Mengapa Tuan Denny Perlu Merevisi Puisinya untuk Jenderal Gatot?

Print Friendly, PDF & Email

Psikiater-Penyair Radovan Karadzic (Sarajevo Times)

 

JENDERAL Gatot baca puisi. Ya, tidak salah: puisi! Judulnya Tapi Bukan Kami, karangan Tuan Denny, yang beberapa tahun silam menjadi sensasi sastra nasional karena menemukan suatu genre jenius bernama puisi-esai.

Tapi Bukan Kami  dibacakan Jenderal Gatot sebagai pembuka pidatonya di Rapimnas Golkar, Senin 22 Mei 2017.

 

           Lihatlah hidup di desa

           Sangat subur tanahnya

           Sangat luas sawahnya

           Tapi bukan kami punya

           Lihat padi menguning

           Menghiasi bumi sekeliling

           Desa yang kaya raya

           Tapi bukan kami punya

 

Demikian petikan Tapi Bukan Kami Punya, sebuah syair liris tentang betapa mengenaskannya kehidupan pemuda miskin bernama Jaka.

‘Ini bukan puisi biasa. Ini puisi esai, puisi yang mengekspresikan isu soal Aceh sampai Papua,’ kata Tuan Denny tentang konsep puisi-esai April lalu.

Sungguh mengherankan apabila para penulis dan literati snob terus saja merisak Tuan Denny atas penemuannya ini. Padahal puisi-esai begitu brilian. Terobosan Tuan Denny kelak akan meretas jalan untuk eksperimen-eksperimen radikal-esoterik di bidang kesusastraan. Ia membuat puisi jadi masuk akal, merakyat, dan tepat guna, termasuk untuk memoles ocehan pejabat sipil maupun militer.

Bayangkan, kalau masakan di dapur hambar, kita bisa karang puisi-resep. Kalau kita sedang rindu siraman rohani, kita bisa bikin puisi-kultum.  Kalau butuh siraman jasmani dan keburu ngaceng, tulislah puisi-stensilan.

Bayangkan suatu masa depan ketika masyarakat kita paham betapa lirisnya kehidupan: seorang polisi melankolis menyetop kita punya kendaraan dan menyodorkan puisi-surat tilang; seorang aktivis mahasiswa pemburu donor, sukses mendekati alumni setelah berminggu-minggu berlatih menulis puisi-proposal; dan seorang buruh pabrik luar biasa terharu saat menerima puisi-SP1 tiap kali mogok kerja.

Tidak ada ganjil di situ. Bukankah sudah semestinya puisi memperkaya tiap unsur kehidupan?

Toh Tuan Denny juga berkomentar positif soal Jenderal Gatot membaca puisinya. ‘Memang itu yang saya harapkan. Saya sangat menyukai kutipan John F Kennedy, jika lebih banyak politikus membaca puisi dan banyak penyair tahu politik, maka kita akan hidup di dunia yang lebih aman,’ demikian Tuan Denny.

Betulkah seperti itu, Tuan?

 

***

Ketika dilantik pada Januari 1961, Kennedy membacakan puisi Road Not Taken karya Robert Frost, pujangga kesayangannya.

Belum genap tiga bulan bulan berkuasa, Kennedy mengirim milisi ke Teluk Babi untuk menggulingkan Fidel Castro, yang sampai saat itu tak pernah sekalipun mengancam Gedung Putih.

Misi Teluk Babi gagal. Namun setelahnya, subversi politik dan percobaan pembunuhan jadi makanan sehari-hari Castro.

Kennedy mungkin tepat memilih bait terakhir Robert Frost yang sering dikutip para motivator dan jurkam Multi-Level Marketing di Indonesia: ‘Kuambil jalan yang jarang dilalui/Dan di situlah bedanya.’

Dan ‘dunia akan lebih aman,’ ujar Tuan Denny.

 

***

Jika Kennedy adalah teladan yang sulit dijangkau, Tuan Denny dan Jenderal Gatot bisa menoleh ke Saloth Sar, seorang bekas guru SMA yang hapal puisi-puisi romantik Prancis abad 19.

Soth Polin, yang pernah duduk di kelas Pak Sar pada 1960an, mengenang betapa fasihnya sang guru mengutip sajak Il pleure dans mon coeur karya Paul Verlaine, penyair lembut-hati asal Prancis:

 

            Hatiku menderas

            seperti hujan di kota ini

            Oh, dari manakah letih

            yang merasuki hatiku?

 

Kenangan manis Polin tinggal kenangan. Manakala berkuasa, sang guru mendeportasi seluruh warga kota ke desa, dan menyembelih 4 juta rakyat Kamboja.

Kelembutan Saloth Sar, yang kemudian dikenal sebagai pemimpin Khmer Merah Pol Pot, tiba-tiba jadi instruksi partai di radio. ‘Tak ada larangan atau suruhan di bawah rezim Khmer Merah,’ tulis Polin, ‘tapi Anda selalu disarankan untuk melakukan sesuatu: Disarankan agar Anda menyerahkan sepeda motor; Disarankan agar Anda berpisah dari istri; Disarankan agar Anda masuk Organisasi Teras—yang artinya, mati…’

Polin trauma dengan kata ‘disarankan’, instruksi birokrat yang sebetulnya memiliki nilai puitis karena diulang-ulang hingga nyaris berima.

Tapi apapun yang terjadi, menurut prakiraan Tuan Denny, ‘dunia akan lebih aman.’

 

***

Apabila Saloth Sar terlalu asing dari memori jaman kita, sudilah Tuan Denny dan Jenderal Gatot tergugah oleh puisi seorang psikiater-penyair dari tanah Balkan yang terbit pada 2005.

 

           Akulah sebab penderitaan semesta

           Ksatria Musa diam-diam takut padaku

           Waktu melayang begitu saja seperti kepalaku

           Dan kau basah keringat dingin

           Oleh teror yang dingin

 

Pada 1995, sang psikiater-penyair Radovan Karadzic mengusir satu juta manusia dan membantai 100 ribu lainnya, termasuk di dalamnya delapan ribu muslim Bosnia, etnis Yahudi, dan orang Kroasia. Dicokok pada 2008, Karadzic tak jadi penyair hanya gara-gara buron selama 12 tahun. Obsesinya menulis puisi epik setua mimpi-mimpinya tentang Serbia Raya.

Karadzic tak sekalipun menutupi kekejaman dengan nada-nada liris. Ia mampu mendamaikan kerja-kerja puitik di balik meja dan kekejaman presisi di medan jagal Serbia Raya.

Tapi apapun tingkah-polah Karadzic, kembalilah ke hasil studi pustaka Tuan Denny tentang faedah puisi: ‘dunia akan lebih aman.’

 

***

Barbarisme dan puisi adakalanya bersahabat.

Seorang serdadu di Barat dan Timur era feodal adalah seorang ningrat terpelajar.  Selain dituntut melatih ketangkasan fisik, berburu, berkelahi, dan berperang,  ia harus mengasah budi lewat laku spiritual, musik, dan puisi. Perang kejam adanya, dan itulah mengapa syair sang serdadu mesti menangisi tiap tetes darah yang tumpah sia-sia. Perang mendatangkan keagungan bagi panglimanya, dan karena itulah sang serdadu merasa perlu menulis puji-pujian akan keberanian dan pengorbanan.  Jika ada darah tapi bukan dalam perang, bolehlah hanya keagungan si serdadu yang tampil. Jika keagungan terusik, silakan darah dicari-cari.

Dalam puisi panjang Jenderal Lu Shun, Subagio Sastrowardoyo mengisahkan seorang jenderal yang gelisah tak bisa menyelesaikan empat baris sajak. ‘Aku butuh ilham’ kata Jenderal Lu Shun. Lalu ia bersama pasukannya menyerbu sebuah dusun, mengayunkan pedang ke leher puluhan laki-laki dan perempuan yang sedang terlelap. Setelah puas mandi darah ia berpesan ke seluruh bala tentaranya: ‘Jangan aku diusik sementara ini.’

Malam itu pena Jenderal Lu Shun mengalir lancar. Ia bersajak tentang langit dan mega, syahdunya kepakan bangau, dan cintanya kepada seorang putri.

‘Itu semua’, tutup Subagio, ‘ditulis dalam pantun Cina yang empat baris panjangnya.’

 

***

Jika minimalisme Jenderal Lu Shun dan keterusterangan Karadzic dirasa tidak pas dengan semilir hati Tuan Denny dan Jenderal Gatot, kita kembali sajalah ke balada si Jaka dalam Tapi Bukan Kami Punya.

 

           Lihatlah hidup di desa

           Sangat subur tanahnya

           Sangat luas sawahnya

           Tapi bukan kami punya

 

           Lihatlah aneka barang

           Dijual belikan orang

           Oh makmurnya

           Tapi bukan kami punya

 

Tuan Denny pernah menulis bahwa ‘Kehadiran catatan kaki dalam karangan [puisi esai] menjadi sentral’. Ingat?

Alangkah baiknya jika Tuan Denny mengirim revisi Tapi Bukan Kami Punya ke Jenderal Gatot dengan disertai catatan kaki yang merangkum kemalangan-kemalangan sekian ribu Jaka di seantero nusantara, misalnya:

 

  1. Pada Mei 2013, seorang Jaka bernama Dirman ditangkap dan digebuki tentara setelah kabur dari pabrik panci di Tangerang. Pabrik milik CV Cahaya Logam itu menyita uang, pakaian, dan ponsel milik buruh-buruhnya yang bekerja sejak dini hari hingga tengah malam. Aparat TNI dan Brimob diduga keras membekingi praktik perbudakan tersebut.
  2. Agustus 2015, tujuh belas Jaka masuk rumah sakit setelah dipukul, diinjak, dan ditendang serdadu Angkatan Darat ketika menolak pemagaran di lahan masyarakat. ‘Itu bukan tanah rakyat, tapi tanah negara,‘ ujar Mayor Infanteri Kusmayadi, menjelaskan status tanah Urut Sewu yang dipinjam TNI untuk uji senjata berat sejak 1982.
  3. Pada Mei 2016, dua orang Jaka, Boy Simanjuntak dan Andika Hariyanto Simanjuntak, dipukuli, diseret dan disekap serdadu ketika protes di depan Kodam I/Bukit Barisan. Boy dan Andika, bapak-anak, adalah warga Desa Perkebunan Ramunia yang selama berbulan-bulan protes menggugat perampasan lahan 200 hektar oleh Pusat Koperasi Angkatan Darat.

 

Buat Jenderal Gatot, Anda bisa terangkan sebab-musabab baris ‘Tapi bukan kami punya’—mungkinkah gara-gara status ‘Tanah Negara’? Gara-gara ‘Hak Guna Usaha’? Ataukah arogansi aparat? Tenang, Jenderal. Masih ada waktu. Anda bisa tambahkan lagi berderet-deret kasus lainnya. Apa sih susahnya minta tolong kepada pers dan warganet yang berisik itu untuk menyuplai Anda data?

Ah, mungkin itu tak perlu—lagipula anak buah Anda di lapangan tentu lebih rapi mencatat, catat apa saja, siapa saja.

Jenderal Gatot, tak usah sungkan membacakan catatan kaki sepanjang mungkin di podium. Masih banyak mimbar kampus yang menanti Anda menceritakan nasib Si Jaka seutuhnya. Tentu, selain bisa mengiringi anggur, amor, dan pembunuhan, puisi juga bisa membeli pengaruh, ‘kan?

Karena menurut sebuah survey tatap muka terhadap 440 responden yang dipilih melalui metode multistage random sampling dengan margin of error plus-minus 4,8% …  puisi terbukti membuat ‘dunia lebih aman’.***


comments powered by Disqus