Menegakkan Islam Yang Damai dan Berpihak: Perlunya Merekonstruksi Teologi Progresif

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: Alit Ambara (Nobodycorp)

 

 

BELAKANGAN kaum muslim Indonesia digemparkan oleh pernyataan kontroversial beberapa ustad yang viral di media sosial. Diantaranya, Ustad Syam di sebuah program acara televisi “Islam Itu Indah” ia mengatakan, kelak di surga Allah akan menggelar pesta seks sebagai balasan bagi kaum muslim yang taat.[1] Sedangkan ustad Febri, dalam program acara yang sama di episode yang berbeda mengatakan, perempuan sulit hamil disebabkan oleh pembalut yang seringkali dipakainya di pasaran. Karena itu ia menganjurkan agar perempuan kembali memakai pokok.[2] Tak kalah mengejutkan dari kedua ustad tadi adalah ustad Zulkifli. Dalam ceramahnya yang beredar di Youtube, ia mengatakan bahwa operasi caecar sebagai ulah setan.[3] Menurutnya, caecar merupakan bisikan setan yang terus dihembuskan ke dalam kesadaran perempuan yang hamil. Maka baginya, setiap perempuan yang memilih operasi caecar ketika melahirkan, apapun alasannya dianggap berada dalam pengaruh setan, atau sedang menuruti perintah setan. Tahan dulu, ada yang lebih mengerikan. Di saat ramai pro kontra seputar penistaan agama yang dialamatkan pada Ahok. Ja’far Umar Thalib, mantan komandan Laksar Jihad, dalam salah sebuah ceramahnya yang beredar di youtube, menyerukan para pengikutnya untuk membunuh Ahok yang dianggap menistakan Al-Qur’an. ‘Dibebaskan atau tidak dibebaskan, selama ini kafir, harus dibunuh’, demikian pekik Ja’far.[4]

Sontak, pernyataan para ustad tersebut menuai banyak kecaman publik sebagai bigot, anti perempuan, dan anti kemanusiaan.

Apa yang salah dengan Islam? Bung, kalau ceramah para ustad seperti itu, dimana letaknya keindahan Islam? Demikian seorang kawan bertanya pada saya via inbox. Dari pertanyaan tersebut sebenarnya kita bisa membuat daftar pertanyaan turunan lainnya terkait kontradiksi antara yang ideal dan yang senyatanya dalam keberislaman di Indonesia.

Saya tak akan secara langsung menjawab pertanyaan kawan saya. Sebab, meski tampak sederhana, sesungguhnya tak mudah untuk menjawabnya. Jawaban klisenya, ya tentu saja tak ada yang salah dengan Islam, yang salah adalah penafsiran mereka terhadap Islam. Karena saya tahu jawaban semacam itu pasti tak lagi memuaskan, tak hanya bagi penanya, tapi juga saya. Maka saya memilih untuk mengajak penanya—semoga ia membaca tulisan ini, berputar terlebih dulu menyusuri ruang sunyi problem teologis yang menjadi pijakan berpikir para ustad yang kurang dilihat.

Untuk mengerti, mengapa bermunculan para ustad seperti di muka, perlu kiranya kita lakukan terlebih dulu identifikasi jenis-jenis teologi yang berkembang di negeri ini. Jenis teologi seperti apakah yang melandasi cara berpikir mereka? Apakah teologi tandingan yang sudah ditawarkan cukup memadai untuk menjawab maraknya intoleransi beragama di satu sisi dan ketimpangan sosial yang disebabkan oleh serangkaian penghisapan di berbagai sektor, di sisi lainnya? teologi jenis apakah yang kita perlukan di abad ini di era neoliberal, khususnya dalam konteks realitas kehidupan dunia ketiga?

***

Sejauh ini, secara garis besar ada dua jenis teologi yang berkembang di Indonesia. Bahkan keduanya dianggap sebagai dua kutub yang saling beroposisi. Yakni, teologi tradisional dengan wataknya yang eksklusif dan teologi pluralis dengan wataknya yang infklusif. Jenis teologi kedua dianggap sebagai respon atas yang pertama, yang secara umum menjadi pegangan iman sebagian besar kaum muslim dunia, khususnya kaum fundamentalis-skripturalis Islam.

Jika teologi tradisional masih berkutat pada klaim agamanya sebagai satu-satunya jalan keselamatan di dunia, maka teologi pluralis memberi pengakuan atas jalan keselamatan dari agama lainnya. Cak Nur, bisa kita tempatkan sebagai salah seorang pelopor jenis teologi ini. Agama-agama, oleh Cak Nur, diumpamakan sebagai jari-jari sebuah roda yang mempunyai poros yang sama. Semua jari-jari tersebut menuju satu pusat yang sama yang ditangkap secara berbeda-beda. Alih-alih memperdebatkan agama siapakah yang paling absah sebagai jalan keselamatan di dunia, teologi pluralis melihat keragaman cara menuju yang Ilahiah sebagai sunnatullah yang dimungkinkan oleh Allah sendiri dan hukum besi sejarah dunia yang telah terberi, yang tak bisa ditampik oleh siapapun juga. Semangat teologi ini ada dalam firman Allah dalam al-Qur’an, Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian serta beramal shalih, maka untuk mereka adalah ganjaran dari sisi Tuhan mereka, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (QS. Al Baqarah: 62)

Teologi pluralis secara keliru seringkali dituduh sebagai upaya menyamakan semua agama, padahal sebenarnya hanyalah memberi pengakuan atas jalan keselamatan lainnya, yang unik dan berbeda. Memang sempat muncul ungkapan populer: ‘semua agama sama’. Ungkapan ini tentu saja bermasalah, sebab, baik secara semantik dan material mengandaikan agama yang satu dengan lainnya tak ada bedanya. Pernyataan ini berbahaya sebab bertendensi menyeragamkan sesuatu yang secara faktual berbeda. Tiap agama mempunyai dimensi batin dan lahir dalam pergumulannya dengan yang ilahiah yang saling berbeda. Bahkan dalam unit yang paling kecil, sebagai subjek, tiap manusia mempunyai caranya sendiri bergumul dengan yang ilahiah yang berbeda antara manusia satu dengan manusia lainnya.

Sayangnya, meski membuka tangannya pada identitas lainnya yang berbeda, teologi pluralis belum mampu membaca realitas yang timpang yang disebabkan oleh relasi produksi yang tidak adil. Ibarat sebuah dusun, karena wataknya yang terbuka, ia boleh di huni oleh siapapun. Tapi tak mampu menghalau gerombolan perampok yang masuk ke dalam dusun dan menjarah segala yang ada di dalamnya. Teologi pluralis hanya memberi jaminan pada keragaman dalam hidup berdampingan, namun tidak menempatkan agama-agama yang berbeda sebagaimana fitrahnya, sebagai perlawanan terhadap berbagai bentuk kelaliman, seperti seperti David melawan Goliath, Musa melawan Fir’aun, Yesus melawan Pilatus, Muhammad Melawan para elit oligarki Quraisy.

Sedemikian, klaim kebenaran agama sendiri, sebagai satu-satunya jalan keselamatan dalam teologi tradisional, yang berkutat pada pertanyaan, agama siapakah yang paling benar? Tuhan siapakah yang paling benar? tak lagi memadai di abad kosmopolit ini. Pun demikian dengan teologi pluralis, yang menganjurkan keterbukaan tapi tidak peka dengan persoalan ketidakadilan struktural. Yang kita perlukan sekarang adalah teologi progresif, yakni teologi yang terbuka sekaligus berpihak pada yang lemah dan teraniaya. Teologi yang menyiapkan dirinya sebagai mujahid bagi segala rupa ketidakadilan, serta siap menjadi teman seperjuangan semua agama di berbagai belahan bumi manapun dalam menghadapi penetrasi kapital global yang memorak-porandakan ruang hidup masyarakat Dunia Ketiga. Pendeknya, teologi progresif adalah teologi yang melekat pada dirinya watak inklusif-liberatif. Namun, teologi progresif ini bukanlah sesuatu yang sama sekali baru, melainkan telah lama dipraktikkan oleh para Nabi, yang hadir dalam tiap fragmen sejarah umat manusia yang terniaya. Mereka menantang kekuasaan yang lalim. Tugas kita sekarang hanya mengembalikan spirit pembebasan para Nabi, dengan mengatualisasikannya dalam konteks perjuangan merebut ruang hidup dari cengkeraman kapitalisme-neoliberal, yang tak lain adalah manifestasi Fir’aun di abad ini.

Teologi dari agama apapun, masih bisa diselamatkan dari pemfoslian, kalau pada dirinya berwatak terbuka sekaligus membebaskan. Dengan ini tugas teologi progresif, sekurang-kurangnya adalah menolak tiap tendensi klaim kebenaran agama yang eksklusif, sebagai kebenaran mutlak dan satu-satunya, dan melawan tiap bentuk penghisapan yang terjadi di muka bumi.

***

Keberislaman yang fundamentalistik-skripturalistik yang berpijak dari teologi tradisional yang berwatak eksklusif tak hanya terjadi di negeri ini. Gejala ini telah menjadi tantangan global yang makin majemuk. Peristiwa pelarangan penggunaan lafald “Allah” terhadap surat kabar Katolik berbahasa Melayu, The Herald, oleh Kementerian Dalam Negeri Malaysia, pada 2007 silam, menjadi salah sebuah contohnya.[5]

Bisa jadi pelarangan tersebut adalah peristiwa paling absurd di abad ini. Di saat banyak orang berjuang mencari alternatif tatanan ekonomi dan politik yang lebih berkeadilan dan manusiawi, di tengah banyak rakyat dunia ketiga melawan ketimpangan dan ketidakadilan, rupanya alam pikir abad pertengahan yang selama ini kita anggap serupa fosil dan hampir punah ternyata masih ada di tengah-tengah kita. Tiba-tiba kita sadar, bahwa masih ada kalangan yang menganggap Allah sebagai entitas atau zat yang dengan mudah bisa ditangkap akal budi manusia. Bahkan menganggapnya seolah-olah sebagai pribadi yang lahir dengan sekaligus membawa sebuah nama.

Bukankah Allah sebenarnya sebutan kata Tuhan dalam bahasa Indonesia, yang tersusun dari Al + Ilah? Dalam bahasa Inggris, Al sama dengan artike the, sedangkan Allah sama dengan God. Sehingga Allah sesungguhnya secara harfiah berarti “Tuhan itu/The God”, yang dalam bahasa Jerman disebut Gott, dalam bahasa Perancis disebut Dieu, dalam bahasa India disebut Baghwan, yang kesemuanya merujuk pada zat yang entah dan tak ternamai atau satu yang abadi.

Maka dalam Al-Qur’an tidak ada ayat yang mengatakan, Bagimu Tuhanmu, dan bagiku Tuhanku. Melainkan: Bagimu agamamu, dan bagiku, agamaku. (QS. Al Kafirun: 6). Mengapa? Sebab hakikatnya yang Ilahiah tak bisa ditangkap oleh akal budi dan setiap definisi atasnya selalu bukan dirinya (sebagai ia pada dirinya). Jika yang ilahiah dengan mudah didefinisikan seolah-olah terang pada dirinya, konsekuensinya, pertama, terjatuh pada pengerangkengan Allah yang tak terbatas menjadi terbatas. Di sini, Allah yang maha besar menjadi kerdil, tak lebih besar ketimbang isi kepala kita. Kedua, menurunkan derajat Allah sekelas botol anggur, kutang atau kolor, atau benda-benda lainnya yang maujud. Ketiga, ini saya kira yang paling berbahaya, merasa sebagai pihak yang paling berwenang dengan Allah, dengan mengkaplingnya sebagai hanya milik Islam. Seolah-olah mereka menjadi penentu baik buruknya nasib Allah di dunia. Jangan sampai Allah dibajak dan dinistakan, sehingga Allah dipatenkan sebagai suatu nama dari, anggap saja seorang tuhan.

Para muballigh dari berbagai kalangan aliran Islam, seringkali terjebak pada momen yang bisa jadi tanpa disadari menganggap Allah sebagai sebuah nama suatu zat dan menganggapnya semata Tuhannya kaum muslim—yang pertama kali dibawa oleh Nabi Muhammad, yang berbeda dengan Tuhan agama lainnya. Tanpa disadari pula pemahaman ini menggiring mereka pada politeisme semu, seoalah-olah ada banyak Tuhan tapi hanya Tuhan yang bernama Allah saja yang benar-benar Tuhan, sedangkan Tuhan dengan nama-nama lainnya tidak benar, atau pseudo Tuhan, atau anggap saja sebagai Tuhan jadi-jadian, Tuhan tidak authentic, alias KW sebelas. Padahal lafald Allah merupakan ungkapan ketidakberdayaan manusia untuk menjangkaunya, dan menggayuhnya, yang niscaya luput dari genggaman kepastian iman. Maka dengan demikian, kita katakan saja, kita mengimaninya. Siapa? Entah. Allah! Tuhan itu!

***

Kembali pada pertanyaan kawan saya.

Sebagian besar ahli Islam, percaya bahwa maraknya intoleransi sedikit banyak dipengaruhi oleh paham dan gerakan wahabisme yang bereskpansi keluar Jazirah Arab yang disponsori kerajaan Arab Saudi melalui petro dollarnya. Mereka tak hanya menolak konsep kewalian yang dianggap memiliki karamah oleh sebagian besar muslim Indonesia, yang makamnya banyak diziarahi seperti dalam tradisi NU di Indonesia.[6] Tapi juga secara agresif menebarkan kebencian pada kelompok agama lain yang dikategorikan sebagai kafir. Tak heran, seiring dengan semaraknya ustad-ustad selebritis di televisi atau ceramah para fundamentalis Islam yang disebarluaskan melalui media sosial seperti Youtube, dalam kehidupan sehari-hari kita mendadak berhamburan kata musyrik, kafir, murtad, dan mubtadi’ (pelaku bid’ah) yang dialamatkan pada orang lain yang dianggap mempunyai tafsir berbeda.

Sungguh ironi, sekarang banyak orang Islam memekikkan Allahuakbar yang berarti ‘Tuhan itu yang maha besar’[7] sembari mengancam orang lain. Maka dari sanalah sebenarnya tengah berlangsung proses mutasi subjek [dengan s kecil] menjadi subjek [dengan S besar], yang memposisikan dirinya sebagai polisi moral yang berhak menentukan serta mengatur segala isi bumi sekehendak hatinya. Padahal sifat semacam itulah yang hendak dinegasikan dalam kalimat ‘La ilaha Illallah’ yang berarti ‘tidak ada IIah selain Allah’.

Mereka bergemuruh tak hanya di jalanan tapi juga mengudara melalui jaringan internet. Pernyataan mereka berhamburan menyebar bak virus yang menjangkiti banyak kepala. Anda bisa bayangkan, para pelajar ilmu eksakta, yang mensyaratkan berpikir logis dan ketat, secara mengejutkan bisa mempercayai bumi datar demi, katanya, membela kebenaran al-Qur’an. secara eksegesis kita bisa mendebatnya. Namun pertanyaannya adalah, apa yang sebenarnya terjadi, sehingga seseorang yang menguasai sains modern bisa sekaligus irasional?

Kalau memang harus, Jawabannya dengan jawaban klise. Tak ada yang salah dengan Islam. Kata ini berasal dari akar kata Arab s-l-m yang berarti damai atau tunduk pada Tuhan. Dari akar kata ini diturunkan ketiga kata: salam, islam dan muslim. Salam dalam bahasa Ibrani sama dengan shalom. Maka sering kita dengar orang kristen mengatakan shalom alaikhem, yang sesungguhnya sama dengan Assalamualaikum yang berarti keselamatan atas kalian semua. Sehingga dari sini, yang disebut sebagai kaum muslim adalah mereka yang berkenan tunduk pada Tuhan dan menjadi pembawa perdamaian dan menjadi tangan Tuhan menegakkan keadilan di bumi, dengan membela yang lemah dan teraniaya. Di sinilah bersemayam teologi progresif, sebagimana dipraktikkan para Rasul. Untuk mencapai kedamaian diperlukan serangkaian perjuangan lahir dan batin melawan tiap bentuk kelaliman.

Bahkan setiap muslim diperintahkan untuk berbuat baik (amal saleh),[8] alih-alih membuat kerusakan dengan megobarkan kebencian pada yang lain yang berbeda dan menghisap yang lemah. Dalam al-Quran dikatakan, Mereka bertanya kepadamu tentang mengurus anak-anak yatim. Katakanlah, membuat kebaikan kepada mereka itu sangat baik. Dan jika kamu bergaul dengan mereka maka mereka itu adalah saudaramu. Dan Allah tahu orang-orang yang membuat kerusakan (mufsid) dan membuat kebaikan (muslih) (QS. al-Baqarah: 220). Ayat ini hendak menunjukkan bahwa dim antara perbuatan baik atau amal salih adalah menolong anak-anak yatim dan orang-orang yang lemah, bukan menolong orang-orang kaya, apalagi membela para penghisap. Naudzubillah midzalik***

 

Bayan Beleq-Lombok, 13 Agustus 2017

 

———-

[1] Ceramah ustad Syamsudin Nur Makka bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=AoQCEAJ2YSI

[2] Ceramah ustad Febri Sugianto bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=MJgSieVyAV0

[3] Ceramah ustad Zulkifli Muhammad Ali bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=o05_-lnJfkA&t=306s

[4] Ceramah ustad Ja’far Umar Thalib bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=rOxNCjKFer8&t=9s

[5]Lih. http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2014/06/140623_malaysia dan https://insists.id/masalah-kata-allah-di-malaysia-dan-indonesia/

[6] Mengenai corak tradisi keberislaman di Nusantara, lebih lengkap bisa lihat Greg Fealy & Sally White, Expressing Islam: Religious Life and Politic in Indonesia (Singapore: ISEAS, 2008), hal. 63-78.

[7] Anselmus Canterbury, mendefiniskan besarnya Allah diluar segala apapun yang dikategorikan sebagai besar oleh kepala manusia.

[8] Mengenai berbagai redaksi amal saleh, lihat. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi’, Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfad al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, 1991), hal. 410-414.

 

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus