasca dikeluarkannya surat penggembalaan dari PGI (Persekutuan Gereja Indonesia) terkait dengan vonis kepada Ahok pasca dijatuhkannya vonis di PN Jakarta Utara , https://pgi.or.id/pernyataan-mph-pgi-terkait-putusan-pn-jakarta-utara-terhadap-ir-basuki-tjahaja-purnama/ Di akses 21 agustus 2017.

[2] http://www.gky.or.id/literature.jsp?page=literature&publicationId=1501 ,
https://sinodegmit.or.id/laporan-kegiatan-bersama-pgi-dalam-rangka-sidang-mph-pgi-yang-diperluas-untuk-membahas-kondisi-sosial-politik-bangsa-terkini-dan-sikap-gereja-gereja-di-indonesia/
http://sinodegki.org/4177-2/. Di akses 21 Agustus 2017

[3] http://www.satuharapan.com/read-detail/read/bela-petani-lampung-pendeta-sugiyanto-ditangkap-polisi. Di akses 21 Agustus 2017.

[4] http://www.suarakristen.com/2017/08/08/mengenang-d-l-sitorus/ dan http://www.tribunnews.com/tribunners/2010/05/05/apa-dan-siapa-raja-kebun-dl-sitorus. Di akses 21 agustus 2017.

[5] Buku terbitan Basil-Blackwell, the Oxford-based publishers ini terdiri dari sekitar 1600 halaman yang terbagi dalam tiga volume pada rentang tahun 1954-1959. Secara garis besar buku tersebut terdiri dari tiga tema besar yaitu: pertama, lahirnya kesadaran utopia; kedua, kehidupan utopia-utopia dalam tradisi ;dan ketiga, konfrontasi dengan kematian. Karya Bloch ini memang tersusun atas aneka macam pandangan dan materi seperti seni, filsafat, sastra dan religius. Cakupan isinya pun sangat luas yang mencakup perjalanan tradisi terutama di Eropa.

[6] David Kaufmann, “Thanks for the Memory: Bloch, Benjamin and the Philosophy of History,” dalam Not Yet: Reconsidering Ernst Bloch, ed. Jamie Owen Daniel and Tom Moylan, London and New York: Verso, 1997, hal. 33.

[7] David Kaufmann,1997,41

[8] David Kaufmann, 1997,43

[9] David Kaufmann,1997,44

[10] David Kaufmann,1997, 45

[11] David Kaufmann, 1997,47

[12] David Kaufmann,1997, 49

[13] Olaf Kühl-Freudenstein, Peter Noss dan Claus Wagener (eds.), Studien zu Kirche und Judentum; vol. 18 Berlin: Institut Kirche und Judentum, 1999, hal. 149–171.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus