Pentakosta dan Profanitas: Hidup dipenuhi Roh Kudus menurut Agamben

Print Friendly, PDF & Email

DI BANYAK kalangan orang kristen yang mendaku diri progresif, tema Roh Kudus seringkali menjadi polemik dan perdebatan. Masih perlukah kita membahas hal itu? Relevankah dengan pergumulan politik progresif? Dalam tulisan ini saya hendak memaparkan bahwa percakapan teologis mengenai Roh Kudus perlu dan penting dalam mengonstruksi teologi progresif yang memberi kekuatan untuk merevitalisasi sisi revolusioner kekristenan sekaligus membongkar mitos dualisme neo-platonis yang dianggap inheren dalam wawasan dunia kristen .

Hari-hari ini secara populer tema-tema tentang Roh Kudus (secara khusus dalam aliran karismatik[1]) semakin didekatkan dengan masalah keseharian manusia. Dalam banyak ceramah-dan kebaktian kebangunan rohani, Roh Kudus digambarkan sebagai kuasa spiritual yang aktif, praktis, peduli dan efektif memberikan pembaharuan moral, menyembuhkan trauma luka batin, membebaskan orang dari jerat narkoba, membawa kesembuhan dari sakit terminal, sampai menyelesaikan masalah hutang piutang domestik dalam rumah tangga. Singkatnya Roh Kudus hadir layaknya gawai spiritual yang bisa diinstrumentalisasi untuk menolong umat dari masalah-masalah pribadinya.

Domestifikasi Roh Kudus ini bukan hadir tanpa masalah. Justru karena Roh Kudus menjadi sedemikian domestik, ia hadir menjadi aparat demarkasi kehidupan kristen. Roh kudus diyakini hadir membawa kekudusan (baca pemisahan) dalam pengalaman menghayati agama. Ia seolah-olah memberikan “karunia” pada   umat untuk mendiskriminasi mana unsur-unsur kehidupan yang sakral dan mana unsur kehidupan yang fana. Mana yang duniawi, mana yang surgawi.

Mulai dari soal kebiasaan makan sampai urusan menghisap tembakau menjadi acuan apakah seseorang sudah dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Seolah-olah semakin seseorang menghidupi kehidupan yang memusuhi pengalaman dunia material semakin seseorang dipenuhi dan dipimpin Roh Kudus. Namun benarkah wawasan kehidupan seperti ini yang digambarkan Alkitab mengenai kehidupan yang dipimpin Roh Kudus?

 

Bagaimana Roh Kudus bekerja?

Kemunculan tema Roh Kudus sejak dini hadir dalam Alkitab melalui kisah figuratif di kitab Kejadian pasal 1 :1-4 tentang penciptaan semesta. Di sana Roh kudus terlibat dalam proyek pembangunan kosmos. Bak induk unggas, secara metaforik Roh Kudus digambarkan sedang mengerami penataan alam semesta. Alih-alih menjadi anti tesis dari dunia material, Roh kudus berkelindan di dalam dunia material untuk menata dunia.

Menarik juga ketika kita melihat catatan Alkitab perdana tentang profil orang yang pertama kali menerima Roh Kudus.   Roh Kudus ternyata tidak memenuhi seorang mistikus pendoa yang mengasingkan diri dari dunia. Roh Kudus justru dicurahkan kepada seorang tukang bangunan, Bezaleel namanya. Bezaleel tidak lain adalah seorang pekerja konstruksi yang membangun bait Allah pada zaman Musa. (Bandingkan dengan Keluaran 31:34-35).

Di dalam Alkitab Perjanjian baru, Roh Kudus dikatakan memenuhi Yesus Kristus. Tetapi bukan supaya Yesus menjadi seorang mistik dualis yang memisahkan dunia rohaniah dan tubuh secara radikal, melainkan agar tatanan dunia material yang korup yang diinterupsi oleh kerja pembebasan di ruang publik yang didisrupsi oleh Roh kudus:

Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19)

Setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus, Alkitab mencatat terjadinya sebuah peristiwa revolusioner. Pada hari raya panen buah sulung orang Yahudi (Pentakosta), Roh Kudus dicurahkan secara emansipatif! Roh kudus yang pada masa para nabi Israel di perjanjian lama hanya singgah dan memenuhi segelintir orang-orang terpilih dan umumnya para elit, pada hari pentakosta dicurahkan kepada semua pengikut Yesus Kristus sang mesias yang sebagian besar adalah orang-orang terpingkirkan.

Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (glosalalia), seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya”. (Kisah Para Rasul 2:3)

Lewat bahasa baru itu (dalam bahasa Yunani disebut glosalalia[2] yang kemungkinan besar adalah lingua franca saat itu di Yerusalem yaitu: Aram dan Yunani), Roh Kudus menyatukan dan merengkuh berbagai kelompok orang yang sebelumnya dimarjinalkan. Di dalam peristiwa pencurahan Roh kudus ini, bahasa Yunani yang sebelumnya dianggap milik elite, disabotase (dengan mengolaborasikannya dengan bahasa ibu, bahasa Aramik) untuk membawa pesan universal pembebasan dari kerajaan Allah yang sudah dan akan datang .

Bahasa yang baru (glosalalia) mengonsolidasi dan mengemansipasi orang-orang biasa (commoners) dari etnis, gender, kelas tertindas ke dalam tatanan hidup politik baru (bios[3]). Roh Kudus memberikan kuasa kepada para pengikut Yesus mulai dari hari Pentakosta sampai akhir sejarah untuk menghidupi sebuah nilai dan praktik hidup bersama secara baru di dunia material ini. Mengutip kata-kata teolog pembebasan Leonardo Boff, “Roh kudus memberi kuasa untuk mengapresiasi kesucian hidup dengan mengutuhkan kehidupan manusia [4].

 

Menerima Roh Kudus untuk Hidup Dalam Kefanaan (Profanitas).

Untuk mengartikulasikan cara hidup yang dipimpin Roh Kudus, kita bisa menelisik ide pemikir politik radikal Giorgio Agamben. Dalam bukunya yang berjudul Profanations(2007), Agamben mengatakan bahwa kekuatan dari penindasan di sepanjang sejarah terjadi karena agama membelenggu umat manusia melalui produksi ruang-ruang sakral dari ruang publik yang fana[5]. Agama (religere ) yang secara etimotologis artinya mengikat dan menyatukan dalam praktik politiknya telah mengingkari jati dirinya[6] .

Adanya ruang sakral bagi Agamben adalah cara agama untuk membajak kesadaran manusia agar menerima hadirnya sekat-sekat kehidupan di ruang material (yang memisahkan mana yang agung dan yang hina) sebagai keniscayaan.

Logika dari ruang sakral dapat dipahami sebagai berikut: yang   sakral (sacrare, dalama bahasa Latin berarti memisahkan, mengeksklusikan) mengandaikan akses-akses kepada ruang, informasi, kekuasaan secara terberi sudah ditentukan batas-batasnya oleh kekuatan ilahi. Semua upaya untuk menjelaskannya apalagi menggesernya, dianggap sebagai kekurangajaran yang pasti mengundang kutukan atas siapapun yang berani menjamahnya .

Menurut Agamben, proses pensakralan artefak kebudayaan itu sebenarnya tidak berakar pada dimensi kualitatif ontologis apalagi ilahiah dari barang-barang itu sendiri.[7] Proses pensakralan justru terjadi ketika ada entitas (tanah, ternak, hasil bumi, produk kebudayaan) yang diasingkan dari kegunaan awalnya untuk kemudian diapropriasi dan diberi makna yang baru oleh sekelompok elite untuk mengokohkan dominasi dan penghisapannya atas umat![8]

Sebagai contoh, bagi banyak orang kristen perjuangan politik untuk penghapusan kelas adalah hal yang tidak kompatibel dengan akidah agama kristen. Mengapa? Karena kelas dianggap sebagai sesuatu yang adikodrati. Secara serampangan kutipan kitab Amsal 10:22 (“Tuhanlah yang menjadikan orang kaya dan miskin, susah payah bekerja tidak menambahi apapun”), menjadi justifikasi: Kelas terbentuk tanpa penjelasan dan dianggap berasal dari ketetapan Allah yang mutlak. Ini adalah ruang sakral! Dan jelas ruang sakral ini tentu dibentuk untuk melindungi status quo.

Agamben mengatakan bahwa secara simetris tatanan masyarakat ekonomi kapitalis yang sering dianggap sekuler rupanya meniru agama dalam pembentukan ruang sakral[9]. Sekularisme tidak membubarkan ruang sakral. Sekularisme hanya menggeser Tuhan yang personal kepada pasar yang impersonal[10].

Tanpa disadari hari ini, ada banyak ruang sakral yang dibangun dimana-mana. Orang-orang yang sudah bekerja habis-habisan dan menghabiskan ratusan jam tiap tahunnya di commuter line dari Maja ke tanah Abang setiap hari, bisa saja tidak pernah sekalipun berpikir tentang kemungkinan memiliki rumah di wilayah DKI Jakarta.

Boro-boro merencanakan punya rumah di Jakarta, memimpikannya pun sudah tidak berani! Ide tentang adanya kemungkinan memilik rumah yang terjangkau bagi para pekerja di Jakarta dianggap asing, bahkan terdengar muluk di telinga kebanyakan orang. Kenapa? Karena ide habitasi yang beradab bagi warga kota ada di ruang sakral! Seolah-olah kemungkinan ada pemukiman yang manusiawi bagi kelas pekerja diselubungi awan tebal misteri. Misteri yang hanya bisa dipahami oleh para santo-santa developer dan birokrat ibukota.

Agamben oleh karena itu menawarkan cara untuk membongkar kebuntuan ini didalam apa yang disebutnya dengan profanasi (pemfanaan). Agamben memakai pendekatan negasi radikal rasul Paulus pada pengalaman hidup yang seolah-oleh terberi [11].

dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli, pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.” (1 Korintus 7:29-31).

Bagi Agamben, nasehat Paulus ini adalah sebentuk profanasi. Di dalam profanasi semua realitas pengalaman hidup maupun tatanan yang dianggap terberi dipertanyakan kembali agar dapat terjelaskan genealoginya. Misalnya, penjelasan tentang mengapa ada begitu banyak masalah agraria di Indonesia Timur perlu diprofanasi dengan stop sekadar mendoakannya dalam pokok doa syafaat di kebaktian hari Minggu dan mulai mencari tahu kenapa ada penindasan dan ketidakadilan yang menimpa saudara-saudari kita di sana dengan analisa sosial politik yang empirik, ketimbang memuja secara buta jargon NKRI harga mati tanpa tahu duduk perkaranya.

Profanasi juga dapat dipraktikkan ketika kita memfanakan jargon kebhinekaan yang ramai hari-hari ini. Mungkin bukan pada lilin yang dibakar atau pada lagu puja-puji nostalgia kepada ibu pertiwi kita menemukan jalan keluar dari berbagai kasus persekusi belakangan ini, tapi pada kesadaran bahwa kita perlu diagnosa yang lebih material dan menyejarah untuk membaca realitas kita?

Pengalaman hidup dipimpin Roh Kudus bagi orang kristen hari ini, tidak boleh kurang dari membongkar kesakralan-kesakralan yang mengasingkan manusia. Mengapa? “Karena dimana ada Roh Allah di sana ada kemerdekaan “(2 Korintus 3:17).***

 

Penulis adalah seorang Pendeta

 

———-

[1] Dalam pengertian yang paling longgar dipahami bahwa gerakan karismatik merupakan sebuah istilah yang dipakai untuk mendeskripsikan kaum Kristiani yang percaya bahwa manifestasi kuasa Roh Kudus berupa pengalaman-pengalaman supranatrural seperti yang dialami rasul-rasul yesus kristus di gereja perdana (menyembuhkan orang sakit secara adikodrati, meramal masa depan, mengusir setan,membangkitkan orang mati), bisa terjadi dan seharusnya dipraktikkan sebagai pengalaman pribadi setiap orang-orang percaya pada masa sekarang ini.

Kata karismatik berasal dari sebuah kata Yunani charis yang berarti kasih karunia. Kata charis digunakan dalam Alkitab untuk menjelaskan mengenai berbagai-bagai pengalaman supranatural (khususnya dalam 1 Korintus 12-14).

[2] Salah satu alasan teologis mengapa bahasa lidah atau bahasa Roh dimaknai sebagai adalah bahasa sehari-hari adalah karena Roh selalu hadir sebagai penerjemah (interpreter) Kristus. Sebagaimana St. Basil pernah berkata, “Spiritus interpres Filii, sicut Filius Patris” (Roh menerjemahkan Sang Anak, sebagaimana Sang Anak menerjemahkan Sang Bapa). Jadi, prinsip ini raib di dalam gagasan bahasa lidah sebagai kriptolalia (bahasa aneh) yang sering dijumpai dalam praktek berbahasa roh dewasa ini di beberapa gereja Karismatik, yang menyembunyikan Kristus di dalam ucapan-ucapan rancau, maupun xenolalia (bahasa asing). Alih-alih menyatukan, praktik ini malah mengasingkan Kristus dari umat kebanyakan. Saya berhutang kepada Pdt. Joas Adiprasetya untuk penjelasan ini.

[3] Perjanjian baru menjelaskan dua bentuk hidup. Yang satu diterjemahkan sebagai Zoe (hidup biologis layaknya semua mahluk hidup ) dan bios, yaitu kehidupan di dalam tatanan politik. Giorgio Agamben dalam bukunya Homo sacer (1998, 184) mengatakan bios adalah tubuh politik kita. Di dalam wawasan politik gereja perdana, mereka meyakini bahwa tubuh politik mereka sudah berada dalam ranah yang baru sebagai warga kerajaan surga didunia yang beroposisi secara radikal dengan berbagai imperium yang melawan keadilan, kebenaran dan damai sejahtera.

[4]    Boff, Leonardo, Christianity in the nutshell, Orbis Book, New York, 2013, hal 67

[5]    Kata Profane (fana) selama ini senantiasa dikaitkan dengan sesuatu yang sia-sia, sarkastik dan vandalistik. Tetapi secara etimologi definisi itu menurut saya keliru . Kata profane berakar dari kata dalam bahasa Latin prophanus, yang dalam terjemahan bebas dapat dikatakan umum, dapat diakses oleh semua orang tanpa memandang latar belakang ras, kelas, agama orang tersebut. Bandingkan dengan http://www.dictionary.com/browse/profane

[6]    Agamben,Giorgio,Profanations,, Zone Books, Massachusetts 2007 ,71

[7]    Ibid, 73

[8]    Ibid 73

[9]    Ibid 74

[10]  Ibid 74

[11]  Ibid 75


comments powered by Disqus