Gerakan Pembebasan Kristiani

Print Friendly, PDF & Email

Kredit ilustrasi: minhodigital.com

 

KONDISI kemiskinan, ketertekanan, ketertindasan, keterpincangan hidup, dan kondisi tidak baik lainnya merupakan ketidakberesan. Oleh agama-agama, kondisi demikian adalah akibat ulah manusia dan perlu diperbaiki. Tulisan ini mencoba menguraikan peran kekristenan dalam menghadapi ketidakberesan dalam masyarakat. Pertama, akan diuraikan pengaruh kehadiran sosial pada kehidupan masyarakat Yahudi pada masanya. Kedua, berkembangannya gerekan pembebas di Amerika Latin. Dan terakhir kondisi Indonesia secara ringkas sebagai penutup.

 

Tatanan sosial yang baru

Pada masa Yesus dari Nasaret hidup, Yahudi memiliki bentuk-bentuk kekuatan sosial. Penjajah Roma memegang kekuasaan atas tanah dan militer. Kaum Zelot bercita-cita untuk mengusir penjajah dengan alasan religius, yaitu mempercepat datangnya kerajaan Allah. Mereka kelompok gerakan revolusioner. Kelompok Herodes berkepentingan melanggengkan dinasti Raja Herodes. Para pegawai negeri yang kehidupan ekonominya terjamin oleh kuasa bait suci dan kuasa penjajah adalah kaum Saduki. Farisi menjunjung tinggi hukum dan tradisi lisan. Sedangkan kaum Esseni meninggalkan rumah ibadat resmi dan hidup di bawah hukum yang ketat serta menantikan akhir dunia.

Kehadiran Yesus mengubah tatanan sosial masyarakat. Kaum Zelot menentang Yesus sebagai raja pembebas seperti yang dinubuatkan Nabi Yesaya.[1] Yesus anak tukang kayu dari Nasaret tidak mewakili gambaran seorang raja pembebas yang ada di benak kaum Zelot. Yesus dianggap menista Taurat yang dijunjung tinggi kaum Farisi. Oleh kerajaan, Yesus adalah pemberontak. Sebagai konsekuensinya, Yesus disalib, suatu hukuman terkutuk saat itu.

Semasa hidupnya, Yesus mengubah tatanan sosial masyarakat yang kuat lagi “seimbang” itu. Dia menerima “pendosa” (pemungut cukai, pelacur, orang Samari). Ia menyembuhkan orang buta, membangkitkan orang mati, mengusir setan, serta berkunjung ke rumah pemungut cukai. Yesus menentang pengilahian kaisar.

Dalam Lukas 14: 26, Yesus sendiri berkata bahwa “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” Dari nats ini kita boleh mengambil nilai bahwa perlunya membangun komunitas egalitarian atau kesederajatan, di mana ikatan-ikatan primordial menjadi hal yang sekunder. Ide egaliter tersebut yang dibangun Yesus untuk merombak tatanan sosial Yahudi yang cenderung tidak adil. Dengan semangat egaliter, penindasan kolektif bisa dilawan secara kolektif pula.

 

Gerakan Pembebasan di Amerika Latin

Gerakan pembebasan berdasar kekristenan (baca: teologi pembebasan) berkembang di Amerika Latin pada abad yang lalu. Ketika itu kemiskinan begitu masif. Gustavo Gutierrez[2] melihat gereja pada umumnya lebih memilih sikap netral terhadap kenyataan kemiskinan. Kemiskinan dianggap sebagai masalah sosial yang menjadi tanggung jawab negara. Gereja tidak perlu campur tangan mengenai masalah tersebut. Gereja hanya berupaya sungguh-sungguh menjaga otonominya sendiri. Gereja hanya menangani hal-hal religius belaka, sedangkan urusan kemasyarakatan seperti kemiskinan adalah urasan negara (dunia).

Gereja juga menjalin relasi yang erat dengan elite kaya dan berkuasa serta mengambil jarak terhadap kelompok besar umat di belenggu miskin. Sementara itu, elite kaya menggunakan gereja untuk menjaga dan membela mereka. Oleh karena itu, gereja sekadar gereja ‘kaum kaya’.

Sikap gereja yang demikian tidak sesuai dengan pemahaman beberapa uskup, termasuk Gutierrez. Seratus delapan puluh uksup Amerika Latin (kebanyakan dari Brazil) berkumpul dan berunding di Medillin, Kolumbia. Perundingan itu menghasilkan kesepakatan bahwa gereja menyatakan diri untuk “tidak netral”. Gereja harus turut membebaskan rakyat dari kondisi ketidakadilan, seperti kemiskinan. Tatanan baru mulai merebak bahwa gereja seharusnya mewujudkan diri dalam memproklamasikan karya penyelamatan (pembebasan) dalam diri Yesus Kristus di tengah-tengah kemiskinan dan penindasan. Gereja ‘kaum kaya’ harus ditransformasikan menjadi gereja bagi kaum miskin.

Bersama perealisasian gereja untuk kaum miskin, Gutierrez membentuk gerakan pembebasan bagi kaum tertindas. Upaya-upaya penyadaran sebagai sarana penyadaran banyak dilakukan Gutierrez. Pewartaan injil harus mampu untuk menyadarkan rakyat akan situasi mereka yang penuh ketidakadilan dan penindasan sehingga rakyat mau mengadakan pembebasannya sendiri.

Gerakan pembebasan bertitik pada pembebasan sosial, pembebasan personal, dan pembebasan iman. Rakyat harus disadarkan akan status sosial yang kurang wajar: pembebasan dari kesulitan ekonomi, pembebasan dari ketidakadilan; pembebasan dari penjajahan; pembebeasan dari ajaran gereja (agama) yang statis, dogmatis, tradisional. Pembebasan personal guna merebut kemerdekaan diri dari tangan para penindas. Berlanjut ke pembebasan sempurna dalam Kristus diawali dengan merefleksikan Injil dalam kehidupan melawan dosa.

 

Penutup

Indonesia juga tak luput dari ketidakberesan. Kemiskinan begitu masif. Hukum nampakya tidak benar-benar adil bagi semua golongan. Kualitas pendidikan belum setara, begitu pula dengan lowongan kerja. Banyak konflik yang mengatasnamakan agama tertentu. Pendiskriminasian terhadap agama dan ras tertentu.

Semua ini tidak boleh dibiarkan saja. Historis (keadaan) bangsa yang demikian keruhnya, mengisyaratkan anak bangsa untuk melawannya. Semangat egaliter yang telah ditunjukkan Yesus mesti ditumbuh-kembangkan demi membebaskan rakyat dari sistem yang tidak adil dan memiskinkan. Kristen, lewat gereja, bukanlah tempat untuk menyebarkan dogma-dogma atau ajaran belaka. Kekristenan harus mampu menjadi pembebas orang tertindas dan papa. Tinggal tersisa pertanyaan kecil, bersediakah kita untuk memulainya?***

 

Penulis adalah jemaat gereja HKBP, berdomisili di Medan

 

Kepustakaan:

J.B. Banawiratma, “Menghargai Rakyat dan Tradisi Mereka: Belajar dari Teologi-teologi Pembebasan” dalam Prisma No. 6 1985, hal. 19-28.

Martin Chen Pr., Teologi Gustavo Gutierrez, Refleksi dari Praksis Kaum Miskin. Semarang: Pustaka Teologi, 2002.

S. Wismoady Wahono, “Mesianisme dalam Perjuangan Petani: Tinjauan dari Sisi Kekristenan” dalam Prisma No. 1 Januari 1977, hlm. 54-62.

Y.B. Mangunwijaya, “Gereja antara Yesus dari Nasaret dan Caesar” dalam Prisma No. 9, September 1982.

 

———–

[1]Yesaya 61: 1-11; Lukas 4: 16-21

[2] Gustavo Gutierrez lahir di kawasan miskin di Lima, ibu kota Peru. Dibesarkan dan hidup bersama keluarga yang mengalami kesulitan-kesulitan ekonomi. Ia memperoleh gelar master di bidang filsafat dan psikologis dari Universitas Katolik Louvina, Belgia. Kemudian, Gutierrez melanjutkan kuliah teologi di Universitas Katolik Lyons, Prancis. Pada tahun 1960, Gutierrez kembali ke Peru dan tugas utamanya adalah menjadi seorang pastor yang hidup dan berkarya di antara kaum miskin di Rimac, Lima.

×

IndoPROGRESS adalah media murni non-profit. Demi menjaga independensi dan prinsip-prinsip jurnalistik yang benar, kami tidak menerima iklan dalam bentuk apapun untuk operasional sehari-hari. Selama ini kami bekerja berdasarkan sumbangan sukarela pembaca. Pada saat bersamaan, semakin banyak orang yang membaca IndoPROGRESS dari hari ke hari. Untuk tetap bisa memberikan bacaan bermutu, meningkatkan layanan, dan akses gratis pembaca, kami perlu bantuan Anda.

Jika Anda merasa situs ini bermanfaat, silakan menyumbang melalui PayPal: redaksi.indoprogress@gmail.com; atau melalui rekening BNI 0291791065. Terima kasih.

Kirim Donasi

comments powered by Disqus